Meneladan Yesus, Sang Aktivis

“Saya itu prihatin. Orang kalau ke Gereja menemui saya kebanyakan hanya dua: saat pernikahan atau kematian. Tapi setelahnya, mereka menghilang begitu saja. Tidak terlihat lagi batang hidungnya di Gereja. Hehehe”, ungkap Romo Martinus Joko Lelono, Pr dalam khotbahnya.

Apa yang disampaikan Romo Joko ini menggelitik hati saya. Saya jadi ingat, salah seorang teman saya yang non Katolik pernah mengatakan begini:

“Kamu aktif banget ya di Gereja. Kalau kamu ikut kegiatan Gereja gitu, banyak nggak yang ikut? Kok kalau di tempatku sedikit ya, itu-itu aja.”

Saya kemudian berpikir, mungkin ada benarnya juga kata-kata yang disampaikan Romo Joko dan teman saya ini. Dari yang saya lihat, orang kebanyakan lebih suka terlibat dalam organisasi di kampus atau bahkan sekolahnya ketimbang di Gereja.

“Mengapa ya sedikit sekali orang yang tertarik untuk berkecimpung dalam organisasi/paguyuban kerohanian? Padahal organisasi/paguyuban kerohanian seperti itulah yang justru menurut saya akan dan harus terus menerus ada dan berkembang dari generasi ke generasi. Berbeda halnya dengan organisasi di sekolah atau kampus yang kebanyakan hanya bisa diikuti saat kita masih menjadi bagian atau anggota dari sekolah atau kampus tersebut.” 

Saya kemudian mencoba kembali lagi ke belakang, melihat kisah di balik malaikat inspirasi saya di tengah keterlibatan dan keaktifannya dalam paguyuban Gereja. Dulu ia pernah menjajal masuk di berbagai bidang, baik di lingkup lingkungan bahkan paroki. Ia adalah seorang pendatang. Ia belajar dari bawah, dari yang hanya menjadi umat lingkungan biasa, kemudian masuk dalam kepengurusan lingkungan, sampai mengakhiri kisahnya dalam kepengurusan dewan harian paroki. Dari yang awalnya hanya dikenal dan mengenal umat selingkungan atau sewilayah saja, sampai bisa mengenal dan dikenal umat hampir separoki. Sampai mungkin ada yang mengatakan begini, “Siapa coba yang tidak mengenal dia?” Namun perkara yang tadinya hanya kecil, dihadapi dengan orang-orang yang memang sudah dikenalnya, hanya di lingkup lingkungan saja; seiring berjalannya waktu perkara yang dihadapi makin besar, dengan mereka yang berbeda lingkungan, dengan mereka yang berbeda kelompok kategorial, bahkan dengan anaknya sendiri yang juga terlibat dalam paguyuban Gereja pun ia pernah terlibat pertentangan. Dari awalnya yang hanya menjadi pendengar saja, makin lama bisa berada di depan dan menjadi pembicara, mencetuskan ide-ide cemerlang untuk masa depan Gereja yang makin gemilang. Waktu 7 hari 24 jamnya betul-betul dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk bekerja di kantor dan mengejar materi semata, tetapi bekerja dengan semangat pelayanan dan tulus hati untuk Gereja. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk Gereja, entah untuk rapat, gladhi, sembahyangan, dan sebagainya. Sampai ada juga yang mengatakan begini, “Dia itu sobone nggrejo tenan kok.” Memang, begitu banyak suka duka yang ia alami. Banyak yang memuji dan setuju dengan ide-idenya kemudian berjalan bersama. Namun tak sedikit pula yang hanya bisa nge-judge, menolak segala idenya dan bersikukuh dengan ide mereka, tanpa tahu betapa sulitnya berjuang membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Setelah sekian tahun berkecimpung di Gereja, tahun 2014 ia memilih untuk hengkang ke kota lain untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Pada tahun itu pula ia mengakhiri kisahnya di paguyuban Gereja. Tak disangka, mereka yang pernah bekerja bersama, bahkan mereka yang kerap kali ngejudge selalu menanyakan kabarnya ketika ia sudah tak di kota yang sama. Sayangnya, mereka hanya bisa sekedar bertanya pada anaknya yang kini melanjutkan perjuangan sang ayah dalam keaktifan di paguyuban Gereja dan hanya bisa bertemu sebulan sekali, itupun kalau beruntung. Mereka kerap kali bertanya begini pada anak atau istrinya, “Bapak dimana sekarang? Kok jarang kelihatan?” “Bapak kapan pulang?” “Wah sekarang semrawut e, enak waktu masih ada bapakmu ya, lebih rapi dan teratur.” “Bapak besok suruh pulang ya dek, ikut acara ini.” Mereka baru mencari, ketika ia sudah tak disini. Saya jadi ingat kata-kata ibu saya, “Masuk dan aktif di organisasi itu nggak gampang, mbak. Harus siap mental. Kadang kalau kita punya ide-ide bagus, bisa menghasilkan karya yang bagus, tetep ada aja yang nggak suka. Kayak Tuhan Yesus to. Dia aktif menyebarkan Kabar Sukacita kemana-mana, tapi ya tetep aja yang nggak suka, kayak Imam Kepala dan Ahli Taurat salah satunya.”   

Sungguh kisah berharga yang mungkin sekarang jadi pegangan saya untuk berani berkecimpung dan begitu aktif dalam paguyuban Gereja. Bukan karena ingin pamer, tapi saya hanya merasa perlu bahkan harus. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Karena seperti yang dikatakan Romo Joko, saya tidak ingin hanya mencari Gereja ketika butuh saja. Tapi saya ingin memberikan timbal balik dan mempersembahkan yang terbaik untuk Gereja dari apa yang saya bisa. Dan saya yakin, kamu juga bisa! Mari, Gereja membutuhkanmu. Jangan takut, aktif di Gereja tidak akan rugi. Semangat untuk melayani dengan teladan Yesus, Sang Aktivis 🙂

Dari aku, aktivis Gereja.

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami