Perayaan Ekaristi Hari Kelahiran St. Yohanes Pembaptis

Mensyukuri yang Baik

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,398 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XI

gereja gamping

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

650 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini

1000 Tumpeng Persaudaraan

1000 Tumpeng Persaudaraan

Selasa (5/06/2018) KOMSOS Gamping bersama Romo Joko menghadiri acara 1000 Tumpeng Persaudaraan di Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Acara itu dimulai dengan sapaan hangat oleh Bapak Bagus (tuan rumah), masyarakat sekitar, dan orang-orang dari berbagai agama yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kami masuk ke dalam rumah berarsitektur jawa yang masih sangat kental. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipinpin oleh pemuka dari berbagai agama yang ikut serta dalam acara tersebut.

Sesuai dengan acaranya, 1000 tumpeng dengan lauk yang terdiri atas telur dan kacang kedelai, serta air mineral telah dipersiapkan. Tak terkira ternyata tumpeng dan lauk-pauk yang tersedia memiliki makna tersendiri yang menarik untuk diketahui. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa tumpeng melambangkan gunung yang menjulang, dan telur melambangkan sebuah bulan, sedangkan kedelai hitam melambangkan bintang-bintang. Mengapa kedelai hitam dapat dilambangkan sebagai bintang-bintang? Karena ketika kedelai hitam tersebut digoreng ada cahaya yang berkilap-kilap seperti bintang-bintang, penjelasan Bapak Bagus narasumber serta penggerak kegiatan tersebut. Selain tumpeng dan lauk-pauknya yang memiliki makna historis yang menarik, tersedia juga air mineral yang dilambangkan sebagai sumber air kehidupan. Sedehana namun penting untuk diketahui.

Untuk mebagikan takjil yang berupa tumpeng tersebut kepada masyarakat yang sedang dalam perjalanan dan berhenti menunggu lampu merah. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas beberapa orang dari berbagai agama, yang tersebar dalam lima titik yaitu di perempatan Godean, perempatan Pelem Gurih, Titik Nol Kilometer, Tugu, dan di sebuah pesantren di daerah tersebut. Sungguh suasana yang sangat hangat dan menyenangkan, dimana kepedulian dengan sesama dan rasa saling memiliki sekarang ini sudah berangsur-angsur surut, meskipun banyak juga yang mencoba untuk memputar-balikkan itu semua.

Dalam kegiatan berbagi takjil kali ini, kami membagikannya kepada orang-orang yang kami jumpai di sekitar tempat di titik yang telah ditentukan. Banyak masyarakat yang menyambut baik kegiatan ini, hal ini ditunjukkan oleh mereka yang tak segan-segan menerima takjil yang kami bagikan, meskipun tak sedikit pula yang menolak.

Selepas membagi takjil, kami kembali ke rumah Bapak Bagus bersama dengan para pembagi takjil yang lain. Di tempat itulah kami beristirahat sembari berbincang, dan makan bersama dengan hidangan yang telah tersedia. Di sela perbincangan kami, Pak Bagus mengatakan bahwa acara kali ini bertepatan dengan malam selikuran atau yang berarti “malam seribu bintang.” Oleh sebab itu akan diadakan juga kegiatan keliling desa untuk merayakannya.

Selepas energi kami kembali terisi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan ikut berkeliling desa. Terdengar sangat meriah pula ketika saudara kita umat muslim yang turut merayakan malam selikuran tersebut dengan melantunkan lagu-lagu serta bertabuhkan gendang yang dimainkan bersama-sama. Kegiatan tersebut merupakan moment langka karena hanya setahun sekali digelar.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan bagi umat muslim bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari malam-malam lainnya yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai ajang untuk berbuat baik dan memperdalam ibadah. Bagi kami sendiri pun kegiatan ini jelas merupakan ajakan untuk melestarikan budaya khususnya budaya Jawa. Melestarikan budaya bukan hanya dengan tulisan tetapi juga perbuatan. Melestarikan budaya Jawa tanpa memandang perbedaan, karena justru perbedaan itulah yang mejadi kekuatan bagi kita, perbedaan yang beralaskan cinta kasih. Jangan biarkan budaya semakin terkikis, mari lestarikan budaya kita sedari dini sedari kita mampu dan kuat untuk menjaganya.

Perbedaan justru aset untuk memperkaya keberagaman dan toleransi adalah pupuk untuk menyuburkan kebaikan didalamnya.

 

1,633 kali dilihat, belum ada yang melihat hari ini