KOMSOS BUBAR!?

“Kenapa eh Komsos bubar?”

“Ada apakah dengan Komsos?”

Tentu kamu akan bertanya seperti itu jika melihat gambar di atas, namun apa sih yang sebenarnya terjadi? Kamu bisa melihat lengkapnya pada video di bawah ini:

847 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Perlukah Adanya Pemberhentian Teknologi?

blur bottle bright building

Zaman semakin maju, globalisasi benar-benar mengubah wajah dunia menjadi jauh lebih modern. Kita sudah memasuki era di mana teknologi (hampir) menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap insan.

Setiap hari, terutama bagi yang tinggal di daerah perkotaan sudah barang pasti bersinggungan dengan teknologi. Setiap waktu yang dihabiskan rasa-rasanya ada saja kaitannya dengan hal satu ini. Dari mulai bangun pagi lalu langsung cek handphone misalnya, kemudian sarapan dengan mengambil lauk dari kulkas, sampai berpergian dengan kendaraan bermotor, semuanya berhubungan dengan teknologi.

Kita tidak bisa membantah bahwa perkembangan teknologi yang amat pesat ini memang sangat membantu kehidupan sehari-hari manusia. Teknologi membuat segalanya menjadi lebih mudah dan praktis. Dalam berpergian misalnya sekarang sudah ada aplikasi ojek daring. Dari yang dulunya harus menunggu bus atau mencari ojek di pengkolan sekarang tinggal klik dan kita tinggal duduk-duduk santai menunggu driver datang. Hal ini tidak terlepas dari handphone sekarang yang fitur-fiturnya sudah semakin canggih. Dari yang dulu hanya bisa untuk sms dan telepon sekarang sudah hampir bisa untuk segalanya, seolah-olah berbagai kebutuhan hidup ditarik ke dalam benda satu ini.Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh perkembangan teknologi lainnya, tetapi jika saya jabarkan semua tentu akan menjadi satu artikel lagi.

Intinya adalah dibalik segala kelebihannya, teknologi juga menyimpan ancaman serius jika kita tidak berhati-hati. Ancaman ini sudah kita rasakan dalam bentuk yang boleh dibilang masih ‘jinak” seperti berkurangnya interaksi sosial langsung di masyarakat, banyaknya pengangguran karena pekerjaan mereka digantikan oleh mesin, polusi karena kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Nah, berbagai macam dampak negatif tadi menggelitik saya untuk merenungkan sesuatu, bagaimana jika suatu saat teknologi yang telah kita ciptakan ini mengambil alih dunia, lalu kita sebagai manusia dijadikan ‘budak’ teknologi? Mungkin beberapa dari kalian berpikir ini terlalu dibuat-buat atau saya yang imajinasinya terlalu tinggi, tetapi menilik dari apa yang terjadi dewasa ini kemungkinan hal itu untuk terjadi seperti di film-film Hollywood menjadi mungkin. Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya alih fungsi teknologi itu, yang pertama, para pakar teknologi di seluruh dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan teknologi mereka secanggih mungkin. Tujuannya jelas untuk semakin memudahkan aktivitas umat manusia yang juga berarti semakin memanjakan kita. Suatu saat mungkin kita tinggal tidur di kasur dan semua aktivitas keseharian kita dapat dijalankan dengan mesin seperti mandi, makan, memakai baju, dan lain sebagainya. Orang-orang tak terbiasa mandiri lagi, mereka menjadi malas bergerak dan berpikir kritis. Dunia akan dipenuhi oleh orang-orang pemalas yang amat bergantung pada teknologi. Ketika saat itu terjadi, maka boleh dibilang kita sudah kalah dengan sesuatu yang kita kembangkan sendiri.

Yang kedua berhubungan dengan AI. Bagi yang belum tahu AI merupakan singkatan dari artificial intelligence yang berarti kecerdasan buatan. Mengapa AI ini saya masukkan dalam salah satu faktor? Itu karena perkembangan AI sekarang membuat saya resah. AI sudah hampir mencapai tingkat yang sama dengan kesadaran manusia. Bagaimana jika nanti ada pihak-pihak jahat yang bermaksud mengendalikan dunia dengan bantuan AI? Atau bagaimana jika AI lalu memiliki pikiran jahatnya sendiri? Bagaimana jika suatu saat robot dapat memperbanyak diri dan membentuk koloninya sendiri untuk menyerang manusia? Kita tentu tidak ingin kejadian seperti dalam film Terminator, Ex Machina, I Robot, atau Automata sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan nyata.

Suatu saat nanti, boleh jadi manusia harus melakukan pemberhentian teknologi untuk mengatasi situasi ini. Perkembangan teknologi harus dihentikan pada suatu titik sebelum kehancuran itu benar-benar terjadi. Masa itu akan menjadi masa yang menegangkan dan penuh dengan kontroversi, akan ada yang pro dan kontra.

Meski begitu, teknologi bisa saja terus berkembang sepanjang masa dengan segala variasinya asalkan masih dalam kontrol kita sebagai manusia. Jika teknologi itu sudah di luar kendali, mungkin adanya pemberhentian teknologi ini juga patut diperhitungkan.

1,048 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIV

Sawah

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,520 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIII

Bunda Maria

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

2,179 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Selamat Ulang Tahun, Aloysius Gonzagaku!

ultah wilayah gesikan

Minggu (24/6), Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan merayakan pesta nama, tepat pada Hari Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Perayaan syukur itu diawali dengan misa mingguan seperti biasanya. Dalam misa mingguan itu, Romo Martinus Joko Lelono, Pr memberi pesan dalam khotbahnya agar seluruh umat di Wilayah Gesikan dapat meneladan Santo Aloysius Gonzaga untuk berani menjalankan peran dan kisah hidupnya masing-masing. “Setiap orang diberi senjata untuk menjalankan peran dan kisah hidupnya. Seperti Santo Aloysius Gonzaga yang menyadari dan mau menerima kisah hidupnya di usia muda yaitu masuk Serikat Yesus. Walaupun ditolak oleh orang tuanya, dengan pendirian yang kuat Santo Aloysius Gonzaga tetap meninggalkan gelar kebangsawanan serta harta benda warisannya dan memberikannya kepada adiknya.”

Perayaan syukur itu terasa syahdu ketika para Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan menyanyikan lagu “If We Hold On Together” seusai misa. Lagu itu terasa semakin syahdu ketika anak-anak membagikan setangkai bunga mawar kepada umat yang hadir dihiasi dengan kepolosan wajah mereka. Hal ini juga sesuai dengan harapan Sista Mayangdarastri, yang merupakan Ketua OMK Wilayah Gesikan. “Aku berharap antara anak-anak, orang muda, dan bapak-bapak ibu-ibu bisa lebih kompak. Semua generasi bisa bekerjasama melayani Gereja dengan kebahagiaan dan kebersamaan”, begitu ungkapnya.

Suasana pun semakin semarak ketika seluruh umat berdiri dan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dengan serempak. Namun tentunya, sebuah rangkaian pesta nama tidak akan lengkap jika tidak ada tumpeng. Maka sebagai ungkapan syukur atas pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, rangkaian acara hari itu dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr. Seluruh umat yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum menandakan kebahagiaan.

Anak-anak pun ternyata tak ingin kalah. Mereka turut serta dalam memeriahkan pesta nama tersebut dengan mempersembahkan lagu “Glory-Glory Halleluya”, “Happy Ya Ya Ya”, “Mars Pendampingan Iman Anak (PIA) Paroki Santa Maria Assumpta Gamping”, “Cuit Cuit Cuit Pam Pam Pam”, serta “Hari Ini Harinya Tuhan”. Kelima lagu tersebut mereka bawakan dengan semangat dan penuh sukacita. Untuk itu demi meningkatkan semangat anak-anak, mereka diberi bingkisan cantik.

Akhirnya, menutup perayaan pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, seluruh umat berkumpul dan menyantap bubur ayam serta es dawet di halaman kapel. Mereka menikmatinya dengan kebersamaan dan persaudaraan yang hangat. “Ya semoga kapel umatnya semakin bersemangat dalam melayani Tuhan dan sesama, juga anak-anak semakin semangat dalam hidup menggereja, sehingga imannya kuat, hidup dan berbuah”, kata Ibu Suprihatin (salah satu umat lingkungan Santa Veronika Bantulan) ketika ditanya harapan bagi Wilayah Gesikan ke depannya.

2,301 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Buat Nyaman Gereja

pelangi di gereja gamping

Gue belakangan ini sadar yang memecah belah manusia bukanlah faktor-faktor eksternal, tapi justru internal yaitu dari dalam diri sendiri. Ada beberapa hal tentang hidup menggereja yang sering ada di kepala gue.

Pertama, berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek, hanya ada bagus dan bagus banget. Gue dapet kata-kata itu dari seorang teman di gereja, nggak tau dia bisa jenius nemuin kata itu dari mana. Gue pikir-pikir lagi bener juga kalau berkarya di gereja itu nggak ada yang namanya jelek. Nggak bisa yang namanya diatur-atur kayak kerja di kantor. Di gereja semua mengandalkan kasih.

Kedua, berkarya di gereja punya porsinya sendiri-sendiri, mentang-mentang banyak ajakan untuk mengikuti kegiatan terus diikutin semua. Nggak sih, orang punya kesempatan untuk ingin membantu di bagian mana. Punya perannya sendiri-sendiri.

Ketiga, kenyamanan. Poin dari artikel ini sebetulnya gue mau ngobrol bab kenyamanan di gereja. Gereja yang nyaman tentu bakal ngebuat insan-insan di dalamnya jadi betah. Anak-anak muda akan senang berada di gereja. Kayak orang yang pacaran, kalo nggak sama-sama nyaman ya pisah. Seperti pada paragraf pertama, faktor internal yang membuat kepisah-pisah kita sebagai manusia sebetulnya sikap. Sikap berperan besar mengenai mana yang harus kita percaya, yakini dan jauhi. Kita butuh warna yang bisa ngebuat nggak takut untuk pergi dan berkarya di gereja.

Sudah sepatutnya orang-orang tua juga mendukung orang muda untuk berkarya. Karena dengan karya orang muda, gereja menjadi berwarna. Jadi gue, aku, saya, mengajak kamu, anda untuk ikut membuat nyaman di gereja.

1,479 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini

Di Rumah Kudus-Mu

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Alunan gending gamelan

Bersanding dengan bunyi nyanyian tembang Gereja

Serta orang-orang yang beranjak dari tempat duduknya

Bersiap menyambut rombongan suci

Jelmaan Sang Ilahi dan mereka yang setia mendampingi

 

Hati ini tenteram

Ketika taubat datang lewat seruannya

Dari Dia, yang Mulia atas segala Raja

Pemilik alam Semesta

Tuhan Yesus yang mengasihi tiada batas

 

Sabda-Nya mengilhami akal

Ribuan makna yang cukup menjadi bakal hidup rohaniku

Untuk selalu hidup dalam damai sukacita

Namun tetap penuh kasih dan peduli pada mereka

yang ratapan serta tangis air mata sudah menjadi hal yang tak lagi asing

 

Dia, memberiku tubuh-Nya yang kekal

Dalam bentuk roti bundar tanpa ragi

Pada sakramen ekaristi yang suci

Puncak sebuah keagungan

Sekaligus kilas balik malam terakhir-Mu sebagai insan yang akan selalu kami kenang

 

Jika umurku panjang, izinkan aku untuk selalu datang dan bertemu dengan-Mu Tuhan, di rumah-Mu yang kudus.

2,001 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,398 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Perilaku Mata

salib kapel gesikan

Sabtu Malam aku ke Gereja
mataku jempalitan

Aku lihat di bangku depan
rambut ikal selengan
dicapit di tengah kepala
lehernya

mataku jelalatan

Aku lihat di barisan kanan
pipi gembil sekepalan
bedak dan gincu ada segala
bibirnya

mataku keranjingan

Aku lihat dari kaca jendela
betis panjang bak dian
kulit putih dan mulusnya
pinggulnya

mataku pecicilan

Kemudian aku dicolek dari jantung
menghadap kembali ke altar
Rambut gimbal terurai
berias darah berburai
bingkai dan paku panjang

matanya tertuju padaku

1,738 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Mobilku Arep Dicolong!

Mobilku Arep Dicolong

Tadi malam, bapakku mendapat cobaan yang cukup berat. Aku tidak tahu apakah ada satupun warga di RT kami yang dapat menghadapinya seperti bapakku. Waktu itu pukul dua pagi. Aku sedang setengah tertidur di depan televisi karena habis menonton pertandingan sepak bola klub favoritku. Ibu sudah tertidur bersama adik setelah adik terbangun karena mimpi buruk. Tanpa aku ketahui, tiba-tiba bapak berteriak dengan sangat keras “Maling! Maling! Mobilku arep dicolong! Maling!” Aku spontan terbangun dan melihat bapak berdiri di depan pintu.

Rupanya bapak mendengar alarm anti-maling dari mobil yang ada di luar rumah. Aku tidak sempat mendengarnya karena aku tertidur sudah mulai pulas dan alarm mobil tidak terlalu keras. Bapak mengulangi teriakannya berkali-kali. Mendengar teriakan bapak, lantas seluruh warga RT langsung keluar rumah. Aku melihat seseorang lari bersembunyi ke atas pohon dan langsung menunjukkan kepada bapak-bapak RT yang sudah membawa gebukan. Akhirnya maling tersebut berhasil diringkus oleh warga.

Setelah malingnya diikat dan pak RT menelepon polisi, bapakku berusaha berbicara kepada semua warga. “Alhamdulillah Bapak-Bapak. Berkat kesigapan warga semuanya, mobil saya tidak jadi dicolong. Terima kasih sekali, semoga malingnya kapok dan RT kita makin aman,” Katanya. Beberapa warga terlihat heran. “Alhamdulillah Pak,” ucapku cekikikan. Disela keramaian warga, Pak Shodiq tetangga kami menyela bapak, “Nggih Pak, Alhamdulillah. Tapi omong-omong, nganu Pak, nuwun sewu. Yang nggak jadi dicolong kan mobil saya, jadi saya yang berterima kasih karena Bapak sudah sigap memanggil warga.” “Lho, jebule mobil saya aman-aman saja to dari awal?” tanya bapak.

“Oalah Pak, Pak,” jawab ibuku yang langsung mengajakku masuk. Semua warga tampak memalingkan muka dari bapak, menahan tawa. Beberapa warga langsung berjalan ke arah rumah masing-masing. Bapak kelihatan kebingungan karena masih setengah ngantuk. Kemudian bapak melihat ke arah rumah kami dan mengamati halaman rumah kami. Tentu saja berbeda dengan yang ada di mimpinya lima menit lalu. Ia melihat ke arah warga setelah sadar apa yang mereka tertawakan. “Pareng Pak,” sapa Pak Shodiq yang pulang terakhir kali setelah mengunci mobilnya. Bapak diam sejenak, menengadah dan mengangkat tangan seperti berdoa. “MasyaAllah”.

1,514 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini