Di Rumah Kudus-Mu

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Alunan gending gamelan

Bersanding dengan bunyi nyanyian tembang Gereja

Serta orang-orang yang beranjak dari tempat duduknya

Bersiap menyambut rombongan suci

Jelmaan Sang Ilahi dan mereka yang setia mendampingi

 

Hati ini tenteram

Ketika taubat datang lewat seruannya

Dari Dia, yang Mulia atas segala Raja

Pemilik alam Semesta

Tuhan Yesus yang mengasihi tiada batas

 

Sabda-Nya mengilhami akal

Ribuan makna yang cukup menjadi bakal hidup rohaniku

Untuk selalu hidup dalam damai sukacita

Namun tetap penuh kasih dan peduli pada mereka

yang ratapan serta tangis air mata sudah menjadi hal yang tak lagi asing

 

Dia, memberiku tubuh-Nya yang kekal

Dalam bentuk roti bundar tanpa ragi

Pada sakramen ekaristi yang suci

Puncak sebuah keagungan

Sekaligus kilas balik malam terakhir-Mu sebagai insan yang akan selalu kami kenang

 

Jika umurku panjang, izinkan aku untuk selalu datang dan bertemu dengan-Mu Tuhan, di rumah-Mu yang kudus.

1,761 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perilaku Mata

salib kapel gesikan

Sabtu Malam aku ke Gereja
mataku jempalitan

Aku lihat di bangku depan
rambut ikal selengan
dicapit di tengah kepala
lehernya

mataku jelalatan

Aku lihat di barisan kanan
pipi gembil sekepalan
bedak dan gincu ada segala
bibirnya

mataku keranjingan

Aku lihat dari kaca jendela
betis panjang bak dian
kulit putih dan mulusnya
pinggulnya

mataku pecicilan

Kemudian aku dicolek dari jantung
menghadap kembali ke altar
Rambut gimbal terurai
berias darah berburai
bingkai dan paku panjang

matanya tertuju padaku

1,572 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Pendo(s)a

Mensyukuri yang Baik

Mendung awan senada dengan bola matanya
yang kusam tak bernyawa,
dilewatinya kerumunan,
hanya sumpah serapah dan ludah menjadi penyambut dia

Dialah. seorang perempuan
yang dikata pendosa,
yang dikata tak berdoa,
yang dikata manifestasi keburukan manusia,

“Pendosa!”
Teriak seorang ibu dan kedua tetangganya.
“Pergilah!”
Terdengar lagi teriakan kebencian dari kiri dan kanannya.

Heran,
sadarkah mereka?
berlindung dengan polosnya dibalik untaian bantal.
mengunci hati dengan santainya,
berteriak tanpa berkaca.
Lucu!

Lalu mereka, para pembenci,
sadarkah mereka?
tiap hari hanya diisi doa?
belum kuasai realita
tak peduli dia yang mereka benci
adalah manusia karya Sang Esa?

Kemudian para pembenci itu
menghujaminya dengan sumpah serapah,
dipimpin para tua berjubah putih kebesaranya
yang menjerit-jeritkan nama Tuhan yang dimengertinya
dan mengancam dia dengan batu-batu “keadilan”.

Lalu dia, yang dikata pendosa
menangis, dan lalu
melihat mata seorang Hamba,
Hamba Manusia,
yang menebar cinta dan kasih.

Menebar cinta dan kasih
Layaknya sinar mentari pagi,
semilir angin senja,
berlandaskan senyum hangat
layaknya dekapan seorang ibu kepada bayinya.

Sang Hamba berjalan di tengah kerumunan,
semua memberi jalan untuk Dia.
Sang Hamba berjalan sambil menebar senyum.
Teriakan benci laun mereda,
Jadi hening yang mendamaikan hati.

Sang Hamba tersebut lantas berkata,
“Siapa yang merasa dirinya benar, boleh melempar batu pertama!”

Semua diam,
Hanya suara gesekan dedaunan yang terdengar…
begitu hening….
bak laut yang usai dilanda badai.

Lalu Sang Hamba membungkuk, lantas bersimpuh sambil menjulurkan tangan-Nya. Dan dia bertanya kepada perempuan itu…

“Siapakah nama engkau?”

Dia yang dikata perempuan pendosa itu menjawab;
“Magdalena….”

“Hari ini juga, dosamu diampuni…”

1,222 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini