Khotbah Rm. Joko Lelono: ​Memancarkan Kehadiran-Nya

Bolehkan saya menggambarkan diri kita manusia ini laksana sebuah bulan. Anda bisa memilih sendiri di akhir permenungan ini, “bulan macam apakah anda?” Seperti jamak kita tahu, bulan pada dasarnya adalah suatu benda yang menerangi di waktu kegelapan tiba. Terangnya bukan datang dari benda itu sendiri, melainkan dari matahari. Orang bisa mengatakan bahwa ia hanyalah sebagai pantulan atas apa yang dipancarkan oleh matahari. Uniknya ada beberapa macam penampakan bulan, dari yang paling kecil kelihatannya sampai yang secara penuh menerangi kegelapan bumi. Orang menyebutnya sebagai: Bulan baru (ada tetapi tak terlihat), bulan sabit, Bulan purnama atau bulan penuh, bulan tua yang mengecil. Gambaran mengenai bulan-bulan ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana setiap pribadi memancarkan cahaya ilahi di dalam hidupnya. Dalam diri setiap pribadi Kristiani tinggallah Tuhan. Hanya, apakah manusia hendak memancarkan kebaikan-Nya atau tidak, itu menjadi tanggung jawab bagi pribadi itu sendiri.
Saya tertarik untuk merenungkan lebih dalam gambaran tentang cahaya ini tatkala membaca teks tentang Yesus yang menampakkan kemulian-Nya di atas Gunung Tabor. Ia yang menampakkan keagungan itu secara nyata menunjukkan kepada kita bagaimana diri-Nya adalah satu bagian dari perjalanan panjang sejarah bangsa Israel. Bersama dengan Musa, ia menunjukkan bahwa perjalanan masa ketika umat Israel pulang dari Mesir ke tanah terjanji kini masih berlanjut sampai zaman Yesus. Bersama dengan Elia, Ia menunjukkan bahwa usaha Elia untuk mendampingi para raja masih dipelihara oleh Yesus ketika Ia menjadi sumber kebaikan atas hidup orang-orang masa itu. Demikianlah akhirnya dalam diri Yesus terpancar berbagai macam bentuk kebaikan. Yesus melanjutkan karya keselamatan, bahkan dengan cara yang lebih besar. Dia memancarkan kebaikan itu sehingga orang-orang merasa kembali diterima sebagai pribadi.

Bentuk-Bentuk Kebaikan Yesus

Kalau boleh jujur, sebenarnya Yesus itu bukan orang yang hebat-hebat amat. Dia adalah orang yang biasa. Hal yang membuat Dia hebat, bukanlah kehebatannya yang kasatmata dengan mempergandakan roti, mengubah air menjadi anggur, atau bahkan dengan membangkitkan orang mati. Namun, kehebatannya yang luar biasa adalah saat Ia bisa menyentuh hati banyak orang. Melalui kehadirannya, orang bernama Mateus sang pemungut cukai kembali merasa diterima meski orang lain mengatakan, “Mengapa dia makan dan minum bersama orang berdosa?”. Melalui kehadirannya, orang bernama Maria Magdalena kembali mendapatkan hidup, meski orang lain berkata, “Kalau benar dia ini adalah seorang besar, tentu Ia tahu orang macam apa perempuan ini”. Melalui panggilannya, Petrus yang berkali-kali tak setuju dengan Dia, akhirnya mengatakan, “Benar Tuhan aku mengasihi Engkau”. Dalam belaskasih-Nya yang besar, Ia membangkitkan anak janda di Nain, demi mendapatkan kembali harga dirinya mengingat itu hanyalah satu-satunya anak yang ia punya. Dalam kesederhanaan-Nya, ia menyembuhkan orang yang dianggap gila di Gerasa. Akhirnya, Ia menyerahkan diri demi melihat banyak orang tidak lagi dikuasai oleh keinginan untuk saling menyakiti. Di atas salib Ia menunjukkan kepada kita bahwa kebencian musnah oleh kasih orang yang mau menyerahkan diri bagi orang yang dikasihi. Betapa sikap ini menyelamatkan banyak orang dari kecongkakan diri. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa ada saatnya untuk membela kebaikan tanpa harus selalu menjadi seorang pemenang.

Santo Petrus, orang yang mengikuti Yesus dengan susah payah itu mengatakan di dalam suratnya, “Saudara-sadara, kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manuisa, ketika kami memberitakan kepadamu kuasa dankedatangan TUhan kita Yesus Kristus, sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesan-Nya” (1 Petrus 1: 16-17). Rasanya kemuliaan itu terpancar di dalam kehidupan sehari-hari Yesus dan di akhir hidup-Nya, Ia memancarkan kemuliaan dengan cara yang memang unik, memang khas tetapi juga sangat membantu untuk memberi arti kepada kehidupan.

Bagaimana dengan kita?

Rasanya, tawaran yang sama sekarang disediakan bagi kita. Masing-masing dari kita mendapatkan tawaran untuk memancarkan kebaikan Tuhan itu di dalam kehidupan kita masing-masing. Mungkin tidak harus dengan cara-cara yang hebat, cara-cara yang wah, cara-cara yang luar biasa. Masing-masing dari kita bisa memulainya dengan bertanya:

a. Bagaimana perlakuanku kepada mereka yang mengalami kegagalan di dalam hidup.

b. Bagaimana perlakuanku kepada mereka yang meninggalkan Gereja?

c. Bagaimana perlakuan kita terhadap mereka yang telat saat misa atau sibuk dengan hp saat misa?

d. Bagaimana sikap kita terhadap anggota keluarga kita yang sedang memiliki masalah?

Tak jarang orang suka tampil menjadi pribadi yang hebat, tetapi lalu tidak peduli terhadap orang lain. Orang ini lebih suka memamerkan kesempurnaannya, tetapi lupa memberi diri kepada sesamanya. Sekali lagi, adakah kita sudah menjadi bulan yang bersinar dalam kegelapan dengan menampilkan diri sebagai tanda kehadiran Allah? Ataukah kita lebih menjadi semakin gelap atau meninggalkan mereka.

Menyendiri di Gunung

Penampakan kemuliaan Yesus terjadi di atas Gunung Tabor. Di sana Yesus hadir sebagai pribadi yang berdoa. Ia suka menyendiri di atas gunung untuk menemui keheningan hingga akhirnya menemukan cara-cara untuk semakin mencintai dunia. Demikianlah kiranya doa-doa kita dalam hening, bukan hanya sekedar sarana untuk mengadu dan memohon, tetapi menjadi sarana bagi kita untuk menemukan cara-cara untuk mengabdi dan mencintai. Di dunia yang seringkali menawarkan apa yang menyenangkan dan membuat orang hidup hanya untuk dirinya sendiri saja, atau merasa cukup dengan dirinya sendiri saja, rasanya menyendiri di Gunung berarti menemukan kembali hasrat diri untuk memaknai hidup. Tuhan membutuhkan kita bukan sebagai pribadi-pribadi yang suam-suam kuku, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang kuat dan pemberani.

Di masa kita ini, perlu lahir pribadi-pribadi yang unggul yang lahir dari kesadaran bahwa Allah menyertai dan mendampinginya. Dunia dan Gereja kita membutuhkan pribadi-pribadi yang penuh semangat seperti halnya Yohanes Pembaptis; pribadi-pribadi yang tahan uji seperti halnya Santo Paulus; pribadi-pribadi yang tekun dan setia seperti Maria; pribadi-pribadi yang suci seperti Santo Yusuf; dan pribadi-pribadi yang siap berubah seperti halnya Petrus dan Maria Magdalena.

Sikap hening dan doa membantu kita untuk tidak hanya dibawa oleh arus dunia yang semakin berpikir hanya tentang dirinya sendiri, tetapi bisa perduli kepada orang lain. Dalam bahasa pendidikan ini disebut sebagai usaha memanusiakan orang lain. Jangan sampai tolok ukur kepedulian kita hanya ada pada seberapa banyak aku mendapat dari dunia, melainkan juga seberapa banyak aku berbagi kepada dunia.  Kalau dalam bahasa sederhana saya katakana, semakin masuk ke dalam diri, kita akan tahu sebenarnya seberapa banyak yang kita butuhkan dan seberapa banyak yang bisa kita bagikan. Kita mulai bisa berpikir untuk berkorban untuk kepentingan orang lain, bukannya mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri kita sendiri.

Ada harapan agar kita mulai mengusahakan diri agar menjadi seorang ibu yang menampakkan kemuliaan Tuhan; suami yang menampakkan kemuliaan Tuhan; pastor yang menampakkan kemuliaan Tuhan; suster yang menampakkan kemuliaan Tuhan; anak-anak yang menampakkan kemuliaan Tuhan; prodiakon yang menampakkan kemuliaan Tuhan; teman yang menampakkan kemuliaan Tuhan;  saudara yang menampakkan kemuliaan Tuhan; guru yang menampakkan kemuliaan Tuhan; dan sebagainya. Selamat.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami