Khotbah Rm. Joko Lelono: Peran Kita

(Yeh 34: 11-12.15-17; 1Kor 15: 20-26.28; Mat 25: 31-46)

Di dalam hidup ini, setiap orang memiliki beberapa peran. Seorang ibu rumah tangga misalnya, ia memiliki peran sebagai seorang istri, seorang ibu dan mungkin juga masih menjadi seorang anak dari kedua orang tuanya. Belum lagi di tengah masyarakatnya ia bisa berperan sebagai seorang ketua RT atau bendahara lingkungan. Di dalam perannya di gereja ia berperan sebagai seorang bendahara lingkungan sekaligus prodiakones. Seorang anak OMK, beda lagi perannya. Di rumah ia menjadi seorang anak sekaligus seorang kakak; di kampus ia menjadi mahasiswa; di tempat bermain ia menjadi pacar dari seorang teman; di Gereja ia menjadi anggota OMK dan peran-peran yang lain. Satu contoh lagi seorang ibu tua. Ia menjadi seorang nenek dari beberapa cucu; seorang ibu dari beberapa orang anak; seorang istri dari suaminya yang sudah sakit-sakitan; seorang teman bagi tetangganya yang juga sudah tua dan sering menjadi teman ngrumpi di waktu sepi. Demikianlah, kita menemukan bahwa manusia memiliki peran yang bermacam ragam di dalam hidupnya. Setiap peran memiliki aturannya masing-masing. Kita mempunyai aturan main yang berbeda ketika kita menjadi seorang anak dan ketika kita menjadi seorang orang tua. Kita mempunyai aturan yang berbeda ketika kita menjadi seorang teman, pacar, atau menjadi seorang pasangan resmi dari seseorang. Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah, “Bagaimana dengan peran kita sebagai anak Allah?”

Menjadi Anak Allah

Ketika dibaptis, kita diterima dalam persekutuan Gereja sebagai anak-anak Allah, pribadi-pribadi yang hendak menjalankan perannya sebagai pembawa kebaikan Bapa di tengah dunia. Dalam peran kita sebagai anak Allah ini, kita memang mendapatkan kesempatan untuk mengalami kehadiran Allah dengan lebih dekat, baik melalui berbagai peribadatan maupun dalam persaudaraan dengan yang lain. Namun, di sisi yang lain tentu juga kita dituntut untuk menjalankan mengikuti tuntutan-tuntutan tertentu. Kita menyebutnya sebagai nilai-nilai tertentu yang diajarkan kepada kita. Tentu dalam menjalankan peran hidupnya, manusia memiliki cara masing-masing, tetapi di dalam nilai-nilai bersama yang harus dimainkan, orang perlu mengikuti nilai bersama. Dalam injil Mateus digambarkan bagaimana orang-orang yang dihakimi karena kegagalan untuk mengikuti tuntutan yang harus diperankannya sebagai manusia. Kepada mereka yang berhasil mengikuti kehendak Allah dikatakan:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25: 34-40).

Sementara kepada mereka yang gagal mengikuti kehendak Allah, raja itu mengatakan:
Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Mat 25: 41-45).
Tampak di dalam kedua gambaran ini apa yang sebenarnya diharapkan oleh Sang Raja, Allah Bapa sendiri bagi kita. Yang diharapkan adalah kepedulian kepada orang lain. Hidup bukan soal mengurusi diri sendiri melainkan tentang bagaimana kita berbagi dengan yang lain; tentang kepekaan terhadap orang-orang di sekitar kita. Dalam gambaran tentang anak Allah, kita bisa bertanya, “Kalau kita adalah anak Allah, apakah kita mewarisi sifat Allah yang peduli kepada orang lain? Kalau tidak, apakah kita masih layak menyebut diri kita sebagai anak-anak Allah?” Dalam teks itu juga tampaklah jelas apa yang membedakan antara mereka yang berhasil dan mereka yang tidak berhasil yaitu tentang bagaimana kita memperlakukan sesama kita. Semoga kita bisa melihat kehadiran Allah di dalam diri orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita.

Keluar dari Diri

Di dalam perjalanan kehidupannya, ada manusia yang belajar untuk keluar dari kungkungan dirinya sendiri, tetapi ada juga manusia yang hanya tahu melayani dirinya sendiri. Orang-orang yang belajar untuk keluar dari dirinya sendiri mulai membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang iklas, pribadi yang terbuka kepada kesulitan orang lain, mulai merasakan empati, mulai merasakan simpati dan tidak membunuh kepedulian kepada orang lain atas nama, “Aku sendiri masih berkekurangan”. Sementara orang-orang yang hanya tahu melayani dirinya sendiri sejak kecil tidak pernah belajar untuk melihat orang lain sebagai orang-orang yang perlu dilayaninya. Yang ia tahu hanyalah memenuhi kebutuhan dirinya sendiri saja. Pedomannya adalah, “Aku sendiri saja masih berkekurangan, untuk apa peduli kepada orang lain!”. Dalam pandangan yang seperti ini orang tidak mudah bersyukur karena hidup ini terasa kurang terus. Dari pengalaman perjumpaan dengan umat, saya bisa membaca mana orang yang belajar keluar dari kungkungan dirinya sendiri dan mana orang yang hanya berkutat pada dirinya sendiri. Sementara orang yang biasa peduli kepada orang lain mudah untuk bersyukur, dan biasa membicarakan kebutuhan orang lain (bagaimana suaminya mengalami kesulitan, anak-anaknya mengalami tantangan di sekolah, tetanggannya yang sakit, temannya yang sedang mengalami kesulitan dalam membina keluarga, bapak-ibunya yang semakin tua), orang-orang yang biasa melayani dirinya sendiri akan bicara terutama tentang dirinya sendiri (tentang masalah pribadinya, tetnang suaminya yang semakin tidak menyenangkan, tentang anak-anak yang tidak taat kepadanya, tentang orangtua yang semakin menjengkelkan, tentang temannya yang tidak lagi bisa diajak ngobrol dan jalna-jalan). Sementara orang yang belajar keluar dari kungkungan dirinya sendiri bicara tentang apa yang ia buat untuk orang lain, orang yang terus hanya melayani dirinya sendiri bicara tentang apa yang orang lain bisa buat untuk melayani dirinya. Kalau ditanya, “Siapa anda sekarang? Apakah anda orang yang biasa melayani diri sendiri atau orang yang biasa peduli kepada orang lain?”, apa jawaban anda?

Menjadi Seperti Allah

Kitab Yehezkiel mengatakan tentang sifat-sifat Allah yang bisa kita contoh agar kita bisa menjadi orang-orang yang biasa memikirkan kehidupan orang lain:
Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya. Dan hai kamu domba-domba-Ku, beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba, dan di antara domba jantan dan kambing jantan. (Yeh 34: 11-12. 15-17).

Gambaran tentang seorang gembala ini menunjukkan sifat Allah. Allah itu terus menerus kita kagumi, kita ikuti dan kita percayai karena sifatnya yang memelihara kehidupan kita. Kalau kita ingin menjadi anak-anak-Nya, rasanya sifat inilah yang perlu kita contoh. Apakah kita adalah orang yang cukup bisa peduli kepada orang lain, membalut luka, mencari yang hilang dan membawanya pulang, melindungi mereka dari bahaya? Orang-orang itu bukan orang-orang yang jauh, tetapi orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Mereka bisa jadi adalah orang-orang yang hanya sekali saja bertemu dengan kita: tukang parkir; orang yang kita jumpai di pasar; orang yang kita temui di bis kota. Mereka bisa jadi orang yang kita temui hanya dalam kurun waktu tertentu: teman-teman SD, teman-teman kuliah; atau murid di tempat anda mengajar. Mereka bisa jadi orang yang kita jumpai tetapi tidak mempunyai relasi yang begitu dekat dengan kita: teman-teman di Gereja, tetangga rumah dan sebagainya. Mereka adalah orang yang menjadi keluarga kita: orang tua, kakak-adik, om, tante dan sebagainya. Mereka itu bisa jadi anak-anak kita. Ia itu bisa jadi adalah orang yang paling dekat dengan anda yaitu pasangan hidup anda. Ia itu akhirnya adalah diri anda sendiri yang dipercayakan Tuhan kepada anda. Apakah kita bisa menjadi seorang gembala untuk mereka yang dipercayakan Tuhan kepada kita?
Akhirnya, biarlah perjalanan hidup kita ini bisa semakin hari bisa memenuhi peran kita sebagai anak Allah. Peran ini harus selalu mempengaruhi setiap peran yang kita mainkan: sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai seorang suami atau istri, sebagai seorang teman, sebagai seorang tetangga, dan sebagai sesama manusia. Tujuannya adalah supaya Allah semakin meraja di dalam kehidupan kita seperti yang diungkapkan di dalam surat St. Paulus kepada umat di Korintus. Di sana dikatakan, “
Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1Kor 15: 28)

Selamat menjalankan peran anda masing-masing sebagai anak-anak Allah yang mewarisi sikapnya yang menggembalakan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami