Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Menemui Tuhan

Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita. Di dalam hidup ini, manusia ingin hidup di dalam kesempurnaan. Setiap kali mendengar kata agama, kata Gereja, kata kesucian, kata kemanusiaan, kata kesetiaan, kata tenggang rasa dan macam-macam kata yang serupa, orang merasa senang dan berharap bisa menghidupinya. Namun, di sela-sela kehidupannya, manusia akhirnya menemukan bahwa dirinya tidak bisa sempurna. Ketidaksetiaan terjadi di mana-mana, orang-orang yang ke gereja tetapi berbuat jahat ada di mana-mana, orang yang menindas kemanusiaan tidak kurang-kurang. Di sinilah manusia seringkali gagal dalam mencapai idealismenya. Dalam situasi yang demikian, orang bisa saja terus membela diri dengan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia, tetapi orang juga bisa berjuang untuk mendekati yang ideal, meski ia tahu bahwa dirinya tidak bisa ideal, seperti orang lain. Dalam hal ini, agama membantu orang bukan untuk hidup di dalam kesempurnaan, karena agama pun sadar bahwa manusia tidak sempurna, tetapi agama membantu orang untuk terus memupuk rasa cintanya terhadap kesempurnaan. Tujuannya manusia tidak semakin terperosok ke dalam kejatuhan, dan supaya manusia berupaya untuk terus bangkit setiap kali ia jatuh. Sayangnya ada orang yang menganggap agama sebagai hal yang sama sekali sempurna sehingga orang itu tidak terbuka terhadap rahmat. Ia menganggap bahwa dirinyalah yang bisa mengupayakan segala yang baik. Itulah sebabnya kita selalu berdoa di hadirat Tuhan memohon kebaikannya. Kita memohon berkat kepada-Nya agar kita bisa menjadi seorang bapak yang baik, seorang ibu yang bijaksana, seorang istri yang setia, seorang pastor yang tekun, seorang kepala kantor yang baik dan sebagainya. Kita tahu, sebagai manusia kita bisa jadi gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita dimampukan melewati setiap kesulitan hidup kita.

Samuel dan Kisah Hidupnya

Samuel adalah seorang yang kisahnya unik. Ia lahir dari seorang ibu yang sudah lama menikah tetapi tidak mempunyai anak. Setelah doa di bait Allah dan doa dari Eli, Hana, ibu dari Samuel mengandung dan melahirkan Samuel ini. Saat masih kanak-kanak, Samuel ini sudah diserahkan kepada Allah di bait Allah. Ia mengabdi di sana. Tak disangka-tak dinyana, rupanya Samuel inilah yang dipilih oleh Allah untuk menjadi hakim bagi bangsa Israel. Ialah yang nantinya menghantar bangsa ini menuju masa kerajaan. Peristiwa panggilan dia sebagai nabi diceritakan dengan sangat indah. Ia sendiri tidak tahu siapa yang memanggil dia ketika ia tertidur. Sangkanya yang memanggil adalah Eli, ternyata Allah sendirilah yang memanggil Dia. Di sepanjang hidupnya, ia akhirnya menjadi nabi Allah. Kata-kata yang terkenal dari dia adalah, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3: 10). Ia akhirnya menerima tugasnya sebagai nabi. Dialah yang diminta Tuhan untuk mengurapi raja bagi bangsa Israel, mulai dari Saul sampai dengan Daud. Ia mengalami masa-masa sulit ketika rakyat tidak  setia kepada Tuhan dan meminta raja, juga saat raja menjadi tidak setia kepada Allah.

Meski ia mengalami peristiwa-peristiwa kehidupan yang tidak mudah, Samuel menunjukkan bagaimana ia setia untuk terus memahami kehendak Allah. Ia menjadi seorang yang dikenal sampai dengan hari ini. Sebagai manusia, ia tidak sempurna tetapi kesediaannya mendengarkan Allah membuat dia mampu melakukan yang terbaik untuk dirinya.

Menemui Tuhan

Kisah Samuel mengingatkan saya akan kisah di Injil yang berbicara tentang dua orang murid Yesus yang pertama. Saya mengambil perikop ini sebagai motto tahbisan imam. Kata-kata yang saya kenang adalah, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Kisah ini menunjukkan kepada kita tentang bagaimana menemui Tuhan. Tuhan tidak ditemui hanya dalam imaginasi. Tuhan ditemui di dalam jatuh bangun yang kita jalani. Tuhan ditemui di dalam tangis dan tawa yang terus kita lalui. Tuhan tahu bahwa manusia tidak sempurna dan bisa sangat mungkin jatuh. Namun, Tuhan memberi syarat agar kita bisa melihat di mana Ia tinggal yaitu dengan “Marilah dan kamu akan melihatnya”. Kita diajak untuk mengikuti Dia. Kata mengikuti Dia menjadi tidak selalu mudah karena mengikuti Yesus berarti memaafkan orang yang menyakiti kita; mengikuti Yesus kadang-kadang harus meminta maaf sementara gengsi kita terlalu besar; mengikuti Yesus berarti berkorban untuk kepentingan orang lain; mengikuti Yesus berarti menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa; mengikuti Yesus berarti juga bisa tertawa oleh kebahagiaan orang lain, meski nasib kita sendiri tidak seperti yang dialami oleh orang lain.

Kata “marilah dan kamu akan melihatnya’ menghantar saya untuk merenungkan secara lebih mendalam apa artinya menemui Tuhan. Saya mengartikan bahwa  Tuhan ditemukan secara berbeda-beda dalam diri setiap orang. Seornag mungkin bisa menemukan Tuhan di antara senyuman manis seorang gadis, atau seorang bapak menemukan Tuhan di dalam senyuman lucu dari anak bayinya. Seorang suami bisa jadi menemukan Tuhan di dalam tangis dan pinta istrinya yang sedang hamil. Seorang pastur mungkin menemukan Tuhan di dalam senyum yang terkembang dari seornag yang datang untuk mengaku dosa.

Selamat menemui Tuhan di dalam hidup anda masing-masing. Saya punya cara saya, anda pun punya cara anda masing-masing. Mungkin pula bukan kita yang menemui Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menyapa kita di sela-sela kesibukan hidup yang kita lalui. Semoga kita cukup peka untuk bisa menangkap kehadirannya.

Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami