Khotbah Rm. Joko Lelono: Tuhan yang Diperkecil

Masyarakat kita sedang mengalami berbagai macam penyempitan di dalam kehidupan. Penyempitan yang dimaksud adalah semakin sempitnya imaginasi seseorang tentang kehidupan. Salah satu yang nyata dan memang sengaja ditanamkan adalah soal bahan makanan pokok. Dulu kita memiliki banyak bahan makanan pokok, tetapi sekarang bahan makanan pokok Indonesia adalah nasi. Dulu orang punya banyak pilihan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, termasuk pilihan jalan kaki, tetapi sekarang untuk jarak yang dekat pun orang hanya punya satu pilihan yaitu menaiki kendaraan pribadi. Gambaran yang lebih besar tampak di dalam penghargaan terhadap kualitas hidup seseorang. Di dalam hidup orang dianggap kaya kalau ia memiliki banyak harta dalam arti uang. Mereka-mereka yang memiliki kebijaksanaan. Mereka-mereka yang bekerja dengan pengabdian. Mereka-mereka yang dengan rela berjuang jatuh bangun menyelamatkan keluarga tidak dianggap kaya. Kekayaan berarti uang. Di sekolah, kepandaian diperhitungkan dalam konteks pelajaran matematika. Kalau orang bisa memasuki kelas IPA, dia dianggap pintar, sementara kelas lain dianggap kelas buangan. Orang mengatakan kepada teman saya, “Lah, kamu bisa masuk IPA kok malah masuk IPS”. Kepandaian dalam musik, olahraga, kebijaksaan, sikap mau berbagi, kerendahan hati sering-sering diabaikan. Ukuran kepandaian adalah pelajaran matematika. Dalam hidup keluarga, pekerjaan yang dihargai lebih adalah pekerjaan yang menghasilkan uang. Sementara mereka yang tidak menghasilkan uang dan tinggal di rumah untuk merawat anak-anak disebut kurang berharga. Padahal di sanalah terdapat perhatian penuh yang penting untuk anak-anak. Lahirnya anak-anak yang kurang perhatian, salah satunya karena pekerjaan menjadi ibu rumah tangga kurang dianggap mulia. Dalam hidup menggereja, orang suka hadir dan tampil ketika ada dalam perayaan. Ketika dalam perayaan besar kalau bisa terlibat, sementara untuk pekerjaan-pekerjaan kecil, doa lingkungan, Rosario dan pendampingan terhadap mereka yang akan meninggal bisa disingkirkan. Yang hebat adalah yang tampil.

Situasi yang semacam ini memiskinkan cara kita berpikir tentang hidup dan tentang kebaikan Tuhan. Tuhan baik kalau memberikan satu hal yang menjadi keinginan seseorang. Padahal nyatanya Tuhan punya seribu satu cara untuk memberikan kehidupan kepada seseorang. Teman saya yang tidak menjadi romo akhirnya menjadi seorang yang sukses dalam pekerjaan. Seorang teman lain yang kehilangan ayah sejak masa mudanya menjadi orang yang bisa dewasa di dalam hidup. Teman saya yang lahir dalam keluarga yang tidak ideal bisa menjadi orang dengan prestasi yang hebat. Teman saya yang tidak masuk kelas IPA, akhirnya menjadi seorang wartawan di sebuah usaha penerbitan kelas nasional.

Di sinilah kita sedang berhadapan dengan situasi dunia yang pola pikirnya semakin sempit. Secara rohani saya mengatakan, “Ada upaya untuk mempersempit karya Allah”. Ini menjadikan orang tidak bisa bersyukur hanya karena memiliki istri yang rajin, karena ia tidak ikut bekerja menghasilkan uang. Anak tidak bisa bersyukur atas bakat musiknya, karena ia bodoh dalam pelajaran matematika. Orang tidak bisa memandang pekerjaan guru secara mulia hanya karena gajinya yang selalu harus dipepet-pepet. Orang tidak bisa memandang hidup dalam gaya khusus seperti imam, bruder dan suster sebagai sesuatu yang mulia karena memandang bahwa ukuran kehebatan adalah kepemilikan.

Let Go and Let God

Saya pernah membaca tulisan Mgr. Suharyo pada tahun 2007 yang mengatakan tentang sebuah spiritualitas, “Let Go and Let God”. Secara bebas kata-kata itu diterjemahkan dengan “Tanggalkan dirimu dan biarkan Tuhan menuntun hidupmu”. Ungkapan ini amat mengena karena memang demikianlah realitas kehidupan. Sering-sering dalam kehidupan kita terperosok di dalam kesempitan pola pikir kita. Sekali lagi, Tuhan punya seribu satu macam cara untuk memberikan kehidupan kepada kita masing-masing. Sayangnya tak jarang kita terlalu sempit memaknai kehidupan. Orang yang sudah punya banyak pengalaman dan bisa memaknai pengalamannya tentu akan tahu apa artinya “Jika Tuhan tidak membuka pintu, pasti di tempat lain ia membuka jendela”. Hidup ini penuh dengan kejutan dan itulah yang membuat kehidupan menjadi menarik. Sayangnya generasi ini tidak terbiasa dengan kejutan dan sejak kecil kita dibiasakan dengan hal-hal yang normal dan wajar.  Anak-anak terbiasa dengan mainan yang aman yaitu game computer, sementara dulu anak biasa main di sungai, main di pinggir sawah, berlari-larian sehingga terbiasa dengan berbagai kemungkinan cidera. Permainannya pun siap dengan posisi kalah dan terbuka pada solidaritas mengingat bisa bermain dalam team. Sementara ada kecenderungan orang-orang zaman ini terdorong untuk terus mengejar kemenangan. Kalau tidak menang, maka berarti tidak berarti. Kembali kita mengenal satu sikap yang mempersempit karya Allah. Semangatnya tentu berbeda dengan apa yang ditawarkan oleh Mgr. Suharyo, “Let Go and Let God”.

Allah yang Kaya

St. Paulus dengan sangat cemerlang menggambarkan betapa Allah itu memberikan kepada kita berbagai kemungkinan untuk kehidupan kita. Dia mengatakan “Saudara-saudara alangkah dalamnya kekayaan, kebijaksanaan dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-Nya, sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada Allah sehingga Allah wajib menggantinya? Sebab segala sesuatu berasal dari Allah ada karena Allah dan menuju kepada Allah. Bagi Dialah kemuliaan selama-lamanya! (Rom 11: 33-36).

Guna memahami rencana Allah yang kaya, tidak selamanya mudah bagi seseorang. Apalagi kalau kita sedang mengalami peristiwa-peristiwa yang menurut hemat kita sebagai manusia tidaklah menyenangkan. Pengalaman gagal, pengalaman sakit, pengalaman direndahkan, pengalaman dikhianati, pengalaman jatuh dalam dosa dan sebagainya. Namun, Gereja mengajarkan kepada kita untuk bisa memahami semuanya dengan doa. Doa membantu kita untuk memahami kehidupan kita. Sayangnya doa pun kini disempitkan lagi menjadi doa Rosario, doa novena, misa, doa litany, doa koronka dan sebagainya. Padahal doa-doa ini adalah doa penunjang yang memang baik, tetapi harus diisi dengan doa-doa yang bersifat pribadi, saat orang bisa mulai memahami kehendak Allah. Di sinilah terjadi yang namanya komunikasi dengan Allah. Orang bisa bertanya, “Tuhan, apa kehendakmu atas hidupku? Tuhan mengapa saya harus mengalami ini? Tuhan apa yang terjadi dalam hidupku terdepat?” Dalam keheningan doa, mungkin yang kita dengar hanyalah kata-kata kita sendiri, atau imaginasi kita sendiri, tetapi di sanalah kita menemukan sedikit banyak petunjuk dari Tuhan karena dengan cara itulah kita bisa menyentuh ruang batin kita. Bukankah batin kita adalah tempat perjumpaan kita dengan Allah?

Demi Sebuah Tujuan

Orang mengatakan hidup ini seperti sebuah perjalanan. Ada kalanya perjalanan itu mendaki, rata atau pun menurun. Tentu orang akan senang kalau perjalanan itu terus menerus rata, dan tidak mudah menerima kenyataan bahwa ia harus mulai mendaki. Namun, hidup memang harus berjalan demikian. Orang senang menghindar dari pengalaman mendaki dan lebih suka terus berjalan di jalanan yang datar. Itulah yang dialami oleh Petrus tatkala Ia mengatakan Yesus sebagai Mesias dalam Injil Mateus. Mesias yang digambarkannya adalah seorang yang hebat, seorang yang luar biasa agung, yang adalah raja. Namun, Yesus membayangkan bahwa kemesiasan bisa diraih dengan pengalaman salib dan penderitaan. Ia menjangkau lebih banyak orang, menyentuh banyak hati dan bertahan sampai beribu tahun. Demikianlah kita perlu melihat betapa luas cara Allah memberikan kehidupan. Kalau kita sedang harus berjuang hari ini untuk pendidikan anak, akankah kita melihatnya sebagai sesuatu yang bermakna? Kalau kita harus berjuang untuk pendidikan, akan tiba saatnya kita menuai buah dari pendidikan yang kita terima. Di sinilah terjadi perkembangan bagi tiap-tiap pribadi. Hidup kita tidak diciptakan untuk menjadi biasa-biasa saja. Ada kalanya kita perlu berjuang agar di tengah kesulitan dan tantangan kehidupan ini, kita bisa menemukan diri kita sedang berjuang untuk sebuah tujuan. Kita tahu bahwa perjuangan kita bukan tanpa makna. Perjuangan kita ada maknanya dan itu membuat kita bertahan dan terus berjuang meski harus mengalami derita dan kesulitan.

Dalam sebuah buku pernah dikatakan, “Kita ini diselamatkan, untuk sebuah tujuan” atau kata-kata lain dikatakan, “Hidup ini seperti seorang yang diutus oleh seorang raja ke negeri seberang untuk sebuah misi. Meskipun dia berhasil melakukan banyak hal, tetapi kalau ia tidak melakukan hal yang utama, ia tidaklah berhasil sama sekali!” Boleh jadi anda adalah pegawai dengan karir yang hebat, tetapi kalau anda lupa membahagiakan anak dan istri jadilah sia-sia. Kalau kita adalah seorang aktivis Gereja yang luar biasa, tetapi kalau keluarga kita hancur dan tak terperhatikan, jadilah sia-sia. Kalau kita adalah aktivis kampus yang hebat, kalau kita tidak menyelesaikan kuliah, jadilah sia-sia. Kalau kita adalah seorang yang berteman dengan banyak orang tetapi tidak bisa berdamai dengan keluarga sendiri, maka apa jadinya semua itu.

Rasanya, Tuhan meminta kita untuk membuka segala kemungkinan yang harus kita benahi di dalam kehidupan ini. Ia menghendaki kita untuk menjadi seperti Dia yang kaya dalam banyak hal: menjadi kaya di dalam persaudaraan (tak hanya kaya dalam uang); kaya di dalam kreativitas dan kerendahan hati (tak hanya kaya dalam matematika); kaya dalam  penghormatan terhadap orang lain (tak hanya menjadi sibuk dengan diri sendiri saja).

Perlahan kita memperjuangkannya agar kita bisa menemukan kemana Allah sebenarnya menuntun hidup kita.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami