Surat Gembala Prapaska 2019: “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat

Para Ibu, Bapak, Orang Muda, Remaja, dan Anak-anak; para Romo, Bruder, Frater, dan Suster yang terkasih dalam Kritus,

Pada hari Rabu Abu, 6 Maret 2019, kita akan memulai masa Prapaskah yang akan berlangsung selama 40 hari (Latin: quadragesima) sampai dengan tanggal 19 April 2019. Masa Prapaska ini dimaksudkan untuk mempersiapkan penerimaan baptisan bagi para calon baptis dan untuk mengenangkan kembali pembaptisan bagi yang sudah dibaptis. Selain itu, masa ini juga menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk membina semangat tobat, antara lain dengan lebih rajin mendengarkan Sabda Allah, berdoa, dan berbuat amal kasih, hingga siap untuk merayakan Misteri Paskah Tuhan.

Selama masa Prapaskah ini kita diajak untuk merenungkan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP): “Semakin Tergerak untuk Berbagi Berkat”. Melalui tema permenungan ini, kita semua diajak untuk mewujudkan syukur atas rahmat baptisan dalam aksi atau tindakan nyata. Terkait dengan hal ini, Konstitusi tentang Liturgi Suci menyatakan bahwa semangat pertobatan “hendaknya jangan hanya bersifat batin dan perorangan, melainkan hendaknya bersifat lahir dan sosial kemasyarakatan” (SC 110). Itulah sebabnya APP tahun 2019 ini mengajak kita semua untuk mewujudkan pertobatan tersebut, antara lain, dengan berbagi berkat. Dengan cara ini diharapkan pertobatan tidak berhenti di hati, tetapi menjadi konkret dalam tindakan nyata berbagi berkat.

Menurut Santo Paulus, sebagaimana kita simak dalam Bacaan II, berbagi berkat sama artinya dengan bergiat selalu dalam pekerjaan Tuhan (1Kor 15,58). Dan menurut Injil Lukas yang baru saja kita dengarkan hari ini, “bergiat selalu dalam perkejaan Tuhan” berarti mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaan hati yang baik (Luk 6,45). Kesadaran bahwa Tuhan telah mengerjakan hal-hal baik dalam diri kita,  semestinya juga mendorong kita untuk bertekun melakukan hal-hal baik bagi sesama, siapa pun dia.

Saudari-saudaraku, umat Katolik di seluruh wilayah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih,

Berbagi berkat sebagai wujud pertobatan dapat kita lakukan, antara lain melalui dan dalam beberapa hal berikut ini:

  1. Secara positif melihat, menilai, dan bersikap terhadap sesama kita. Misalnya saja, di tengah maraknya orang senang menghujat dan memfitnah sesamanya dangan bahasa-bahasa yang kasar dan menyakitkan, marilah kita pergunakan bahasa yang baik dan santun. Kiranya tepatlah apa yang ditegaskan dalam bacaan pertama yang dikutip dari Kitab Putra Sirakh: “bicara orang menyatakan isi hatinya” (Sir 27,6). Orang yang hatinya baik, pastilah akan mengeluarkan kata-kata yang baik juga.

Terkait dengan hal inipun Yesus mengajak kita untuk bersikap bijak dengan tidak menilai buruk dan menghakimi sesama. Pertanyaan Yesus dalam Injil (Luk 6:41-42) “Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” menjadi bahan perenungan yang sangat baik di masa Prapaskah ini. Kita diingatkan untuk tidak mudah menilai buruk dan menghakimi sesama kita, karena hal ini akan sangat menghambat upaya kita mewujudkan komunitas kasih yang menyatukan dan menyempurnakan (Tema Pertemuan III APP).

  1. Gerakan berbagi berkat ini juga sangat tepat kita tempatkan dalam usaha bersama mewujudkan kesejahteraan umum atau kesejahteraan bersama (bonum commune) yang menjadi fokus pastoral 2019 di Keuskupan kita. Dalam masyarakat multikultural kita ditantang untuk sebanyak mungkin mengerjakan hal-hal baik bersama dengan siapa saja yang berkehendak baik, agar kesejahteraan bersama yang kita cita-citakan semakin dapat terwujud. Caranya, dengan menciptakan kondisi-kondisi hidup bersama yang memungkinkan, baik pribadi/perorangan maupun kelompok/komunitas masyarakat, dapat mencapai kepenuhan hidup dalam kasih dan Kita kembangkan terus semangat srawung dan merengkuh dalam belarasa yang tulus.
  2. Gerakan berbagi berkat senantiasa dapat kita lakukan tidak hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada alam lingkungan. Hal ini dapat kita wujudkan, misalnya dengan ngopèni (merawat) dan melindungi tanah dari pencemaran sampah plastik. Sudah saatnya kita membersihkan tanah dari sampah plastik ini dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah plastik secara sembarangan.

Saudari-saudaraku, umat Katolik di seluruh wilayah Keuskupan Agung Semarang yang terkasih,

Dalam kesempatan yang istimewa ini, saya hantarkan doa dan berkat episkopat saya untuk Saudari-saudara semua umat di Keuskupan Agung Semarang ini, terlebih bagi yang sedang sakit, yang sedang mengalami kesulitan hidup, yang berkebutuhan khusus, dan para adiyuswa. Semoga belaskasih Allah melimpahi hati, budi dan hidup Saudari-saudara semua, sehingga kita dapat menjalani masa Prapaskah ini dengan semangat tobat yang nyata guna menyambut misteri agung Paskah. Berkah Dalem.

 

PERATURAN PUASA DAN PANTANG TAHUN 2019

Mengacu Ketentuan Pastoral Keuskupan Regio Jawa 2017 pasal 138 no 2.b tentang hari tobat, peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2019 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 6 Maret 2019, dan Jumat Agung tanggal 19 April 2019. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali (1x) sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti tidak makan daging atau makanan lain yang disukai. Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya dalam keluarga, atau seluruh lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/biara atau komunitas seminari menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan. Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal dapat dibuat dan sangat kami anjurkan, antara lain:
  1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau komunitas, dicari bentuk-bentuk pantang dan puasa yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman menurut usia: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan lansia.
  2. Pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).
  3. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih.
  4. Menentukan wujud gerakan solidaritas, entah yang berupa gerakan karitatif maupun pemberdayaan yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar.
  1. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani, baik secara pribadi maupun bersama-sama, mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.
  2. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2019 ini adalah: “Makin Tergerak untuk Berbagi Berkat” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

Semarang, 2 Februari 2019

Pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko

Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang

 

 

 

dicopas dari https://kas.or.id/2019/02/27/surat-gembala-prapaskah-2019/

890 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Menemui Tuhan

menemui Tuhan

Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita. Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita.

Samuel dan Kisah Hidupnya

Samuel adalah seorang yang kisahnya unik. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah lama menikah tetapi tidak mempunyai anak. Setelah doa di bait Allah dan doa dari Eli, Hana, ibu dari Samuel mengandung dan melahirkan Samuel ini. Saat masih kanak-kanak, Samuel ini sudah diserahkan kepada Allah di bait Allah. Ia mengabdi di sana. Tak disangka-tak dinyana, rupanya Samuel inilah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim bagi bangsa Israel. Ialah yang nantinya menghantar bangsa ini menuju masa kerajaan. Peristiwa panggilan dia sebagai nabi diceritakan dengan sangat indah. Ia sendiri tidak tahu siapa yang memanggil dia ketika ia tertidur. Sangkanya yang memanggil adalah Eli, ternyata Allah sendirilah yang memanggil Dia. Di sepanjang hidupnya, ia akhirnya menjadi nabi Allah. Kata-kata yang terkenal dari dia adalah, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Ia akhirnya menerima tugasnya sebagai nabi. Dialah yang diminta Tuhan untuk mengurapi raja bagi bangsa Israel, mulai dari Saul sampai dengan Daud. Ia mengalami masa-masa sulit ketika rakyat tidak  setia kepada Tuhan dan meminta raja, juga saat raja menjadi tidak setia kepada Allah.

Meski ia mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak mudah, Samuel menunjukkan bagaimana ia setia untuk terus memahami kehendak Allah. Ia menjadi seorang yang dikenal sampai dengan hari ini. Sebagai manusia, ia tidak sempurna tetapi kesediaannya mendengarkan Allah membuat dia mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.

Menemui Tuhan

Kisah Samuel mengingatkan saya akan kisah di Injil yang berbicara tentang dua orang murid Yesus yang pertama. Saya mengambil perikop ini sebagai motto tahbisan imam. Kata-kata yang saya kenang adalah, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana menemui Tuhan. Tuhan tidak ditemui hanya dalam imaginasi. Tuhan ditemui di dalam jatuh bangun yang kita jalani. Tuhan ditemui di dalam tangis dan tawa yang terus kita lalui. Tuhan tahu bahwa manusia tidak sempurna dan bisa sangat mungkin jatuh. Namun, Tuhan memberi syarat agar kita bisa melihat di mana Ia tinggal yaitu dengan “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Kita diajak untuk mengikuti Dia. Kata mengikuti Dia menjadi tidak selalu mudah karena mengikuti Yesus berarti memaafkan orang yang menyakiti kita; mengikuti Yesus kadang-kadang harus meminta maaf sementara gengsi kita terlalu besar; mengikuti Yesus berarti berkorban untuk kepentingan orang lain; mengikuti Yesus berarti menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa; mengikuti Yesus berarti juga bisa tertawa oleh kebahagiaan orang lain, meski nasib kita sendiri tidak seperti yang dialami oleh orang lain.

Kata “marilah dan kamu akan melihatnya’ menghantar saya untuk merenungkan secara lebih mendalam apa artinya menemui Tuhan. Saya mengartikan bahwa  Tuhan ditemukan secara berbeda-beda dalam diri setiap orang. Seornag mungkin bisa menemukan Tuhan di antara senyuman manis seorang gadis, atau seorang bapak menemukan Tuhan di dalam senyuman lucu dari anak bayinya. Seorang suami bisa jadi menemukan Tuhan di dalam tangis dan pinta istrinya yang sedang hamil. Seorang pastur mungkin menemukan Tuhan di dalam senyum yang terkembang dari seornag yang datang untuk mengaku dosa.

Selamat menemui Tuhan di dalam hidup anda masing-masing. Saya punya cara saya, anda pun punya cara anda masing-masing. Mungkin pula bukan kita yang menemui Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menyapa kita di sela-sela kesibukan hidup yang kita lalui. Semoga kita cukup peka untuk bisa menangkap kehadirannya.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,603 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Mencari Kesempurnaan

mencari_kesempurnaan

Di dalam kehidupan, semua manusia pernah mengalami yang namanya kekecewaan. Harapan yang sangat besar akan kehidupan, akan keluarga, akan orang tua, akan pasangan hidup, akan pekerjaan tidak selalu selaras dengan kenyataan yang ada. Tak jarang apa yang kita dapatkan berbanding terbalik dengan apa yang kita peroleh. Kekecewaan ini bisa saja berujung kepada dendam, bisa juga berujung kepada permusuhan, berujung kepada rasa tidak terima dan macam-macam. Tetapi, iman kita mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyingkiri kenyataan. Kenyataan yang seberat apa pun perlu dihadapi. Usaha untuk beriman, usaha untuk saling memaafkan, usaha untuk terus mengupayakan perubahan hidup menjadi hal yang penting untuk diupayakan terus menerus guna menjadikan hidup lebih bermakna.

Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang membicarakan tentang kekecewaan itu adalah kisah tentang tiga raja dari Timur. Bagi tiga raja dari Timur, Yesus adalah pribadi yang dinanti. Mereka bukan hanya meunggu Yesus, tetapi mereka juga mengadakan pembelajaran atas banyak bahan untuk memahami kapan dan dimana Yesus akan lahir. Mereka berkali-kali bisa saja kecewa akan apa yang mereka cari. Mereka kehilangan bintang pedoman, bingung mencari sampai di istana Herodes (pikir mereka Yesus akan lahir di Istana), sampai-sampai mereka harus menjumpai pribadi yang mereka cari terus menerus itu di kandang domba. Tentu ini bukan yang mereka idam-idamkan, tetapi mereka tahu bahwa Sang Mesias bisa hadir di dalam bentuk yang bermacam ragam. Lebih penting daripada mempertanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa suatu hal harus terjadi, ketiga raja itu mengupayakan segala cara agar bisa berjumpa dengan Yesus, Sang Mesias, Raja yang akan datang. Saat akhirnya menjumpai Yesus dan mempersembahkan Mur, Emas dan Kemenyan, mereka sekali lagi harus kecewa karena rupanya anak ini dimusuhi oleh sang Raja Herodes. Ia hendak dibunuh oleh raja itu. Mereka bisa mempertanyakan, “Akankah raja baru ini bisa selamat?”. Sekali lagi lebih penting daripada mempertanyakan semua itu, lebih penting bagi mereka untuk mendengarkan tanda-tanda apa yang sedang terjadi dan harus mereka jalani agar bisa menjumpai dan menjaga Sang Mesias. Mereka tidak kembali ke Yerusalem, tetapi pergi lewat jalan lain. Meski hal ini penuh resiko, tetapi mereka memilihnya, karena mereka tahu bahwa jalan lain itu akan menyelamatkan Sang Mesias.

Tidak Ada Kesempurnaan Hidup

Di dunia ini, jika kita ingin mencari kesempurnaan, kita tidak akan menemukannya. Tugas kita hanyalah terus menerus menutupi satu demi satu ketidaksempurnaan yang ada agar menjadi sempurna. Berikut adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Kahlil Gibran, penyair dari Lebanon itu.
Pada suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya;”Wahai guru, bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?”
Sang guru merenung sejenak, lalu menjawab : “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah… dan jangan pernah kembali kebelakang!”
kemudian Gibran lurus di taman bunga lalu sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?” Kemudian Gibran menjawab : “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik, karena aku pikir mungkin yang didepan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi”
Sambil tersenyum sang guru berkata : “Ya… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada …”

Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang kesejatian pencarian kita akan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah hasil dari percampuran antara suka dan duka, berjuang dan bersyukur, menangis dan tertawa, memaafkan dan dimaafkan, mengampuni dan diampuni. Kalau tidak demikian, tentu orang hanya akan sampai kepada angan-angan kosong, sebab tidak ada hidup tanpa kesalahan dan kekurangan.
Menyegarkan Kembali Hidup Kita

Tidak sedikit orang di dunia ini yang hidupnya terus menerus dikuasai oleh kekecewaan-kekecewaan di masa lalu karena apa yang diidamkan tidak tercapai. Ada orang yang terus dirundung duka karena harus menikah dengan orang yang tidak dikasihi; ada yang berduka karena Tuhan mengambil orang-orang yang dicintainya; ada orang yang kecewa karena kegagalan dalam usaha; ada orang yang terus menangisi mengapa pasangannya pernah tidak setia atau dirinya sendiri perah tidak setia; ada orang yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena pernah berbuat kesalahan besar di masa lampau. Orang-orang ini terus menerus hidup di dalam suasana gelap kehidupan dan ingin terus memelihara kegelapan yang ada pada dirinya. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di dalam perasaan berdosa dan bersalah, padahal sebenarnya ia bisa memperbaiki keadaan, menyegarkan kembali kehidupannya dan melakukan perbuatan yang lain yang bisa ikut memperbaiki keadaan yang ada. Kalau manusia terus hidup dalam kegelapan, ia hanya akan menyia-nyikan kesempatan yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Ini tentu tidak seiring dengan apa yang dialami oleh ketiga raja dari timur.

Musuh dari kegelapan adalah terang. Tentang terang ini, Nabi Yesaya berkata, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes 60: 1-2). Gambaran ini adalah gambaran tentang Israel yang berkali-kali dirundung kesedihan kehidupan karena bangsa ini berkali-kali menjadi bangsa jajahan dan terus menerus harus berjuang melewati kesulitan hidupnya. Namun, Nabi Yesaya menubuatkan tentang adanya terang di depan. Guna mencapainya orang perlu melakukan apa yang dikatakan Nabi Yesaya, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”. Tentu gambaran ini mengajak kita berefleksi kembali tentang hidup kita. Tidak ada gunanya menyimpan dendam, menyimpan amarah, menyimpan kekecewaan, menyimpan gengsi, menyimpan kedukaan, karena nyatanya masa lalu tak akan pernah berubah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memperbaiki situasi, dan kembali menjadi terang. Kata bangkit menjadi penting mengingat orang-orang yang ada dalam situasi terpuruk sering-sering merasa diri tak lagi mampu bergerak. Kata menjadi terang amat penting sebab orang-orang yang merasa terpuruk sering lebih mudah mengeja kekurangan dirinya dan lupa memancarkan sinar yang daripadanya. Setiap kali ada orang yang datang kepada saya dan mengatakan tentang kekurangan-kekurangan dirinya, saya akan mengatakan, “Coba sebutkan tiga saja hal baik dari hidup anda”. Saat mengatakan keburukannya, orang ini tampak sedih, tetapi ketika mulai menyebut kebaikannya, ia mulai menyadari ada terang kebaikan di dalam dirinya. Ia berubah dari orang yang kecewa akan hidup dan mulai tahu bahwa hidupnya tidak jelek-jelek amat.

Di dalam diri seorang beriman selalu ada terang Kristus yang ingin dipancarkan di dalam kehidupan. Namun, tidak jarang orang berhenti menangisi diri dan tidak mau memancarkan terang dalam dirinya. Gereja selalu memberi kesempatan bagi kita untuk memaafkan kekurangan diri dan mulai memancarkan sinar. Setiap kali perayaan Ekaristi kita mengakui dosa dan memohon berkat. Juga setiap kali kita mengaku dosa, kita mengakui dosa kita dan memohon kekuatan untuk memperbaiki diri. Yang lebih penting bukanlah masalah mengakui yang sudah pernah dilakukan (sebab masa lalu tidak akan pernah kembali), tetapi bagaimana kita hendak memperbaiki hidup dan tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi dengan pertolongan dari Tuhan.

Selamat memulai kehidupan baru! Tuhan selalu ada untuk membantu kita mengatasi kegelapan-kegelapan di dalam kehidupan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

2,227 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Peran Kita

Peran Kita

(Yeh 34: 11-12.15-17; 1Kor 15: 20-26.28; Mat 25: 31-46)

Di dalam hidup ini, setiap orang memiliki beberapa peran. Seorang ibu rumah tangga misalnya, ia memiliki peran sebagai seorang istri, seorang ibu dan mungkin juga masih menjadi seorang anak dari kedua orang tuanya. Belum lagi di tengah masyarakatnya ia bisa berperan sebagai seorang ketua RT atau bendahara lingkungan. Di dalam perannya di gereja ia berperan sebagai seorang bendahara lingkungan sekaligus prodiakones. Seorang anak OMK, beda lagi perannya. Di rumah ia menjadi seorang anak sekaligus seorang kakak; di kampus ia menjadi mahasiswa; di tempat bermain ia menjadi pacar dari seorang teman; di Gereja ia menjadi anggota OMK dan peran-peran yang lain. Satu contoh lagi seorang ibu tua. Ia menjadi seorang nenek dari beberapa cucu; seorang ibu dari beberapa orang anak; seorang istri dari suaminya yang sudah sakit-sakitan; seorang teman bagi tetangganya yang juga sudah tua dan sering menjadi teman ngrumpi di waktu sepi. Demikianlah, kita menemukan bahwa manusia memiliki peran yang bermacam ragam di dalam hidupnya. Setiap peran memiliki aturannya masing-masing. Kita mempunyai aturan main yang berbeda ketika kita menjadi seorang anak dan ketika kita menjadi seorang orang tua. Kita mempunyai aturan yang berbeda ketika kita menjadi seorang teman, pacar, atau menjadi seorang pasangan resmi dari seseorang. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah, “Bagaimana dengan peran kita sebagai anak Allah?”

Menjadi Anak Allah

Ketika dibaptis, kita diterima dalam persekutuan Gereja sebagai anak-anak Allah, pribadi-pribadi yang hendak menjalankan perannya sebagai pembawa kebaikan Bapa di tengah dunia. Dalam peran kita sebagai anak Allah ini, kita memang mendapatkan kesempatan untuk mengalami kehadiran Allah dengan lebih dekat, baik melalui berbagai peribadatan maupun dalam persaudaraan dengan yang lain. Namun, di sisi yang lain tentu juga kita dituntut untuk menjalankan mengikuti tuntutan-tuntutan tertentu. Kita menyebutnya sebagai nilai-nilai tertentu yang diajarkan kepada kita. Tentu dalam menjalankan peran hidupnya, manusia memiliki cara masing-masing, tetapi di dalam nilai-nilai bersama yang harus dimainkan, orang perlu mengikuti nilai bersama. Dalam injil Mateus digambarkan bagaimana orang-orang yang dihakimi karena kegagalan untuk mengikuti tuntutan yang harus diperankannya sebagai manusia. Kepada mereka yang berhasil mengikuti kehendak Allah dikatakan:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25: 34-40).

Sementara kepada mereka yang gagal mengikuti kehendak Allah, raja itu mengatakan:
Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Mat 25: 41-45).
Tampak di dalam kedua gambaran ini apa yang sebenarnya diharapkan oleh Sang Raja, Allah Bapa sendiri bagi kita. Yang diharapkan adalah kepedulian kepada orang lain. Hidup bukan soal mengurusi diri sendiri melainkan tentang bagaimana kita berbagi dengan yang lain; tentang kepekaan terhadap orang-orang di sekitar kita. Dalam gambaran tentang anak Allah, kita bisa bertanya, “Kalau kita adalah anak Allah, apakah kita mewarisi sifat Allah yang peduli kepada orang lain? Kalau tidak, apakah kita masih layak menyebut diri kita sebagai anak-anak Allah?” Dalam teks itu juga tampaklah jelas apa yang membedakan antara mereka yang berhasil dan mereka yang tidak berhasil yaitu tentang bagaimana kita memperlakukan sesama kita. Semoga kita bisa melihat kehadiran Allah di dalam diri orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita.

Keluar dari Diri

Di dalam perjalanan kehidupannya, ada manusia yang belajar untuk keluar dari kungkungan dirinya sendiri, tetapi ada juga manusia yang hanya tahu melayani dirinya sendiri. Orang-orang yang belajar untuk keluar dari dirinya sendiri mulai membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang iklas, pribadi yang terbuka kepada kesulitan orang lain, mulai merasakan empati, mulai merasakan simpati dan tidak membunuh kepedulian kepada orang lain atas nama, “Aku sendiri masih berkekurangan”. Sementara orang-orang yang hanya tahu melayani dirinya sendiri sejak kecil tidak pernah belajar untuk melihat orang lain sebagai orang-orang yang perlu dilayaninya. Yang ia tahu hanyalah memenuhi kebutuhan dirinya sendiri saja. Pedomannya adalah, “Aku sendiri saja masih berkekurangan, untuk apa peduli kepada orang lain!”. Dalam pandangan yang seperti ini orang tidak mudah bersyukur karena hidup ini terasa kurang terus. Dari pengalaman perjumpaan dengan umat, saya bisa membaca mana orang yang belajar keluar dari kungkungan dirinya sendiri dan mana orang yang hanya berkutat pada dirinya sendiri. Sementara orang yang biasa peduli kepada orang lain mudah untuk bersyukur, dan biasa membicarakan kebutuhan orang lain (bagaimana suaminya mengalami kesulitan, anak-anaknya mengalami tantangan di sekolah, tetanggannya yang sakit, temannya yang sedang mengalami kesulitan dalam membina keluarga, bapak-ibunya yang semakin tua), orang-orang yang biasa melayani dirinya sendiri akan bicara terutama tentang dirinya sendiri (tentang masalah pribadinya, tetnang suaminya yang semakin tidak menyenangkan, tentang anak-anak yang tidak taat kepadanya, tentang orangtua yang semakin menjengkelkan, tentang temannya yang tidak lagi bisa diajak ngobrol dan jalna-jalan). Sementara orang yang belajar keluar dari kungkungan dirinya sendiri bicara tentang apa yang ia buat untuk orang lain, orang yang terus hanya melayani dirinya sendiri bicara tentang apa yang orang lain bisa buat untuk melayani dirinya. Kalau ditanya, “Siapa anda sekarang? Apakah anda orang yang biasa melayani diri sendiri atau orang yang biasa peduli kepada orang lain?”, apa jawaban anda?

Menjadi Seperti Allah

Kitab Yehezkiel mengatakan tentang sifat-sifat Allah yang bisa kita contoh agar kita bisa menjadi orang-orang yang biasa memikirkan kehidupan orang lain:
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. Dan hai kamu domba-domba-Ku, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba, dan di antara domba jantan dan kambing jantan. (Yeh 34: 11-12. 15-17).

Gambaran tentang seorang gembala ini menunjukkan sifat Allah. Allah itu terus menerus kita kagumi, kita ikuti dan kita percayai karena sifatnya yang memelihara kehidupan kita. Kalau kita ingin menjadi anak-anak-Nya, rasanya sifat inilah yang perlu kita contoh. Apakah kita adalah orang yang cukup bisa peduli kepada orang lain, membalut luka, mencari yang hilang dan membawanya pulang, melindungi mereka dari bahaya? Orang-orang itu bukan orang-orang yang jauh, tetapi orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang hanya sekali saja bertemu dengan kita: tukang parkir; orang yang kita jumpai di pasar; orang yang kita temui di bis kota. Mereka bisa jadi orang yang kita temui hanya dalam kurun waktu tertentu: teman-teman SD, teman-teman kuliah; atau murid di tempat anda mengajar. Mereka bisa jadi orang yang kita jumpai tetapi tidak mempunyai relasi yang begitu dekat dengan kita: teman-teman di Gereja, tetangga rumah dan sebagainya. Mereka adalah orang yang menjadi keluarga kita: orang tua, kakak-adik, om, tante dan sebagainya. Mereka itu bisa jadi anak-anak kita. Ia itu bisa jadi adalah orang yang paling dekat dengan anda yaitu pasangan hidup anda. Ia itu akhirnya adalah diri anda sendiri yang dipercayakan Tuhan kepada anda. Apakah kita bisa menjadi seorang gembala untuk mereka yang dipercayakan Tuhan kepada kita?
Akhirnya, biarlah perjalanan hidup kita ini bisa semakin hari bisa memenuhi peran kita sebagai anak Allah. Peran ini harus selalu mempengaruhi setiap peran yang kita mainkan: sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai seorang suami atau istri, sebagai seorang teman, sebagai seorang tetangga, dan sebagai sesama manusia. Tujuannya adalah supaya Allah semakin meraja di dalam kehidupan kita seperti yang diungkapkan di dalam surat St. Paulus kepada umat di Korintus. Di sana dikatakan, “
Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1Kor 15: 28)

Selamat menjalankan peran anda masing-masing sebagai anak-anak Allah yang mewarisi sikapnya yang menggembalakan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,235 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: ​Aku dan Gerak Batinku

Dalam sebuah permenungan, saya sampai kepada satu keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kumpulan dari hasil pergulatan hidup manusia yang ditampilkan di dalam tindakan. Tindakan kasih seorang ibu menggambarkan rasa kasih sayang yang ada di dalam hatinya. Namun, di waktu yang lain kemarahan yang ditampilkannya bisa terjadi karena ia sedang menyimpan banyak masalah di dalam dirinya. Sikap murah hati dari seorang penderma lahir dari rasa syukurnya atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Di tempat lain ada orang-orang yang berbuat korupsi meski sudah memiliki banyak hal. Pilihan tindakan ini bisa jadi lahir dari perasaan kurang yang terus saja menguasai dirinya. Bisa juga hal ini terjadi karena ia tak lagi punya perasaan peka terhadap kebutuhan sesama. Tentu pilihan-pilihan ini bukan sesuatu yang sekali jadi, biasanya perlu pembiasaan. Dalam kesadaran saya, saya lalu menyimpulkan bahwa untuk melakukan hal-hal yang baik, perlu adanya pembiasaan. Untuk melakukan hal-hal yang buruk pun perlu ada pembiasaan. Ini seperti saat pertama kali orang berlatih renang. Awalnya ia masih memikirkan bagaimana gerakan kaki dan kapan ia harus mengambil nafas, tetapi perlahan tetapi pasti ia semakin mahir. Saat ia menjadi mahir, tak lagi perlu waktu baginya untuk memikirkan soal hal-hal teknis. Yang ada padanya hanyalah kesenangan karena bisa menikmati olahraga ini.
Memahami Gerakan Batin

Dari penuturan di atas, maka semakin jelas bahwa setiap pribadi di dalam masyarakat kita adalah aktor-aktor penting yang berpengaruh di dalam kehidupan. Kita berbangga ketika ada atlit bangsa kita yang berprestasi, tetapi kita juga sedih ketika ada anak-anak yang harus mati karena perkelahian antar siswa sekolah menengah. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa tiap keputusan kita mempengaruhi hidup orang lain, terutama orang-orang di sekitar kita. Maka, gerak batin setiap pribadi harus dipahami setiap kali karena sayangnya hidup manusia tidak seperti sinetron. Dalam sinetron pemeran protagonist akan selalu menjadi pembawa kebaikan, sementara pemeran antagonis akan selalu membawa keburukan. Sementara bagi kita, selalu ada pilihan dalam tindakan kita. Ada kalanya kita bisa memilih mana yang baik, tetapi tak pernah tertutup kemungkinan bagi kita untuk jatuh. Dalam bahasa Indonesia ada kata yang pas untuk mengatakan tentang hal ini yaitu kata “Waspada”. Dalam bahasa Jawa ada ungkapan “sak bejo bejane wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspodo” yang artinya, “seberuntung-beruntungnya orang yang lupa diri, luwih begja kang eling lawan waspada lebih beruntung yang ingat dan waspada. Kata-kata ini seakan mengingatkan kita bahwa di dalam kehidupan selalu ada pasang surut dan jebakan yang bisa saja menjatuhkan kita. Sikap waspada perlu menjadi pegangan bagi kita.

Di dalam Injil Yesus pernah mengatakan demikian:

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
(Mat 21: 28-32)

Teks ini seakan menyadarkan kita bahwa kita tak selamanya bisa bertahan kalau kita tidak hati-hati. Manusia tampaknya harus siap sedia digerakkan oleh Allah untuk menghadapi situasi yang terus berubah. Orang tidak pernah boleh mengatakan bahwa ia adalah orang yang pasti benar. Sikap ini yang sering-sering menjadikan kita orang-orang yang salah dalam mengambil keputusan. Sikap arogan dan sombong kita, bisa jadi menjatuhkan kita kepada kesalahan. Bisa jadi mereka-mereka yang saat ini kita anggap sebagai orang-orang yang salah, mendahului kita untuk bertobat kepada Tuhan daripada kita yang terus mengalami penurunan kepada kedosaan. Yesus mengatakan dengan sangat baik, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah”.

Membela diri dari Dosa-Dosa

Kesadaran akan pentingnya gerak batin membuat kita siap untuk mengubah diri dan tidak menjadi pribadi yang kaku. Di dalamnya selalu ada dialog akan apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Sementara tidak sedikit orang mengatakan bahwa dia mengetahui segala hal yang baik di dunia ini, umat katolik mengatakan bahwa setiap kali kita butuh bimbingan roh. Manusia punya kelemahan besar yaitu ketidakwaspadaan. ketidakwaspadaan ini bahkan juga tampak di dalam kesombongan kita bahwa kita tahu yang terbaik untuk kita dan Tuhan salah memperlakukan kita. Sikap ini membuat kita terus menuntut apa yang terbaik untuk kita dan menghindari apa yang tidak baik. Nabi Yehezkiel mengatakan,

Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

(Yeh 18: 25-28)

Salah satu ciri dari dosa adalah bahwa dosa selalu ingin disembunyikan. Orang yang berdosa ingin agar dosanya tidak diketahui. Maka, orangyang sudah jatuh di dalam dosa, sering-sering adalah orang yang ingin membela diri. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Ia menutupi gerak batinnya yang sebenarnya ingin mengatakan, “Saya bersalah, saya ingin bertobat”. Di sinilah sebenarnya arti penting dari sakramen pengampunan dosa. Di sana kita menelanjangi diri kita dari segala pembelaan diri dan membiarkan batin kita siap untuk melangkah menuju kepada pertobatan dan pembaharuan hidup. Orang mengatakan, “Saya tahu bahwa saya berdosa tapi saya malu untuk mengakukannya” atau “Saya tidak ingin orang tahu bahwa saya ini lemah dan berdosa” atau “Saya terlalu terhormat untuk mengakui kesalahan”. Kata-kata ini sebenarnya adalah pupuk-pupuk bergizi bagi lahirnya dosa-dosa yang lain. Orang berhenti untuk kritis terhadap dirinya dan membiarkan diri terperosok ke dalam lubang-lubang dosa. Bahkan tak jarang lubang dosa itu adalah lobang dosa yang sama. Maka, orang mengatakan, “Orang berdosa itu bisa jadi lebih dungu daripada keledai”.

Kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus selalu menawarkan bahwa Allah selalu menerima kita. Ia seperti Bapa yang baik. Ia seperti gembala yang mencari domba yang hilang. Ia seperti seorang yang kehilangan koin yang mencari dengan sungguh satu koinnya yang hilang. Pertanyaan untuk kita masing-masing, “Apakah di dalam hatiku, aku mendengar panggilan Tuhan yang memintaku kepada pertobatan?” Kalau memang iya, marilah kita membiarkan diri kita dipandang oleh Tuhan, disembuhkan dari luka-luka kita dan dibuatnya menjadi lebih baik. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan mulai dari diri kita, siapa lagi? Rasanya inilah yang disebut Kerajaan Allah, situasi di mana manusia membiarkan dirinya dituntun oleh Allah.

Ada Rasanya

Anda tahu rasa apa yang ditawarkan oleh kebencian, rasa curiga, iri hati, dendam, dan perselisihan?

Anda tahu rasa apa yang ditawarkan oleh persaudaraan, ampun, kata terima kasih, ucapan syukur?

Rasanya sudah tidak lagi waktunya bagi kita untuk mempertahankan diri berada di dalam kubangan rasa-rasa benci, dendam, iri dan perselisihan. Sudah waktunya kita menikmati indahnya persaudaraan, ampun, terima kasih dan syukur. Santo Paulus mengatakan:
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.

(Fil 2: 1-2)

Sayangnya ada orang yang terus membiarkan diri untuk dijajah oleh ketidakmampuannya untuk bersaudara, memaafkan, berterima kasih dan bersyukur. Ia bukan hanya membiarkan orang lain meninggalkan luka di dalam dirinya sendiri, tetapi juga memelihara luka itu, agar setiap kali ada kesalahan dan ketidakbahagiaan, ia selalu punya orang lain yang dipersalahkan.

Kebahagiaan adalah pilihan kita karena kita bisa memilih untuk berbahagia atau  terus menerus memendam luka.
Rm. Martinus Joko Lelono, Pr

Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

4,226 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Tuhan yang Diperkecil

Tangga

Masyarakat kita sedang mengalami berbagai macam penyempitan di dalam kehidupan. Penyempitan yang dimaksud adalah semakin sempitnya imaginasi seseorang tentang kehidupan. Salah satu yang nyata dan memang sengaja ditanamkan adalah soal bahan makanan pokok. Dulu kita memiliki banyak bahan makanan pokok, tetapi sekarang bahan makanan pokok Indonesia adalah nasi. Dulu orang punya banyak pilihan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, termasuk pilihan jalan kaki, tetapi sekarang untuk jarak yang dekat pun orang hanya punya satu pilihan yaitu menaiki kendaraan pribadi. Gambaran yang lebih besar tampak di dalam penghargaan terhadap kualitas hidup seseorang. Di dalam hidup orang dianggap kaya kalau ia memiliki banyak harta dalam arti uang. Mereka-mereka yang memiliki kebijaksanaan. Mereka-mereka yang bekerja dengan pengabdian. Mereka-mereka yang dengan rela berjuang jatuh bangun menyelamatkan keluarga tidak dianggap kaya. Kekayaan berarti uang. Di sekolah, kepandaian diperhitungkan dalam konteks pelajaran matematika. Kalau orang bisa memasuki kelas IPA, dia dianggap pintar, sementara kelas lain dianggap kelas buangan. Orang mengatakan kepada teman saya, “Lah, kamu bisa masuk IPA kok malah masuk IPS”. Kepandaian dalam musik, olahraga, kebijaksaan, sikap mau berbagi, kerendahan hati sering-sering diabaikan. Ukuran kepandaian adalah pelajaran matematika. Dalam hidup keluarga, pekerjaan yang dihargai lebih adalah pekerjaan yang menghasilkan uang. Sementara mereka yang tidak menghasilkan uang dan tinggal di rumah untuk merawat anak-anak disebut kurang berharga. Padahal di sanalah terdapat perhatian penuh yang penting untuk anak-anak. Lahirnya anak-anak yang kurang perhatian, salah satunya karena pekerjaan menjadi ibu rumah tangga kurang dianggap mulia. Dalam hidup menggereja, orang suka hadir dan tampil ketika ada dalam perayaan. Ketika dalam perayaan besar kalau bisa terlibat, sementara untuk pekerjaan-pekerjaan kecil, doa lingkungan, Rosario dan pendampingan terhadap mereka yang akan meninggal bisa disingkirkan. Yang hebat adalah yang tampil.

Situasi yang semacam ini memiskinkan cara kita berpikir tentang hidup dan tentang kebaikan Tuhan. Tuhan baik kalau memberikan satu hal yang menjadi keinginan seseorang. Padahal nyatanya Tuhan punya seribu satu cara untuk memberikan kehidupan kepada seseorang. Teman saya yang tidak menjadi romo akhirnya menjadi seorang yang sukses dalam pekerjaan. Seorang teman lain yang kehilangan ayah sejak masa mudanya menjadi orang yang bisa dewasa di dalam hidup. Teman saya yang lahir dalam keluarga yang tidak ideal bisa menjadi orang dengan prestasi yang hebat. Teman saya yang tidak masuk kelas IPA, akhirnya menjadi seorang wartawan di sebuah usaha penerbitan kelas nasional.

Di sinilah kita sedang berhadapan dengan situasi dunia yang pola pikirnya semakin sempit. Secara rohani saya mengatakan, “Ada upaya untuk mempersempit karya Allah”. Ini menjadikan orang tidak bisa bersyukur hanya karena memiliki istri yang rajin, karena ia tidak ikut bekerja menghasilkan uang. Anak tidak bisa bersyukur atas bakat musiknya, karena ia bodoh dalam pelajaran matematika. Orang tidak bisa memandang pekerjaan guru secara mulia hanya karena gajinya yang selalu harus dipepet-pepet. Orang tidak bisa memandang hidup dalam gaya khusus seperti imam, bruder dan suster sebagai sesuatu yang mulia karena memandang bahwa ukuran kehebatan adalah kepemilikan.

Let Go and Let God

Saya pernah membaca tulisan Mgr. Suharyo pada tahun 2007 yang mengatakan tentang sebuah spiritualitas, “Let Go and Let God”. Secara bebas kata-kata itu diterjemahkan dengan “Tanggalkan dirimu dan biarkan Tuhan menuntun hidupmu”. Ungkapan ini amat mengena karena memang demikianlah realitas kehidupan. Sering-sering dalam kehidupan kita terperosok di dalam kesempitan pola pikir kita. Sekali lagi, Tuhan punya seribu satu macam cara untuk memberikan kehidupan kepada kita masing-masing. Sayangnya tak jarang kita terlalu sempit memaknai kehidupan. Orang yang sudah punya banyak pengalaman dan bisa memaknai pengalamannya tentu akan tahu apa artinya “Jika Tuhan tidak membuka pintu, pasti di tempat lain ia membuka jendela”. Hidup ini penuh dengan kejutan dan itulah yang membuat kehidupan menjadi menarik. Sayangnya generasi ini tidak terbiasa dengan kejutan dan sejak kecil kita dibiasakan dengan hal-hal yang normal dan wajar.  Anak-anak terbiasa dengan mainan yang aman yaitu game computer, sementara dulu anak biasa main di sungai, main di pinggir sawah, berlari-larian sehingga terbiasa dengan berbagai kemungkinan cidera. Permainannya pun siap dengan posisi kalah dan terbuka pada solidaritas mengingat bisa bermain dalam team. Sementara ada kecenderungan orang-orang zaman ini terdorong untuk terus mengejar kemenangan. Kalau tidak menang, maka berarti tidak berarti. Kembali kita mengenal satu sikap yang mempersempit karya Allah. Semangatnya tentu berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh Mgr. Suharyo, “Let Go and Let God”.

Allah yang Kaya

St. Paulus dengan sangat cemerlang menggambarkan betapa Allah itu memberikan kepada kita berbagai kemungkinan untuk kehidupan kita. Dia mengatakan “Saudara-saudara alangkah dalamnya kekayaan, kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-Nya, sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada Allah sehingga Allah wajib menggantinya? Sebab segala sesuatu berasal dari Allah ada karena Allah dan menuju kepada Allah. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya! (Rom 11: 33-36).

Guna memahami rencana Allah yang kaya, tidak selamanya mudah bagi seseorang. Apalagi kalau kita sedang mengalami peristiwa-peristiwa yang menurut hemat kita sebagai manusia tidaklah menyenangkan. Pengalaman gagal, pengalaman sakit, pengalaman direndahkan, pengalaman dikhianati, pengalaman jatuh dalam dosa dan sebagainya. Namun, Gereja mengajarkan kepada kita untuk bisa memahami semuanya dengan doa. Doa membantu kita untuk memahami kehidupan kita. Sayangnya doa pun kini disempitkan lagi menjadi doa Rosario, doa novena, misa, doa litany, doa koronka dan sebagainya. Padahal doa-doa ini adalah doa penunjang yang memang baik, tetapi harus diisi dengan doa-doa yang bersifat pribadi, saat orang bisa mulai memahami kehendak Allah. Di sinilah terjadi yang namanya komunikasi dengan Allah. Orang bisa bertanya, “Tuhan, apa kehendakmu atas hidupku? Tuhan mengapa saya harus mengalami ini? Tuhan apa yang terjadi dalam hidupku terdepat?” Dalam keheningan doa, mungkin yang kita dengar hanyalah kata-kata kita sendiri, atau imaginasi kita sendiri, tetapi di sanalah kita menemukan sedikit banyak petunjuk dari Tuhan karena dengan cara itulah kita bisa menyentuh ruang batin kita. Bukankah batin kita adalah tempat perjumpaan kita dengan Allah?

Demi Sebuah Tujuan

Orang mengatakan hidup ini seperti sebuah perjalanan. Ada kalanya perjalanan itu mendaki, rata atau pun menurun. Tentu orang akan senang kalau perjalanan itu terus menerus rata, dan tidak mudah menerima kenyataan bahwa ia harus mulai mendaki. Namun, hidup memang harus berjalan demikian. Orang senang menghindar dari pengalaman mendaki dan lebih suka terus berjalan di jalanan yang datar. Itulah yang dialami oleh Petrus tatkala Ia mengatakan Yesus sebagai Mesias dalam Injil Mateus. Mesias yang digambarkannya adalah seorang yang hebat, seorang yang luar biasa agung, yang adalah raja. Namun, Yesus membayangkan bahwa kemesiasan bisa diraih dengan pengalaman salib dan penderitaan. Ia menjangkau lebih banyak orang, menyentuh banyak hati dan bertahan sampai beribu tahun. Demikianlah kita perlu melihat betapa luas cara Allah memberikan kehidupan. Kalau kita sedang harus berjuang hari ini untuk pendidikan anak, akankah kita melihatnya sebagai sesuatu yang bermakna? Kalau kita harus berjuang untuk pendidikan, akan tiba saatnya kita menuai buah dari pendidikan yang kita terima. Di sinilah terjadi perkembangan bagi tiap-tiap pribadi. Hidup kita tidak diciptakan untuk menjadi biasa-biasa saja. Ada kalanya kita perlu berjuang agar di tengah kesulitan dan tantangan kehidupan ini, kita bisa menemukan diri kita sedang berjuang untuk sebuah tujuan. Kita tahu bahwa perjuangan kita bukan tanpa makna. Perjuangan kita ada maknanya dan itu membuat kita bertahan dan terus berjuang meski harus mengalami derita dan kesulitan.

Dalam sebuah buku pernah dikatakan, “Kita ini diselamatkan, untuk sebuah tujuan” atau kata-kata lain dikatakan, “Hidup ini seperti seorang yang diutus oleh seorang raja ke negeri seberang untuk sebuah misi. Meskipun dia berhasil melakukan banyak hal, tetapi kalau ia tidak melakukan hal yang utama, ia tidaklah berhasil sama sekali!” Boleh jadi anda adalah pegawai dengan karir yang hebat, tetapi kalau anda lupa membahagiakan anak dan istri jadilah sia-sia. Kalau kita adalah seorang aktivis Gereja yang luar biasa, tetapi kalau keluarga kita hancur dan tak terperhatikan, jadilah sia-sia. Kalau kita adalah aktivis kampus yang hebat, kalau kita tidak menyelesaikan kuliah, jadilah sia-sia. Kalau kita adalah seorang yang berteman dengan banyak orang tetapi tidak bisa berdamai dengan keluarga sendiri, maka apa jadinya semua itu.

Rasanya, Tuhan meminta kita untuk membuka segala kemungkinan yang harus kita benahi di dalam kehidupan ini. Ia menghendaki kita untuk menjadi seperti Dia yang kaya dalam banyak hal: menjadi kaya di dalam persaudaraan (tak hanya kaya dalam uang); kaya di dalam kreativitas dan kerendahan hati (tak hanya kaya dalam matematika); kaya dalam  penghormatan terhadap orang lain (tak hanya menjadi sibuk dengan diri sendiri saja).

Perlahan kita memperjuangkannya agar kita bisa menemukan kemana Allah sebenarnya menuntun hidup kita.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,870 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: ​Memancarkan Kehadiran-Nya

Memancarkan Kehadiran-Nya

Bolehkan saya menggambarkan diri kita manusia ini laksana sebuah bulan. Anda bisa memilih sendiri di akhir permenungan ini, “bulan macam apakah anda?” Seperti jamak kita tahu, bulan pada dasarnya adalah suatu benda yang menerangi di waktu kegelapan tiba. Terangnya bukan datang dari benda itu sendiri, melainkan dari matahari. Orang bisa mengatakan bahwa ia hanyalah sebagai pantulan atas apa yang dipancarkan oleh matahari. Uniknya ada beberapa macam penampakan bulan, dari yang paling kecil kelihatannya sampai yang secara penuh menerangi kegelapan bumi. Orang menyebutnya sebagai: Bulan baru (ada tetapi tak terlihat), bulan sabit, Bulan purnama atau bulan penuh, bulan tua yang mengecil. Gambaran mengenai bulan-bulan ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana setiap pribadi memancarkan cahaya ilahi di dalam hidupnya. Dalam diri setiap pribadi Kristiani tinggallah Tuhan. Hanya, apakah manusia hendak memancarkan kebaikan-Nya atau tidak, itu menjadi tanggung jawab bagi pribadi itu sendiri.
Saya tertarik untuk merenungkan lebih dalam gambaran tentang cahaya ini tatkala membaca teks tentang Yesus yang menampakkan kemulian-Nya di atas Gunung Tabor. Ia yang menampakkan keagungan itu secara nyata menunjukkan kepada kita bagaimana diri-Nya adalah satu bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Israel. Bersama dengan Musa, ia menunjukkan bahwa perjalanan masa ketika umat Israel pulang dari Mesir ke tanah terjanji kini masih berlanjut sampai zaman Yesus. Bersama dengan Elia, Ia menunjukkan bahwa usaha Elia untuk mendampingi para raja masih dipelihara oleh Yesus ketika Ia menjadi sumber kebaikan atas hidup orang-orang masa itu. Demikianlah akhirnya dalam diri Yesus terpancar berbagai macam bentuk kebaikan. Yesus melanjutkan karya keselamatan, bahkan dengan cara yang lebih besar. Dia memancarkan kebaikan itu sehingga orang-orang merasa kembali diterima sebagai pribadi.

Bentuk-Bentuk Kebaikan Yesus

Kalau boleh jujur, sebenarnya Yesus itu bukan orang yang hebat-hebat amat. Dia adalah orang yang biasa. Hal yang membuat Dia hebat, bukanlah kehebatannya yang kasatmata dengan mempergandakan roti, mengubah air menjadi anggur, atau bahkan dengan membangkitkan orang mati. Namun, kehebatannya yang luar biasa adalah saat Ia bisa menyentuh hati banyak orang. Melalui kehadirannya, orang bernama Mateus sang pemungut cukai kembali merasa diterima meski orang lain mengatakan, “Mengapa dia makan dan minum bersama orang berdosa?”. Melalui kehadirannya, orang bernama Maria Magdalena kembali mendapatkan hidup, meski orang lain berkata, “Kalau benar dia ini adalah seorang besar, tentu Ia tahu orang macam apa perempuan ini”. Melalui panggilannya, Petrus yang berkali-kali tak setuju dengan Dia, akhirnya mengatakan, “Benar Tuhan aku mengasihi Engkau”. Dalam belaskasih-Nya yang besar, Ia membangkitkan anak janda di Nain, demi mendapatkan kembali harga dirinya mengingat itu hanyalah satu-satunya anak yang ia punya. Dalam kesederhanaan-Nya, ia menyembuhkan orang yang dianggap gila di Gerasa. Akhirnya, Ia menyerahkan diri demi melihat banyak orang tidak lagi dikuasai oleh keinginan untuk saling menyakiti. Di atas salib Ia menunjukkan kepada kita bahwa kebencian musnah oleh kasih orang yang mau menyerahkan diri bagi orang yang dikasihi. Betapa sikap ini menyelamatkan banyak orang dari kecongkakan diri. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa ada saatnya untuk membela kebaikan tanpa harus selalu menjadi seorang pemenang.

Santo Petrus, orang yang mengikuti Yesus dengan susah payah itu mengatakan di dalam suratnya, “Saudara-sadara, kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manuisa, ketika kami memberitakan kepadamu kuasa dankedatangan TUhan kita Yesus Kristus, sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesan-Nya” (1 Petrus 1: 16-17). Rasanya kemuliaan itu terpancar di dalam kehidupan sehari-hari Yesus dan di akhir hidup-Nya, Ia memancarkan kemuliaan dengan cara yang memang unik, memang khas tetapi juga sangat membantu untuk memberi arti kepada kehidupan.

Bagaimana dengan kita?

Rasanya, tawaran yang sama sekarang disediakan bagi kita. Masing-masing dari kita mendapatkan tawaran untuk memancarkan kebaikan Tuhan itu di dalam kehidupan kita masing-masing. Mungkin tidak harus dengan cara-cara yang hebat, cara-cara yang wah, cara-cara yang luar biasa. Masing-masing dari kita bisa memulainya dengan bertanya:

a. Bagaimana perlakuanku kepada mereka yang mengalami kegagalan di dalam hidup.

b. Bagaimana perlakuanku kepada mereka yang meninggalkan Gereja?

c. Bagaimana perlakuan kita terhadap mereka yang telat saat misa atau sibuk dengan hp saat misa?

d. Bagaimana sikap kita terhadap anggota keluarga kita yang sedang memiliki masalah?

Tak jarang orang suka tampil menjadi pribadi yang hebat, tetapi lalu tidak peduli terhadap orang lain. Orang ini lebih suka memamerkan kesempurnaannya, tetapi lupa memberi diri kepada sesamanya. Sekali lagi, adakah kita sudah menjadi bulan yang bersinar dalam kegelapan dengan menampilkan diri sebagai tanda kehadiran Allah? Ataukah kita lebih menjadi semakin gelap atau meninggalkan mereka.

Menyendiri di Gunung

Penampakan kemuliaan Yesus terjadi di atas Gunung Tabor. Di sana Yesus hadir sebagai pribadi yang berdoa. Ia suka menyendiri di atas gunung untuk menemui keheningan hingga akhirnya menemukan cara-cara untuk semakin mencintai dunia. Demikianlah kiranya doa-doa kita dalam hening, bukan hanya sekedar sarana untuk mengadu dan memohon, tetapi menjadi sarana bagi kita untuk menemukan cara-cara untuk mengabdi dan mencintai. Di dunia yang seringkali menawarkan apa yang menyenangkan dan membuat orang hidup hanya untuk dirinya sendiri saja, atau merasa cukup dengan dirinya sendiri saja, rasanya menyendiri di Gunung berarti menemukan kembali hasrat diri untuk memaknai hidup. Tuhan membutuhkan kita bukan sebagai pribadi-pribadi yang suam-suam kuku, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang kuat dan pemberani.

Di masa kita ini, perlu lahir pribadi-pribadi yang unggul yang lahir dari kesadaran bahwa Allah menyertai dan mendampinginya. Dunia dan Gereja kita membutuhkan pribadi-pribadi yang penuh semangat seperti halnya Yohanes Pembaptis; pribadi-pribadi yang tahan uji seperti halnya Santo Paulus; pribadi-pribadi yang tekun dan setia seperti Maria; pribadi-pribadi yang suci seperti Santo Yusuf; dan pribadi-pribadi yang siap berubah seperti halnya Petrus dan Maria Magdalena.

Sikap hening dan doa membantu kita untuk tidak hanya dibawa oleh arus dunia yang semakin berpikir hanya tentang dirinya sendiri, tetapi bisa perduli kepada orang lain. Dalam bahasa pendidikan ini disebut sebagai usaha memanusiakan orang lain. Jangan sampai tolok ukur kepedulian kita hanya ada pada seberapa banyak aku mendapat dari dunia, melainkan juga seberapa banyak aku berbagi kepada dunia.  Kalau dalam bahasa sederhana saya katakana, semakin masuk ke dalam diri, kita akan tahu sebenarnya seberapa banyak yang kita butuhkan dan seberapa banyak yang bisa kita bagikan. Kita mulai bisa berpikir untuk berkorban untuk kepentingan orang lain, bukannya mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri kita sendiri.

Ada harapan agar kita mulai mengusahakan diri agar menjadi seorang ibu yang menampakkan kemuliaan Tuhan; suami yang menampakkan kemuliaan Tuhan; pastor yang menampakkan kemuliaan Tuhan; suster yang menampakkan kemuliaan Tuhan; anak-anak yang menampakkan kemuliaan Tuhan; prodiakon yang menampakkan kemuliaan Tuhan; teman yang menampakkan kemuliaan Tuhan;  saudara yang menampakkan kemuliaan Tuhan; guru yang menampakkan kemuliaan Tuhan; dan sebagainya. Selamat.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Projo Keuskupan Agung Semarang

3,311 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Pemimpin

Pemimpin

Di dunia ini, pada dasarnya setiap orang dipanggil untuk menjadi seorang pemimpin. Siapakah pemimpin itu? Pemimpin adalah orang yang bisa menentukan arah. Dia tidak hanya mengikuti arus tetapi membawa arusnya sendiri menuju kepada suatu tujuan. Seorang pemimpin berani mengambil keputusan dan berani menerima konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
Dalam menentukan arah, orang perlu berhenti mengetahui siapa dirinya, situasi yang sedang dialaminya dan nantinya menimbang setiap keputusan yang akan diambilnya. Itulah yang disebut sebagai sikap yang dewasa. Satu hal yang dibutuhkan di dalamnya adalah sikap bijaksana, sikap bening dalam melihat sesuatu dan tidak hanya dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di luar dirinya. Orang punya suatu nilai di dalam dirinya dan nilai itu turut menentukan ke mana arah hidupnya. Dia menyadari bahwa dirinya bukan hanya seorang pribadi yang mengikuti saja apa kata orang, tetapi seorang yang punya keputusan.
Berbeda dengan seorang pemimpin, terdapat jenis orang lain yaitu seorang pengikut. Seorang pengikut tidak suka membuat keputusan. Dalam bahasa Jawa, ada kata-kata “Rubuh-rubuh gedang”, yang berarti seorang yang hanya mengikuti saja suara mayoritas.Dia senang mengikuti saja yang ada. Suara mayoritas selalu menjadi pilihannya. Dia tidak berani mengambil resiko karena itu berarti membuatnya menjadi seorang yang punya masalah. Apa yang membuat nyaman diambilnya, sementara apa yang membuatnya merasa tidak nyaman dihindarinya. Di dalam Kitab Suci, sikap orang yang menjadi pemimpin ini dipuji, sementara sikap orang yang hanya menjadi pengikut saja dicela.

Belajar dari Salomo

Di usianya yang muda, Salomo dipilih Tuhan untuk menjadi seorang raja. Berbeda dari ayahnya yang ahli perang, dia tidak ahil dalam hal itu. Padahal, ia perlu suatu hal yang bisa menjadikannya seorang yang dipercaya memimpin bangsa yang besar itu. Maka, dalam mimpinya, saat Tuhan menanyai apa yang diperlukannya, Salomo hanya meminta satu hal yaitu kebijaksanaan. Dia tahu bahwa itulah modal besar bagi seorang pemimpin dan tepat di titik itu, ia tahu bahwa ia masih memiliki kelemahan. Berkat rahmat dari Tuhan, ia benar-benar menjadi seorang raja yang bijaksana sehingga bisa memimpin bangsanya dengan gilang gemilang. Tepat di sinilah keagungan Salomo. Dia menyadari diri sebagai orang yang lemah, lalu ia memohon kepada Allah rahmat kebijaksanaan. Sekali lagi, kebijaksanaan itu diterimanya sebagai rahmat. Rahmat itu lalu digunakan untuk memimpin bangsanya.

Demikianlah kesadaran yang perlu dibangun oleh seorang pemimpin. Pertama, kita ini adalah pribadi-pribadi yang lemah, pribadi-pribadi yang tidak mempunyai daya berlebih. Yang kita punya hanyalah diri kita yang terbatas. Namun, ada orang yang berhenti dan diam dengan keterbatasannya, sementara yang lain berjuang untuk mengatasi keterbatasan. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa bersama dengan Tuhan, kita mengakui keterbatasan dan memohon kebijaksanaan agar bisa memimpin dengan baik. Kalau anda adalah seorang ibu, anda tahu bahwa anda punya keterbatasan sebagai seorang ibu, tetapi anda bisa meminta kebijaksanaan agar Tuhan membantu anda untuk menjadi seorang ibu yang baik. Kalau kita seorang anak sekolah, kita tahu bahwa kita punya berbagai kekurangan sebagai seorang anak sekolah. Namun, kita bisa meminta kebijaknaan dan berjuang agar apa yang kita pelajari dapat kita pahami dan akhirnya nanti bisa menjadi sarana untuk mengabdi bagi banyak orang. Kalau anda adalah seorang suami, anda tahu bahwa sebagai suami anda tidak sempurna, tetapi mintalah kebijaksanaan dari Tuhan maka anda bisa bertindak secara bijak sebagai seorang suami. Itulah sebabnya kita perlu berdoa. Di dalam doa, di dalam ketenangan kita bisa bertanya “Siapakah aku saat ini? Dan apa yang harus aku lakukan untuk saudara-saudari yang dipercayakan Tuhan kepadaku?”. Nyatanya hidup setiap pribadi itu unik dan tidak bisa sama satu dengan yang lainnya. Tidak ada ayah pada umumnya, yang ada adalah Pak Joyo bapaknya Ani, Pak Dipo bapaknya anin dan sebagainya. Kita adalah manusia-manusia khusus dengan permasalahan khusus. Maka, sebenarnya di dunia ini tidak ada rumus pasti untuk menjalani hidup. Semua orang harus menemukan caranya sendiri untuk menghadapi situasi kehidupannya. Bahkan seorang bapak yang mendampingi tiga anaknya, harus punya pertimbangan khusus tentang bagaimana mendampingi setiap anaknya. Maka, sangat tidak etis bagi seorang ayah untuk mengatakan, “Kok anakku yang kecil ini tidak sepintar kakak-kakaknya” atau “Kok dia tidak secantik adiknya”. Setiap orang perlu diperhatikan secara pribadi.
Demikian juga tidak ada yang namanya menjadi romo pada umumnya. Yang ada adalah romo A di paroki B, atau romo C di paroki D. Artinya di tempat tertentu pun tantangannya berbeda dan selalu berganti sesuai dengan perjalanan waktu. Sikap dan keputusan seorang romo di Paroki A belum tentu cocok dengan apa yang terjadi di paroki B. Artinya, semua hal berubah seperti kata Heraklitos “Satu hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri”. Kebijaksanaan bergerak dan berjalan bersama dengan waktu. Kadang orang berpikir bahwa ada hal yang selalu baik untuk dilakukan, padahal tidak selalu demikian. Misalnya saja, orang yang aktif di Gereja. Orang berpikir itu baik. Namun, saking asiknya, dia lupa untuk mengurusi keluarganya sehingga keaktifannya di Gereja mengurangi waktunya untuk bersama dengan istri dan anak-anak. Itulah pentingnya kita menimba kebijaksanaan setiap hari, karena segalanya berubah dan perlu ditanggapi dengan cara yang baru. Maka, doa-doa kita perlu menjadi konkrit sesuai dengan apa yang sedang kita alami. Salomo tahu bahwa dia yang lemah itu terberkati untuk memberkati. Demikian juga kita tahu bahwa sebagai manusia yang lemah, kita ini diberkati untuk memberkati. Kesadaran sebagai orang yang lemah tidak membuat kita berhenti berjuang, tetapi kita membiarkan diri kita dipimpin oleh Tuhan memberkati pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kalau mau diringkas, kita bisa mengatakan, “Aku ini lemah dan terbatas, tetapi Tuhan memberkatiku sehingga aku bisa memberkati orang lain”. Dengan demikian muncul sikap yang bijaksana. Aku tidak buruk sama sekali karena aku diberkati, tetapi aku juga tidak hebat-hebat amat karena kebaikan itu dari Tuhan asal-Nya. Kekuranganku tidak membuat aku merasa tidak bermakna, kelebihanku tidak membuat aku merasa lebih tinggi dan hebat daripada semua yang lainnya.

Para Pemimpin

Seperti dikatakan di depan, setiap dari kita adalah seorang pemimpin. Kita, anda dan saya masing-masing diberkati Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin. Orang mungkin mengatakan bahwa orang yang menjadi pemimpin adalah orang-orang di usia yang produktif. Orang yang memasuki usia senja tidak lagi dianggap sebagai orang yang bisa memimpin. Padahal mereka bisa menjadi pemimpin. Kita menemui orang-orang tua yang bisa bersikap bijaksana saat berbicara dengan anaknya, mendampingi cucu-cucunya. Meski ada juga orang-orang sepuh yang lebih suka menyalahkan situasi karena apa yang dilakukan oleh orang yang muda tidak lagi sama dengan yang dijalaninya, seakan dunia jaman dulu selalu lebih baik dari dunia zaman ini. Orang juga terkadang tidak menganggap anak-anak adalah seorang pemimpin. Ini sikap yang salah besar. Anak-anak perlu diajari untuk mulai menjadi seorang pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri. Dia perlu diajari untuk bertanggung jawab misalnya untuk tahu jam belajar, untuk paham membantu orang tua. Jika tidak, anak-anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang tergantung terus kepada orang lain. Padalah, itulah ciri-ciri seorang pengikut. Sementara kita dipanggil untuk menjadi seorang pemimpin. Orang-orang di usia produktif pun tak jarang ada yang gagal untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana. Dia bahkan tidak bisa memimpin dirinya sendiri untuk menentukan arah tindakannya. Dia mudah tergoda oleh tawaran-tawaran dunia yang ada. Ada orang tua yang mengeluh karena anaknya memasuki dunia narkoba atau akhirnya berpindah agama karena pernikahan, dan menyalahkan sang anak tanpa sadar bahwa dia terlibat di dalam proses itu. Bagaimana proses pendampingan dilakukan. Maka, sebagai seorang pemimpin, setiap pribadi perlu belajar menentukan arah.

Arah Sang Pemimpin

Sang pemimpin bukanlah seorang yang ditentukan oleh dunia, tetapi berani bersikap menentukan dunia. Meski ia merasa lemah, dia tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian. Inilah yang disebut sebagai “Pembawa rahmat”. Rahmat dari diri kita muncul bukan hanya ketika kita mengikuti saja apa yang kita jalani, tetapi berani belajar untuk menentukan. Kalau pun kita mengikuti apa yang dijalani itu karena kita tahu bahwa yang kita lakukan itu benar. Dalam hal inilah, keputusan bersama pun akhirnya harus menjadi keputusan pribadi, diterima dan dijalani. Nantinya kita akan tahu ke arah mana kita sedang berjalan dan bagaimana kita akan melangkah.
Selamat datang di dunia para pemimpin yang di dalam kelemahannya setiap hari menimba kebijaksanaan dari Tuhannya agar bisa semakin menjadi berkat bagi sesama.
Berkah Dalem.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

2,397 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Melawan Cinta Diri Berlebihan – Khotbah Rm. Joko Lelono

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Anda boleh bingung seperti halnya saya kalau mendengar kata-kata Tuhan Yesus yang mengatakan, “Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Bukankah Dia meminta kita untuk mencintai sesama kita? Bukankah selayaknya orang yang ada di sekitar kita adalah orang-orang yang paling kita cintai. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk merenungkan ayat ini. Mungkin hasil permenungan saya bisa membantu anda untuk memahami teks ini. Tetap terbuka kemungkinan untuk menawarkan permenungan anda sendiri.

Satu ungkapan yang akhirnya saya temukan dalam merenungkan teks ini adalah, “Cinta kita kepada bapa-ibu, dan anak-anak kita sering-sering membuat kita tidak bisa bergerak mengikuti kehendak Allah”. Tak jarang orang jatuh pada rasa puas diri yang membuatnya tidak bisa bergerak di dalam kehidupan. Paus Fransiskus mengatakan, “Kehidupan ini pada dasarnya adalah sebuah perjalanan. Kalau kita sampai berhenti bergerak, hati-hati bisa jadi kita sedang ada dalam situasi yang salah!”. Orang yang puas dengan situasi keluarganya, orang yang lupa mencari hal baru untuk mengungkapkan belas kasih; pribadi yang lupa untuk melihat situasi keluarganya yang baru membuat kehidupan berhenti dan lupa untuk bertanya, “apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk aku lakukan dalam keluargaku hari ini!”. Maka tak jarang kita menemukan orang tua yang mudah bertengkar dengan anak remajanya karena orang tua masih suka memperlakukan anaknya yang sudah tumbuh dewasa masih sebagai anak-anak. Mereka lupa untuk mulai mendampingi anak-anak itu sebagai orang yang sudah remaja, yang perlu mendapatkan kepercayaan dan siap untuk mengemban tugas-tugas. Tak jarang juga ada anak-anak yang lupa bahwa orang tuanya sudah semakin tua. Mereka lupa memperhatikan orang tuanya yang sudah renta itu sebagai orang yang sekarang gentian membutuhkan kehadiran mereka. Maka tak jarang anak-anak dari orang-orang yang sudah tua ini masih terus saja mengharapkan bahwa mereka masih terus bisa mendapatkan banyak hal dari orang tuanya. Mereka belum berpikir bahwa sudah tiba saatnya bahwa merekalah yang ikut bertanggung jawab untuk kehidupan orang tuanya. Bukan hanya diminta bantuan secara fisik material, tak jarang orang tua ini masih pula dibebani dengan beban merawat cucu. Saya pernah merasa ingin menangis mendengarkan orang tua yang mengatakan bahwa anaknya menitipkan satu putra kepadanya, tetapi untuk kebutuhan hidup dia juga yang harus menanggung. Di saat ia ingin menikmati hari tua, ia masih diributkan dengan kehadiran anak kecil.

Hari berlalu dan situasi berganti. Dalam hal inilah juga orang perlu menatap kenyataan bahwa hidup sudah berubah. Tidak ada sesuatu yang tetap. Situasi-situasi yang baru membutuhkan cara untuk menghadapi kehidupan dengan cara yang baru. Jangan sampai kita sebagai manusia terjebak oleh situasi tertentu. Kehendak Tuhan harus dipahami dari sehari ke sehari. Kehendak Tuhan bagi anda di masa anda kanak-kanak berbeda dengan kehendak-Nya di masa anda bertumbuh menjadi orang dewasa, berbeda pula dengan situasi saat anda menjadi orang dewasa. Maka pertanyaan kita kepada Tuhan, kalau kita hendak mencintai DIa, adalah “Tuhan apa yang Engkau kehendaki atas hidupku hari ini!”. Itulah sebabnya dalam doa Bapa Kami kita memohon “Jadilah Kehendak-Mu” dan “Berilah kami rejeki pada hari ini.”

Nabi Elisa
Usaha untuk memahami kehendak Allah dari sehari ke sehari itu terjadi dalam kisah Nabi Elisa. Dia dipanggil Tuhan ketika Ia sedang membajak di sawah. Ia adalah anak dari seorang petani yang kaya. Orang tuanya memiliki 12 pasang lembu dan dia yang bertanggungjawab untuk yang kedua belas. Namun, karena kehendak Allah yang diterimanya adalah untuk menjadi seorang nabi, maka ia tinggalkan semuanya, bahkan Ia menyembelih lembu itu dan memasaknya dengan kayu yang berasal dari bajak yang biasa digunakannya. Itu artinya, ia tidak akan kembali menjadi petani lagi. Setelah itu, ia melakukan banyak hal mulai dari membangkitkan orang mati, memberi nasihat kepada raja yang sudah lupa akan Tuhan, dimusuhi oleh orang banyak, menyembuhkan orang yang sakit dan banyak hal lain lagi. Yang jelas dia mewartakan kepada umat Israel bahwa di dalam situasi yang sesulit apapun Allah tetap menyertai kehidupan mereka. Untuk itulah, ia mencoba untuk memahami kehendak Allah sehari demi sehari, perlahan-lahan dan tidak terkungkung oleh suatu situasi tertentu.

Demikianlah, nabi Elisa membantu kita untuk memahami apa artinya hidup sebagai sebuah perjalanan. Kisah hidupnya membuat kita paham bahwa selalu ada hal-hal baru yang perlu kita dengarkan dari Tuhan, sehari ke sehari. Di sinilah keunikan kehidupan bersama dengan Tuhan yaitu bahwa kehendak-Nya dipahami selangkah demi selangkah. Tidak ada rumus umum mana yang menjadi kehendak Allah untuk hidup kita. Semua harus melihat konteks apa yang sedang terjadi. Seorang anak kadang membutuhkan sentuhan dan pelukan, tetapi ada masanya juga seorang anak membutuhkan kritikan dan peringatan.
Dalam Hidup Menggereja

Anda bisa melanjutkan permenungan tentang bagaimana mencintai Allah, mencintai anak-anak, mencintai orang tua tadi. Namun, perkenankan saya untuk mengajak anda merenungkan lebih dalam bagaimana cara Gereja kita, Paroki St. Maria Assumpta Gamping mencoba untuk terus menerus memperbarui diri. Secara fisik, Gereja kita ingin semakin mampu membantu umatnya untuk bisa berjumpa dengan Tuhan. Bangunan Gereja dipercantik. Gereja yang dulu tampak sempit diperlebar; altar yang dulu tampak di belakang sehingga banyak umat di sisi kanan dan kiri sekarang dimajukan; tempat doa yang sempat tersisihkan karena bangunan Gereja yang diperlebar, sekarang sudah dibangun baru, parkiran Gereja yang dulu sempit sekarang sudah diperluas dan dengan bantuan warga sekitar jalannya parkir menjadi lebih lancer; panti paroki sedang dibangun meski dengan terseok-seok; pasturan juga sedang dikerjakan. Secara rohani, kita melihat ada banyak gerakan-gerakan yang sedang tumbuh dan hendak maju di dalam paroki kita. Beberapa waktu yang lalu kita mengadakan penataan kembali tatacara liturgi sehingga para petugas tidak kesulitan mengikuti perayaan dan umat terbantu; Orang Muda Katolik mengadakan rekoleksi OMK setelah 6 tahun tidak mengadakan rekoleksi (pesertanya mencapai 75 orang); misdinar Paroki akan mengadakan kemping bersama; katekese di Gereja sedang mencoba untuk menata kembali apa yang baik yang bisa dilakukan sehingga bisa melibatkan semakin banyak orang; beberapa lingkungan mencoba untuk membuat guyub paguyubannya dengan mendirikan arisan bapak-bapak – doa keluarga, pertemuan ibu-ibu, pia lingkungan, arisan OMK, koor anak-anak, koin maria – dan lain sebagainya. Gereja kita sedang bergerak maju dan kita ingin agar kita semua terlibat. Pertanyaannya, “Apakah anda melihatnya? Ataukah anda hanya melihat Gereja kita ini sebagai sesuatu yang sama saja? Apakah pula anda terlibat di dalam gerak Gereja ini? Ataukah anda terlalu enggan untuk mengatakan bahwa ‘saya ingin mulai terlibat’?” Kehidupan menggereja itu terus berjalan dan kalau sampai anda berhenti untuk melihat dan mengikuti gerak langkah Gereja ini, mungkin itulah salah satu tanda kita masih terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita terlalu enggan untuk menatap bagaimana karya Allah telah nyata dan terus nyata di dalam Gereja ini.

Saatnya adalah Kini
Terlalu banyak orang enggan untuk membuat perubahan diri. Terlalu banyak orang yang sikapnya kaku: orang yang suka membuat cap-cap negative atas diri orang lain dan tidak siap untuk melihat perubahan. Orang suka mengatakan, “Dia itu pasti jelek!”; “Dia pernah menyakiti saya, jadi dia pasti orang yang jahat”; “Organisasi di Gereja itu pasti tidak bermutu!” “ Misdinar di paroki ini selalu salah dalam bertugas”; “Orang muda di Paroki ini datang hanya kalau acara makan-makan saja!” Gambaran ini menunjukkan betapa naif kita. Dalam bahasa latin ada ungkapan “Tempora mutantur et nos mutamur in illis”.

Ada pula orang yang mudah menjadi ragu-ragu, “Anakku memang seperti itu dan tidak pernah berubah!” atau “Bapak itu memang galak dari dulu!”. Ada pula yang mengatakan, “Mungkin lingkungan lain bisa menjadi guyub dan akur, tetapi tidak dengan lingkunganku”. Sikap ini bisa membuat kita berhenti bergerak maju dan lupa bahwa mimpi untuk kebaikan itu selalu ada dan akan selalu ada.
Kehendak Tuhan itu baik dan kalau anda masuk dalam suasana doa, dalam suasana keheningan dan sering mencari waktu untuk bersama dengan Tuhan, anda akan memahami apa yang sebenarnya Dia kehendaki. Namun, kalau kita terlalu memegang erat rencana kita, keinginan kita, kesombongan kita, pengakuan kita sebagai korban dan bukannya sebagai orang yang berperan di dalam perubahan, dan sebagainya, kita hanya akan terus menerus menjadi penonton. Kita tidak bergerak untuk menjadi orang yang menjadi agen perubahan.

Saat ditahbiskan satu tahun yang lalu, saya mengambil motto tahbisan, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Harapan saya, di dalam menjalani hidup sebagai imam, saya bisa menjadi saksi mata atas banyak karya Tuhan di dalam kehidupan. Di paroki ini saya sudah melihat banyak karya Tuhan yang luar biasa. Namun, rasanya masih ada banyak karya Tuhan yang lain yang akan saya dan kita semua lihat dan rasakan saat kita mau menjadi bagian dari perubahan menuju kebaikan di paroki kita, mulai dari diri pribadi, keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki. Kita saat ini belumlah mencapai titik yang terbaik, maka jangan terlalu enggan untuk mengatakan bahwa, “Aku perlu berubah, keluargaku perlu berubah, lingkunganku perlu berubah, wilayahku perlu berubah, parokiku perlu berubah!”
Saya dan anda berharap, semoga Gereja kita, paguyuban kita sebagai umat beriman, bisa menjadi gambaran Kerajaan Allah, tempat di mana Allah berkarya dan kita semua hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa persaudaraan dan kebaikan.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,702 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Joko Lelono: Tatkala Yesus Naik ke Surga

Bunda Maria

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28: 20)

Tatkala Yesus naik ke surga, Dia mewariskan satu hal besar kepada umat manusia yaitu iman. Yesus yang menghadirkan Allah di tengah manusia telah menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak pernah akan meninggalkan kita. Ia yang hadir bagi orang miskin; Ia yang hadir bagi orang yang terpinggikan; Ia yang menyapa kesombongan manusia dengan kritikan yang tajam tetapi menyentuh hati; Ia yang menyembuhkan hati atau pun jasmani yang sakit; Ia yang rela mati bagi sahabat-sahabat yang dicintai-Nya. Yesus sudah menunjukkan bagaimana Allah mencintai manusia dengan luar biasa. Yesus sudah menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh, tetapi Allah yang selalu menyertai perjalanan hidup manusia. Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur di tengah-tengah penderitaan umat manusia. Ia ingin membawa manusia untuk semakin dekat kepada-Nya, merasakan damai dan sejahtera bersama dengan Dia.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan perintah Agung untuk mewartakan Injil-Nya membaptis banyak orang dan menyatakan satu ha penting yaitu penyertaan-Nya yang akan selalu ada bagi kita. Rasanya ini adalah hal yang luar biasa, suatu fondasi kehidupan yang tidak bisa tidak menyadarkan kita bahwa kita tidak berjalan sendirian.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia mewariskan pribadi-pribadi yang siap untuk menjadi pewarta. Para rasul dan pengikutnya tidak tinggal diam setelah kebaikan dan juga pentakosta. Mereka mewarta sampai akhir masa hidup mereka. Iman ini beranak pinak. Jumlah pengikut Kristen tidak semakin berkurang seiring menuanya para rasul dan wafat mereka satu per satu. “Satu tumbang, seribu terbilang”, itu kata sebuah puisi. Ada wajah-wajah baru yang hadir di sebagai pengikut Kristus. Ada pribadi-pribadi baru yang mengisi perjalanan Gereja dan terus berjalan selangkah demi selangkah.
Tatkala Yesus naik ke surga, Ia tidak membiarkan para pengikutnya menjadi yatim piatu, tetapi mengutus Roh Kudus yang menyertai perjalanan hidup manusia. Ia yang terus menyertai perjalanan iman Kristiani sampai dengan hari ini, sampai dengan diri kita saat ini. Ia yang menginspirasi banyak orang menjadi misionaris, menjadi imam, bruder, suster dan banyak kaum awam untuk meninggalkan tempat asalnya dengan satu niat yaitu memperkenalkan Yesus ke tengah-tengah umat manusia. Di tempat kita masing-masing saat ini, kita bisa menikmati buah-buah dari karya-karya mereka. Paroki kita masing-masing menjadi ladang bertumbuhnya iman. Ditilik dari perjalanan waktu, kita ini hanyalah sejengkal bagian dari sejarah perjalanan iman itu. Sudah ada banyak orang yang mendahului kita menghidupi dan menghidupkan iman ini. Ke depan, mungkin masih akan ada orang-orang yang melanjutkan iman ini. Kita berperan untuk memelihara apa yang sudah ditanam. Semoga tanaman iman kita subur dan membawa kesegaran.
Kini, iman itu sudah tumbuh dan telah ada di dalam hidup kita. Saya menawarkan dua pertanyaan penting untuk kita masing-masing. Pertama, bagaaimana kita merawat iman dalam diri kita sendiri? Kedua, bagaiaman kita merawat iman dalam diri pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita?

Iman dalam Diriku

Satu ciri utama dari kehidupan adalah misteri. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya, bahkan kadang orang tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tak jarang pula manusia tidak sadar tentang apa yang sudah terjadi di dalam hidup ini. Tingkat kemampuan manusia untuk menyadari situasi-situasi dan peran-peran di dalam hidupnya terbatas. Ada orang yang mengatakan, “Saya tidak tahu apakah saya masih bisa menghirup nafas besok pagi. Saya tidak tahu apakah saya bisa setia pada pasangan sampai akhir hayat. Saya tidak tahu apakah hidup saya akan terus berkecukupan dalam hidup. Saya tidak tahu apakah situasi dunia akan terus menerus aman. Namun, yang saya tahu, saya mempunyai iman dan dengan iman itu saya meyakini bahwa Allah akan terus menemani dan menyertai perjalanan hidup saya, entah saya berhasil, entah saya gagal; entah saya bahagia, entah saya sedih. Sebagai manusia, saya pun sadar bahwa iman saya terus menerus perlu dipupuk. Ada kalanya saya lemah, ada kalanya saya menjadi tidak percaya, tetapi ada keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan saya meskipun saya lemah.”
Namun, betapa banyak pribadi di dalam kehidupan ini yang mengalami kekacauan karena tidak memiliki pegangan dalam hidup. Hidupnya diombang-ambingkan oleh kenyataan bahwa dirinya terbatas. Kesuksesan membuatnya menjadi pribaid yang angkuh, kegagalan membuat dunia terasa runtuh. Tak peduli, betapa Tuhan pernah memberikan berkat berlimpah dalam hidupnya, dia bisa menyalahkan Tuhan untuk kesulitan yang sedang dialaminya. Padahal demikianlah memang perjalanan kehidupan. Orang mengatakan hidup seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan jalan rata terus menerus. Iman kepada Tuhan tidak menjanjikan kegembiraan terus menerus. Namun, iman kepada Tuhan menjanjikan penyertaan yang terus menerus. Seperti halnya air yang semakin dalam semakin tenang, demikianlah hidup manusia yang semakin dalam imannya menjadi semakin tenang. Sementara, “air beriak tanda tak dalam”. Artinya, orang yang imannya dangkal, hidupnya dengan mudah diombang-ambingkan oleh persoalan kehidupan.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah iman yang diwariskan Tuhan itu tinggal dalam hidup kita? Apakah kedalaman batin yang damai itu sudah menjadi tujuan hidup kita? Ataukah kita hanya ingin mengejar kesuksesan, keberhasilan dalam hal ekonomi, menjadi yang terbaik dalam hal tampilan luar di tengah-tengah masyarakat. Konsep orang beriman dan konsep orang yang hanya mencari kesuksesan untuk diri sendiri adalah konsep yang saling bertentangan. Sementara dalam konsep masyarakat berprestasi, hidup dianggap tidak sempurna, karena itu manusia berlomba untuk menjadi nomer satu, di jalan meditasi, terutama di tingkat kesempurnaan, diyakini bahwa hidup adalah serangkaian kesempurnaan. Orang yang mengejar sukses berpikir bahwa kesuksesanlah yang membuat dia mengalami damai, sementara orang yang mengalami hidup sebagai jalan kedamaian, kedamaianlah yang membuatnya mengalami sukses. Ingat tingkat kesuksesan itu ada batasnya dan batas antara sukses dan gagal itu sangat tipis. Orang mengatakan itu seperti telur di ujung tanduk, yang amat mudah terguling dan pecah. Semoga dasar kedamaian kita bukanlah kesuksesan kita, tetapi semoga dasar kesuksesan kita adalah kedamaian yang ada di hati kita.

Sudahkah kita memelihara iman yang diwariskan Yesus kepada anda? Tuhan akan terus menyertai kita, hanya mungkin kita yang kurang membuka hati akan kehadirannya. Hari ini, cobalah mencari waktu tenang untuk melihat satu persatu bentuk-bentuk penyertaan Tuhan di dalam hidup anda.

Memelihara iman Pribadi-Pribadi yang Dipercayakan Tuhan
Tiap pribadi di dalam masyarakat kita memiliki peran masing-masing untuk memelihara iman orang-orang di sekitarnya. Maka dari itulah, bapak-ibu yang anaknya dibaptis selalu diminta kesediaannya untuk mendampingi iman anak yang akan dibaptis. Demikian juga seorang imam ketika ditahbiskan juga mendapat peran yang sama.

Sekarang pertanyaan bagi kita, “Apa arti perintah Tuhan untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi?” Rasanya kita tidak harus berpikir tentang orang-orang yang ada di jauh sana. Mari kita berpikir tentang orang-orang yang ada di sekitar kita; saudara-saudari yang dipercayakan Tuhan bagi kita. Bagi anda seorang Bapak, apa yang sudah anda lakukan untuk memelihara iman dalam hati anak anda sehingga hidupnya tidak mudah terombang-ambingkan oleh tantangan kehidupan, tetapi seperti air yang dalam dan tenang. Bagi anda seorang prodiakon lingkungan, apa yang sudah anda lakukan untuk memastikan pendidikan iman berjalan dengan baik di lingkungan-lingkungan. Bagi anda seorang misdinar, apa yang anda buat agar bisa melayani umat dengan baik dalam perayaan Ekaristi. Bagi anda seorang guru, bagaimana peran anda dalam mengajarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan kehidupan bagi anak-anak. Jangan biarkan anak-anak hanya besar di kepala, tetapi kecil di hati. Kalau demikian kita hanya akan menciptakan monster-monster yang tahunya hanya soal benar salah, tetapi tidak paham tentang bagaimana harus bertindak dengan bijaksana di tengah-tengah kehidupan.
Bagaimana dengan paroki kita? Rasanya kita perlu berpikir bagaimana menumbuhkan iman yang kuat di paroki kita. Tidak sedikit umat yang tidak datang ke Gereja. Tak kurang-kurang orang yang tidak pernah mengaku dosa. Hingga akhirnya cukup banyak juga yang meninggalkan Gereja dengan berbagai alasan dan alasan paling besar adalah soal pernikahan. Betapa kita harus berpikir tentang masalah ini. Sudahkah kita memelihara iman dari pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita? Gereja kita lahir dari keringat dan darah para pendahulu kita. Gereja kita menantikan masa depan cemerlang di depan sana. Kitalah yang ada di sini saat ini yang perlu berpikir dan mengusahakan agar Gereja masih memiliki masa depan.

Sebuah Tantangan

Gereja ada di tengah arus sejarah dunia. Arus perjalanan ini sudah menggerus iman di banyak tempat. Jumlah umat yang mengaku Katolik di Brazil terus berkurang sekitar satu persen setiap tahunnya sejak 1991; jumlah orang Amerika yang mengaku Katolik terus berkurang sekitar setengah persen setiap tahunnya sejak 1980an. Gereja-Gereja di Eropa hanya tinggal dihadiri oleh segelintir umat tua dengan sejumlah kecil romo yang juga sudah tua. Sementara arus perjalanan sejarah dunia yang semakin modern itu juga sudah sampai di tempat kita, di Indonesia. Kalau tidak hati-hati masa depan kita akan senada dengan apa yang terjadi di Eropa. Gereja yang dibangun megah ini hanya akan tinggal kosong melompong atau harus dijual untuk dijadikan taman kota.

Kita saat ini berada di persimpangan sejarah iman Katolik di tempat kita masing-masing. Semoga kita masih sempat memelihara iman itu di dalam hati kita, juga di dalam hati tiap-tiap orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Jangan sampai kita lengah dan kehilangan arah hingga tanpa sadar kita sudah membawa iman itu ke jurang kehancuran. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk terus menghidupi dan menghidupkan iman ini. Tuhan selalu menyertai kita, sekarang saatnya kita yang harus siap menyertai Tuhan untuk menjumpai hati kita masing-masing dan hati pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan bagi kita.


Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,456 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini