Dibalik Seribu Nestapa Yerusalem

Pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem oleh Amerika Serikat menimbulkan reaksi yang luar biasa dari masyarakat dunia. Keputusan Donald Trump ini mengundang gelombang kemarahan dari mereka yang utamanya mendukung kemerdekaan Palestina. Unjuk rasa pun dilaksanakan di mana-mana seperti di Turki, Palestina,dan banyak negara lain. Namun saya tak akan membahas lebih jauh mengenai apa saja yang terjadi selepas keputusan itu, tapi saya akan lebih membahas tentang kota yang menjadi “komoditi panas” tersebut, Yerusalem.

Harus diakui, nasib yang dialami oleh Yerusalem memang begitu malang, bukan hanya kali ini tetapi sudah sejak dahulu kala. Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali.Tentu kita ingat bahwa pada Zaman Romawi Yerusalem pernah diratakan hingga tak ada satu bangunan pun yang berdiri. Kepemilikannya pun selalu berganti-ganti dari mulai Raja Daud, Babilonia dan Persia, Romawi, Muslim, Ottoman, hingga saat ini yang masih belum jelas siapa tuannya. Sulit membayangkan betapa nestapanya penduduk yang ada di sana yang tak bisa hidup dengan tenang dan tenteram, konflik bisa saja tiba-tiba terjadi.

Keadaan Yerusalem ini pun juga dapat dikatakan sebuah anomali jika kita melihat fakta bahwa Yerusalem merupakan kota suci tiga agama yakni, Kristiani, Muslim, dan Yahudi. Bukankah dengan begitu seharusnya kota ini dapat dijaga baik-baik agar para peziarah dapat berkunjung dan menjalankan keyakinan mereka dengan tenang? Mengapa justru realitanya Yerusalem malah menjadi salah satu kota yang paling bergejolak di bumi ini? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Tuhan kepada kita?

Saya mencoba mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “semakin istimewa sesuatu maka semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya”. Hal inilah yang ter-refleksi dengan baik dalam kasus Yerusalem ini. Sebagai sebuah kota yang sarat dengan nilai histori serta religi, tak heran jika Yerusalem mengundang ketertarikan orang banyak untuk berkunjung atau lebih.

Pepatah lain yang pas dari kota ini adalah semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin menerpanya. Melihat fakta-fakta di atas tentang apa saja yang telah dihadapi Yerusalem selama ini, bisa dibilang angin itu sudah bertiup dengan begitu kencang. Lalu apakah Yerusalem masih bertahan? Anda sendiri yang dapat menilainya.

Dengan demikian, dibalik semua itu Yerusalem telah memberikan sinar kepada kita mesti remang-remang. Sekarang tinggal apakah kita akan menggunakan sinar itu, atau membiarkannya mati ditelan kegelapan. Menjadikannya suatu pelajaran bagi kita atau sebatas membuatnya menjadi kenangan.

Daniel Kalis
Daniel Kalis
Articles: 10

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami