Khotbah Rm. Joko Lelono: ​Aku dan Gerak Batinku

Dalam sebuah permenungan, saya sampai kepada satu keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah kumpulan dari hasil pergulatan hidup manusia yang ditampilkan di dalam tindakan. Tindakan kasih seorang ibu menggambarkan rasa kasih sayang yang ada di dalam hatinya. Namun, di waktu yang lain kemarahan yang ditampilkannya bisa terjadi karena ia sedang menyimpan banyak masalah di dalam dirinya. Sikap murah hati dari seorang penderma lahir dari rasa syukurnya atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Di tempat lain ada orang-orang yang berbuat korupsi meski sudah memiliki banyak hal. Pilihan tindakan ini bisa jadi lahir dari perasaan kurang yang terus saja menguasai dirinya. Bisa juga hal ini terjadi karena ia tak lagi punya perasaan peka terhadap kebutuhan sesama. Tentu pilihan-pilihan ini bukan sesuatu yang sekali jadi, biasanya perlu pembiasaan. Dalam kesadaran saya, saya lalu menyimpulkan bahwa untuk melakukan hal-hal yang baik, perlu adanya pembiasaan. Untuk melakukan hal-hal yang buruk pun perlu ada pembiasaan. Ini seperti saat pertama kali orang berlatih renang. Awalnya ia masih memikirkan bagaimana gerakan kaki dan kapan ia harus mengambil nafas, tetapi perlahan tetapi pasti ia semakin mahir. Saat ia menjadi mahir, tak lagi perlu waktu baginya untuk memikirkan soal hal-hal teknis. Yang ada padanya hanyalah kesenangan karena bisa menikmati olahraga ini.
Memahami Gerakan Batin

Dari penuturan di atas, maka semakin jelas bahwa setiap pribadi di dalam masyarakat kita adalah aktor-aktor penting yang berpengaruh di dalam kehidupan. Kita berbangga ketika ada atlit bangsa kita yang berprestasi, tetapi kita juga sedih ketika ada anak-anak yang harus mati karena perkelahian antar siswa sekolah menengah. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa tiap keputusan kita mempengaruhi hidup orang lain, terutama orang-orang di sekitar kita. Maka, gerak batin setiap pribadi harus dipahami setiap kali karena sayangnya hidup manusia tidak seperti sinetron. Dalam sinetron pemeran protagonist akan selalu menjadi pembawa kebaikan, sementara pemeran antagonis akan selalu membawa keburukan. Sementara bagi kita, selalu ada pilihan dalam tindakan kita. Ada kalanya kita bisa memilih mana yang baik, tetapi tak pernah tertutup kemungkinan bagi kita untuk jatuh. Dalam bahasa Indonesia ada kata yang pas untuk mengatakan tentang hal ini yaitu kata “Waspada”. Dalam bahasa Jawa ada ungkapan “sak bejo bejane wong kang lali isih bejo wong kang eling lan waspodo” yang artinya, “seberuntung-beruntungnya orang yang lupa diri, luwih begja kang eling lawan waspada lebih beruntung yang ingat dan waspada. Kata-kata ini seakan mengingatkan kita bahwa di dalam kehidupan selalu ada pasang surut dan jebakan yang bisa saja menjatuhkan kita. Sikap waspada perlu menjadi pegangan bagi kita.

Di dalam Injil Yesus pernah mengatakan demikian:

“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”
(Mat 21: 28-32)

Teks ini seakan menyadarkan kita bahwa kita tak selamanya bisa bertahan kalau kita tidak hati-hati. Manusia tampaknya harus siap sedia digerakkan oleh Allah untuk menghadapi situasi yang terus berubah. Orang tidak pernah boleh mengatakan bahwa ia adalah orang yang pasti benar. Sikap ini yang sering-sering menjadikan kita orang-orang yang salah dalam mengambil keputusan. Sikap arogan dan sombong kita, bisa jadi menjatuhkan kita kepada kesalahan. Bisa jadi mereka-mereka yang saat ini kita anggap sebagai orang-orang yang salah, mendahului kita untuk bertobat kepada Tuhan daripada kita yang terus mengalami penurunan kepada kedosaan. Yesus mengatakan dengan sangat baik, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah”.

Membela diri dari Dosa-Dosa

Kesadaran akan pentingnya gerak batin membuat kita siap untuk mengubah diri dan tidak menjadi pribadi yang kaku. Di dalamnya selalu ada dialog akan apa yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Sementara tidak sedikit orang mengatakan bahwa dia mengetahui segala hal yang baik di dunia ini, umat katolik mengatakan bahwa setiap kali kita butuh bimbingan roh. Manusia punya kelemahan besar yaitu ketidakwaspadaan. ketidakwaspadaan ini bahkan juga tampak di dalam kesombongan kita bahwa kita tahu yang terbaik untuk kita dan Tuhan salah memperlakukan kita. Sikap ini membuat kita terus menuntut apa yang terbaik untuk kita dan menghindari apa yang tidak baik. Nabi Yehezkiel mengatakan,

Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

(Yeh 18: 25-28)

Salah satu ciri dari dosa adalah bahwa dosa selalu ingin disembunyikan. Orang yang berdosa ingin agar dosanya tidak diketahui. Maka, orangyang sudah jatuh di dalam dosa, sering-sering adalah orang yang ingin membela diri. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Ia menutupi gerak batinnya yang sebenarnya ingin mengatakan, “Saya bersalah, saya ingin bertobat”. Di sinilah sebenarnya arti penting dari sakramen pengampunan dosa. Di sana kita menelanjangi diri kita dari segala pembelaan diri dan membiarkan batin kita siap untuk melangkah menuju kepada pertobatan dan pembaharuan hidup. Orang mengatakan, “Saya tahu bahwa saya berdosa tapi saya malu untuk mengakukannya” atau “Saya tidak ingin orang tahu bahwa saya ini lemah dan berdosa” atau “Saya terlalu terhormat untuk mengakui kesalahan”. Kata-kata ini sebenarnya adalah pupuk-pupuk bergizi bagi lahirnya dosa-dosa yang lain. Orang berhenti untuk kritis terhadap dirinya dan membiarkan diri terperosok ke dalam lubang-lubang dosa. Bahkan tak jarang lubang dosa itu adalah lobang dosa yang sama. Maka, orang mengatakan, “Orang berdosa itu bisa jadi lebih dungu daripada keledai”.

Kita bersyukur bahwa Tuhan Yesus selalu menawarkan bahwa Allah selalu menerima kita. Ia seperti Bapa yang baik. Ia seperti gembala yang mencari domba yang hilang. Ia seperti seorang yang kehilangan koin yang mencari dengan sungguh satu koinnya yang hilang. Pertanyaan untuk kita masing-masing, “Apakah di dalam hatiku, aku mendengar panggilan Tuhan yang memintaku kepada pertobatan?” Kalau memang iya, marilah kita membiarkan diri kita dipandang oleh Tuhan, disembuhkan dari luka-luka kita dan dibuatnya menjadi lebih baik. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan mulai dari diri kita, siapa lagi? Rasanya inilah yang disebut Kerajaan Allah, situasi di mana manusia membiarkan dirinya dituntun oleh Allah.

Ada Rasanya

Anda tahu rasa apa yang ditawarkan oleh kebencian, rasa curiga, iri hati, dendam, dan perselisihan?

Anda tahu rasa apa yang ditawarkan oleh persaudaraan, ampun, kata terima kasih, ucapan syukur?

Rasanya sudah tidak lagi waktunya bagi kita untuk mempertahankan diri berada di dalam kubangan rasa-rasa benci, dendam, iri dan perselisihan. Sudah waktunya kita menikmati indahnya persaudaraan, ampun, terima kasih dan syukur. Santo Paulus mengatakan:
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.

(Fil 2: 1-2)

Sayangnya ada orang yang terus membiarkan diri untuk dijajah oleh ketidakmampuannya untuk bersaudara, memaafkan, berterima kasih dan bersyukur. Ia bukan hanya membiarkan orang lain meninggalkan luka di dalam dirinya sendiri, tetapi juga memelihara luka itu, agar setiap kali ada kesalahan dan ketidakbahagiaan, ia selalu punya orang lain yang dipersalahkan.

Kebahagiaan adalah pilihan kita karena kita bisa memilih untuk berbahagia atau  terus menerus memendam luka.
Rm. Martinus Joko Lelono, Pr

Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami