Cinta Kamu dan Gereja

Cinta Kamu dan Gereja

Hujan rintik-rintik kembali mengguyur Yogyakarta siang ini. Aku hanya merapal doa dalam hati agar segera reda. Aku tak ingin hari mingguku ternoda. Hari minggu memang hari yang paling kutunggu. Bukan karena sekolahku libur, namun karena aku akan bertemu dengan seseorang.

“Yess!” seruku girang ketika tahu hujan berhenti tepat satu jam sebelum misa sore di Gereja Santa Marria Assumpta Gamping dimulai. Aku bergegas mengguyur badanku dan membuat aromanya menjadi semerbak wangi. Berdiri di depan cermin, di tanganku sudah tergenggam sebuah kotak peralatan make-up.

Benar, rasa suka pada seseorang memang buta hingga aku melakukan segalanya untuk mendapatkan perhatian matanya. Perlahan kukeluarkan satu persatu peralatan make up itu. Sebuah benda pipih lembut kuusapkan pelan diwajahku dengan merata. Berikutnya menyusul sebuah pensil berwarna coklat gelap yang terukir di alisku. Diakhiri oleh cairan berwarna merah yang teroles di bibirku.

“Sempurna,” ujarku berdiri di depan cermin sembari memandangi wajah yang kini telah tertutup oleh benda-benda kimiawi. Aku menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya aku berlaku seperti ini. Lebih tepatnya semenjak aku mulai bertemu dengannya dan perasaan ini menyusup hatiku.

Aku tertegun sesaat setelah jam menunjukkan lima belas menit waktu yang tersisa sebelum misa dimulai. Roda motorku beradu cepat dengan jalanan yang masih basah. Hatiku berdebar kencang. “Woy, kamu mau ke gereja, bukan ketemu pacar!” seru hatiku beradu dengan pikiranku yang sibuk membayangkannya.

Melangkah memasuki pintu utama gereja, mataku menjelajah mencari keberadaanya. Jangan bayangkan aku akan duduk disampingnya! Tentu saja kuberi jarak satu atau dua bangku untuk aku duduk agar tetap bisa memperhatikannya. Aku memang hanya bisa menatapnya dari jauh.

Dia, pemuda yang menurutku sangat tampan. Hampir setiap hari wajahnya berhasil masuk menjadi bunga tidurku. Rahangnya tegas, alisnya yang tebal, matanya yang bercahaya, dan jambulnya sungguh mempesona. “Teng,” bunyi lonceng tanda misa dimulai berhasil membuatku terlonjak. Ah tidak! Membayangkannya saja membuatku lupa bahwa aku sedang di gereja.

Homili yang seharusnya kudengarkan, nyatanya malah sibuk kugunakan untuk mengaguminya. Aku membayangkan bagaimana jika aku mengikuti misa dengan duduk berdua dengannya. Ah, paling nanti aku pingsan karena tak sanggup menahan pesonanya yang begitu kuat untukku. Tapi boleh lah, sedikit sentuhan lembut di tangan ketika tak sengaja bersentuhan. Pikiran tentangnya terus menghantuiku hingga akhirnya homili yang hanya menjadi angin lalu pun usai.

Misa berakhir, dia menghampiri teman-temannya. Mungkin untuk sekedar bersama ataupun basa basi belaka. Sedangkan aku, berjalan lambat menuju taman doa. Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu menyukainya, bahkan hingga aku mencintainya. Hampir di setiap doaku, nama itu terucap hanya untuk permohonan agar aku bisa memilikinya.

Waktu berjalan cepat. Rutinas yang kulakukan setiap hari minggu tak membuatku dekat dengannya sedikitpun. Mencari jadwalnya ke gereja, mengikuti kegiatan-kegiatannya, atau hingga meluangkan sedikit waktu hanya untuk melihat senyumnya bersama teman-teman dekatnya. Seakan percuma, dia tak melihat ke arahku. Bahkan aku tak yakin bahwa di mengenaliku ataupun sekedar tahu namaku.

Jengah, lelah, bosan, dan segala hal lainnya mulai berkecamuk. Terkadang aku berpikir, apakah aku hanya sekedar menggaguminya. Namun, mengapa untuk melepaskannya harus sesulit ini? Apakah mengejarnya memang terlalu menyakitkan untuk dilakukan? Bertepuk sebelah tangan memang melelahkan, dan sekarang aku benar-benar lelah untuk selalu menjadi penggagumnya saja tanpa bisa menyentuhnya lebih dekat.

Kabar burung pun sampai hingga telingaku. Ah sudah! aku ingin melupakannya. Toh ternyata dia milik orang lain. Buat apa aku menarik perhatiannya lagi seperti yang selama ini telah kulakukan. Mengapa aku memaksakan apa yang memang tak bisa aku dapatkan. Paling tidak aku bersyukur masih diberi kesempatan menatap ciptaan-Nya yang indah meski dari kejauhan.

Teruntuk kamu, pada akhirnya aku cuma ngikutin waktu, ngikutin suara hatiku, ngikutin setiap gerak-gerikmu, karena aku cinta kamu dan gereja.

1,736 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

MISCHRISTO Goes to TC 2018

Mischristo TC

“kami putra putri altar Paroki tercinta… Satu semangat kami, semangat mengabdi… kami melayani Yesus dan umat-Nya dalam ekaristi… Selalu siaga rela dan sedia dalam karya baktii… Santo Tarsisius doakanlah kami, mohonkan pada-Nya… semangat berkorban bagi cinta Tuhan di hati membaraa…”

Itu sedikit penggalan lirik lagu Mars PA yang jadi bagian favorit kami. Nyanyi lagu itu rasanya kami kembali mengenang masa-masa awal kami menjadi Putera Altar. Menyanyi lagu itu di tengah gelapnya malam dengan sebuah unggun, kami duduk melingkar dan bersenandung dengan tangan menggenggam didada. Indah, haru, dan hangat pastinya…

Menjadi misdinar atau putera altar tak selamanya berkutik di misa, misa, dan misa. PA punya wadah lain untuk menuangkan bakat-bakat tersembunyi, di TC misalnya.

TC kembali menyapa kami, Misdinar St. Christopher Gamping. Setelah satu kali fakum dari TC (Tarcisius Cup) event misdinar dari berbagai paroki bergabung, berdinamika, dan menikmati euforia khas PA yang jarang ditemukan di event-event lain. Berbagai lomba di gelar, dari lomba yang memerlukan fisik ekstra hingga kreatifitas tanpa batas. Tak jarang event-event semacam itu yang menjadi kerinduan kami. Hanya sebatas tanya seorang teman “hoeeyy piee melu TC ra? Aku melu lhoo, ayo melu!” bisa menyenggol senyum kami. Kerinduan akan serunya dinamika TC sebelumnya, sering membuat hati kami berkata “Aku kudu melu!”

Di TC 4 tahun lalu, sayangnya kami belum dapat menyabet semua juara. Namun, ada secercah sinar yang membuat teriakan kami semakin keras. Saat pagelaran musik sebagai penutup hingar-bingar TC di Nanggulan berlangsung, sembari dijejali pengumuman pemenang tiap lomba yang digelar. CCPA (Cerdas Cermat Putera Altar) yang membuat sorak sorai kami semakin riuh dan mata kami menangis bahagia. Puji Tuhan, Mischristo dapat memberi sebuah piala untuk Gereja. Tak tanggung-tanggung piala yang kami bawa pulang bertuliskan JUARA 1 LOMBA CCPA.” Suasana murung yang sempat kami landa secepatnya berganti senyum bahagia.

Sekarang, waktunya kami kembali unjuk gigi! Di bulan Agustus nanti kami akan menyambangi Paroki Marganingsih Kalasan untuk turut memeriahkan TC yang digelar setiap 2 tahun sekali itu. Kesempatan langka, memang. Ada enam cabang lomba yang akan kami ikuti yaitu koor, lektor, futsal, mancing, paramenta, dan CCPA.

Kami ingin menambah koleksi piala di kantor Kesekretariatan Paroki. Untuk itu kami akan mempersiapkan diri kami MISCHRISTO agar dapat mengulang hingar bingar dan deru tawa yang sama saat TC empat tahun yang lalu itu kami geluti, dengan pencapaian yang semakin baik tentunya.

Doakan dan support kami Bpk/Ibu, Romo, dan seluruh umat Paroki St. Maria Assumpta Gamping, MISCHRISTO akan turut berjuang menjadi yang terbaik diantara yang baik.

TC 2018, kami datang!

3,841 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

1000 Tumpeng Persaudaraan

1000 Tumpeng Persaudaraan

Selasa (5/06/2018) KOMSOS Gamping bersama Romo Joko menghadiri acara 1000 Tumpeng Persaudaraan di Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Acara itu dimulai dengan sapaan hangat oleh Bapak Bagus (tuan rumah), masyarakat sekitar, dan orang-orang dari berbagai agama yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kami masuk ke dalam rumah berarsitektur jawa yang masih sangat kental. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipinpin oleh pemuka dari berbagai agama yang ikut serta dalam acara tersebut.

Sesuai dengan acaranya, 1000 tumpeng dengan lauk yang terdiri atas telur dan kacang kedelai, serta air mineral telah dipersiapkan. Tak terkira ternyata tumpeng dan lauk-pauk yang tersedia memiliki makna tersendiri yang menarik untuk diketahui. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa tumpeng melambangkan gunung yang menjulang, dan telur melambangkan sebuah bulan, sedangkan kedelai hitam melambangkan bintang-bintang. Mengapa kedelai hitam dapat dilambangkan sebagai bintang-bintang? Karena ketika kedelai hitam tersebut digoreng ada cahaya yang berkilap-kilap seperti bintang-bintang, penjelasan Bapak Bagus narasumber serta penggerak kegiatan tersebut. Selain tumpeng dan lauk-pauknya yang memiliki makna historis yang menarik, tersedia juga air mineral yang dilambangkan sebagai sumber air kehidupan. Sedehana namun penting untuk diketahui.

Untuk mebagikan takjil yang berupa tumpeng tersebut kepada masyarakat yang sedang dalam perjalanan dan berhenti menunggu lampu merah. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas beberapa orang dari berbagai agama, yang tersebar dalam lima titik yaitu di perempatan Godean, perempatan Pelem Gurih, Titik Nol Kilometer, Tugu, dan di sebuah pesantren di daerah tersebut. Sungguh suasana yang sangat hangat dan menyenangkan, dimana kepedulian dengan sesama dan rasa saling memiliki sekarang ini sudah berangsur-angsur surut, meskipun banyak juga yang mencoba untuk memputar-balikkan itu semua.

Dalam kegiatan berbagi takjil kali ini, kami membagikannya kepada orang-orang yang kami jumpai di sekitar tempat di titik yang telah ditentukan. Banyak masyarakat yang menyambut baik kegiatan ini, hal ini ditunjukkan oleh mereka yang tak segan-segan menerima takjil yang kami bagikan, meskipun tak sedikit pula yang menolak.

Selepas membagi takjil, kami kembali ke rumah Bapak Bagus bersama dengan para pembagi takjil yang lain. Di tempat itulah kami beristirahat sembari berbincang, dan makan bersama dengan hidangan yang telah tersedia. Di sela perbincangan kami, Pak Bagus mengatakan bahwa acara kali ini bertepatan dengan malam selikuran atau yang berarti “malam seribu bintang.” Oleh sebab itu akan diadakan juga kegiatan keliling desa untuk merayakannya.

Selepas energi kami kembali terisi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan ikut berkeliling desa. Terdengar sangat meriah pula ketika saudara kita umat muslim yang turut merayakan malam selikuran tersebut dengan melantunkan lagu-lagu serta bertabuhkan gendang yang dimainkan bersama-sama. Kegiatan tersebut merupakan moment langka karena hanya setahun sekali digelar.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan bagi umat muslim bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari malam-malam lainnya yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai ajang untuk berbuat baik dan memperdalam ibadah. Bagi kami sendiri pun kegiatan ini jelas merupakan ajakan untuk melestarikan budaya khususnya budaya Jawa. Melestarikan budaya bukan hanya dengan tulisan tetapi juga perbuatan. Melestarikan budaya Jawa tanpa memandang perbedaan, karena justru perbedaan itulah yang mejadi kekuatan bagi kita, perbedaan yang beralaskan cinta kasih. Jangan biarkan budaya semakin terkikis, mari lestarikan budaya kita sedari dini sedari kita mampu dan kuat untuk menjaganya.

Perbedaan justru aset untuk memperkaya keberagaman dan toleransi adalah pupuk untuk menyuburkan kebaikan didalamnya.

 

1,681 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Nyala Nyawa Katolik Dari Jantung Mataram

THS THM

Gemuruh langkah prajurit Nusantara tak lagi dapat kita dengar, namun hal itu bukan berarti lajunya berhenti dimakan jaman. Indonesia didiami oleh berbagai macam suku bangsa yang berbeda satu dengan yang lain. Menghadapi pola kehidupan yang selalu berubah, lahirlah Pencak Silat sebagai cara masyarakat nusantara menghadapi perubahan jaman sekaligus sebagai bentuk perlindungan diri. Pencak Silat kini tak hanya digemari sebagai pegangan pribadi, tetapi budaya ini telah berkembang menjadi salah satu olah raga bela diri yang banyak diminati, bahkan kiprahnya di kancah internasional bisa dibilang sukses menyamai keberadaan karate, judo, tae kwon do, dan berbagai seni bela diri dari belahan bumi lainnya.

Di Indonesia sendiri, seni beladiri Pencak Silat berkembang dihampir seluruh daerah. Dari tanah Jawa, tak bisa dipungkiri bahwa Pencak Silat Mataram Kuno adalah salah satu aliran Pencak Silat yang tertua di Indonesia. Mengutamakan gerak ritmis yang lembut, Pencak Silat Mataram Kuno menyembunyikan gerak mematikan dalam setiap keindahan geraknya. Namun apa jadinya bila gerak Pencak Silat mematikan ini dipadukan dengan ajaran dan iman Katolik? Berdoa sambil memukul? Memuji Allah sambil memasang kuda-kuda? Tentunya hal ini menjadi lebih menarik untuk dibahas.

Adalah seorang Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang memprakarsai didirikannya Organisasi Pencak Silat berlandaskan iman Katolik yang kini dikenal dengan Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria. Beliau adalah pendekar yang berguru langsung pada garis Pencak Silat Mataram Kuno. pada waktu itu Pencak Silat digunakan sebagai pertahanan dalam melawan penjajahan serta pendudukan Belanda dan Jepang. Kemudian setelah Beliau belajar di Seminari, Beliau diminta untuk melatih Pencak Silat kepada para seminaris. Bukan tanpa alasan, pelatihan Pencak Silat bagi para seminaris ini dimaksudkan untuk sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air, rasa hormat pada negara (mengingat Pencak Silat telah berjuang bersama tekad dan semangat dalam meraih kemerdekaan) dan pengimanan akan wafat dan kebangkitan-Nya seperti yang dinyatakan secara jelas dalam semboyannya yaitu Pro Patria et Ecclesia yang berarti untuk Tanah Air dan Gereja. Didirikan pada 10 November 1985, berkat usaha 11 seminaris didikan Frater Hadiwijoyo.

THS-THM tersebar dan meluas bersamaan dengan keprihatinan Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. yang melihat bahwa pergerakan remaja gereja pada waktu itu sangat memprihatinkan. Maka pada waktu itulah Rm. M. Hadiwijoyo, Pr. bersama para dewan pendiri memutuskan untuk terjun dalam pelayanan gereja dengan pencak silat sebagai ujung tombaknya. Hal ini membuktikan bahwa THS-THM merupakan nyala nyawa Katolik dalam kerasulan awam.

THS-THM sendiri dibentuk oleh rohaniwan Katolik dan kaum awam Katolik secara mandiri dengan tidak berafiliasi pada salah satu organisasi politik manapun, memiliki sifat kekeluargaaan, persaudaraan, kebersamaan dan kesetiakawanan dengan semangat Katolik. Memiliki motto Fortiter In Re, Suaviter In Modo yang berarti kokoh kuat dalam prinsip, luwes lembut cara mencapainya. Menjadikan THS-THM sebagai sarana kerasulan awam yang menjanjikan. Salah satu pembeda THS-THM dengan perguruan yang lain adalah penggunaan stagen sebagai sabuk pada pakaiannya. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat akan sosok ibu yang telah bertaruh nyawa serta tenaga dalam mendidik dan membesarkan kita, melingkar di pinggang sebagai perlambang sosok ibu yang akan selalu melindungi kita bahkan dalam medan pertarungan sekalipun. Seragam biru juga merupakan warna khas Bunda Maria yang turut menyertai setiap langkah kita. Dalam hal latihan pun, THS-THM menyisipkan pendalaman iman disetiap kegiatannya seperti membaca kitab suci, mengadakan retret atau pelayanan khusus bagi gereja. Sumber kekuatan utama THS-THM selain dari segi fisik juga didapat dari keyakinan pada Allah Tritunggal Maha Kudus, menyisipkan doa dalam gerak penghormatan, mendaraskan doa dalam setiap helaan nafas di tiap gerakan Pencak Mataram Kuno, memberikan tenaga tersendiri bagi para anggotanya.

THS-THM kini berkembang di seluruh daerah Indonesia. Di Yogyakarta sendiri, THS-THM berdiri di enam paroki, yaitu Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Paroki Santo Yakobus Klodran, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Paroki Administratif Tyas Dalem Macanan, Paroki Kristus Raja Baciro, dan Paroki Santa Maria Assumpta Gamping. Ditambah Unit Latihan Khusus Sanata Dharma, Atma Jaya, dan ranting Nitiprayan. THS-THM terus berupaya dalam mendidik anggotanya menjadi kader-kader militan bagi gereja dan tanah air, sekaligus mengharapkan keterlibatan remaja untuk lebih mengenal budayanya, dan kembali merasakan hadirnya Pencak Silat ditengah-tengah maraknya arus modernisasi yang semakin memanjakan kita. Menjadi penjaga nyala nyawa Katolik dari jantung Mataram diseluruh Nusantara.

4,324 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

2,182 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Pengabdianku Untuk-Mu

misdinar

Kira-kira apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar orang mengucapkan Gereja Gamping? Entah mengapa, aku merasa seperti flashback pada masa kecilku saat aku iseng membuka web Gereja Gamping yang baru ini. Tak terasa pun aku sudah selama hampir 19 tahun selalu berkecimpung di Gereja Gamping. Sangat banyak lika-liku yang dirasakan, dan pastinya banyak suka duka yang sudah tertampung di kehidupanku.

Kadang saat aku misa mingguan di gereja dan memandang sekeliling, aku merasa bahwa secara fisikpun gerejaku sudah melalui banyak perubahan. Dulu saat masih kecil, mungkin seukuran SD, ketika sudah mulai diterapkan berkat anak maju satu persatu. Akulah anak kecil yang selalu ingin menjadi nomor satu mendapat berkat dari Imam, dan saat aku kembali, aku mendapatkan apresiasi dari orangtuaku.

Kemudian, langkah lain yang membuatku selalu bahagia di gereja adalah dulu kakakku adalah seorang misdinar, aku selalu bangga, senang melihat kakakku dapat berinteraksi langsung dengan imam, memegang alat-alat liturgi, menggunakan baju khusus yang kini aku tau namanya. Saat melihat kakakku tugas, dalam hati aku membatin “Suatu saat nanti aku yang ada diatas sana, aku yang menggantikan mereka dan melakukan seperti apa yang kakakku lakukan. Aku ingin seperti mereka.” Hingga akhirnya, aku sangat semangat ikut pelajaran komuni pertama, dan mendaftar menjadi anggota misdinar.

Itu adalah langkah pertamaku untuk berkontribusi langsung pada gereja. Aku masih teringat saat aku selalu rajin tugas tanpa memandang siapa yang menemaniku, siapa imamnya. Bahkan aku dulu paling semangat untuk tugas misa minggu pagi yang waktu itu masih jam 5 pagi. Kadang aku nekat untuk tugas 2 kali karena masih sangat bersemangat untuk bertugas kala itu. Di misdinar pula, aku bisa menemukan sabahat-sahabat baik yang sekarang sudah sukses menjadi calon-calon penerus bangsa. Kadang terharu sendiri mengingatnya. Misa hari raya merupakan hal yang paling diincar misdinar, bahkan hingga saat ini. Mungkin karena saat tugas misa hari raya, bisa dilihat banyak orang dari luar sampai dalam gereja, menjadi memiliki kesan istimewa tersendiri. Dulu hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika tugas hanya bisa di nomor satu saja, padahal teman-temanku sudah merasakan di berbagai posisi. Begitulah nasib pendek dan kecil.

Hingga suatu hari aku dipercaya untuk mendapatkan kesempatan lebih dari anggota misdinar. Aku merasa menjadi anak yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini, mendapat teman baru, mempelajari bagaimana mencari anggota misdinar baru, mengelola pertemuan rutin, mempersiapkan hari raya, hingga menyiapkan event untuk anggota misdinar dalam rangka mengisi waktu liburan sekolah sekaligus mengakrabkan. Mungkin bisa jadi juga sebagai bentuk rehat untuk anggota karena sudah terus-menerus tugas misa.

Sungguh, mengabdi pada gereja sendiri itu sangat menyenangkan, mendapatkan kepuasan diri sendiri. Selain bisa menjadi dasar kita untuk belajar organisasi, banyak hal-hal positif yang bisa dijadikan pengalaman. Permasalahan dalam organisasipun bisa menjadikan kita belajar untuk memecahkan masalah itu, sehingga ketika dalam dunia nyata lainnya nanti, jika menemukan masalah yang sama, sudah bisa menyelesaikannya.

Terakhir, semoga Gereja Gamping terus berkembang mengikuti jaman, dan bisa menarik kawula-kawula muda untuk turut ambil bagian mengabdi selama waktu memang masih ada, dan kesempatan selalu hadir di setiap waktunya.

Sekian. Berkah Dalem untuk Anda sekalian yang sudah berkenan untuk membaca.

5,789 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Gamping dan 8 Warna Pelangi

pelangi di gereja gamping

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus selalu disyukuri.

Saya bukan orang asli Gamping, bahkan sebelum menetap di sini mendengar tentang tempat ini saja jarang. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak saya bahwa suatu saat Tuhan telah merencanakan untuk memindahkan saya ke Gamping, keadaan yang tidak akan pernah saya sesali.

Dulu ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di rumah baru saya di daerah Mejing, saya segera menyadari bahwa letak rumah saya cukup dekat dengan Gereja. Jaraknya tak sampai 1 km, cukup dekat untuk dicapai dengan sepeda yang selalu saya pakai.

“Harus lebih sering ke gereja nih” janjiku saat itu pada diri sendiri. Maklum saja, sebelum ini saya termasuk jarang pergi ke gereja apalagi mengikuti aktivitas di gereja. Rasa malas selalu saja berhasil memenangkan pergulatan di dalam hati saya untuk pergi ke Rumah Tuhan. Saya tahu itu tak baik tetapi tetap saja saya lakukan. Saya saat itu lebih memilih untuk mengikuti kegiatan sekolah atau main-main sama temen, sesuatu yang sebenarnya tak terlalu penting.

Minggu pun tiba, sudah saatnya buat saya untuk memulai petualangan baru di Gamping. Saya  pergi ke Gereja tidak dengan harapan yang muluk-muluk, “Ya pokoknya bisa ke Gereja lah.” Hanya sebatas itu.

Namun, takdir Tuhan memang tak bisa ditebak. Setelah beberapa waktu pergi ke Gereja, saya mulai merasakan ketertarikan untuk dapat lebih aktif lagi dalam berpartisipasi di sini, tak hanya sebagai umat. Ada suatu keyakinan dalam diri saya yang mengatakan bahwa “Ayo, kamu bisa lebih dari ini!”

Pada awalnya saya mendaftar sebagai misdinar karena memang saya sudah ‘ngidam’ itu sejak lama. Di kegiatan gereja pertama ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, tentang arti kebersamaan, kegembiraan, rasa saling berbagi, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti saya mulai menikmati alur dari cerita ini. “Ternyata senang juga bisa ikut ambil bagian dalam Gereja” ucap saya kepada Ibu waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai ikut ambil bagian dalam OMK dan sekarang ini di Komsos Gamping. Saya tidak akan berbicara mana yang lebih baik diantara ketiganya karena semuanya memberi kenangan dan peran masing-masing. Semua punya cerita yang akan selalu mewarnai dan membuat hidup saya lebih lengkap, lebih utuh.

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus terus disyukuri.

Rekan saya di Gereja ini pernah mengatakan begini, “Aktivitas di sekolah itu memang penting. Tapi ketika kamu udah dewasa apakah itu masih dapat kamu lakukan? Enggak, kamu dah gak bakal bisa ngulang masa itu lagi. Tapi di paroki, kamu bakal selalu tinggal di sini. Ini lingkunganmu, masa kamu gak mau peduli sama lingkunganmu sendiri?” Kata-kata itu selalu terngiang di kepala saya dan selalu menjadi pelecut semangat saya untuk berusaha selalu terlibat dalam kegiatan menggereja ini. Meski saya sadar bahwa saya tidak selalu bisa untuk hal itu karena kesibukan yang lain terkadang juga mengganggu. Namun saya akan selalu berusaha menyediakan waktu untuk Gereja.

Maka dari itu saya mengajak kamu yang belum aktif untuk…. Ayolah! kita sama-sama bangun Gereja ini melalui partisipasi aktif dari kita masing-masing. Sudah banyak wadah yang bisa menampung aspirasi serta tindakan kita untuk hal itu. Mari kita buat Gereja ini seperti pelangi yang tidak hanya memiliki tujuh warna, tetapi delapan. Kalau bisa lebih, kenapa tidak?

1,918 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Pendo(s)a

Mensyukuri yang Baik

Mendung awan senada dengan bola matanya
yang kusam tak bernyawa,
dilewatinya kerumunan,
hanya sumpah serapah dan ludah menjadi penyambut dia

Dialah. seorang perempuan
yang dikata pendosa,
yang dikata tak berdoa,
yang dikata manifestasi keburukan manusia,

“Pendosa!”
Teriak seorang ibu dan kedua tetangganya.
“Pergilah!”
Terdengar lagi teriakan kebencian dari kiri dan kanannya.

Heran,
sadarkah mereka?
berlindung dengan polosnya dibalik untaian bantal.
mengunci hati dengan santainya,
berteriak tanpa berkaca.
Lucu!

Lalu mereka, para pembenci,
sadarkah mereka?
tiap hari hanya diisi doa?
belum kuasai realita
tak peduli dia yang mereka benci
adalah manusia karya Sang Esa?

Kemudian para pembenci itu
menghujaminya dengan sumpah serapah,
dipimpin para tua berjubah putih kebesaranya
yang menjerit-jeritkan nama Tuhan yang dimengertinya
dan mengancam dia dengan batu-batu “keadilan”.

Lalu dia, yang dikata pendosa
menangis, dan lalu
melihat mata seorang Hamba,
Hamba Manusia,
yang menebar cinta dan kasih.

Menebar cinta dan kasih
Layaknya sinar mentari pagi,
semilir angin senja,
berlandaskan senyum hangat
layaknya dekapan seorang ibu kepada bayinya.

Sang Hamba berjalan di tengah kerumunan,
semua memberi jalan untuk Dia.
Sang Hamba berjalan sambil menebar senyum.
Teriakan benci laun mereda,
Jadi hening yang mendamaikan hati.

Sang Hamba tersebut lantas berkata,
“Siapa yang merasa dirinya benar, boleh melempar batu pertama!”

Semua diam,
Hanya suara gesekan dedaunan yang terdengar…
begitu hening….
bak laut yang usai dilanda badai.

Lalu Sang Hamba membungkuk, lantas bersimpuh sambil menjulurkan tangan-Nya. Dan dia bertanya kepada perempuan itu…

“Siapakah nama engkau?”

Dia yang dikata perempuan pendosa itu menjawab;
“Magdalena….”

“Hari ini juga, dosamu diampuni…”

1,395 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Kak, Ayo Sekolah Minggu!

kak ayo sekolah minggu

Teristimewa untuk pendamping PIA.

Jangan malas. Itu berat. Kasihan mereka.

Di tengah kesibukan kuliah, aku berulang kali mendengar kalimat itu terlontar setiap kali bertemu dengan mereka.

“Kak, kapan Sekolah Minggu?”

“Kak, ayo Sekolah Minggu lagi”

“Terakhir Sekolah Minggu 2017 lho, kak”

“Udah berapa bulan enggak Sekolah Minggu lho, kak”

“Besok Minggu ya, kak”

Aku bingung harus senang atau sedih. Hatiku seolah ingin mewujudkan keinginan mereka namun belum mampu. Rasanya kegiatan begitu banyak sekali, kuliah begitu berat sekali. Pada akhirnya aku hanya bisa menjawab, “Iya, besok ya” kepada mereka. Kalimat itu berulang kali kuucapkan sampai seolah-seolah itu hanya menjadi sebuah janji, tanpa ada bukti yang berarti.

Suatu kali ketika hendak mengikuti Perayaan Ekaristi dan baru saja aku menginjakkan kaki di dalam Gereja, 2 (dua) orang anak menghampiriku secara tiba-tiba dan langsung mengatakan begini, “Kak, besok Sekolah Minggu ya”. Dengan raut wajah bingung aku hanya bisa membiarkan pertanyaan mereka menggantung tanpa ada jawaban.

Usai Perayaan Ekaristi, mereka menghampiriku lagi dan mengucapkan kalimat yang sama, “Kak, besok Sekolah Minggu ya”. Mereka mengatakan kalimat tersebut sembari memasang wajah penuh harap. Lalu pada akhirnya entah mengapa aku menjawab “Ya!” dengan mantap. Padahal aku tahu hari Minggu itu jadwalku sudah terisi oleh pertemuan yang lain yang juga tak kalah penting. Tapi entah mengapa aku memilih mereka ketimbang pertemuan yang katanya wajib itu.

Itu hari Sabtu. Malam itu aku langsung memberi kabar beberapa orang untuk mengikuti Sekolah Minggu, selebihnya kupikir akan lebih mudah ketika menghampiri mereka saat hari H. Sabtu malam itu aku sama sekali belum mendapatkan materi untuk disampaikan saat Sekolah Minggu.

Hari Minggu tiba. Dengan waktu yang sungguh singkat aku berusaha mencari materi yang sesuai untuk disampaikan pada mereka.

Waktu menunjukkan pukul 9.50 WIB, aku bergegas menuju lokasi dan belum ada yang datang. “Biasanya mereka datang jauh lebih awal”, batinku. Setelah menunggu beberapa saat dan tak kunjung ada yang datang, aku memutuskan untuk menjemput mereka satu per satu.

Setelah menghampiri dari rumah ke rumah, pada akhirnya Sekolah Minggu hari itu hanya dihadiri 2 (dua) orang anak. 2 (dua) orang anak yang Sabtu sebelumnya menghampiriku dan meminta ada Sekolah Minggu. Aku tidak tahu harus senang atau sedih mengajar Sekolah Minggu dengan anak yang hadir sesedikit itu.

Walau bagaimanapun, Sekolah Minggu tetap harus berjalan dengan 2 (dua) orang yang datang. Aku menyampaikan materi yang sudah kusiapkan sedari pagi. Di pertengahan kegiatan Sekolah Minggu itu aku iseng bertanya pada mereka begini, “Kenapa sih kok kalian pengen ada Sekolah Minggu?” Dengan spontan dan cepat mereka menjawab begini:

“Biar bisa ketemu Bintang, kak”

“Biar bisa ketemu Mbak Nia, kak”

“Biar bisa main”

Sontak aku terkejut dan trenyuh mendengar jawaban mereka. Ternyata mereka ingin diadakan Sekolah Minggu hanya karena satu alasan sederhana: rindu. Rindu bertemu dengan teman-temannya, rindu berkumpul dengan teman-temannya, rindu bermain bersama teman-temannya.

Setelah perbincangan singkat itu aku lalu berpikir,

“Jadi selama ini Sekolah Minggu yang kupikir hanya Sekolah di hari Minggu itu punya makna mendalam ya buat mereka? Tapi kenapa terkadang aku masih saja malas? Kenapa terkadang aku selalu berpikir “kok aku terus”? Kenapa terkadang aku selalu berpikir “kok hanya aku”? Kenapa terkadang aku sok merasa banyak kegiatan padahal sebetulnya hanya ingin istirahat sejenak?”

Kalimat yang mereka ucapkan di atas membuatku juga berpikir.

“Jadi kalau mereka tidak bertemu, kalau tidak ada Sekolah Minggu mungkin saja mereka bermain dengan teman-temannya yang lain ya. Mungkin saja mereka tidak aktif lagi dalam kegiatan lingkungan dan Gereja. Mungkin saja mereka sudah malas karena pendampingnya pun malas mengadakan Sekolah Minggu. Dan kemungkinan-kemungkinan yang lain…”

Cerita yang sungguh sederhana ini membuatku bertekad untuk berusaha meluangkan waktu demi mereka, demi anak-anak ini. Anak-anak yang aku yakini adalah generasi penerus Gereja. Iman mereka harus dipupuk sejak dini, sedikit demi sedikit. Mereka perlu tahu dan kenal siapa teman-temannya di lingkungan, wilayah, maupun Gereja. Mereka perlu ikut terlibat dalam kegiatan menggereja, sedikit demi sedikit. Aku rasa mereka perlu itu semua. Tapi kalau tidak ada wadahnya lalu bagaimana? Untuk itu para aktivis, para pendamping PIA, jangan lelah. Anak-anak ini membutuhkan kalian. Lihat saja semangatnya 2 (dua) orang anak yang kuceritakan di atas. Begitu luar biasa, bukan? Walau hanya berdua, Sekolah Minggu pun bisa. Oleh karena itu, jangan biarkan semangat mereka hilang direnggut kesibukan kalian, para aktivis. Jangan biarkan mereka pergi dan hilang dari Gereja karena menemukan kenyamanan di tempat lain. Sekali lagi, anak-anak ini adalah generasi penerus Gereja. Kalau mereka tidak diajak terlibat sejak dini dan mereka hilang secara perlahan, lalu siapa yang akan meneruskan Gereja? Jangan biarkan Gereja mati hanya karena generasinya pergi. Semangat selalu untukmu, para aktivis, para pendamping PIA! Jangan lupa Sekolah Minggu, ya. 🙂

2,365 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Orang Muda Katolik Menurutku

AYD 2017

Sebelum memulai untuk membaca baris pertama, mungkin lebih baik aku mengatakan terlebih dahulu bahwa apa yang telah dituangkan dibawah ini merupakan hasil curahan hatiku pribadi melalui indera perasaan, penglihatan, dan pemikiranku.

Di tengah hingar-bingar masa muda, masih terdapat sekelompok anak muda yang mau menjadi pelita di keheningan malam. Ya, mereka menamai diri mereka sebagai Orang Muda Katolik atau yang biasa dikenal dengan OMK. Seharusnya mereka tak sebatas definisi yang dapat dibaca dengan mudah di internet.  Seharusnya mereka juga bukan sebuah pelarian dan pelampiasan dari kegiatan ataupun dari keluarga yang ada di rumah. Terkadang orang berpikir bahwa Orang Muda Katolik hanya merupakan pelarian dari pekerjaan di rumah? Namun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka lupa bahwa Orang Muda Katolik adalah penyangga Gereja yang nantinya akan dibutuhkan ketika mereka sudah tiba pada saatnya. Orang juga sering berpikir, bahwa Orang Muda Katolik hanya bisa membuang waktu dan tertawa tanpa tujuan. Tidak salah, karena memang begitulah hidup, keburukan akan terlihat lebih jelas daripada sebuah kebaikan yang tersimpan rapat-rapat bahkan hingga akhirnya dilupakan dan hanya menyisakan keburukan saja. Terkadang orang menilai dari sampul, tanpa pernah melihat kedalamnya. Padahal, Orang Muda Katolik membutuhkan dorongan, bukan hanya penilaian yang akhirnya hanya membuat rasa malas mendera ataupun rasa kecewa karena dianggap yang dilakukannya hanyalah sia-sia.

Menurut internet, Orang muda katolik merupakan komunitas wadah kreativitas, pengembangan, pengedaran generasi muda di lingkungan paroki. Namun, bagiku definisi Orang Muda Katolik lebih dari itu. Orang Muda Katolik adalah mereka yang mau untuk saling terikat dalam sebuah suasana yang mendalam dan nantinya akan menjadi keluarga kedua dengan organisasi sebagai rumahnya. Jika orang berkata bahwa Orang Muda Katolik merupakan sebuah organisasi, aku tak menyangkal, namun juga tak menyetujuinya. Mengapa? Orang Muda Katolik lebih mengutamakan persaudaraan, bukan jabatan. Jika ada dari mereka yang lebih mementingkan jabatan dibandingkan persaudaraan yang ada didalamnya, maka orang itu sejatinya tak pernah menghayati dirinya sebagai bagian dari Orang Muda Katolik. Menghilangkan kata “aku dan kamu” lalu menyatukan menjadi “kita” terdengar cukup sulit untuk dilakukan. Ya, egoisme yang membelenggu terkedang memang cukup memberatkan dalam upaya membangun kesatuan antar anggotanya. Orang Muda Katolik bukan sebagai ajang perploncoan layaknya organisasi semi militer yang biasa kita lihat di televisi. Ketika satu orang mengalami kesulitan, maka akan ada tangan yang siap terulur untuk membantunya keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Bahkan kesulitan yang paling sulit sekalipun, akan terasa lebih mudah ketika dijalani bersama-sama. Ibarat paribahasa, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, itulah yang mendasari ikatan persaudaraan di dalam Orang Muda Katolik. Bertemu dengan banyak orang yang baru, mengerti permasalahan mereka, mau tak mau membuka hati untuk belajar mengorbankan sebuah kesenangan pribadi untuk kepentingan bersama. Orang Muda Katolik bukan pula sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan layaknya organisasi sosialita. Seandainya di luar sana, kamu adalah anak dari seorang  raja yang kaya raya, maka jangan pernah untuk membawa kekuasaan ayahmu itu di dalam Orang Muda Katolik. Kamu boleh menjadi dirimu yang seuntuhnya di luar sana, namun di dalam Orang Muda Katolik, kita adalah sebuah kesatuan. Aku dan kamu satu, yang memiliki kesamaan dalam derajat, harkat, dan juga martabat. Saling melengkapi tanpa memandang siapa dirimu, darimana asalmu, seberapa tinggi jabatanmu ataupun seberapa banyak kekayaan yang kamu miliki.

Orang Muda Katolik memandang dari hati. Dari setiap insan yang mau membuka hati untuk dimasuki. Hati inilah yang mampu menerima setiap kekuranganmu. Meyakinkan bahwa dihadapan-Nya kita adalah sama. Hati ini juga yang mau menyayangi tanpa menuntut untuk minta disayangi, mau memberi tanpa harus meminta diberi, dan mampu mengasihi dalam luka yang mungkin sudah pernah terbuat di hati. Bisa dibilang, bagiku Orang Muda Katolik adalah keluarga kedua. Aku mendapat banyak pengalaman kehidupan dari sini. Belajar untuk mau menghargai orang lain dengan segala pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapatku. Aku juga belajar untuk bertindak dengan hati. Belajar untuk tidak melukai hati orang lain baik dengan sikap ataupun perkataan yang menyinggung orang tersebut. Aku tahu, bahwa menyembuhkan luka tak semudah membuat luka. Bahwa memaafkan orang lain tak semudah menyakiti orang lain. Mau tak mau aku juga mengakui, menggunakan hati memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan terkadang rasa berkuasa dan rasa ingin menang sendiri muncul di dalamnya. Terkadang, tanpa disadari rasa itu merajalela tanpa pernah bisa dicegah. Inilah peran intropeksi. Ketika ada seseorang yang terluka karena kita, jangan pernah membuat luka yang sama pada insan yang yang berikutnya.

Lagi-lagi, Orang Muda Katolik memberi sebuah kekuatan kepada siapapun yang ikut ambil bagian didalamnya. Kekuatan persaudaraan yang mampu menahan untuk tetap sabar dan menjadikan segala permasalahan sebagai pemacu untuk mempertahankan suatu ikatan. Memecahkan segala persoalan dengan kepala dingin, tanpa harus main hakim. Persoalan itu ujian yang mempertanyakan seberapa kita mampu untuk bertahan, seberapa mampu kita menjaga sebuah persaudaraan dalam sebuah pertikaian, bukan untuk pergi lalu menjauh dari permasalahan, bukan juga menghilang tanpa kabar seolah meminta dicari. Namun persaudaraan itulah bekal dalam permasalahan. Untuk apa ada diskusi bila akhirnya menjauh dan pergi. Untuk apa menjadi keluarga, jika hanya ingin berjalan sendiri. Orang Muda Katolik membuatku sadar arti dari berjalan beriringan, bukan semata-mata berjalan sesuai arah yang diingini, namun berjalan untuk saling melengkapi. Menggapai tujuan yang sama yaitu untuk kemajuan sebuah Paroki. Aku dengan kemampuanku dan kamu dengan kemampuanmu. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda? Mengapa harus disamakan hanya dengan sebuah kebersamaan sebagai alibinya? Jangan menuntut apa yang tak bisa dilakukan orang lain.

Orang Muda Katolik memiliki kebersamaan bukan karena memiliki agama yang sama, namun karena setiap pribadinya mampu untuk saling menguatkan. Tawa yang kerap lolos dari bibir saat pertemuan bersama, terasa menghilangkan segala gundah dan gelisah. Jika memang kamu merasa nyaman, jangan coba pergi hanya karena rasa egois diri. Jika kamu merasa rindu, ingatlah bahwa keluarga akan selalu menerima untuk pulang kembali. Jangan memendam rindu sendiri, karena rindumu terkadang sama dengan yang lain. Jangan hanya berkata rindu, karena bertemu memerlukan sebuah aksi bukan hanya sekedar luapan kata yang tak berarti. Ingatlah bahwa rindu datang karena rasa nyaman, jangan rusak rasa nyamanmu hanya karena masalah pribadi yang ada disekitarmu. Bertengkarlah diluar sana, namun jangan untuk didalamnya, karena keluarga akan selalu memiliki cara untuk mempertahankan kebersamaan. Keluarga akan selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permusuhan yang ada di dalam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan cacian, dan makian, bukan juga dengan gunjingan. Namun keluarga selalu mempunyai hati untuk mencari solusi demi keutuhan keluarga. Jika kamu rindu? Maka marilah  kita bertemu unruk membuka lembaran baru dan membuktikan bahwa keluarga tetap akan bersatu!

3,592 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini