Kotbah Rm. Joko Lelono: Karisma

Di tengah-tengah kehidupan ini, setiap manusia mempunyai tugas masing-masing. Tidak ada dua orang pun yang mempunyai kewajiban yang sama. Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing di dalam kehidupan ini. Tuhan menciptakan dunia dengan segala keanekaragamannya masing-masing. Coba bayangkan kalau semua orang menjadi seorang guru, lalu siapa yang mau memasak. Namun kalau semua orang menjadi juru masak, lalu siapa yang makan. Bisa kita bayangkan juga kalau semua orang adalah Presiden, lalu siapa yang akan bertindak sebagai warga masyarakat. Tiap orang di dunia ini memiliki perannya masing-masing. Bahkan, di dunia ini ada orang yang jatuh menjadi sakit, menjadi tua, menjadi lemah, sementara yang lain menjadi semkain kuat, berkuasa dan bisa menentukan banyak hal untuk hidupnya. Dalam kasus ini pun, Tuhan mencipta keanekaragaman yang indah.
Dalam perannya masing-masing, setiap orang Kristen diminta untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Mengikuti Sabda Yesus tentang Rumah Bapa, kita bisa mengatakan bahwa setiap orang di dunia ini dipanggil untuk menciptakan Kerajaan Allah, menciptakan damai, menciptakan kebaikan bagi orang-orang yang berada di sekitar kita. Kebaikan Allah tidak pernah menjadi monopoli kita masing-masing tetapi menjadi bagian-bagian yang membangun Kerajaan Allah. Sayangnya, banyak orang merasa ragu, banyak orang merasa tidak mampu untuk berperan membangun kebaikannya. Ketika Tuhan meminta seseorang untuk bisa memaafkan temannya, orang yang sama mengatakan, “Maaf, kalau dengan yang ini aku tidak bisa!” Atau bisa juga orang yang selalu menunda untuk melakukan kebaikan dengan berbagai alasan yang intinya dia ragu-ragu dalam mengikuti Tuhan. Para rasul memilih tujuh diakon yang punya peran masing-masing. Mereka ini pribadi-pribadi yang mantap dan penuh dengan Roh Kudus. Artinya, mereka tahu di mana mereka berada dan ke mana mereka akan melangkah. Salah satu dari mereka akhirnya menjadi seorang martir pertama. Namanya Stephanus. Dengan keberaniannya, ia bisa memandang kehadiran Yesus di tengah-tengah kehidupan umatnya.
Mimpi Memandang Tuhan

Bacaan Injil tentang Rumah Bapa mengajarkan kepada kita tentang betapa menariknya rumah Bapa itu, tempat di mana manusia menemukan kedamaian, tempat di mana manusia bisa memandang muka dengan muka dengan Allah. Namun, sebelum sampai kepada tahap itu, Yesus megnatakan juga soal pentingnya manusia melakukan pekerjaannya di bumi ini. Yesus bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu” (Yoh 14: 12). Rasanya Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kehadiran-Nya menjadi nyata dalam pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan untuk meniru Dia dalam menghadirkan Kerajaan Allah. Dalam peristiwa-peristiwa itulah meski masih di dunia ini orang bisa menatap dari muka ke muka dengan Allah.

Rasanya kita bisa meraba-raba beberapa sikap positif yang bisa kita pelajari dari Dia. Yesus adalah orang yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Ia tersentuh oleh pribadi-pribadi yang datang kepadanya dengan beban, baik sakit secara fisik mapun sakit secara batin. Yesus adalah orang yang mudha terpikat oleh kebaikan. Ia memuji orang Samaria yang baik hati, tanpa melihat apa latar belakangnya, tetapi mengagumi ketulusan hati. Ia tidak mudah terjerumus pada arus mengkotak-kotakkan masyarakat: bahwa orang dalam kelompok ini baik, orang dalam kelompok lain buruk. Sikap semacam bukannya menghadirkan damai, malahan melahirkan permusuhan dan keinginan untuk saling mendominasi. Yesus pribadi yang mencintai dengan tulus bahkan kalau harus berkorban nyawa. Nyatanya Dia menjadi pribadi yang dengan cara khusus mengungkapkan cinta-Nya kepada umat manusia.

Rasanya tiga sikap ini bisa kita teladani dari pribadi Yesus: belas kasih, terpikat pada kebaikan, dan berjuang demi cinta kasih. Dengan melakukannya, kita berjuang untuk bisa menjadi saksi-saksi atas karya Tuhan di tengah kehidupan kita. Apakah semuanya akan berjalan dengan mudah? Tentu saja tidak, tetapi kehidupan akan menjadi penuh arti karena masing-masing dari kita berjuang untuk bisa memandang kehadiran Tuhan di tengah-tengah dunia, mengalami surga di tengah-tengah kehidupan kita.
Bagaimana Caranya?

Salah satu cara untuk menjadi saksi-saksi kehadiran Tuhan adalah dengan membangun apa yang disebut sebagai integritas atau Karisma. Menurut seorang filsuf bernama Weber, setiap orang memiliki otoritas, kuasa di dalam dirinya. Kuasa itu bisa lahir atas dasar hukum misalnya dalam kasus seorang menjadi istri orang lain; atau dalam kasus seorang polisi menilang seorang pelajar yang tidak membawa SIM. Otoritas bisa lahir karena diturunkan oleh karena posisi tertentu. Dia menyebutnya sebagai otoritas tradisional. Contohnya adalah seorang yang diangkat menjadi raja, atau seorang yang menjadi seorang pastor. Otoritas yang ketiga adalah otoritas yang lahir dari integritas seseorang, karena sikap hidupnya yang bisa diteladani, karena kemuliaan sikap hidupnya. Otoritas ini disebut sebagai karisma. Otoritas ini tidak bisa diberikan, melainkan sesuatu yang diupayakan melalui sikap hidup tertentu. Sikap sederhana seorang pastor bisa menjadi teladan bagi umatnya. Kesediaan orang tua menemani anaknya menumbuhkan rasa hormat dalam diri anak-anak. Keseriusan seorang mahasiswa menumbuhkan rasa hormat dari dosennya dan sebagainya.

Saya menawarkan kepada kita untuk berjuang dan mengupayakan agar dalam hidup kita, kita mencapai otoritas karismatis itu. Kita tidak lagi hanya disibukkan oleh hal-hal yang sekedar penampilan artifisial melainkan oleh sebuah sikap hidup atau keutamaan. Dengan merengkuh karisma itu, kita membangun kebanggaan diri kita sebagai seorang istri, sebagai seorang pastor, sebagai seorang prodiakon, sebagai seorang ketua lingkungan, sebagai seorang guru dan sebagainya. Orang tidak bermain sandiwara dan hidupnya didukung oleh tindakan-tindakannya sehingga dengan mudah ia bisa mempengaruhi orang lain.

Saat ini kita sedang menjadi saksi hidup dari masyarakat yang kehilangan hormat kepada karisma ini. Lihatlah betapa banyak orang tua yang tidak lagi dihormati oleh anak-anaknya karena memang di dalam perjalanan masa kecilnya tidak bisa menunjukkan sikap yang bisa menjadikannya bisa dihormati. Kita bahkan menjadi saksi atas anak-anak yang menjadi korban dari broken home yang hasilnya adalah kekacauan di dalam hidup. Pemerintahan juga bisa jadi kehilangan daya karismanya saat tidak mengambil keputusan. Dalam lingkup Gereja, ada juga pastor yang kehilangan otoritas karisma ini. Dalam situasi semacam ini, kita sedang akan mengalami penurunan taraf kehidupan masyarakat. Sementara selama ini semua hal sudah berjalan dengan normal karena ‘rasa hormat’ kepada yang lain, sekarang hal-hal kecil saja bisa masuk ke pengadilan termasuk soal masalah warisan. Maaf untuk mengatakan bahwa, kita sedang dalam ambang kehancuran yang kita buat sendiri.
Kita

Bagi kita masing-masing, kita bisa bertanya tentang di mana letak kita saat ini. Sudahkah anda membangun karisma anda sebagai seorang ibu, Bapak, Guru, Pastor, Suster, dan sebagainya? Karisma nampak dalam diri pribadi-pribadi yang semakin mantap dengan pilihan dalam hidupnya, dan menjadi bijaksana dalam bertindak. Ketika kita membangun karisma ini, pada waktu yang sama kita sedang membangun Kerajaan Allah.
Sudah saatnya untuk menegaskan langkah. Sikap hidup kita tidak lagi ragu-ragu, tetapi kita yakin dengan posisi kita di tengah-tengah kehidupan. Kita membangun integritas hidup kita agar supa ya kita bisa menjadi saksi-saksi hidup atas karya Allah di tengah-tengah kehidupan kita.

Salam dan selamat karisma integritas anda masing-masing.


Rm. Martinus Joko Lelono, Pr
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami