Apa Asyiknya Misa Harian?

Misa Harian

Hingga pukul 3 pagi saya belum tidur, saya lihat hujan turun, dan hingga sekarang, pagi menjelang misa. Saya pun tanpa alasan pergi ke gereja. Karena apa? Karena misa harian itu asyik. Penasaran?

Berikut beberapa hal yang saya dapat ketika saya misa harian hari ini.

  • Bisa melihat matahari terbit.
  • Lebih dalam saat berdoa, karena suasana belum terlalu bising.
  • Jika hari sedang hujan, kita bisa melihat hujan pagi hari dan itu rasanya sangat menyejukan.
  • Jika hujan makin deras, kita bisa melihatnya lebih lama, jika kamu sedang tidak terburu-buru kegiatan lain; misal sekolah, kerja, atau masak air.
  • Jika hari sedang cerah, kita bisa mendengar suara burung pagi hari, dan itu rasanya menyenangkan.

615 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teman Yang Sebenarnya

Saat kamu mencari teman hanya berdasarkan kesenangan, kamu nggak akan pernah menemukan teman yang sebenarnya. Mungkin kamu belum menyadari, namun jika kamu sudah dewasa, sudah bekerja, melainkan menemukan orang yang dapat bekerjasama dengan kamu, kamu malah akan mendapati banyak orang yang akan menjatuhkan kamu, dan apabila kamu pada titik itu tidak memiliki teman yang sebenarnya, kamu akan benar-benar jatuh. Dan hilang harapan hidup. Apa kamu mau hidup seperti itu?

Berbanding terbalik dengan orang yang memilih pertemanan berdasarkan kepedulian, saat dijatuhkan orang lain, walaupun akan terjatuh, setidaknya ada yang mengangkatmu.

531 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Ketemu Orang Kreatif, Langsung Manfaatkan!

Menurut saya, dalam lingkup gereja pasti banyak banget orang kreatif, namun kadang mereka nggak nemu tempat yang tepat untuk mereka berkarya. Nggak nemu tempat, atau memang tidak ada orang yang mencari.

Penting, harus ada orang yang mencari, karena kalau tidak, kita harus menunggu orang yang inisiatif untuk membuat karya bagi gereja.

Yang saya bicarakan adalah, jika ketemu orang kreatif, ya langsung manfaatkan. Tentu di dalam hal baik, ajak ia berkarya; fotografi gereja, video gereja, tulisan-tulisan untuk gereja, dan luas lagi.

Penting juga bagi dewan gereja untuk bergerak aktif jika melihat muda-mudi gereja yang kreatif dan aktif, ajak mereka ngobrol, tanya muda-mudi itu ingin berbuat apa untuk gerejanya, bukan hanya menunggu dan melihat mereka mau berbuat apa, bukan seperti itu cara kerja industri kreatif. Saya yakin, sebelum ditanya, muda-mudi super kreatif ini sudah punya rencana yang ingin mereka buat untuk gerejanya, mereka perlu dukungan.

Saat mereka bilang ingin membuat EKM, dukung mereka membuat EKM, ingin buat Film, dukung mereka buat Film, dan seterusnya. Itu kenapa orang tua ada, untuk mengayomi anak muda, biarkan anak muda berkreatif secara liar, jangan dipersulit, karena anak-anak muda ini, mereka adalah Ferrari di jalur cepat, jangan buat mereka lambat.

Gini deh, kenapa kok judulnya “ketemu orang kreatif, langsung manfaatkan!”? Karena harusnya memang seperti itu, kita nggak pernah tahu dapet orang kreatif kapan lagi, mereka sangat berharga, jangan apatis terhadap anak-anak ini, mereka mungkin hanya terjadi satu kali.

713 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Buat Nyaman Gereja

pelangi di gereja gamping

Gue belakangan ini sadar yang memecah belah manusia bukanlah faktor-faktor eksternal, tapi justru internal yaitu dari dalam diri sendiri. Ada beberapa hal tentang hidup menggereja yang sering ada di kepala gue.

Pertama, berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek, hanya ada bagus dan bagus banget. Gue dapet kata-kata itu dari seorang teman di gereja, nggak tau dia bisa jenius nemuin kata itu dari mana. Gue pikir-pikir lagi bener juga kalau berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek. Nggak bisa yang namanya diatur-atur kayak kerja di kantor. Di gereja semua mengandalkan kasih.

Kedua, berkarya di gereja punya porsinya sendiri-sendiri, mentang-mentang banyak ajakan untuk mengikuti kegiatan terus diikutin semua. Nggak sih, orang punya kesempatan untuk ingin membantu di bagian mana. Punya perannya sendiri-sendiri.

Ketiga, kenyamanan. Poin dari artikel ini sebetulnya gue mau ngobrol bab kenyamanan di gereja. Gereja yang nyaman tentu bakal ngebuat insan-insan di dalamnya jadi betah. Anak-anak muda akan senang berada di gereja. Kayak orang yang pacaran, kalo nggak sama-sama nyaman ya pisah. Seperti pada paragraf pertama, faktor internal yang membuat kepisah-pisah kita sebagai manusia sebetulnya sikap. Sikap berperan besar mengenai mana yang harus kita percaya, yakini dan jauhi. Kita butuh warna yang bisa ngebuat nggak takut untuk pergi dan berkarya di gereja.

Sudah sepatutnya orang-orang tua juga mendukung orang muda untuk berkarya. Karena dengan karya orang muda, gereja menjadi berwarna. Jadi gue, aku, saya, mengajak kamu, anda untuk ikut membuat nyaman di gereja.

1,313 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,236 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Renungan Hari Senin 16 April 2018 (Pekan Paskah III)

Yesus

Bacaan Liturgi Senin, 16 April 2018, Hari Biasa Pekan Paskah III

Bacaan Pertama : Kis 6 : 8-15

Mereka tidak sanggup melawan hikmat Stefanus dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.

Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini. Anggota-anggota jemaat ini adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria Mereka datang bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Aia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan, “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.”Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; maka mereka menyergap Stefanus, lalu menyerahkan dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.

Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata, “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat. Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.”Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.


Read More

1,875 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teruntuk Generasi Muda

komsos gamping

Apa yang terlintas dalam benak kamu ketika mendengar kata “keluarga?”  jawaban klise mungkin, keluarga itu aku, ayah, ibu, kakak, dan adik. Keluarga itu gereja kecil. Keluarga itu persekutuan terkecil dalam masyarakat. Dan masih banyak lagi. Pendapat itu tidaklah salah. Lalu bagaimana dengan anggapan, “keluarga cikal bakal iman anak?” topik yang cukup menarik untuk kita perbincangkan dalam artikel kali ini.

Zaman sekarang kira-kira apa sih yang dibutuhkan oleh generasi muda dalam kaitannya dengan hidup menggereja? Parameter yang sangat berpengaruh ialah iman. Kenapa? Selain gereja, tentunya keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama dalam pembentukan iman seseorang. Setiap pribadi lepas pribadi memiliki problematikanya sendiri. Di zaman modern ini setiap orang dituntut untuk memiliki pendirian yang teguh serta rasa toleransi yang baik. Jika banyak tetua berkata “jaman saiki ki medeni, cah enom ora bisa empan papan. Ra dueni rasa sosial, isane nyekel Hape.” Anggapan itu tidak lain ada benarnya juga.

Nah, bila kita tilik lagi, apakah peran keluarga bagi generasi saat ini? Sekarang banyak orang muda yang dikatakan “generasi menunduk” ya atau tidak? Lepas dari iya atau tidaknya bukanlah suatu masalah. Alat komunikasi modern saat ini memang sangat menarik dan digandrungi. Apalagi dengan segala fitur yang kian hari kian “mengasyikan” bukan hal yang langka bila update merupakan kegiatan yang lebih menyenangkan ketimbang aktivitas sosial lainnya. Namun hal ini perlu mendapat tuntunan lebih lanjut. Tidak selama hidup hanya di dunia maya saja. Dunia sosial masyarakat mau dibawa kemana? Dunia maya juga?

Dalam hal ini, orang tua sudah pasti pusing memikirkan itu. Kesadaran bersosial sangatlah dibutuhkan. Namun bukan sangat untuk bermedia maya.

Peneguhan iman merupakan hal yang penting yang acapkali disepelekan. Itu salah besar. Pada dasarnya generasi muda perlu wadah untuk menampung semuanya (ide, gagasan, kegiatan, pelayanan, dan masih banyak lagi.) Generasi muda kini butuh banyak dorongan, bantuan, dan tidak ketinggalan, APRESIASI.

Apa yang dilakukan agaknya memang belum sesuai harapan. Namun akan sesuai harapan apabila keluarga dan unsur sosial masyarakat lainnya ikut andil dalam pembangunan (iman). Jangan buat “mereka getun.” Terkadang cara mengkritisi yang salah yang membuat mereka ciut. Lalu untuk apa keluarga dan gereja ada?

Mari bersama-sama, mulai dari keluarga, kita mulai membangun landasan iman yang kokoh. Tidak lain ialah untuk mempersiapkan generasi selanjutnya.

Teruntuk generasi muda. JANGAN TAKUT. Tiliklah kedalam, ada keluarga, masyarakat, gereja, dan Tuhan Yesus yang siap membantumu!

1,987 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Yang Terlupakan Dari Gereja

gereja gamping

Banyak dari kita mengenal Gereja hanya sebagai tempat ibadat semata. Tidak salah juga, tetapi yang mereka lupakan adalah bahwa gereja hidup di tengah dunia. Gereja perlu untuk berinteraksi dengan sesama daripada sekedar khotbah di altar atau pada acara perayaan-perayaan Gereja. Lebih dari itu, Gereja harus melibatkan diri dalam dinamika kehidupan umatnya.

Umat, saya yakin menantikan apa sikap Gereja terhadap berbagai permasalahan sosial, utamanya jika hal itu menyangkut persoalan kemanusiaan. Lebih-lebih lagi jika persoalan tersebut telah menjadi wacana publik dan diketahui oleh masyarakat luas.

Gereja sendiri selama ini dianggap selalu bersih dan murni, jauh dari intrik-intrik serta kepentingan-kepentingan lainnya. Dasarnya jelas, tujuan Gereja sendiri adalah tertuju pada sinkretisasi Kerajaan Allah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pastilah merupakan nilai kebaikan serta kebenaran. Masalahnya, apakah dengan segala “kesuciannya” itu Gereja minimal mau melibatkan diri dalam kehidupan sosial masyarakat?

Disadari atau tidak Gereja terkesan lambat dalam bertindak. Alasannya, banyak yang perlu dipertimbangkan, bisa dibilang penuh kehati-hatian. Padahal kita tahu banyak kejadian yang memerlukan tindakan cepat.

Mungkin hal tersebut bisa dibenarkan. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah jangan sampai menyebabkan ketiadaan peran Gereja dalam hal sosial. Gereja tidak boleh hanya berkutat pada urusan ritual tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya.

Di era globalisasi ini, pengaruh dari luar memang menjadi begitu kuat. Gereja sebagai tiang iman Kristiani harus tetap kokoh berdiri di tengah segala terpaan itu, sembari memberi perlindungan kepada umat yang bernaung di bawahnya.

Kesenjangan ekonomi yang terjadi, banyaknya kasus seks bebas, serta menurunnya nilai-nilai moral merupakan segelintir dari dampak negatif dari globalisasi. Mengharap bantuan dari pemerintah saja tidaklah cukup. Pemerintah juga punya keterbatasan dalam mengatasi hal ini.

Maka dari itu Gereja perlu bertindak nyata bukan hanya untuk ambil bagian, tetapi juga sebagai relevansi kehadiran Gereja di tengah dunia. Khotbah-khotbah tersebut memang penting, tetapi harus dipadukan dengan perjumpaan Gereja sendiri dengan rakyat. Prinsip ora et labora, berdoa dan bekerja, yang terkadang masih berat sebelah harus segera diseimbangkan. Minimal, Gereja dapat bergerak di Paroki masing-masing. Syukur saja dapat menjangkau cakupan yang lebih luas lagi.

Jika tidak begini, maka citra Gereja lama kelamaan akan memudar. Bukan dalam artian tidak lagi menjadi tempat ibadat umat Kristiani, tetapi tentang apa yang Gereja berikan kepada umatnya. Gereja hanya akan menjadi suatu organisasi pasif yang tidak peka dengan berbagai perubahan di sekelilingnya.

Tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi. Maka sudah sewajarnya kita sebagai anggota Gereja ikut menyebarkan kasih bagi sesama seperti yang diajarkan Yesus melalui tindakan yang nyata dan konkret di kehidupan kita.

2,595 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Sebuah Peran bagi Gereja

mischristo

Jejak kakiku kutinggalkan
Menuju ke sebuah paguyuban
Tak perlu kaya apalagi rupawan
Tuk dapat ambil bagian

Kehadiranku sungguh berarti
Saat aku dapat melayani
Bila aku mampu berbagi
Kurasakan damai di hati

Tiada bimbang tiada ragu
Semua kulakukan hanya kepada-Mu
Kan kugunakan sisa waktu
Bagi gereja dan Tuhanku

Saat raga sudah lelah
Dengan semua jerih payah
Namun hidupku sudah jadi berkah
Sebelum terkubur dengan tanah

2,329 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini