Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Mencari Kesempurnaan

Di dalam kehidupan, semua manusia pernah mengalami yang namanya kekecewaan. Harapan yang sangat besar akan kehidupan, akan keluarga, akan orang tua, akan pasangan hidup, akan pekerjaan tidak selalu selaras dengan kenyataan yang ada. Tak jarang apa yang kita dapatkan berbanding terbalik dengan apa yang kita peroleh. Kekecewaan ini bisa saja berujung kepada dendam, bisa juga berujung kepada permusuhan, berujung kepada rasa tidak terima dan macam-macam. Tetapi, iman kita mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menyingkiri kenyataan. Kenyataan yang seberat apa pun perlu dihadapi. Usaha untuk beriman, usaha untuk saling memaafkan, usaha untuk terus mengupayakan perubahan hidup menjadi hal yang penting untuk diupayakan terus menerus guna menjadikan hidup lebih bermakna.

Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang membicarakan tentang kekecewaan itu adalah kisah tentang tiga raja dari Timur. Bagi tiga raja dari Timur, Yesus adalah pribadi yang dinanti. Mereka bukan hanya meunggu Yesus, tetapi mereka juga mengadakan pembelajaran atas banyak bahan untuk memahami kapan dan dimana Yesus akan lahir. Mereka berkali-kali bisa saja kecewa akan apa yang mereka cari. Mereka kehilangan bintang pedoman, bingung mencari sampai di istana Herodes (pikir mereka Yesus akan lahir di Istana), sampai-sampai mereka harus menjumpai pribadi yang mereka cari terus menerus itu di kandang domba. Tentu ini bukan yang mereka idam-idamkan, tetapi mereka tahu bahwa Sang Mesias bisa hadir di dalam bentuk yang bermacam ragam. Lebih penting daripada mempertanyakan apa yang sedang terjadi dan mengapa suatu hal harus terjadi, ketiga raja itu mengupayakan segala cara agar bisa berjumpa dengan Yesus, Sang Mesias, Raja yang akan datang. Saat akhirnya menjumpai Yesus dan mempersembahkan Mur, Emas dan Kemenyan, mereka sekali lagi harus kecewa karena rupanya anak ini dimusuhi oleh sang Raja Herodes. Ia hendak dibunuh oleh raja itu. Mereka bisa mempertanyakan, “Akankah raja baru ini bisa selamat?”. Sekali lagi lebih penting daripada mempertanyakan semua itu, lebih penting bagi mereka untuk mendengarkan tanda-tanda apa yang sedang terjadi dan harus mereka jalani agar bisa menjumpai dan menjaga Sang Mesias. Mereka tidak kembali ke Yerusalem, tetapi pergi lewat jalan lain. Meski hal ini penuh resiko, tetapi mereka memilihnya, karena mereka tahu bahwa jalan lain itu akan menyelamatkan Sang Mesias.

Tidak Ada Kesempurnaan Hidup

Di dunia ini, jika kita ingin mencari kesempurnaan, kita tidak akan menemukannya. Tugas kita hanyalah terus menerus menutupi satu demi satu ketidaksempurnaan yang ada agar menjadi sempurna. Berikut adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Kahlil Gibran, penyair dari Lebanon itu.
Pada suatu hari Kahlil Gibran berdialog dengan gurunya;”Wahai guru, bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?”
Sang guru merenung sejenak, lalu menjawab : “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah… dan jangan pernah kembali kebelakang!”
kemudian Gibran lurus di taman bunga lalu sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa. Lalu sang guru bertanya : “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?” Kemudian Gibran menjawab : “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik, karena aku pikir mungkin yang didepan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali kebelakang lagi”
Sambil tersenyum sang guru berkata : “Ya… itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan yang ada …”

Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang kesejatian pencarian kita akan kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesempurnaan hidup adalah hasil dari percampuran antara suka dan duka, berjuang dan bersyukur, menangis dan tertawa, memaafkan dan dimaafkan, mengampuni dan diampuni. Kalau tidak demikian, tentu orang hanya akan sampai kepada angan-angan kosong, sebab tidak ada hidup tanpa kesalahan dan kekurangan.
Menyegarkan Kembali Hidup Kita

Tidak sedikit orang di dunia ini yang hidupnya terus menerus dikuasai oleh kekecewaan-kekecewaan di masa lalu karena apa yang diidamkan tidak tercapai. Ada orang yang terus dirundung duka karena harus menikah dengan orang yang tidak dikasihi; ada yang berduka karena Tuhan mengambil orang-orang yang dicintainya; ada orang yang kecewa karena kegagalan dalam usaha; ada orang yang terus menangisi mengapa pasangannya pernah tidak setia atau dirinya sendiri perah tidak setia; ada orang yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena pernah berbuat kesalahan besar di masa lampau. Orang-orang ini terus menerus hidup di dalam suasana gelap kehidupan dan ingin terus memelihara kegelapan yang ada pada dirinya. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di dalam perasaan berdosa dan bersalah, padahal sebenarnya ia bisa memperbaiki keadaan, menyegarkan kembali kehidupannya dan melakukan perbuatan yang lain yang bisa ikut memperbaiki keadaan yang ada. Kalau manusia terus hidup dalam kegelapan, ia hanya akan menyia-nyikan kesempatan yang sudah Tuhan berikan kepada mereka. Ini tentu tidak seiring dengan apa yang dialami oleh ketiga raja dari timur.

Musuh dari kegelapan adalah terang. Tentang terang ini, Nabi Yesaya berkata, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu” (Yes 60: 1-2). Gambaran ini adalah gambaran tentang Israel yang berkali-kali dirundung kesedihan kehidupan karena bangsa ini berkali-kali menjadi bangsa jajahan dan terus menerus harus berjuang melewati kesulitan hidupnya. Namun, Nabi Yesaya menubuatkan tentang adanya terang di depan. Guna mencapainya orang perlu melakukan apa yang dikatakan Nabi Yesaya, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu”. Tentu gambaran ini mengajak kita berefleksi kembali tentang hidup kita. Tidak ada gunanya menyimpan dendam, menyimpan amarah, menyimpan kekecewaan, menyimpan gengsi, menyimpan kedukaan, karena nyatanya masa lalu tak akan pernah berubah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memperbaiki situasi, dan kembali menjadi terang. Kata bangkit menjadi penting mengingat orang-orang yang ada dalam situasi terpuruk sering-sering merasa diri tak lagi mampu bergerak. Kata menjadi terang amat penting sebab orang-orang yang merasa terpuruk sering lebih mudah mengeja kekurangan dirinya dan lupa memancarkan sinar yang daripadanya. Setiap kali ada orang yang datang kepada saya dan mengatakan tentang kekurangan-kekurangan dirinya, saya akan mengatakan, “Coba sebutkan tiga saja hal baik dari hidup anda”. Saat mengatakan keburukannya, orang ini tampak sedih, tetapi ketika mulai menyebut kebaikannya, ia mulai menyadari ada terang kebaikan di dalam dirinya. Ia berubah dari orang yang kecewa akan hidup dan mulai tahu bahwa hidupnya tidak jelek-jelek amat.

Di dalam diri seorang beriman selalu ada terang Kristus yang ingin dipancarkan di dalam kehidupan. Namun, tidak jarang orang berhenti menangisi diri dan tidak mau memancarkan terang dalam dirinya. Gereja selalu memberi kesempatan bagi kita untuk memaafkan kekurangan diri dan mulai memancarkan sinar. Setiap kali perayaan Ekaristi kita mengakui dosa dan memohon berkat. Juga setiap kali kita mengaku dosa, kita mengakui dosa kita dan memohon kekuatan untuk memperbaiki diri. Yang lebih penting bukanlah masalah mengakui yang sudah pernah dilakukan (sebab masa lalu tidak akan pernah kembali), tetapi bagaimana kita hendak memperbaiki hidup dan tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi dengan pertolongan dari Tuhan.

Selamat memulai kehidupan baru! Tuhan selalu ada untuk membantu kita mengatasi kegelapan-kegelapan di dalam kehidupan kita.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami