Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Menemui Tuhan

menemui Tuhan

Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita. Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita.

Samuel dan Kisah Hidupnya

Samuel adalah seorang yang kisahnya unik. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah lama menikah tetapi tidak mempunyai anak. Setelah doa di bait Allah dan doa dari Eli, Hana, ibu dari Samuel mengandung dan melahirkan Samuel ini. Saat masih kanak-kanak, Samuel ini sudah diserahkan kepada Allah di bait Allah. Ia mengabdi di sana. Tak disangka-tak dinyana, rupanya Samuel inilah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim bagi bangsa Israel. Ialah yang nantinya menghantar bangsa ini menuju masa kerajaan. Peristiwa panggilan dia sebagai nabi diceritakan dengan sangat indah. Ia sendiri tidak tahu siapa yang memanggil dia ketika ia tertidur. Sangkanya yang memanggil adalah Eli, ternyata Allah sendirilah yang memanggil Dia. Di sepanjang hidupnya, ia akhirnya menjadi nabi Allah. Kata-kata yang terkenal dari dia adalah, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Ia akhirnya menerima tugasnya sebagai nabi. Dialah yang diminta Tuhan untuk mengurapi raja bagi bangsa Israel, mulai dari Saul sampai dengan Daud. Ia mengalami masa-masa sulit ketika rakyat tidak  setia kepada Tuhan dan meminta raja, juga saat raja menjadi tidak setia kepada Allah.

Meski ia mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak mudah, Samuel menunjukkan bagaimana ia setia untuk terus memahami kehendak Allah. Ia menjadi seorang yang dikenal sampai dengan hari ini. Sebagai manusia, ia tidak sempurna tetapi kesediaannya mendengarkan Allah membuat dia mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.

Menemui Tuhan

Kisah Samuel mengingatkan saya akan kisah di Injil yang berbicara tentang dua orang murid Yesus yang pertama. Saya mengambil perikop ini sebagai motto tahbisan imam. Kata-kata yang saya kenang adalah, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana menemui Tuhan. Tuhan tidak ditemui hanya dalam imaginasi. Tuhan ditemui di dalam jatuh bangun yang kita jalani. Tuhan ditemui di dalam tangis dan tawa yang terus kita lalui. Tuhan tahu bahwa manusia tidak sempurna dan bisa sangat mungkin jatuh. Namun, Tuhan memberi syarat agar kita bisa melihat di mana Ia tinggal yaitu dengan “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Kita diajak untuk mengikuti Dia. Kata mengikuti Dia menjadi tidak selalu mudah karena mengikuti Yesus berarti memaafkan orang yang menyakiti kita; mengikuti Yesus kadang-kadang harus meminta maaf sementara gengsi kita terlalu besar; mengikuti Yesus berarti berkorban untuk kepentingan orang lain; mengikuti Yesus berarti menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa; mengikuti Yesus berarti juga bisa tertawa oleh kebahagiaan orang lain, meski nasib kita sendiri tidak seperti yang dialami oleh orang lain.

Kata “marilah dan kamu akan melihatnya’ menghantar saya untuk merenungkan secara lebih mendalam apa artinya menemui Tuhan. Saya mengartikan bahwa  Tuhan ditemukan secara berbeda-beda dalam diri setiap orang. Seornag mungkin bisa menemukan Tuhan di antara senyuman manis seorang gadis, atau seorang bapak menemukan Tuhan di dalam senyuman lucu dari anak bayinya. Seorang suami bisa jadi menemukan Tuhan di dalam tangis dan pinta istrinya yang sedang hamil. Seorang pastur mungkin menemukan Tuhan di dalam senyum yang terkembang dari seornag yang datang untuk mengaku dosa.

Selamat menemui Tuhan di dalam hidup anda masing-masing. Saya punya cara saya, anda pun punya cara anda masing-masing. Mungkin pula bukan kita yang menemui Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menyapa kita di sela-sela kesibukan hidup yang kita lalui. Semoga kita cukup peka untuk bisa menangkap kehadirannya.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

1,683 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Dibalik Seribu Nestapa Yerusalem

Pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem oleh Amerika Serikat menimbulkan reaksi yang luar biasa dari masyarakat dunia. Keputusan Donald Trump ini mengundang gelombang kemarahan dari mereka yang utamanya mendukung kemerdekaan Palestina. Unjuk rasa pun dilaksanakan di mana-mana seperti di Turki, Palestina,dan banyak negara lain. Namun saya tak akan membahas lebih jauh mengenai apa saja yang terjadi selepas keputusan itu, tapi saya akan lebih membahas tentang kota yang menjadi “komoditi panas” tersebut, Yerusalem.

Harus diakui, nasib yang dialami oleh Yerusalem memang begitu malang, bukan hanya kali ini tetapi sudah sejak dahulu kala. Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali.Tentu kita ingat bahwa pada Zaman Romawi Yerusalem pernah diratakan hingga tak ada satu bangunan pun yang berdiri. Kepemilikannya pun selalu berganti-ganti dari mulai Raja Daud, Babilonia dan Persia, Romawi, Muslim, Ottoman, hingga saat ini yang masih belum jelas siapa tuannya. Sulit membayangkan betapa nestapanya penduduk yang ada di sana yang tak bisa hidup dengan tenang dan tenteram, konflik bisa saja tiba-tiba terjadi.

Keadaan Yerusalem ini pun juga dapat dikatakan sebuah anomali jika kita melihat fakta bahwa Yerusalem merupakan kota suci tiga agama yakni, Kristiani, Muslim, dan Yahudi. Bukankah dengan begitu seharusnya kota ini dapat dijaga baik-baik agar para peziarah dapat berkunjung dan menjalankan keyakinan mereka dengan tenang? Mengapa justru realitanya Yerusalem malah menjadi salah satu kota yang paling bergejolak di bumi ini? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Tuhan kepada kita?

Saya mencoba mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “semakin istimewa sesuatu maka semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya”. Hal inilah yang ter-refleksi dengan baik dalam kasus Yerusalem ini. Sebagai sebuah kota yang sarat dengan nilai histori serta religi, tak heran jika Yerusalem mengundang ketertarikan orang banyak untuk berkunjung atau lebih.

Pepatah lain yang pas dari kota ini adalah semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin menerpanya. Melihat fakta-fakta di atas tentang apa saja yang telah dihadapi Yerusalem selama ini, bisa dibilang angin itu sudah bertiup dengan begitu kencang. Lalu apakah Yerusalem masih bertahan? Anda sendiri yang dapat menilainya.

Dengan demikian, dibalik semua itu Yerusalem telah memberikan sinar kepada kita mesti remang-remang. Sekarang tinggal apakah kita akan menggunakan sinar itu, atau membiarkannya mati ditelan kegelapan. Menjadikannya suatu pelajaran bagi kita atau sebatas membuatnya menjadi kenangan.

1,580 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Menyimpan Keyakinan Pada Diri Sendiri

Dalam kehidupan yang kita jalani ini, sering kali kita melihat orang yang minder atau tidak percaya diri dengan keadaan dirinya. Bisa jadi karena ia kurang beruntung dibanding kita. Hal ini tentunya, sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya yang menjadi terhambat. Jika dibiarkan, sikap minder ini dapat melunturkan keyakinan pada dirinya sendiri, yang dalam tahap akut dapat menyebabkan trauma berat dan gangguan lainnya. Sudah banyak kasus yang terjadi, dan perlu adanya penanganan yang tepat untuk hal ini. Apakah anda juga mengalaminya?

Jika ya, cobalah untuk menilai diri anda sendiri. Susah memang untuk melakukannya, karena pada dasarnya menilai orang lain memang lebih mudah dari pada menilai diri sendiri. Namun hal ini juga penting, karena kita tak bisa terus menerus menyimpulkan dari pendapat orang lain, karena kita lah yang paling tahu tentang diri kita sendiri. Cobalah merenung sejenak, tenangkan pikiran dan refleksikan apakah yang anda lakukan selama ini sudah benar atau belum. Kita dapat belajar dari salah satu tokoh dalam kartun Naruto yakni kata-kata dari Uchiha Itachi, ”Mengenali diriku sendiri adalah kunci untuk mencapai kesempurnaan, karena itu berarti aku mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan“.

Memang tentunya ada beberapa momen dimana kita merasa diri kita terjatuh dalam jurang kegagalan dan kekecewaan. Sebagai manusia tentu saja kita terkadang merasa begitu terjatuh dan tertekan. Ini adalah hal yang wajar, namun jangan terjadi secara terus menerus. Jika hal tersebut dijadikan sebagai pengalaman, maka dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Kita juga harus menyadari bahwa hidup adalah pemberian Tuhan, dan bukan karena kemauan kita. Sebagai umat Kristiani, kita percaya bahwa Allah yang memberi hidup. Oleh sebab itu, hidup adalah sebuah pemberian yang kita terima dari Allah untuk kita jalani. Jika kita menjalani hidup dengan penuh kekecewaan, kesedihan, dan keputusasaan itu hanya akan mempersulit langkah kita sendiri. Maka dari itu hendaknya kita menjalani hidup dengan penuh kegembiraan dan sukacita, apapun yang terjadi. Karena dibalik semua peristiwa, pasti ada hikmah yang bisa kita petik.

Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Yesus yang menampilkan rasa syukur luar biasa kepada Allah, atas apa yang telah Bapa nyatakan kepada-Nya. Di tengah segala penderitaan dan cobaan yang mendera-Nya, Yesus tetap setia dan bersyukur kepada Bapa-Nya. Hal ini dapat kita lihat dari doa Yesus kepada Bapa-Nya yang tertuang dalam Injil Matius 11:25,” Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”.

Lalu apa tandanya jika orang sudah bisa menerima dirinya sendiri? Ada 5 tanda yang bisa kita lihat dan rasakan yaitu :

1. Selalu Bahagia

Orang yang bisa menerima dirinya sendiri akan terlihat bahagia karena kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang timbul dari dalam diri sendiri.

2. Mudah Bergaul dengan Orang Lain

Mereka yang bisa menerima dirinya sendiri akan memiliki sikap percaya diri yang membuatnya mudah untuk bergaul dengan orang lain.

3. Mampu Menjadi Diri Kita yang Sejati

Diri kita yang sejati adalah diri kita yang tanpa dibuat-buat, apa adanya.

4. Dapat Menertawai Diri Sendiri dengan Mudah

Orang yang bisa menerima keadaan diri, akan mudah menyadari kelemahan dan ketidakmampuannya. Mereka yang terlalu serius dengan dirinya sendiri adalah mereka yang merasa tidak aman.

5. Mampu Menentukan Nasib Sendiri

Mereka akan mampu untuk memilih sendiri jalan mana yang akan dipilih sesuai dengan kata hatinya, bukan karena perkataan dari orang lain. Orang-orang yang terlalu bergantung pada kata-kata orang lain adalah orang yang tidak punya pendirian.

Jadi, apa kita sudah mampu mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita? Jika belum, hal apa yang membuat kita sukar untuk bersyukur?

676 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Meningkatkan Kesadaran Orang Muda Katolik dalam Hidup Menggereja

Misa

Kita semua tahu, perkembangan zaman serta teknologi sekarang ini telah merubah begitu banyak hal.Pengaruhnya juga dirasakan oleh para Orang Muda Katolik (OMK) khususnya di Indonesia. Pengaruh ini ada yang baik sekaligus buruk. Pengaruh baiknya adalah bahwa para orang muda ini dapat membuat ide” kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dapat mengembangkan gereja melalui sarana komunikasi yang semakin canggih, serta sebagai sarana penyebaran Injil.

Namun, di sisi lain ada pengaruh buruk yang juga tak boleh luput dari perhatian. Pengaruh buruk ini dapat berupa berkurangnya frekuensi pertemuan tatap muka, yang bagaimanapun juga tetap penting untuk dilakukan.Sebab meskipun kita dapat berhubungan lewat media sosial seperti Whatsapp, Line, dll namun untuk hal – hal mendesak hal itu tidak bisa dilakukan lewat media sosial.

Perkembangan teknologi juga menyebabkan orang – orang melupakan agama asli mereka. Pesta pora, perjudian, pergaulan bebas dan berbagai aktifitas lainnya telah melunturkan nilai – nilai rohanitas dalam diri mereka yang dalam tahap selanjutnya membuat mereka seperti “menyembah” hal – hal tersebut. Mereka lupa bahwa hal tersebut hanyalah kesemuan belaka, mereka melupakan Kasih yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Hal ini dapat terjadi karena adanya krisis yang melanda hidup mereka akibat hal – hal buruk yang digamblangkan oleh teknologi yang semakin liberal.

Orang Muda Katolik sekarang pun juga telah memberikan sinyal kebosanan terhadap acara – acara yang diselenggarakan oleh gereja. Mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan acara yang penting. Orang muda sekarang lebih senang untuk mengisi waktu dengan bermain bersama teman – teman sekolah, menonton sinetron, atau melakukan hal – hal lain yang bersifat duniawi. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan memberikan dampak buruk bagi pewartaan Injil yang menjadi salah satu misi utama gereja.

Hal ini pun juga telah membuat keresahan para pemimpin Katolik. Sejak 1997, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Surat Gembala Prapaskah telah menyerukan keprihatinan terhadap rusaknya keadaban publik, khususnya berupa kerusakan moral hampir di segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Ini menjadi sesuatu yang harus disikapi secara serius. Kita tentu tidak ingin gereja – gereja di Indonesia menjadi seperti di Eropa yang mana hanya orang – orang lanjut usia saja yang mengikuti misa biasa.Gereja hanya ramai disaat misa besar atau saat ada upacara pembaptisan/ kematian. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat ironis. Tentu kita sebagai generasi penerus tak ingin gereja kita di Indonesia menjadi seperti itu kan? Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?

Dari gereja sendiri, harus lebih aktif lagi untuk menggalakkan acara – acara yang melibatkan kaum muda. Pernyataan ”orang muda hanya bertugas jaga parkir” harus dihilangkan secepat mungkin. Orang muda juga harus berperan dalam struktur kepengurusan gereja dan juga dalam proyek – proyek yang dicanangkan oleh gereja itu sendiri. Dalam hal ini, gereja dapat bekerjasama dengan lingkungan untuk membuat acara – acara yang dapat mewadahi kaum muda untuk berkarya seperti rekoleksi, retret,latihan koor, legio Maria, dll. Diharapkan dengan diselenggarakannya acara – acara tersebut dapat semakin mengaktifkan peran kaum muda di gereja. Selain acara – acara yang bersifat rohaniah seperti di atas gereja juga dapat membuat acara yang bersifat sosial seperti penyuluhan, bakti sosial, maupun latihan kepemimpinan untuk melatih skill serta kepekaan mereka terhadap kondisi sosial yang ada. Bahkan mungkin jika memungkinkan, gereja dapat bekerjasama dengan para keluarga untuk menemukan solusi terbaik bagi putra – putrinya, karena orang tua pasti tahu apa yang disenangi oleh anak – anak mereka yang selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi.

Dari sisi kaum muda itu sendiri, juga jangan acuh tak acuh terhadap acara gereja tersebut. Percuma jika hanya gereja saja yang aktif, tetapi kita sebagai kaum muda tak peduli terhadap hal tersebut. Komunikasi dua arah sangat diperlukan untuk mensinambungkan hal ini agar menjadi lebih baik. Kepengurusan organisasi yang tertata rapi juga dapat lebih mempermudah kinerja pada prakteknya. Hal ini yang masih harus perlu ditingkatkan saat ini. Kita juga harus sadar bahwa kita menjadi ”ujung tombak” pewartaan iman gereja. Jika hal ini tidak dapat tercapai, bukan tidak mungkin akan muncul ketidakharmonisan serta ketidakaturan dalam hidup menggereja, yang pada akhirnya dapat membuat gereja menjadi mati karena kekurangan daya.

Kita ini adalah kaum minoritas, jadi jangan semakin menenggelamkan diri sendiri. Status ini hendaknya membuat kita sadar tentang pentingnya keberadaan kita dalam hidup menggereja. Semoga ke depannya kaum muda ini dapat menjadi orang – orang yang produktif dan dapat menghasilkan sesuatu dari usaha dan kerja keras mereka. Amin!!

Referensi dari https://penyuluh-agama-katolik.blogspot.co.id/2014/02/meningkatkan-minat-orang-muda-katolik.html?m=1

4,506 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Seberapa Penting Uang Bagi Hidup Anda?

Dewasa ini, kehidupan kita tak bisa lepas dari uang. Uang sudah menjadi semacam ”trademark” dan bahkan sudah seperti oksigen yang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Hal ini dapat terlihat dari perputaran uang yang begitu cepat, yang didukung pula oleh kehidupan masyarakat yang serba konsumtif. Namun, sebegitu pentingkah fungsi uang dalam hidup kita?

Ada sebuah pernyataan yaitu, ”uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang“. Hal ini jika diresapi secara mendalam memiliki arti yang sangat kompleks. Gampangnya, kita tidak bisa membeli semua sesuatu dengan uang seperti misalnya cinta, kesehatan, hidup, dll. Tetapi pada realitanya, apa yang mendukung hal-hal tersebut tetap perlu diperjuangkan dengan uang. Seperti apa contohnya, berikut akan kami paparkan :

1. Cinta

Orang-orang beranggapan bahwa cinta adalah suatu ketulusan untuk saling menerima dan memahami antara satu pihak dengan pihak lainnya tanpa campur tangan dari uang atau kekayaan. Dan ya, itu memang benar. Cinta yang sejati memang cinta yang seperti itu tadi. Cinta yang hanya berorientasi pada uang/materi tidak akan bisa awet. Sudah banyak contoh yang terjadi, dan anda saya yakin sudah dapat menyimpulkan sendiri maknanya.
Namun yang perlu kita sadari adalah dalam realitanya, uang tetap memiliki pengaruh yang sangat penting terutama bagi yang sudah masuk ke jenjang berkeluarga. Sekolah butuh uang, makan minum butuh uang, bangun rumah butuh uang, dan masih banyak lagi kebutuhan lainnya. Okelah jika kita katakan bahwa yang penting adalah rasa saling menerima dan percaya terhadap keadaan yang terjadi. Tapi apakah hal itu akan terjadi terus menerus? Tidak juga kan? Jadi, anda harus realistis.

2. Kesehatan

Kesehatan adalah karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita sebagai manusia harus merawatnya supaya kita tidak jatuh sakit. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin berolahraga, makan yang bergizi, maupun tidak merokok. Uang memang tidak bisa membeli kesehatan. Maka dari itu ada pepatah lebih baik “mencegah daripada mengobati“.
Tetapi uang tetaplah uang. Jika kita sudah terlanjur sakit maka kita harus beli obat dan itu butuh uang. Dirawat di rumah sakit juga butuh uang. Semuanya perlu uang.

3. Pengalaman

Pengalaman didapat dari bagaimana diri kita terlibat dalam suatu peristiwa, dari situlah kita mendapatkan pengalaman. Pengalaman adalah soal bagaimana kita menyelami sesuatu tersebut. Uang tidak bisa membeli pengalaman, contohnya: Jika anak anda yang masih kecil ingin mengendarai mobil mungkin anda bisa membelikannya simulator. Tapi apa yang didapatkan tetaplah berbeda, tidak seperti aslinya. Karena kondisi di dalam simulator dan di jalanan yang asli tentu berbeda, tingkat kesulitannya pun berbeda. Uang tetap tidak bisa menggantikannya.

Tetapi jika kita ingin dapat pengalaman pergi ke Korea misalnya, kita tetap butuh uang bukan? Lagi-lagi segalanya butuh uang.

4. Waktu

Waktu yang telah berlalu tidak bisa kita beli dengan uang. Ia tak akan pernah kembali bagaimanapun caranya. Waktu adalah permata yang tak ternilai harganya, jadi gunakanlah waktu anda dengan bijak.

Lalu, apa peran uang?
Kita memang tak bisa membeli waktu tapi dengan uang, kita dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan lebih baik. Contohnya demikian, jika anda jalan kaki dari Jogja ke Jakarta tentu saja akan memakan waktu yang sangat lama. Tapi jika kita memiliki uang, kita dapat memesan tiket pesawat dan membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Atau begini, jika kita mudik lebaran tidak membawa oleh-oleh tentu rasanya akan kurang nyaman ketika bertemu dengan keluarga. Lain hal jika kita punya uang, kita dapat memberi oleh-oleh yang pastinya akan membuat waktu yang ada menjadi lebih menyenangkan.

5.Hidup

Hidup hanya sekali, kita tidak bisa hidup lagi setelah mati. Sebab, kehidupan adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepada kita. Uang hanya dapat membantu kita untuk bertahan hidup seperti makan, berobat, bertempat tinggal, dan lain-lain, namun tetap tidak bisa membeli kehidupan itu sendiri.

Sebaiknya, gunakanlah uang secara bijak,karena uang dapat bersifat konstruktif dan destruktif. Dan juga jangan terlalu mendewakan uang, tapi juga jangan sampai tidak punya uang. Tidak baik berlebihan, tapi kekurangan pun juga tidak baik. Buatlah uang sebagai alat untuk berbagi kepada sesama dan sebagai alat supaya hidup kita dapat lebih baik.

3,610 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Doa untuk Tanah Air

Allah, Bapa yang mahakuasa, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dengan penuh semarak. Kami bersyukur karena Engkau telah menyediakan bagi kami tanah air yang kaya dengan alam yang subur dan masyarakat yang makmur. Kami bersyukur atas aneka suku bangsa, budaya, dan bahasa yang ada di tanah air kami ini. Kami bersyukur karena telah Kau persatukan menjadi satu bangsa dan satu tanah air.

Semoga kami selalu setia menjaga tanah air kami ini dan melestarikannya demi anak cucu kami. Jauhkanlah kami dari sikap egois yang hanya mau menguntungkan diri sendiri dan kelompok kami. Semoga kami mampu membangun tanah air kami demi kepentingan bersama dan demi kesejahteraan seluruh masyarakat yang ada.

Bantulah kami agar mampu mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera demi kemuliaan nama-Mu kini dan sepanjang segala masa. Amin.

4,201 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Doa untuk Kekasih

Bapa yang baik, aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberiku hadiah yang begitu istimewa. Aku juga bersyukur atas cinta yang telah Kau tumbuhkan di dalam hati kami masing-masing. Bukalah hati kami masing-masing agar kami mampu saling memahami dan saling menerima apa adanya. Tumbuhkanlah rasa percaya di antara kami supaya kami mampu saling mengerti satu sama lain. Bantulah kami untuk menjaga kesucian cinta kami berdua supaya akhirnya kami pantas untuk menerima sakramen pernikahan yang suci.

Ya Bapa, berkatilah selalu ia dalam tugas dan pekerjaannya sehingga nanti ia mampu pula untuk bertanggungjawab terhadap keluarganya. Berkatilah selalu kedua orang tua kami masing-masing supaya merestui hubungan kami ini.

Ke dalam tangan-Mu ya Bapa kuserahkan semua doa dan permohonanku ini. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

4,864 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Teknologi, Pencipta Manusia?

Teknologi (BBC)

Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan zaman yang berlangsung sangat cepat dewasa ini semakin mempermudah manusia dalam menyelesaikan hampir semua hal, mulai dari pekerjaan kantor hingga pekerjaan rumah. Hal yang dulunya terlihat begitu berat dan mustahil sekalipun, kini terlihat begitu mudah untuk dilakukan, seperti berpergian lintas benua, membangun gedung-gedung raksasa dan masih sangat banyak contoh lainnya. Dalam skala yang lebih kecil, semua tugas-tugas keseharian manusia juga semakin dipermudah dengan kehadiran smartphone, komputer dan benda-benda menakjubkan lainnya.

Manusia memang menjadi salah satu unsur pergerakan dan perubahan global yang dinamis. Tanpa bisa kita hentikan, dunia akan terus dan selalu berubah ke arah yang jauh lebih maju lagi, tapi apa alasannya? Apa benar dunia ini berubah menyesuaikan perkembangan zaman atau menyesuaikan keserakahan manusia yang tanpa ujung. Dunia saat ini adalah dunia yang begitu terang karena teknologi, tapi tanpa kita sadari, umat manusia sedang mengalami proses penghancuran besar-besaran dalam sisi kemanusiawian manusia. Ya, dunia ini sungguh adil, di mana kemajuan selalu berjalan beriringan dengan kemunduran, dan pembangunan selalu bergandengan dengan penghancuran, dan itulah realita pahit yang selalu tersembunyi.

Tanpa kita sadari, setiap pekerjaan yang dimudahkan oleh teknologi telah mengurangi kemampuan kita sebagai manusia untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, setiap pekerjaan yang telah diambil alih oleh teknologi membuat manusia semakin malas. Dalam konteks yang lebih mendalam, sepertinya manusia dan teknologi telah bertukar peran, tanpa terlebih dulu membantah, coba kita menilik lagi siapa yang lebih baik? Ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau melihat kecelakaan, atau melihat hal yang membangkitkan rasa empati, siapakah yang bertindak terlebih dahulu? Manusia memilih menggunakan smartphone miliknya, mengambil gambar dan mengunggah ke media sosial dengan tulisan-tulisan penuh empati tanpa melakukan sesuatu yang lebih nyata. Ketika teknologi pun disalahgunakan untuk kepentingan beberapa pihak, media sosia menjadi ladang pengaduan domba manusia-manusia yang terbudakkan oleh teknologi, orang tak lagi bertegur sapa ketika bertemu sesamanya, dan lebih memilih menundukkan kepala memandangi gadget miliknya, seakan-akan dunia maya kini lebih nyata daripada kenyataan. Lalu sekarang, siapa menciptakan siapa? Teknologi milik manusia atau sebaliknya? masih pantaskah kita mengakui diri sebagai pencipta teknologi?

Ironis sekali kini kita “diciptakan” oleh teknologi, anak-anak kecil tak lagi menyanyikan lagu-lagu untuk usia seumurannya, dan lebih memilih lagu bernuansa cinta, banyak lapangan dan tempat bermain yang kini terlihat sepi bahkan tergantikan oleh pabrik dan pusat perbelanjaan. Bola plastik kini dijadikan topi masa pengenalan sekolah, dan bukan untuk permainan sore hari. Anak kecil tidak tahu cara bermain bola atau memanjat pohon; para gadis tidak tahu cara memasak; para lelaki tak lagi tahu cara mencangkul. Manusia “dicetak” dengan teknologi untuk menjadi robot yang tak lagi peduli pada sesama dan lingkungan sekitarnya tetapi untuk lebih menyempurnakan teknologi dan bekerja untuk teknologi. Apakah dunia sudah segila ini? Tuhan sendiri telah bersabda supaya oleh karenanya manusia mampu berkuasa atas bumi, tapi kini manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri.
Sudah saatnya sebagai manusia kita kembali mengambil apa yang menjadi bagian kita.

980 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Menjadi Pelayan Bagi Kehidupan Sesama

Pelayanan

Pernahkah anda melihat orang yang begitu sibuk dengan segala aktifitasnya yang seolah tiada habisnya? Atau orang yang selalu mengiyakan segala cara agar dipuji oleh orang lain? Jika iya, bisa jadi ia adalah tipe orang yang hidup hanya untuk mengejar prestasi. Orang-orang seperti ini menggunakan prestasi sebagai titik tolak ukurannya dengan orang lain. Mereka merasa bahwa makna hidupnya mereka temukan dalam setiap prestasi dan aktifitas yang mereka lakukan. Mungkin kita sendiri bisa melakukan ini itu secara baik, kita merasa punya skill yang mumpuni, tapi apakah diri kita sudah menjadi pelayan yang baik bagi sesama?

Makna pelayanan adalah tentang kesungguhan kita dalam melakukan suatu hal. Mungkin saja seorang pembantu rumah tangga misalnya, atau tukang sampah yang maaf kurang dihargai di masyarakat justru malah benar-benar mengabdikan dirinya untuk melayani sesama. Sebab kunci pelayanan adalah soal kesungguhan dalam melakukan sesuatu, bukan berapa banyak hal yang kita lakukan atau berapa banyak aktifitas yang kita jalankan. Bahkan mungkin, pelayanan kita itu tidak mendapat pujian sama sekali dan justru malah mendapat celaan. Bukan mustahil, orang yang tidak mendapat prestasi dalam hidupnya malah mampu mengimplementasikan bentuk pelayanan itu secara baik dalam hidupnya. Namun manusia memang lebih senang untuk mencari prestasi dan ketenaran ketimbang hal ini.

Yesus dalam hidupnya tidak pernah mencari ketenaran. Dalam Injil Markus 10:45 dituliskan bahwa, “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani ….”. Hal ini menjadi bukti bahwa Yesus datang ke dunia untuk menjadi pelayan bagi sesama yang membutuhkan. Hal ini dapat kita lihat dari segala tindakan Yesus yang menyembuhkan orang buta, mengusir setan, memberi makan banyak orang, dan masih banyak lagi contoh lainnya. Jadi apakah kita tetap kukuh untuk mengejar prestasi dan kepentingan diri, atau berubah menjadi seseorang yang mengabdikan dirinya untuk orang lain?

1,740 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Menciptakan Keharmonisan Keluarga Di Zaman Sekarang

Tangga

Tentu saja kita mengenal adanya keluarga. Keluarga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita di dunia. Sejatinya, keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak meskipun pada realitanya sering tidak selaras dengan hal tersebut.Namun saya tidak akan membahas hal itu lebih jauh. Yang akan saya bahas di sini adalah pandangan saya tentang keluarga sekarang ini.

Di zaman teknologi ini, kita seolah sudah bosan dengan berita – berita tentang perceraian. Baik itu dari kalangan artis, pengusaha, bahkan mungkin dari orang – orang terdekat kita. Sebenarnya apa yang terjadi hingga mereka mudah sekali untuk memutuskan bercerai?

Saya melihat salah satu tantangan yang melanda keluarga saat ini adalah kurangnya kesadaran mengenai keluarga sebagai sebuah komunitas di mana masing – masing anggota hidup dalam semangat belarasa satu dengan yang lainnya. Kemampuan untuk berbelarasa ini yang perlahan hilang dalam kehidupan keluarga jaman sekarang. Berbelarasa membuat kita paham tentang arti penting kasih sayang dalam keluarga, membuat perbedaan yang jelas tentang kebahagiaan yang sejati dan semu. Kenyataan telah berbicara, betapa banyak keluarga yang broken home meski kebutuhan terhadap uang dan barang – barang terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa tidak selamanya uang dan teknologi dapat menjadi pilar penopang kesetiaan suatu keluarga.

Makna dan panggilan hidup berkeluarga bukan diarahkan oleh uang atau pemenuhan kebutuhan – kebutuhan ekonomi melainkan oleh kemampuan serta komitmen untuk membangun hidup bersama atas dasar cinta. Di dalam cintalah belarasa sebagai kemampuan untuk mencintai dan menderita bersama menemukan dirinya. Kebersamaan seluruh hidup inilah yang mendasari kesejahteraan suami istri, anak – anak dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

Dalam hubungan antara suami dan istri, sikap belarasa yang ada di antara mereka menentukan keutuhan dan kebahagian keluarga. Sikap belarasa selalu didorong oleh kasih yang luar biasa. Di dalam sikap ini selalu ada kemampuan untuk menderita bersama serta kemampuan untuk mencintai dan pada saat yang sama ada hasrat untuk berani menanggung derita bersama. Kebersamaan memainkan peranan utama dan menentukan. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kebersamaan itu?Seperti kata orang zaman dulu, yang terpenting itu adalah komunikasi. Dan saya rasa hal itu masih berlaku di zaman sekarang ini. Tanpa adanya komunikasi maka akan timbul kecurigaan dan salah prasangka yang dapat memicu pertengkaran. Hal ini jika dibiarkan secara terus menerus tentunya tidak baik bagi kelangsungan hidup keluarga.

Dalam hubungan antara orangtua dengan anak, orangtua harus dapat memastikan bahwa setiap anak mereka mendapatkan kasih sayang yang adil dan merata. Seorang anak yang mendapat perhatian lebih akan merasa bahwa kasih sayang yang ia dapatkan berlebihan dan lalu menjadi luput membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Yang kekurangan perhatian sebaliknya, akan merasa haus kasih sayang dan perasan diabaikan. Apakah anda para orang tua telah memberikan kasih yang adil bagi anak – anak saudara? Jika belum mulailah berubah dari sekarang. Tak ada kata terlambat untuk berubah, jika masih memungkinkan maka lakukanlah segera!

Sudah banyak kasus di mana seorang anak mengalami luka batin akibat kurang kasih dan kurang cinta. Pengalaman tumpukan luka ini bisa menjadi semacam ”dosa keluarga” yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sebagai orang yang beriman, kita harus berusaha menghentikannya dan mulai memperhatikan mereka yang paling lemah.
Tentunya dalam setiap permasalahan keluarga yang kita semua hadapi jangan sampai melupakan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia selalu punya jalan bagi setiap masalah yang kita hadapi. Yesus tak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari apa yang bisa hamba-nya perbuat. Semoga dalam terang Kasih – Nya kita selalu diberkati dan menjadi keluarga Kasih Allah. Amin.

Inspirasi dari :
1. Buku Meniti Jalan ke Dalam Diri Sendiri karya Ignas Tari
2. https://gerejagamping.org/go/gUhi

2,387 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini