Khotbah Rm. Joko Lelono: Mengenal

“Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi Siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Rasanya ungkapan di atas adalah cerminan yang indah dari orang yang mengenal setiap pribadi yang ada di sekitarnya sebagai pribadi-pribadi yang penting dalam hidup mereka. Kalau kita mau merenungkan lebih dalam, kata “Mengenal” memiliki arti yang luar biasa. Kata mengenal ini berarti saling mengerti, saling memahami dan saling bisa melibatkan perasaan. Domba yang mengikuti gembala hanyalah domba yang merasa aman bersama dengan gembala itu. Dalam hal ini, sudah ada proses interaksi yang menumbuhkan kepercayaan domba-domba itu kepada gembala.

Gambaran domba dan gembala seringkali digambarkan sebagai gambaran Gereja dengan umatnya atau dalam konteks yang sempit digambarkan tentang seorang pastor dengan umatnya. Jadi sang pastor adalah gembala dan umat adalah domba-domba. Namun, kita juga harus ingat bahwa setiap umat Kristen, ketika kita dibaptis, kita mendapatkan tugas setara dengan tiga tugas imamat Yesus Kristus yaitu sebagai imam, raja dan nabi. Salah satu tugas kita adalah tugas untuk menjadi gembala satu dengan yang lain. Dalam bahasa yang umum dikenal di kalangan orang-orang Kristiani, kita mengenal kata, “Orang-orang yang dipercayakan kepada kita.” Dengan kata lain, kita masing-masing adalah gembala bagi ‘orang-orang yang dipercayakan oleh Tuhan kepada kita’. Bisa jadi orang-orang itu adalah orang-orang yang kita temui di jalan, orang-orang yang kita jumpai di bis kota atau orang yang hanya kita jumpai di suatu masa di dalam hidup kita. Namun, masing-masing dari kita memiliki orang-orang yang dipercayakan kepada kita untuk kurun waktu yang lama, untuk masa yang panjang dan dalam relasi yang lebih khusus: orang tua, pasangan, anak-anak, teman kerja, tetangga dan lain sebagainya. Satu lagi pribadi yang paling harus kita gembalakan yaitu pribadi kita sendiri.

Saya pernah membaca suatu tulisan yang mengatakan bahwa hidup manusia itu terdiri dari lingkaran-lingkaran relasi. Lingkaran relasi yang paling dalam adalah diri kita sendiri. Lingkaran berikut adalah orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. Lalu lingkaran berikut adalah orang-orang yang kita kenal tetapi kedekatan relasinya tidak terlalu mendalam. Sementara di lingkaran terakhir ada orang-orang yang hanya kita jumpai pada suatu momen di dalam hidup kita dan tidak mempunyai pengaruh besar di dalam hidupnya. Dari sejarah kehidupan Yesus, lingkaran relasi terdalamnya adalah dirinya sendiri. Ia terus menerus mengusahakan agar dia mempunyai kedekatan relasi dengan dirinya sendiri dan Bapa. Itulah sebabnya ia membangun kebiasaan doa pada malam-malam atau pagi-pagi buta seperti banyak dibicarakan di dalam Kitab Suci. Lingkaran relasi yang kedua adalah lingkaran relasi dengan ketiga muridnya, lalu juga dengan Bunda Maria. Mereka adalah pribadi-pribadi yang mengenal dirinya dengan lebih dalam. Kepada Bunda Maria Yesus selalu taat dan bisa berbincang akrab. Kepada ketiga rasul, ia memperkenalkan diri secara lebih mendalam seperti halnya ketika mereka pergi ke Gunung Tabor. Relasi berikut adalah murid-murid Yesus yang lain yang berada bersama dengan Dia, berjuang bersama dia dan melayani bersama dengan dia. Lingkaran berikut adalah orang-orang banyak yang pernah berjumpa sesekali dengna dirinya baik para imam, orang-orang saduki maupun farisi, Herodes, Pilatus dan orang-orang yang pernah disembuhkannya. Masih ada lagi lingkaran terakhir yaitu orang-orang yang hanya pernah mendengar tentang dia tetapi tidak pernah berjumpa dengan dia pada masa itu.

Untuk memenuhi peran kita sebagai seorang gembala, adalah penting untuk mengenal pribadi-pribadi yang berada di lingkaran kehidupan kita. Baiklah renungan ini kita perdalam dengan merenungkan masing-masing lingkaran di dalam hidup kita:

Lingkarang Terdalam – Relasiku dengan Diriku Sendiri

Satu ciri yang saat ini menjadi bagian dari masyarakat kita adalah semakin banyaknya pribadi yang tidak mengenal dirinya sendiri. Hidup ini layaknya seperti usaha untuk mengikuti arus yang ada saja. Apa yang disebut dengan hedonisme, konsumerisme, budaya hidup glamor, amuk massa, klitih, budaya gosip adalah budaya yang lahir dari pribadi-pribadi yang tidak mengenal dirinya sendiri. Anda tentu masih bisa menambahkan sendiri bentuk-bentuk kebudayaan yang lain. Intinya adalah orang melakukan dan mencari hal-hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Inilah yang disebut sebagai cuci otak yaitu ketika otak manusia diarahkan untuk melakukan hal-hal yang diinginkan orang lain. Seorang remaja merokok bukan karena ia ingin tetapi hanya demi gengsi. Seorang ibu membeli motor baru bukan karena ia tidak punya motor tetapi karena teman-temannya punya motor yang baru. Anak muda tidak ingin melakukan kekerasan tetapi karena ingin dianggap sudah dewasa maka ia melakukan klitih. Laporan terakhir penjara khusus anak-anak di Gunung Kidul sudah tidak bisa memuat jumlah narapidana karena terlalu banyak kasus klitih.

Belajar dari doa-doa Yesus, terutama doa di taman Getsemani, kita akan tahu bahwa Yesus adalah pribadi yang mengenal dirinya sendiri. Keheningan malam, kesendirian dan kesediaan untuk bertahan dalam keheningan mampu mengarahkan pribadi untuk menentukan pilihan dengan tepat. Kekacauan batin, kebisingan media sosial, kesemrawutan peristiwa demi peristiwa di dalam kehidupan membuat kita tidak tenang sehingga kita tak mampu mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati kita. Seorang mahasiswa yang karena tak pernah mempunyai kesempatan untuk hening akhirnya harus menunda perkuliahan untuk masa yang panjang hanya gara-gara tidak bisa menolak ajakan teman untuk main, dan menikmati masa muda. Orang tua yang selalu dibelenggu oleh kesibukan, tidak pernah menentukan kapan memberi waktu kepada anak hingga akhirnya menyesal setelah anak-anaknya menjalani hidup dengan kacau. Relasi dengan diri sendiri menjadi penting. Keheningan, kesediaan untuk mengenal keinginan terdalam dan menentukan prioritas di dalam hidup menjadi suatu yang penting. Orang-orang yang hanya hidup asal jalan hanya akan berjuang menghindari kesulitan dan merengkuh kesenangan. Sementara orang yang bisa berdamai dengan dirinya sendiri, selalu siap sedia untuk merengkuh suka duka kehidupan, karena ia tahu bahwa kesulitan bukanlah sesuatu yang harus dihindari karena sering-sering menjadi jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna.

Apakah kita sudah mampu menjadi gembala untuk diri kita sendiri?

Relasi Dengan Orang-Orang Dekat

Bentuk relasi dengan orang-orang dekat adalah bentuk relasi yang penting untuk diusahakan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menentukan keberadaan kita. Kalau Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang cinta kasih, maka bentuk cinta kasih paling konkret adalah cinta kepada orang-orang dekat ini.

Dalam sebuah sharing, seorang teman pernah mengatakan, “Saat ini adalah saat di mana kita menuai hasil dari orang-orang yang hidup dari sikap egoisme. Ada semakin banyak pasangan yang tidak saling mengenal. Ada semakin banyak orang tua yang tidak mengenal anaknya. Ada semakin banyak anak-anak yang tidak mau tahu kesulitan orang tuanya di masa tua. Intinya ada sikap acuh tak acuh terhadap situasi di sekitarnya. Ini melahirkan masyarakat yang rentan terhadap perpecahan. Orang tidak lagi bergandengan tangan untuk mencapai kebahagiaan bersama tetapi orang terus mengusahakan kepentingan pribadi semata meski di dalam kerangka hidup berumah tangga. Ketika harapan dan keinginannya tak lagi tercapai, dengan mudah orang memilih untuk berpisah karena keluarga tidak lagi menjadi tempat untuk mencapai keinginannya”. Apa hasilnya? Anak-anak yang terjerumus dalam narkoba, orang tua yang saling memiliki “PIL” dan “WIL”, perceraian yang semakin marak, lingkungan-lingkungan di dalam lingkup Gereja yang menjadi ajang perkelahian bukan ajang persaudaraan dan lain sebagainya. Kalau ini terus terjadi, apa yang akan kita tuai di masa depan.

Apakah anda sudah bisa menjadi gembala untuk orang-orang dekat yang dipercayakan kepada anda?

Relasi dengan Masyarakat

Saya merangkum lingkaran-lingkaran relasi dalam tingkat yang lebih luas dengan kata “Relasi dengan Masyarakat”. Relasi ini  adalah relasi kita dengan pribadi-pribadi yang tidak ada dalam lingkaran dalam kita tetapi yang perjumpaannya terbatas. Merekalah pribadi-pribadi yang menjadi bagian dari kehidupan. Meski tidak seintens orang pada lingkaran pertama dan kedua, kehidupan seseorang juga dipengaruhi dan bisa saja mempengaruhi kehidupan seseorang. Sikap kita dalam perjumpaan dengan mereka, pengaruh kita kepada mereka dan juga bagaimana kepedulian kita kepada mereka menjadi gambaran bagaimana kita menjadi gembala ‘bagi orang-orang yang dipercayakan kepada kita’. Senyum ramah kita kepada orang yang kita jumpai di jalan mungkin bisa meringankan beban hidupnya. Sikap kasar kita kepada seseorang di kantor atau kata-kata yang kita keluarkan di jalanan menunjukkan bagaimana sikap hidup kita sebagai gembala bagi ‘orang-orang yang dipercayakan kepada kita’.

Apakah kita bisa menjadi gembala bagi saudara-saudari dalam lingkaran ini?

Menjadi Saksi Allah

Karya menggembalakan jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada kita masing-masing adalah karya Allah. Kita hanya ikut serta dalam karya itu. Kita berusaha agar mereka ini bisa masuk ke dalam kesatuan dengan Allah melalui Yesus Kristus. Kesadaran ini membawa kita kepada kesadaran bahwa hidup perlu diperjuangkan bersama Tuhan. Dengan memandang diri sebagai gembala-gembala yang diutus Allah bagi ‘pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita’, kita akan menjadi saksi hidup atas karya-karya Allah di tengah kehidupan, baik bagi diri kita sendiri, orang-orang di lingkaran dekat dengan diri kita maupun orang-orang yang ada di lingkaran-lingkaran berikutnya.

Semoga dengan demikian, seperti halnya gembala menjadi saksi atas domba-domba yang semakin gemuk, yang melahirkan keturunan, yang semakin paham jalan untuk pulang, kita pun menjadi saksi hidup atas pribadi-pribadi yang semakin mengenal Tuhan dan menemukan kedamaian di dalam kehidupan mereka. Di penghujung hari dan di penghujung nafas kita, semoga kita akhirnya bisa bersyukur boleh menyaksikan karya-karya agung Tuhan di tengah-tengah kehidupan. Bukankah ini tujuan dari kehidupan kita sebagai manusia?


Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Default image
Komsos Indonesia

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.

Leave a Reply