Orang Muda Katolik Menurutku

Sebelum memulai untuk membaca baris pertama, mungkin lebih baik aku mengatakan terlebih dahulu bahwa apa yang telah dituangkan dibawah ini merupakan hasil curahan hatiku pribadi melalui indera perasaan, penglihatan, dan pemikiranku.

Di tengah hingar-bingar masa muda, masih terdapat sekelompok anak muda yang mau menjadi pelita di keheningan malam. Ya, mereka menamai diri mereka sebagai Orang Muda Katolik atau yang biasa dikenal dengan OMK. Seharusnya mereka tak sebatas definisi yang dapat dibaca dengan mudah di internet.  Seharusnya mereka juga bukan sebuah pelarian dan pelampiasan dari kegiatan ataupun dari keluarga yang ada di rumah. Terkadang orang berpikir bahwa Orang Muda Katolik hanya merupakan pelarian dari pekerjaan di rumah? Namun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka lupa bahwa Orang Muda Katolik adalah penyangga Gereja yang nantinya akan dibutuhkan ketika mereka sudah tiba pada saatnya. Orang juga sering berpikir, bahwa Orang Muda Katolik hanya bisa membuang waktu dan tertawa tanpa tujuan. Tidak salah, karena memang begitulah hidup, keburukan akan terlihat lebih jelas daripada sebuah kebaikan yang tersimpan rapat-rapat bahkan hingga akhirnya dilupakan dan hanya menyisakan keburukan saja. Terkadang orang menilai dari sampul, tanpa pernah melihat kedalamnya. Padahal, Orang Muda Katolik membutuhkan dorongan, bukan hanya penilaian yang akhirnya hanya membuat rasa malas mendera ataupun rasa kecewa karena dianggap yang dilakukannya hanyalah sia-sia.

Menurut internet, Orang muda katolik merupakan komunitas wadah kreativitas, pengembangan, pengedaran generasi muda di lingkungan paroki. Namun, bagiku definisi Orang Muda Katolik lebih dari itu. Orang Muda Katolik adalah mereka yang mau untuk saling terikat dalam sebuah suasana yang mendalam dan nantinya akan menjadi keluarga kedua dengan organisasi sebagai rumahnya. Jika orang berkata bahwa Orang Muda Katolik merupakan sebuah organisasi, aku tak menyangkal, namun juga tak menyetujuinya. Mengapa? Orang Muda Katolik lebih mengutamakan persaudaraan, bukan jabatan. Jika ada dari mereka yang lebih mementingkan jabatan dibandingkan persaudaraan yang ada didalamnya, maka orang itu sejatinya tak pernah menghayati dirinya sebagai bagian dari Orang Muda Katolik. Menghilangkan kata “aku dan kamu” lalu menyatukan menjadi “kita” terdengar cukup sulit untuk dilakukan. Ya, egoisme yang membelenggu terkedang memang cukup memberatkan dalam upaya membangun kesatuan antar anggotanya. Orang Muda Katolik bukan sebagai ajang perploncoan layaknya organisasi semi militer yang biasa kita lihat di televisi. Ketika satu orang mengalami kesulitan, maka akan ada tangan yang siap terulur untuk membantunya keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Bahkan kesulitan yang paling sulit sekalipun, akan terasa lebih mudah ketika dijalani bersama-sama. Ibarat paribahasa, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, itulah yang mendasari ikatan persaudaraan di dalam Orang Muda Katolik. Bertemu dengan banyak orang yang baru, mengerti permasalahan mereka, mau tak mau membuka hati untuk belajar mengorbankan sebuah kesenangan pribadi untuk kepentingan bersama. Orang Muda Katolik bukan pula sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan layaknya organisasi sosialita. Seandainya di luar sana, kamu adalah anak dari seorang  raja yang kaya raya, maka jangan pernah untuk membawa kekuasaan ayahmu itu di dalam Orang Muda Katolik. Kamu boleh menjadi dirimu yang seuntuhnya di luar sana, namun di dalam Orang Muda Katolik, kita adalah sebuah kesatuan. Aku dan kamu satu, yang memiliki kesamaan dalam derajat, harkat, dan juga martabat. Saling melengkapi tanpa memandang siapa dirimu, darimana asalmu, seberapa tinggi jabatanmu ataupun seberapa banyak kekayaan yang kamu miliki.

Orang Muda Katolik memandang dari hati. Dari setiap insan yang mau membuka hati untuk dimasuki. Hati inilah yang mampu menerima setiap kekuranganmu. Meyakinkan bahwa dihadapan-Nya kita adalah sama. Hati ini juga yang mau menyayangi tanpa menuntut untuk minta disayangi, mau memberi tanpa harus meminta diberi, dan mampu mengasihi dalam luka yang mungkin sudah pernah terbuat di hati. Bisa dibilang, bagiku Orang Muda Katolik adalah keluarga kedua. Aku mendapat banyak pengalaman kehidupan dari sini. Belajar untuk mau menghargai orang lain dengan segala pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapatku. Aku juga belajar untuk bertindak dengan hati. Belajar untuk tidak melukai hati orang lain baik dengan sikap ataupun perkataan yang menyinggung orang tersebut. Aku tahu, bahwa menyembuhkan luka tak semudah membuat luka. Bahwa memaafkan orang lain tak semudah menyakiti orang lain. Mau tak mau aku juga mengakui, menggunakan hati memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan terkadang rasa berkuasa dan rasa ingin menang sendiri muncul di dalamnya. Terkadang, tanpa disadari rasa itu merajalela tanpa pernah bisa dicegah. Inilah peran intropeksi. Ketika ada seseorang yang terluka karena kita, jangan pernah membuat luka yang sama pada insan yang yang berikutnya.

Lagi-lagi, Orang Muda Katolik memberi sebuah kekuatan kepada siapapun yang ikut ambil bagian didalamnya. Kekuatan persaudaraan yang mampu menahan untuk tetap sabar dan menjadikan segala permasalahan sebagai pemacu untuk mempertahankan suatu ikatan. Memecahkan segala persoalan dengan kepala dingin, tanpa harus main hakim. Persoalan itu ujian yang mempertanyakan seberapa kita mampu untuk bertahan, seberapa mampu kita menjaga sebuah persaudaraan dalam sebuah pertikaian, bukan untuk pergi lalu menjauh dari permasalahan, bukan juga menghilang tanpa kabar seolah meminta dicari. Namun persaudaraan itulah bekal dalam permasalahan. Untuk apa ada diskusi bila akhirnya menjauh dan pergi. Untuk apa menjadi keluarga, jika hanya ingin berjalan sendiri. Orang Muda Katolik membuatku sadar arti dari berjalan beriringan, bukan semata-mata berjalan sesuai arah yang diingini, namun berjalan untuk saling melengkapi. Menggapai tujuan yang sama yaitu untuk kemajuan sebuah Paroki. Aku dengan kemampuanku dan kamu dengan kemampuanmu. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda? Mengapa harus disamakan hanya dengan sebuah kebersamaan sebagai alibinya? Jangan menuntut apa yang tak bisa dilakukan orang lain.

Orang Muda Katolik memiliki kebersamaan bukan karena memiliki agama yang sama, namun karena setiap pribadinya mampu untuk saling menguatkan. Tawa yang kerap lolos dari bibir saat pertemuan bersama, terasa menghilangkan segala gundah dan gelisah. Jika memang kamu merasa nyaman, jangan coba pergi hanya karena rasa egois diri. Jika kamu merasa rindu, ingatlah bahwa keluarga akan selalu menerima untuk pulang kembali. Jangan memendam rindu sendiri, karena rindumu terkadang sama dengan yang lain. Jangan hanya berkata rindu, karena bertemu memerlukan sebuah aksi bukan hanya sekedar luapan kata yang tak berarti. Ingatlah bahwa rindu datang karena rasa nyaman, jangan rusak rasa nyamanmu hanya karena masalah pribadi yang ada disekitarmu. Bertengkarlah diluar sana, namun jangan untuk didalamnya, karena keluarga akan selalu memiliki cara untuk mempertahankan kebersamaan. Keluarga akan selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permusuhan yang ada di dalam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan cacian, dan makian, bukan juga dengan gunjingan. Namun keluarga selalu mempunyai hati untuk mencari solusi demi keutuhan keluarga. Jika kamu rindu? Maka marilah  kita bertemu unruk membuka lembaran baru dan membuktikan bahwa keluarga tetap akan bersatu!

Default image
Komsos Indonesia

Jangan Ketinggalan Berita

Masukan email Anda untuk subscribe ke buletin kami.

Leave a Reply