Mobilku Arep Dicolong!

Mobilku Arep Dicolong

Tadi malam, bapakku mendapat cobaan yang cukup berat. Aku tidak tahu apakah ada satupun warga di RT kami yang dapat menghadapinya seperti bapakku. Waktu itu pukul dua pagi. Aku sedang setengah tertidur di depan televisi karena habis menonton pertandingan sepak bola klub favoritku. Ibu sudah tertidur bersama adik setelah adik terbangun karena mimpi buruk. Tanpa aku ketahui, tiba-tiba bapak berteriak dengan sangat keras “Maling! Maling! Mobilku arep dicolong! Maling!” Aku spontan terbangun dan melihat bapak berdiri di depan pintu.

Rupanya bapak mendengar alarm anti-maling dari mobil yang ada di luar rumah. Aku tidak sempat mendengarnya karena aku tertidur sudah mulai pulas dan alarm mobil tidak terlalu keras. Bapak mengulangi teriakannya berkali-kali. Mendengar teriakan bapak, lantas seluruh warga RT langsung keluar rumah. Aku melihat seseorang lari bersembunyi ke atas pohon dan langsung menunjukkan kepada bapak-bapak RT yang sudah membawa gebukan. Akhirnya maling tersebut berhasil diringkus oleh warga.

Setelah malingnya diikat dan pak RT menelepon polisi, bapakku berusaha berbicara kepada semua warga. “Alhamdulillah Bapak-Bapak. Berkat kesigapan warga semuanya, mobil saya tidak jadi dicolong. Terima kasih sekali, semoga malingnya kapok dan RT kita makin aman,” Katanya. Beberapa warga terlihat heran. “Alhamdulillah Pak,” ucapku cekikikan. Disela keramaian warga, Pak Shodiq tetangga kami menyela bapak, “Nggih Pak, Alhamdulillah. Tapi omong-omong, nganu Pak, nuwun sewu. Yang nggak jadi dicolong kan mobil saya, jadi saya yang berterima kasih karena Bapak sudah sigap memanggil warga.” “Lho, jebule mobil saya aman-aman saja to dari awal?” tanya bapak.

“Oalah Pak, Pak,” jawab ibuku yang langsung mengajakku masuk. Semua warga tampak memalingkan muka dari bapak, menahan tawa. Beberapa warga langsung berjalan ke arah rumah masing-masing. Bapak kelihatan kebingungan karena masih setengah ngantuk. Kemudian bapak melihat ke arah rumah kami dan mengamati halaman rumah kami. Tentu saja berbeda dengan yang ada di mimpinya lima menit lalu. Ia melihat ke arah warga setelah sadar apa yang mereka tertawakan. “Pareng Pak,” sapa Pak Shodiq yang pulang terakhir kali setelah mengunci mobilnya. Bapak diam sejenak, menengadah dan mengangkat tangan seperti berdoa. “MasyaAllah”.

1,373 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini