Meningkatkan Kesadaran Orang Muda Katolik dalam Hidup Menggereja

Kita semua tahu, perkembangan zaman serta teknologi sekarang ini telah merubah begitu banyak hal.Pengaruhnya juga dirasakan oleh para Orang Muda Katolik (OMK) khususnya di Indonesia. Pengaruh ini ada yang baik sekaligus buruk. Pengaruh baiknya adalah bahwa para orang muda ini dapat membuat ide” kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dapat mengembangkan gereja melalui sarana komunikasi yang semakin canggih, serta sebagai sarana penyebaran Injil.

Namun, di sisi lain ada pengaruh buruk yang juga tak boleh luput dari perhatian. Pengaruh buruk ini dapat berupa berkurangnya frekuensi pertemuan tatap muka, yang bagaimanapun juga tetap penting untuk dilakukan.Sebab meskipun kita dapat berhubungan lewat media sosial seperti Whatsapp, Line, dll namun untuk hal – hal mendesak hal itu tidak bisa dilakukan lewat media sosial.

Perkembangan teknologi juga menyebabkan orang – orang melupakan agama asli mereka. Pesta pora, perjudian, pergaulan bebas dan berbagai aktifitas lainnya telah melunturkan nilai – nilai rohanitas dalam diri mereka yang dalam tahap selanjutnya membuat mereka seperti “menyembah” hal – hal tersebut. Mereka lupa bahwa hal tersebut hanyalah kesemuan belaka, mereka melupakan Kasih yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Hal ini dapat terjadi karena adanya krisis yang melanda hidup mereka akibat hal – hal buruk yang digamblangkan oleh teknologi yang semakin liberal.

Orang Muda Katolik sekarang pun juga telah memberikan sinyal kebosanan terhadap acara – acara yang diselenggarakan oleh gereja. Mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan acara yang penting. Orang muda sekarang lebih senang untuk mengisi waktu dengan bermain bersama teman – teman sekolah, menonton sinetron, atau melakukan hal – hal lain yang bersifat duniawi. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan memberikan dampak buruk bagi pewartaan Injil yang menjadi salah satu misi utama gereja.

Hal ini pun juga telah membuat keresahan para pemimpin Katolik. Sejak 1997, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Surat Gembala Prapaskah telah menyerukan keprihatinan terhadap rusaknya keadaban publik, khususnya berupa kerusakan moral hampir di segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Ini menjadi sesuatu yang harus disikapi secara serius. Kita tentu tidak ingin gereja – gereja di Indonesia menjadi seperti di Eropa yang mana hanya orang – orang lanjut usia saja yang mengikuti misa biasa.Gereja hanya ramai disaat misa besar atau saat ada upacara pembaptisan/ kematian. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat ironis. Tentu kita sebagai generasi penerus tak ingin gereja kita di Indonesia menjadi seperti itu kan? Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?

Dari gereja sendiri, harus lebih aktif lagi untuk menggalakkan acara – acara yang melibatkan kaum muda. Pernyataan ”orang muda hanya bertugas jaga parkir” harus dihilangkan secepat mungkin. Orang muda juga harus berperan dalam struktur kepengurusan gereja dan juga dalam proyek – proyek yang dicanangkan oleh gereja itu sendiri. Dalam hal ini, gereja dapat bekerjasama dengan lingkungan untuk membuat acara – acara yang dapat mewadahi kaum muda untuk berkarya seperti rekoleksi, retret,latihan koor, legio Maria, dll. Diharapkan dengan diselenggarakannya acara – acara tersebut dapat semakin mengaktifkan peran kaum muda di gereja. Selain acara – acara yang bersifat rohaniah seperti di atas gereja juga dapat membuat acara yang bersifat sosial seperti penyuluhan, bakti sosial, maupun latihan kepemimpinan untuk melatih skill serta kepekaan mereka terhadap kondisi sosial yang ada. Bahkan mungkin jika memungkinkan, gereja dapat bekerjasama dengan para keluarga untuk menemukan solusi terbaik bagi putra – putrinya, karena orang tua pasti tahu apa yang disenangi oleh anak – anak mereka yang selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi.

Dari sisi kaum muda itu sendiri, juga jangan acuh tak acuh terhadap acara gereja tersebut. Percuma jika hanya gereja saja yang aktif, tetapi kita sebagai kaum muda tak peduli terhadap hal tersebut. Komunikasi dua arah sangat diperlukan untuk mensinambungkan hal ini agar menjadi lebih baik. Kepengurusan organisasi yang tertata rapi juga dapat lebih mempermudah kinerja pada prakteknya. Hal ini yang masih harus perlu ditingkatkan saat ini. Kita juga harus sadar bahwa kita menjadi ”ujung tombak” pewartaan iman gereja. Jika hal ini tidak dapat tercapai, bukan tidak mungkin akan muncul ketidakharmonisan serta ketidakaturan dalam hidup menggereja, yang pada akhirnya dapat membuat gereja menjadi mati karena kekurangan daya.

Kita ini adalah kaum minoritas, jadi jangan semakin menenggelamkan diri sendiri. Status ini hendaknya membuat kita sadar tentang pentingnya keberadaan kita dalam hidup menggereja. Semoga ke depannya kaum muda ini dapat menjadi orang – orang yang produktif dan dapat menghasilkan sesuatu dari usaha dan kerja keras mereka. Amin!!

Referensi dari http://penyuluh-agama-katolik.blogspot.co.id/2014/02/meningkatkan-minat-orang-muda-katolik.html?m=1

Komsos Gamping
Komsos Gamping
Articles: 44

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami