Melawan Cinta Diri Berlebihan – Khotbah Rm. Joko Lelono

Anda boleh bingung seperti halnya saya kalau mendengar kata-kata Tuhan Yesus yang mengatakan, “Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Bukankah Dia meminta kita untuk mencintai sesama kita? Bukankah selayaknya orang yang ada di sekitar kita adalah orang-orang yang paling kita cintai. Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk merenungkan ayat ini. Mungkin hasil permenungan saya bisa membantu anda untuk memahami teks ini. Tetap terbuka kemungkinan untuk menawarkan permenungan anda sendiri.

Satu ungkapan yang akhirnya saya temukan dalam merenungkan teks ini adalah, “Cinta kita kepada bapa-ibu, dan anak-anak kita sering-sering membuat kita tidak bisa bergerak mengikuti kehendak Allah”. Tak jarang orang jatuh pada rasa puas diri yang membuatnya tidak bisa bergerak di dalam kehidupan. Paus Fransiskus mengatakan, “Kehidupan ini pada dasarnya adalah sebuah perjalanan. Kalau kita sampai berhenti bergerak, hati-hati bisa jadi kita sedang ada dalam situasi yang salah!”. Orang yang puas dengan situasi keluarganya, orang yang lupa mencari hal baru untuk mengungkapkan belas kasih; pribadi yang lupa untuk melihat situasi keluarganya yang baru membuat kehidupan berhenti dan lupa untuk bertanya, “apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk aku lakukan dalam keluargaku hari ini!”. Maka tak jarang kita menemukan orang tua yang mudah bertengkar dengan anak remajanya karena orang tua masih suka memperlakukan anaknya yang sudah tumbuh dewasa masih sebagai anak-anak. Mereka lupa untuk mulai mendampingi anak-anak itu sebagai orang yang sudah remaja, yang perlu mendapatkan kepercayaan dan siap untuk mengemban tugas-tugas. Tak jarang juga ada anak-anak yang lupa bahwa orang tuanya sudah semakin tua. Mereka lupa memperhatikan orang tuanya yang sudah renta itu sebagai orang yang sekarang gentian membutuhkan kehadiran mereka. Maka tak jarang anak-anak dari orang-orang yang sudah tua ini masih terus saja mengharapkan bahwa mereka masih terus bisa mendapatkan banyak hal dari orang tuanya. Mereka belum berpikir bahwa sudah tiba saatnya bahwa merekalah yang ikut bertanggung jawab untuk kehidupan orang tuanya. Bukan hanya diminta bantuan secara fisik material, tak jarang orang tua ini masih pula dibebani dengan beban merawat cucu. Saya pernah merasa ingin menangis mendengarkan orang tua yang mengatakan bahwa anaknya menitipkan satu putra kepadanya, tetapi untuk kebutuhan hidup dia juga yang harus menanggung. Di saat ia ingin menikmati hari tua, ia masih diributkan dengan kehadiran anak kecil.

Hari berlalu dan situasi berganti. Dalam hal inilah juga orang perlu menatap kenyataan bahwa hidup sudah berubah. Tidak ada sesuatu yang tetap. Situasi-situasi yang baru membutuhkan cara untuk menghadapi kehidupan dengan cara yang baru. Jangan sampai kita sebagai manusia terjebak oleh situasi tertentu. Kehendak Tuhan harus dipahami dari sehari ke sehari. Kehendak Tuhan bagi anda di masa anda kanak-kanak berbeda dengan kehendak-Nya di masa anda bertumbuh menjadi orang dewasa, berbeda pula dengan situasi saat anda menjadi orang dewasa. Maka pertanyaan kita kepada Tuhan, kalau kita hendak mencintai DIa, adalah “Tuhan apa yang Engkau kehendaki atas hidupku hari ini!”. Itulah sebabnya dalam doa Bapa Kami kita memohon “Jadilah Kehendak-Mu” dan “Berilah kami rejeki pada hari ini.”

Nabi Elisa
Usaha untuk memahami kehendak Allah dari sehari ke sehari itu terjadi dalam kisah Nabi Elisa. Dia dipanggil Tuhan ketika Ia sedang membajak di sawah. Ia adalah anak dari seorang petani yang kaya. Orang tuanya memiliki 12 pasang lembu dan dia yang bertanggungjawab untuk yang kedua belas. Namun, karena kehendak Allah yang diterimanya adalah untuk menjadi seorang nabi, maka ia tinggalkan semuanya, bahkan Ia menyembelih lembu itu dan memasaknya dengan kayu yang berasal dari bajak yang biasa digunakannya. Itu artinya, ia tidak akan kembali menjadi petani lagi. Setelah itu, ia melakukan banyak hal mulai dari membangkitkan orang mati, memberi nasihat kepada raja yang sudah lupa akan Tuhan, dimusuhi oleh orang banyak, menyembuhkan orang yang sakit dan banyak hal lain lagi. Yang jelas dia mewartakan kepada umat Israel bahwa di dalam situasi yang sesulit apapun Allah tetap menyertai kehidupan mereka. Untuk itulah, ia mencoba untuk memahami kehendak Allah sehari demi sehari, perlahan-lahan dan tidak terkungkung oleh suatu situasi tertentu.

Demikianlah, nabi Elisa membantu kita untuk memahami apa artinya hidup sebagai sebuah perjalanan. Kisah hidupnya membuat kita paham bahwa selalu ada hal-hal baru yang perlu kita dengarkan dari Tuhan, sehari ke sehari. Di sinilah keunikan kehidupan bersama dengan Tuhan yaitu bahwa kehendak-Nya dipahami selangkah demi selangkah. Tidak ada rumus umum mana yang menjadi kehendak Allah untuk hidup kita. Semua harus melihat konteks apa yang sedang terjadi. Seorang anak kadang membutuhkan sentuhan dan pelukan, tetapi ada masanya juga seorang anak membutuhkan kritikan dan peringatan.
Dalam Hidup Menggereja

Anda bisa melanjutkan permenungan tentang bagaimana mencintai Allah, mencintai anak-anak, mencintai orang tua tadi. Namun, perkenankan saya untuk mengajak anda merenungkan lebih dalam bagaimana cara Gereja kita, Paroki St. Maria Assumpta Gamping mencoba untuk terus menerus memperbarui diri. Secara fisik, Gereja kita ingin semakin mampu membantu umatnya untuk bisa berjumpa dengan Tuhan. Bangunan Gereja dipercantik. Gereja yang dulu tampak sempit diperlebar; altar yang dulu tampak di belakang sehingga banyak umat di sisi kanan dan kiri sekarang dimajukan; tempat doa yang sempat tersisihkan karena bangunan Gereja yang diperlebar, sekarang sudah dibangun baru, parkiran Gereja yang dulu sempit sekarang sudah diperluas dan dengan bantuan warga sekitar jalannya parkir menjadi lebih lancer; panti paroki sedang dibangun meski dengan terseok-seok; pasturan juga sedang dikerjakan. Secara rohani, kita melihat ada banyak gerakan-gerakan yang sedang tumbuh dan hendak maju di dalam paroki kita. Beberapa waktu yang lalu kita mengadakan penataan kembali tatacara liturgi sehingga para petugas tidak kesulitan mengikuti perayaan dan umat terbantu; Orang Muda Katolik mengadakan rekoleksi OMK setelah 6 tahun tidak mengadakan rekoleksi (pesertanya mencapai 75 orang); misdinar Paroki akan mengadakan kemping bersama; katekese di Gereja sedang mencoba untuk menata kembali apa yang baik yang bisa dilakukan sehingga bisa melibatkan semakin banyak orang; beberapa lingkungan mencoba untuk membuat guyub paguyubannya dengan mendirikan arisan bapak-bapak – doa keluarga, pertemuan ibu-ibu, pia lingkungan, arisan OMK, koor anak-anak, koin maria – dan lain sebagainya. Gereja kita sedang bergerak maju dan kita ingin agar kita semua terlibat. Pertanyaannya, “Apakah anda melihatnya? Ataukah anda hanya melihat Gereja kita ini sebagai sesuatu yang sama saja? Apakah pula anda terlibat di dalam gerak Gereja ini? Ataukah anda terlalu enggan untuk mengatakan bahwa ‘saya ingin mulai terlibat’?” Kehidupan menggereja itu terus berjalan dan kalau sampai anda berhenti untuk melihat dan mengikuti gerak langkah Gereja ini, mungkin itulah salah satu tanda kita masih terlalu mencintai diri kita sendiri. Kita terlalu enggan untuk menatap bagaimana karya Allah telah nyata dan terus nyata di dalam Gereja ini.

Saatnya adalah Kini
Terlalu banyak orang enggan untuk membuat perubahan diri. Terlalu banyak orang yang sikapnya kaku: orang yang suka membuat cap-cap negative atas diri orang lain dan tidak siap untuk melihat perubahan. Orang suka mengatakan, “Dia itu pasti jelek!”; “Dia pernah menyakiti saya, jadi dia pasti orang yang jahat”; “Organisasi di Gereja itu pasti tidak bermutu!” “ Misdinar di paroki ini selalu salah dalam bertugas”; “Orang muda di Paroki ini datang hanya kalau acara makan-makan saja!” Gambaran ini menunjukkan betapa naif kita. Dalam bahasa latin ada ungkapan “Tempora mutantur et nos mutamur in illis”.

Ada pula orang yang mudah menjadi ragu-ragu, “Anakku memang seperti itu dan tidak pernah berubah!” atau “Bapak itu memang galak dari dulu!”. Ada pula yang mengatakan, “Mungkin lingkungan lain bisa menjadi guyub dan akur, tetapi tidak dengan lingkunganku”. Sikap ini bisa membuat kita berhenti bergerak maju dan lupa bahwa mimpi untuk kebaikan itu selalu ada dan akan selalu ada.
Kehendak Tuhan itu baik dan kalau anda masuk dalam suasana doa, dalam suasana keheningan dan sering mencari waktu untuk bersama dengan Tuhan, anda akan memahami apa yang sebenarnya Dia kehendaki. Namun, kalau kita terlalu memegang erat rencana kita, keinginan kita, kesombongan kita, pengakuan kita sebagai korban dan bukannya sebagai orang yang berperan di dalam perubahan, dan sebagainya, kita hanya akan terus menerus menjadi penonton. Kita tidak bergerak untuk menjadi orang yang menjadi agen perubahan.

Saat ditahbiskan satu tahun yang lalu, saya mengambil motto tahbisan, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1: 39). Harapan saya, di dalam menjalani hidup sebagai imam, saya bisa menjadi saksi mata atas banyak karya Tuhan di dalam kehidupan. Di paroki ini saya sudah melihat banyak karya Tuhan yang luar biasa. Namun, rasanya masih ada banyak karya Tuhan yang lain yang akan saya dan kita semua lihat dan rasakan saat kita mau menjadi bagian dari perubahan menuju kebaikan di paroki kita, mulai dari diri pribadi, keluarga, lingkungan, wilayah dan paroki. Kita saat ini belumlah mencapai titik yang terbaik, maka jangan terlalu enggan untuk mengatakan bahwa, “Aku perlu berubah, keluargaku perlu berubah, lingkunganku perlu berubah, wilayahku perlu berubah, parokiku perlu berubah!”
Saya dan anda berharap, semoga Gereja kita, paguyuban kita sebagai umat beriman, bisa menjadi gambaran Kerajaan Allah, tempat di mana Allah berkarya dan kita semua hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa persaudaraan dan kebaikan.

Rm. Martinus Joko Lelono
Imam Projo Keuskupan Agung Semarang

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami