Khotbah Rm. Joko Lelono: Pemimpin

Di dunia ini, pada dasarnya setiap orang dipanggil untuk menjadi seorang pemimpin. Siapakah pemimpin itu? Pemimpin adalah orang yang bisa menentukan arah. Dia tidak hanya mengikuti arus tetapi membawa arusnya sendiri menuju kepada suatu tujuan. Seorang pemimpin berani mengambil keputusan dan berani menerima konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
Dalam menentukan arah, orang perlu berhenti mengetahui siapa dirinya, situasi yang sedang dialaminya dan nantinya menimbang setiap keputusan yang akan diambilnya. Itulah yang disebut sebagai sikap yang dewasa. Satu hal yang dibutuhkan di dalamnya adalah sikap bijaksana, sikap bening dalam melihat sesuatu dan tidak hanya dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di luar dirinya. Orang punya suatu nilai di dalam dirinya dan nilai itu turut menentukan ke mana arah hidupnya. Dia menyadari bahwa dirinya bukan hanya seorang pribadi yang mengikuti saja apa kata orang, tetapi seorang yang punya keputusan.
Berbeda dengan seorang pemimpin, terdapat jenis orang lain yaitu seorang pengikut. Seorang pengikut tidak suka membuat keputusan. Dalam bahasa Jawa, ada kata-kata “Rubuh-rubuh gedang”, yang berarti seorang yang hanya mengikuti saja suara mayoritas.Dia senang mengikuti saja yang ada. Suara mayoritas selalu menjadi pilihannya. Dia tidak berani mengambil resiko karena itu berarti membuatnya menjadi seorang yang punya masalah. Apa yang membuat nyaman diambilnya, sementara apa yang membuatnya merasa tidak nyaman dihindarinya. Di dalam Kitab Suci, sikap orang yang menjadi pemimpin ini dipuji, sementara sikap orang yang hanya menjadi pengikut saja dicela.

Belajar dari Salomo

Di usianya yang muda, Salomo dipilih Tuhan untuk menjadi seorang raja. Berbeda dari ayahnya yang ahli perang, dia tidak ahil dalam hal itu. Padahal, ia perlu suatu hal yang bisa menjadikannya seorang yang dipercaya memimpin bangsa yang besar itu. Maka, dalam mimpinya, saat Tuhan menanyai apa yang diperlukannya, Salomo hanya meminta satu hal yaitu kebijaksanaan. Dia tahu bahwa itulah modal besar bagi seorang pemimpin dan tepat di titik itu, ia tahu bahwa ia masih memiliki kelemahan. Berkat rahmat dari Tuhan, ia benar-benar menjadi seorang raja yang bijaksana sehingga bisa memimpin bangsanya dengan gilang gemilang. Tepat di sinilah keagungan Salomo. Dia menyadari diri sebagai orang yang lemah, lalu ia memohon kepada Allah rahmat kebijaksanaan. Sekali lagi, kebijaksanaan itu diterimanya sebagai rahmat. Rahmat itu lalu digunakan untuk memimpin bangsanya.

Demikianlah kesadaran yang perlu dibangun oleh seorang pemimpin. Pertama, kita ini adalah pribadi-pribadi yang lemah, pribadi-pribadi yang tidak mempunyai daya berlebih. Yang kita punya hanyalah diri kita yang terbatas. Namun, ada orang yang berhenti dan diam dengan keterbatasannya, sementara yang lain berjuang untuk mengatasi keterbatasan. Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa bersama dengan Tuhan, kita mengakui keterbatasan dan memohon kebijaksanaan agar bisa memimpin dengan baik. Kalau anda adalah seorang ibu, anda tahu bahwa anda punya keterbatasan sebagai seorang ibu, tetapi anda bisa meminta kebijaksanaan agar Tuhan membantu anda untuk menjadi seorang ibu yang baik. Kalau kita seorang anak sekolah, kita tahu bahwa kita punya berbagai kekurangan sebagai seorang anak sekolah. Namun, kita bisa meminta kebijaknaan dan berjuang agar apa yang kita pelajari dapat kita pahami dan akhirnya nanti bisa menjadi sarana untuk mengabdi bagi banyak orang. Kalau anda adalah seorang suami, anda tahu bahwa sebagai suami anda tidak sempurna, tetapi mintalah kebijaksanaan dari Tuhan maka anda bisa bertindak secara bijak sebagai seorang suami. Itulah sebabnya kita perlu berdoa. Di dalam doa, di dalam ketenangan kita bisa bertanya “Siapakah aku saat ini? Dan apa yang harus aku lakukan untuk saudara-saudari yang dipercayakan Tuhan kepadaku?”. Nyatanya hidup setiap pribadi itu unik dan tidak bisa sama satu dengan yang lainnya. Tidak ada ayah pada umumnya, yang ada adalah Pak Joyo bapaknya Ani, Pak Dipo bapaknya anin dan sebagainya. Kita adalah manusia-manusia khusus dengan permasalahan khusus. Maka, sebenarnya di dunia ini tidak ada rumus pasti untuk menjalani hidup. Semua orang harus menemukan caranya sendiri untuk menghadapi situasi kehidupannya. Bahkan seorang bapak yang mendampingi tiga anaknya, harus punya pertimbangan khusus tentang bagaimana mendampingi setiap anaknya. Maka, sangat tidak etis bagi seorang ayah untuk mengatakan, “Kok anakku yang kecil ini tidak sepintar kakak-kakaknya” atau “Kok dia tidak secantik adiknya”. Setiap orang perlu diperhatikan secara pribadi.
Demikian juga tidak ada yang namanya menjadi romo pada umumnya. Yang ada adalah romo A di paroki B, atau romo C di paroki D. Artinya di tempat tertentu pun tantangannya berbeda dan selalu berganti sesuai dengan perjalanan waktu. Sikap dan keputusan seorang romo di Paroki A belum tentu cocok dengan apa yang terjadi di paroki B. Artinya, semua hal berubah seperti kata Heraklitos “Satu hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri”. Kebijaksanaan bergerak dan berjalan bersama dengan waktu. Kadang orang berpikir bahwa ada hal yang selalu baik untuk dilakukan, padahal tidak selalu demikian. Misalnya saja, orang yang aktif di Gereja. Orang berpikir itu baik. Namun, saking asiknya, dia lupa untuk mengurusi keluarganya sehingga keaktifannya di Gereja mengurangi waktunya untuk bersama dengan istri dan anak-anak. Itulah pentingnya kita menimba kebijaksanaan setiap hari, karena segalanya berubah dan perlu ditanggapi dengan cara yang baru. Maka, doa-doa kita perlu menjadi konkrit sesuai dengan apa yang sedang kita alami. Salomo tahu bahwa dia yang lemah itu terberkati untuk memberkati. Demikian juga kita tahu bahwa sebagai manusia yang lemah, kita ini diberkati untuk memberkati. Kesadaran sebagai orang yang lemah tidak membuat kita berhenti berjuang, tetapi kita membiarkan diri kita dipimpin oleh Tuhan memberkati pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Kalau mau diringkas, kita bisa mengatakan, “Aku ini lemah dan terbatas, tetapi Tuhan memberkatiku sehingga aku bisa memberkati orang lain”. Dengan demikian muncul sikap yang bijaksana. Aku tidak buruk sama sekali karena aku diberkati, tetapi aku juga tidak hebat-hebat amat karena kebaikan itu dari Tuhan asal-Nya. Kekuranganku tidak membuat aku merasa tidak bermakna, kelebihanku tidak membuat aku merasa lebih tinggi dan hebat daripada semua yang lainnya.

Para Pemimpin

Seperti dikatakan di depan, setiap dari kita adalah seorang pemimpin. Kita, anda dan saya masing-masing diberkati Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin. Orang mungkin mengatakan bahwa orang yang menjadi pemimpin adalah orang-orang di usia yang produktif. Orang yang memasuki usia senja tidak lagi dianggap sebagai orang yang bisa memimpin. Padahal mereka bisa menjadi pemimpin. Kita menemui orang-orang tua yang bisa bersikap bijaksana saat berbicara dengan anaknya, mendampingi cucu-cucunya. Meski ada juga orang-orang sepuh yang lebih suka menyalahkan situasi karena apa yang dilakukan oleh orang yang muda tidak lagi sama dengan yang dijalaninya, seakan dunia jaman dulu selalu lebih baik dari dunia zaman ini. Orang juga terkadang tidak menganggap anak-anak adalah seorang pemimpin. Ini sikap yang salah besar. Anak-anak perlu diajari untuk mulai menjadi seorang pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri. Dia perlu diajari untuk bertanggung jawab misalnya untuk tahu jam belajar, untuk paham membantu orang tua. Jika tidak, anak-anak ini akan tumbuh menjadi pribadi yang tergantung terus kepada orang lain. Padalah, itulah ciri-ciri seorang pengikut. Sementara kita dipanggil untuk menjadi seorang pemimpin. Orang-orang di usia produktif pun tak jarang ada yang gagal untuk menjadi seorang pemimpin yang bijaksana. Dia bahkan tidak bisa memimpin dirinya sendiri untuk menentukan arah tindakannya. Dia mudah tergoda oleh tawaran-tawaran dunia yang ada. Ada orang tua yang mengeluh karena anaknya memasuki dunia narkoba atau akhirnya berpindah agama karena pernikahan, dan menyalahkan sang anak tanpa sadar bahwa dia terlibat di dalam proses itu. Bagaimana proses pendampingan dilakukan. Maka, sebagai seorang pemimpin, setiap pribadi perlu belajar menentukan arah.

Arah Sang Pemimpin

Sang pemimpin bukanlah seorang yang ditentukan oleh dunia, tetapi berani bersikap menentukan dunia. Meski ia merasa lemah, dia tahu bahwa ia tidak berjalan sendirian. Inilah yang disebut sebagai “Pembawa rahmat”. Rahmat dari diri kita muncul bukan hanya ketika kita mengikuti saja apa yang kita jalani, tetapi berani belajar untuk menentukan. Kalau pun kita mengikuti apa yang dijalani itu karena kita tahu bahwa yang kita lakukan itu benar. Dalam hal inilah, keputusan bersama pun akhirnya harus menjadi keputusan pribadi, diterima dan dijalani. Nantinya kita akan tahu ke arah mana kita sedang berjalan dan bagaimana kita akan melangkah.
Selamat datang di dunia para pemimpin yang di dalam kelemahannya setiap hari menimba kebijaksanaan dari Tuhannya agar bisa semakin menjadi berkat bagi sesama.
Berkah Dalem.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami