​Khotbah Rm. Joko Lelono: Mensyukuri yang Baik

Suatu hari saya diingatkan oleh satu bagian dari Injil yang menurut saya menarik. Di sana digambarkan Tuhan Yesus yang tampak kejam di hadapan seorang ibu (bdk. Mat 15: 21-28). Saat itu ada seorang ibu yang meminta kesembuhan bagi anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Namun, karena orang itu tidak berasal dari orang Israel, Yesus mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Bagian yang menarik bagi saya adalah bagaimana ibu itu menunjukkan ketegarannya bahkan ketika dalam arti tertentu Yesus menyebutnya sebagai anjing. Demi mengingat anaknya yang kesakitan, ibu itu mengatakna, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Rupanya Yesus mengenal ketulusan hati ibu itu lalu mengatakan, “Hai ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kau kehendaki!” Gambaran ini menunjukkan kepada kita tentang semangat juang, tentang sebuah keyakinan bahwa sesuatu patut untuk diperjuangkan. Bagi ibu itu, anaknya adalah pribadi yang patut untuk diperjuangkan, meski ia harus mengalami rasa malu.
Membaca Injil pada bagian ini, saya lalu diingatkan oleh berjuta-juta bahkan bermilyar orang yang memperjuangkan kehidupan di dunia ini. Bagi masing-masing orang ada cerita-cerita kepahlawanan yaitu saat seseorang tetap menghalau kesulitan hidup demi sebuah nilai yang dia perjuangkan. Di suatu tempat ada seorang ibu yang meninggalkan pekerjaan demi merawat anak semata wayangnya. Di tempat yang lain ada seorang bapak yang mau bekerja sampai jauh larut malam hanya demi melihat anak dan istrinya bisa makan. Di bagian dunia yang lain ada seorang gadis yang mau menanggung rasa malu ketika harus mempertahankan anaknya meski pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Di bagian yang lain lagi ada cerita tentang seorang pastor yang harus menyusuri sungai dan menaiki bukit untuk bertemu dengan umatnya yang hanya tiga orang saja. Di tempat lain ada cerita seorang istri yang rela bekerja banting tulang ketika suaminya sakit dan tidak bisa lagi memberi penghidupan baginya. Juga di bagian lain dunia ini, ada banyak orang tua yang rela kehilangan banyak kebebasannya saat harus merawat anaknya yang memiliki keterbelakangan mental. Di bagian bumi yang lain ada seorang guru yang rela dibayar murah demi melihat banyak generasi muda berkembang optimal. Rasanya ini semua menjadi bagian dari kisah-kisah di dalam dunia kita.

Perjalanan untuk menjalani kisah-kisah kehidupan yang penuh perjuangan ini patut diacungi jempol. Sayangnya masyarakat kita lebih mudah untuk melihat keburukan dan kurang mampu mengapresiasi kebaikan. Saat di pengakuan dosa kadang-kadang saya mendengar umat yang mengatakan banyak sekali kesalahannya. Dalam situasi macam ini biasanya saya akan mengatakan, “Sebutkan tiga saja kebaikan ada!”. Pada umumnya dia akan mengalami kesulitan untuk menyebutkannya. Ini menandakan bahwa kita tidak selamanya mudah untuk menerima kenyataan bahwa kita ini juga adalah pribadi yang baik. Tiap-tiap dari kita memiliki cerita-cerita berjuang demi sebuah nilai seperti halnya dialami oleh ibu dalam Injil tadi. Maka perkenankanlah saya mengatakan terima kasih atas usaha anda untuk memelihara kebaikan. Dalam hati ada dorongan bagi saya untuk mewakili Tuhan menyampaikan terima kasih pada anda. Terima kasih pada anda orang tua yang mengupayakan sekian banyak pengorbanan untuk anak-anaka. Terima kasih untuk waktu-waktu yang anda habiskan untuk mengupayakan kehidupan bagi mereka; untuk segala tangis anda untuk saat-saat sakit mereka; untuk segala usaha anda melewati kesempitan hidup yang kadang tidak memberi anda kesempatan untuk beristirahat. Terima kasih kepada anda orang muda yang memperjuangkan kehidupan masa depan. Terima kasih untuk kesetiaan anda melewati hari-hari dengan belajar meski rasanya tidak menyenangkan; untuk tangisan anda menyiapkan kehidupan berkeluarga; untuk perjuangan anda meniti karir kehidupan demi menjadi berguna bagi keluarga, Gereja dan masyarakat. Terima kasih untuk para guru yang sudah memberikan banyak usaha memajukan kaum muda. Terima kasih untuk kesabaran anda menjagai anak-anak yang tak selamanya mudah diatur; untuk kesetiaan anda mengajari mereka membaca dan menulis serta memahami kehidupan dengan lebih baik. Terima kasih untuk para petani yang menyediakan makanan bagi kehidupan kami. Terima kasih untuk jerih lelah anda merawat tanah hingga menghasilkan bahan makanan bagi kami; untuk kekecewaan anda yang terkadang menemukan bahwa penghasilan anda tidak mencukupi untuk hidup keluarga; untuk pengorbanan anda bagi kehidpan saudara. Litany terima kasih ini bisa diperpanjang sendiri oleh anda. Namun, yang jelas saya hanya ingin mengatakan, “Terima kasih karena anda memperjuangkan kehidupan meski harus menjalani perjuangan!”

Agama dan Perannya

Satu-satunya alasan mengapa saya mengucapkan terima kasih mewakili Tuhan adalah karena kita tahu bahwa dalam hidup ini kita melakukan pekerjaan Tuhan. Tuhan sebenarnya ingin menjumpai anak-anak, dan anda sebagai orang tua melakukannya untuk Tuhan. Tuhan ingin mendampingi anak-anak-Nya belajar, dan anda sebagai guru melakukannya. Tuhan ingin menjumpai orang-orang sakit dan merawat luka-lukanya, dan anda sebagai tenaga medis melakukannya untuk Tuhan. Tuhan ingin hadir bagi mereka yang sedang sedih, dan anda sebagai suami atau istri melakukannya untuk pasangan anda. Demikianlah iman meyakini bahwa masing-masing dari kita ini adalah tanda dan sarana kehadiran Tuhan. Kita ini adalah sakramen kehadiran Tuhan. Pertanyaannya, apakah kita sudah sedia dan mau melakukannya? Dalam batas-batas tertentu kita sudah melakukannya, maka saya sampaikan ucapan terima kasih untuk hal ini.

Sebagai orang-orang beriman, kita meyakini sebuah tugas penting yaitu bahwa kita perlu membawa banyak orang mendekat kepada Tuhan. Hal ini bukan pertama-tama berarti kita membawa mereka kepada agama Katolik. Memang itu juga menjadi tugas, tetapi bukan yang utama. Yang utama adalah membuat masing-masing saudara kita merasakan cinta kasih Allah di dalam hidupnya. Bunda Theresa dari Kalkuta yang terkenal karena kesuciannya itu memulai misinya dengan satu mimpi saja yaitu merawat saudara-saudarinya yang sekarat di pinggiran kota Kalkuta. Saat itu ada banyak gelandangan yang akhirnya meninggal tanpa ada yang menemani. Satu hal yang Bunda Theresa lakukan adalah memandikan mereka, merawat luka-lukanya dan membuat mereka merasa nyaman berada di dekat orang-orang yang merawat dia. Tak jarang mereka ini meninggal sebelum sempat dirawat sampai sembuh sehingga seorang teman suster Theresa mengatakan, “Mengapa kita merawat orang-orang ini? Bukankah lebih baik merawat mereka yang masih punya kemungkinan untuk hidup?” Jawaban Bunda Theresa jelas, “Selama hidup mereka tidak pernah merasakan cinta kasih, maka paling tidak di akhir hidup mereka, mereka merasa dikasihi!” Kisah ini mengesan bagi saya karena menunjukkan mimpi sederhana yang benar-benar menyentuh. Ada sebuah nilai yang diperjuangkan yaitu perasaan dikasihi. Di sinilah terletak inti iman kita yaitu supaya masing-masing orang merasa dikasihi:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22: 27-40).

Sabda ini serasa menyatakan kepada kita dua hal. Yang pertama, terima kasih kepada anda yang sudah berjuang mencintai Allah dan sesama. Yang kedua, bagi anda yang belum mampu melakukannya, selalu terbuka kemungkinan untuk menunjukkan cinta anda.

Semoga perasaan dicintai dan kemampuan untuk mencintai ini ada di dalam hati kita. Dengan demikian kita sedang mengupayakan agar dalam kehidupan kita ini terpancar kebaikan dan rahmat. Tatkala masing-masing pribadi mampu menunjukkan kasihnya, akan semakin banyak orang merasa dikasihi. Di sanalah akan berdiri Kerajaan Allah, saat di mana kasih-Nya semakin dirasakan. Tangan-tangan, senyuman, tangis dan tawa, serta perjuangan anda menjadi sarana kehadiran-Nya di tengah kehidupan ini. Terima kasih untuk segala yang sudah anda lakukan dan mari kita berjuang bersama membawa kasih Tuhan di tengah-tengah kehidupan ini.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami