21 Tahun di Gamping

Sebelum gue memulai tulisan ini, perkenankanlah anak Jogja yang sering pergi ke Jakarta ini mengganti kata “aku” atau “saya” dengan kata “gue”. Mengapa? Karena matahari terbit dari timur, ya pokoknya nyamannya seperti itu. Tulisan ini benar-benar ditulis dari tangan gue, maksudnya diketik ya. Diperuntukan bagi anak muda tiga belas tahun keatas, karena kalau bayi baca, itu hebat! Jadi, mari kita mulai..

Ini adalah kesaksian gue hidup dua puluh satu tahun di Gamping, mulai dari bayi mami hingga dewasa perkasa. Oke yang terakhir gue ngarang, gue nggak perkasa. Gue hanya seorang kecil yang banyak menghabiskan waktu di kegiatan gereja sekarang ini. Karena jika bicara dahulu, wow dulu gue terhitung jarang sekali ke gereja dan lebih memilih pergi pacaran. Waktu itu gue masih kecil, SMP, SMK. Bayangkan saja masa muda yang harusnya mengenal gereja namun malah main sama pacar. Gue dan pacar berbeda agama, memang sih kami saling menyemangati dalam urusan agama, gue semangati dia dan dia semangati gue. Tapi ternyata cuma mulut gue yang bilang “iya iya”, ditindakan justru tidak.

Semua indah hingga saat pacar ninggalin gue. Gue yang masih ABG (Anak Baru Gundul) polos, di SMK kelas dua merasakan hidup seperti pertunjukan wayang tanpa dalang, bingung, ngga asyik, sepi. Di situ gue sempat kehilangan keyakinan untuk pertama kalinya, setiap sore cuma duduk liatin langit, ngegalau, hingga suatu waktu gue melihat pisau di dapur, karena gue merasa putus asa, akhirnya gue iris, mangga itu. Akhirnya gue bisa menikmati mangga yang baru saja gue petik dari pohon tetangga atau dengan kata lain gue ambil mangga itu tanpa ijin.

Becanda mulu nih dari tadi..
Serius!!!

Haha gue emang beneran berantakan waktu itu setelah ditinggal pacar, terlepas dari itu, gue bisa melewatinya. Yeah walau makan waktu lama banget. Malem itu saat masih kehilangan keyakinan, gue nggak sengaja ngelihat sekilas film Heaven is for Real yang diputar di TV, gue penasaran kok ada Yesus di salah satu bagian film, lalu gue dengan tekad tinggi nan penasaran pun mencoba mencari film itu dan nemu, akhirnya gue tonton sampai habis. Bagian menarik dari film itu adalah gue yang bisa melihat cerita dari anak kecil yang dapat bertemu dengan Yesus di Surga saat dia sedang berada di ruang operasi. Wow.. itu menakjubkan. Patut ditonton pokoknya. Walau mungkin ada orang yang tidak mempercayai cerita itu, setidaknya, itu bisa membawa gue kembali ke gereja.

Gereja Gamping, ya gereja yang banyak mempertemukan gue dengan banyak orang ini memiliki banyak cerita bagi gue. Gue dibaptis saat dewasa dan menerima sakramen penguatan juga saat dewasa di Gereja ini. Dari situ gue mencetuskan teori bahwa sakramen bukan ajang cepet-cepetan, tapi penghayatan.

Kemudian..

Gue bertemu dengan anak-anak kreatif yang menamakan diri mereka sekarang Komsos Gamping (Komisi Komunikasi Sosial), banyak hal yang nyatanya bisa gue kerjakan bersama mereka dan itu menyenangkan.

Tulisan ini bukan tulisan puitis, bukan tulisan untuk meluluhkan hati seseorang, bukan guna menarik perhatian, hanya cerita sebenarnya, apa saja hal menarik yang gue temukan di Gereja Gamping.

Sempat lagi gue menemukan seseorang yang asyik dan gue pikir bisa diandalkan saat gue lagi ada masalah atau bosan di rumah. Sempat gue dan dia ke gereja bareng, jalan berdua, berlarian di luar saat hujan. Tapi ternyata sama seperti kali pertama gue kehilangan keyakinan, gue jatuh lagi. Hingga sempat masuk rumah sakit, wahh apa yang terjadi dengan gue? Haha hanya Tuhan yang tahu.

Lalu setelah keluar dari rumah sakit, gue sering ke Gereja malam-malam hanya untuk berdoa. Menceritakan pada Tuhan, waktu-waktu saat gue senang dan sedih, bertanya pada Tuhan apa yang salah dengan hubungan kami waktu itu. Setelah doa biasanya gue duduk diam, ngeliat langit cerah, atau nggak jarang gue malah melihat hujan turun.

Dan wah, sekarang Komplek Gereja Gamping makin bagus, gue pribadi suka banget berlama-lama di sini. Gedung Gereja makin luas, Gedung Pastoran sekarang jadi tingkat dan makin baik. Gue pikir ini bukan mengenai besar kecilnya gedung Gereja Gamping, hanya tentang merasakan air putih layaknya kopi, yang nikmat dihirup saat pagi atau nyaman disruput saat malam hari.

Gue duduk menatap Taman Doa malam itu, melihat lampu yang ada disebelahnya, lalu kumbang yang terbang hujan-hujanan itu membuyarkan lamunan dan memecah kaca-kaca di mata. Dengan badan yang masih lemas, gue bangun, menghela nafas, dan siap melangkah lagi.

Posting asli: https://www.marsble.com/d/72-21-tahun-di-gamping

frans

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.