Perlukah Adanya Pemberhentian Teknologi?

blur bottle bright building

Zaman semakin maju, globalisasi benar-benar mengubah wajah dunia menjadi jauh lebih modern. Kita sudah memasuki era di mana teknologi (hampir) menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap insan.

Setiap hari, terutama bagi yang tinggal di daerah perkotaan sudah barang pasti bersinggungan dengan teknologi. Setiap waktu yang dihabiskan rasa-rasanya ada saja kaitannya dengan hal satu ini. Dari mulai bangun pagi lalu langsung cek handphone misalnya, kemudian sarapan dengan mengambil lauk dari kulkas, sampai berpergian dengan kendaraan bermotor, semuanya berhubungan dengan teknologi.

Kita tidak bisa membantah bahwa perkembangan teknologi yang amat pesat ini memang sangat membantu kehidupan sehari-hari manusia. Teknologi membuat segalanya menjadi lebih mudah dan praktis. Dalam berpergian misalnya sekarang sudah ada aplikasi ojek daring. Dari yang dulunya harus menunggu bus atau mencari ojek di pengkolan sekarang tinggal klik dan kita tinggal duduk-duduk santai menunggu driver datang. Hal ini tidak terlepas dari handphone sekarang yang fitur-fiturnya sudah semakin canggih. Dari yang dulu hanya bisa untuk sms dan telepon sekarang sudah hampir bisa untuk segalanya, seolah-olah berbagai kebutuhan hidup ditarik ke dalam benda satu ini.Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh perkembangan teknologi lainnya, tetapi jika saya jabarkan semua tentu akan menjadi satu artikel lagi.

Intinya adalah dibalik segala kelebihannya, teknologi juga menyimpan ancaman serius jika kita tidak berhati-hati. Ancaman ini sudah kita rasakan dalam bentuk yang boleh dibilang masih ‘jinak” seperti berkurangnya interaksi sosial langsung di masyarakat, banyaknya pengangguran karena pekerjaan mereka digantikan oleh mesin, polusi karena kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Nah, berbagai macam dampak negatif tadi menggelitik saya untuk merenungkan sesuatu, bagaimana jika suatu saat teknologi yang telah kita ciptakan ini mengambil alih dunia, lalu kita sebagai manusia dijadikan ‘budak’ teknologi? Mungkin beberapa dari kalian berpikir ini terlalu dibuat-buat atau saya yang imajinasinya terlalu tinggi, tetapi menilik dari apa yang terjadi dewasa ini kemungkinan hal itu untuk terjadi seperti di film-film Hollywood menjadi mungkin. Ada dua hal yang memungkinkan terjadinya alih fungsi teknologi itu, yang pertama, para pakar teknologi di seluruh dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan teknologi mereka secanggih mungkin. Tujuannya jelas untuk semakin memudahkan aktivitas umat manusia yang juga berarti semakin memanjakan kita. Suatu saat mungkin kita tinggal tidur di kasur dan semua aktivitas keseharian kita dapat dijalankan dengan mesin seperti mandi, makan, memakai baju, dan lain sebagainya. Orang-orang tak terbiasa mandiri lagi, mereka menjadi malas bergerak dan berpikir kritis. Dunia akan dipenuhi oleh orang-orang pemalas yang amat bergantung pada teknologi. Ketika saat itu terjadi, maka boleh dibilang kita sudah kalah dengan sesuatu yang kita kembangkan sendiri.

Yang kedua berhubungan dengan AI. Bagi yang belum tahu AI merupakan singkatan dari artificial intelligence yang berarti kecerdasan buatan. Mengapa AI ini saya masukkan dalam salah satu faktor? Itu karena perkembangan AI sekarang membuat saya resah. AI sudah hampir mencapai tingkat yang sama dengan kesadaran manusia. Bagaimana jika nanti ada pihak-pihak jahat yang bermaksud mengendalikan dunia dengan bantuan AI? Atau bagaimana jika AI lalu memiliki pikiran jahatnya sendiri? Bagaimana jika suatu saat robot dapat memperbanyak diri dan membentuk koloninya sendiri untuk menyerang manusia? Kita tentu tidak ingin kejadian seperti dalam film Terminator, Ex Machina, I Robot, atau Automata sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan nyata.

Suatu saat nanti, boleh jadi manusia harus melakukan pemberhentian teknologi untuk mengatasi situasi ini. Perkembangan teknologi harus dihentikan pada suatu titik sebelum kehancuran itu benar-benar terjadi. Masa itu akan menjadi masa yang menegangkan dan penuh dengan kontroversi, akan ada yang pro dan kontra.

Meski begitu, teknologi bisa saja terus berkembang sepanjang masa dengan segala variasinya asalkan masih dalam kontrol kita sebagai manusia. Jika teknologi itu sudah di luar kendali, mungkin adanya pemberhentian teknologi ini juga patut diperhitungkan.

1,048 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini

Satu Tahun

komsosgamping_WJ2018

Ini cerita, cerita kami bersama, saling rindu saling seru, tak jarang juga kami marah karena tak dapat bertemu. “Kesibukan VS kesibukan” kata salah satu pujangga, benar juga kataku. Sekarang hanya bisa berharap Tuhan beri waktu untuk mimpi dan rindu.

Siapa mimpi?
Siapa rindu?
Kok penting banget?
Mereka adalah harapan, mereka adalah suatu wujud kehadiran, kami untuk tetap berkembang, untuk menjadi suka cita, mewartakan tanpa imbalan.

Sekarang pukul 11:37, sembari menulis ini aku berkata kepada Tuhan dengan nada yang bahkan tidak ada karena hanya kuucap dalam gumaman. Aku berkata…

Tuhan, beri terang
Sebab kami siap untuk menatap ke depan
Tuhan, beri jalan
Sebab kami siap untuk berjalan
Tuhan, beri keikhlasan
Sebab kami sanggup memaafkan
Dan Tuhan, beri harapan
Karena kami takut putus asa

Dalam gumamanku yang terakhir, ku usap air mata yang sempat menetes. Aku berkata pada diri sendiri “Aku bangga ada disini”. Lebih dari itu, selamat ulang tahun.

1,931 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Selamat Ulang Tahun, Aloysius Gonzagaku!

ultah wilayah gesikan

Minggu (24/6), Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan merayakan pesta nama, tepat pada Hari Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis. Perayaan syukur itu diawali dengan misa mingguan seperti biasanya. Dalam misa mingguan itu, Romo Martinus Joko Lelono, Pr memberi pesan dalam khotbahnya agar seluruh umat di Wilayah Gesikan dapat meneladan Santo Aloysius Gonzaga untuk berani menjalankan peran dan kisah hidupnya masing-masing. “Setiap orang diberi senjata untuk menjalankan peran dan kisah hidupnya. Seperti Santo Aloysius Gonzaga yang menyadari dan mau menerima kisah hidupnya di usia muda yaitu masuk Serikat Yesus. Walaupun ditolak oleh orang tuanya, dengan pendirian yang kuat Santo Aloysius Gonzaga tetap meninggalkan gelar kebangsawanan serta harta benda warisannya dan memberikannya kepada adiknya.”

Perayaan syukur itu terasa syahdu ketika para Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan menyanyikan lagu “If We Hold On Together” seusai misa. Lagu itu terasa semakin syahdu ketika anak-anak membagikan setangkai bunga mawar kepada umat yang hadir dihiasi dengan kepolosan wajah mereka. Hal ini juga sesuai dengan harapan Sista Mayangdarastri, yang merupakan Ketua OMK Wilayah Gesikan. “Aku berharap antara anak-anak, orang muda, dan bapak-bapak ibu-ibu bisa lebih kompak. Semua generasi bisa bekerjasama melayani Gereja dengan kebahagiaan dan kebersamaan”, begitu ungkapnya.

Suasana pun semakin semarak ketika seluruh umat berdiri dan menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dengan serempak. Namun tentunya, sebuah rangkaian pesta nama tidak akan lengkap jika tidak ada tumpeng. Maka sebagai ungkapan syukur atas pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, rangkaian acara hari itu dilanjutkan dengan potong tumpeng oleh Romo Martinus Joko Lelono, Pr. Seluruh umat yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum menandakan kebahagiaan.

Anak-anak pun ternyata tak ingin kalah. Mereka turut serta dalam memeriahkan pesta nama tersebut dengan mempersembahkan lagu “Glory-Glory Halleluya”, “Happy Ya Ya Ya”, “Mars Pendampingan Iman Anak (PIA) Paroki Santa Maria Assumpta Gamping”, “Cuit Cuit Cuit Pam Pam Pam”, serta “Hari Ini Harinya Tuhan”. Kelima lagu tersebut mereka bawakan dengan semangat dan penuh sukacita. Untuk itu demi meningkatkan semangat anak-anak, mereka diberi bingkisan cantik.

Akhirnya, menutup perayaan pesta nama Wilayah Santo Aloysius Gonzaga Gesikan, seluruh umat berkumpul dan menyantap bubur ayam serta es dawet di halaman kapel. Mereka menikmatinya dengan kebersamaan dan persaudaraan yang hangat. “Ya semoga kapel umatnya semakin bersemangat dalam melayani Tuhan dan sesama, juga anak-anak semakin semangat dalam hidup menggereja, sehingga imannya kuat, hidup dan berbuah”, kata Ibu Suprihatin (salah satu umat lingkungan Santa Veronika Bantulan) ketika ditanya harapan bagi Wilayah Gesikan ke depannya.

2,301 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Khotbah Rm. Martinus Joko Lelono: Aku dan Kisah Hidupku

Cinta Kamu dan Gereja

Setiap orang di dunia ini memiliki kisah hidup masing-masing. Tidak ada kehidupan pada umumnya karena setiap orang mengalami tantangan dan perjuangan hidupnya masing-masing yang berbeda dari orang lain. Demikian juga setiap orang mengalami rahmat dan berkat yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Tiap orang pun memiliki konteks hidup yang lain daripada yang lain. Situasi ini memaksa orang untuk siap menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain. Karena kita memainkan peran yang berbeda-beda dalam hidup ini, maka kita mau tidak mau harus memiliki cara yang berbeda dengan orang lain dalam menjalani kehidupan ini. Untuk menjalankan hal itu, kita dibekali dengan kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat. Pada waktu kita masih anak-anak, mungkin banyak keputusan dibuat oleh orang lain, tetapi semakin kita dewasa, kita harus membuat sendiri keputusan yang harus kita lakukan dan siap bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah kita buat.

Masyarakat kita membekali pribadi-pribadi baru yang hadir di tengah-tengahnya, anak-anak, dengan pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa latin educare, e- artinya keluar, ducere artinya memimpin. Maka kata educare atau education berarti memimpin keluar. Apa yang dipimpin? Kemampuan untuk menjadi orang dewasa: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang ia miliki. Namun, sayangnya pada zaman ini pendidikan hanya berarti soal nilai, soal gengsi orang tua atau soal menjadi yang terbaik. Dalam hal ini, berbuat curang bisa dilegalkan. Dalam hal ini, terjadi juga tuntutan kepada anak untuk bisa memahami semua mata pelajaran. Dalam hal ini, kemampuan anak untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab tidak tumbuh. Yang lalu terjadi adalah bahwa anak-anak ini menjadi pribadi yang besar di kepala, tetapi lemah di dalam kemampuan menjadi dirinya sendiri. Maka, tak jarang anak-anak ini mudah menyerah, gampang menyalahkan orang lain, menjadi iri terhadap keberhasilan orang lain, dan bermental koruptif. Memang ada banyak hal baik juga yang dikembangkan di dalam pendidikan kita, tetapi rasanya kita perlu memberi perhatian penting dalam dua hal ini: kemampuan membuat keputusan dan bertanggung jawab atas akibatnya.

Meng-Aku

Di dalam proses kehidupan ini, sarana pendewasaan diri yang harus disadari adalah “menyadari bahwa aku ini harus menjalankan kehidupanku sendiri.” Maka, banyak retret kaum muda berbicara tentang “Siapakah aku?”. Orang harus menyadari bahwa ia memiliki kisah hidup yang berbeda dari orang lain. Ia tidak bisa bermanja-manja terus menerus di ketiak orang tua. Ia tidak bisa terus menerus hanya tergantung kepada guru atau teman-teman. Ia harus hidup dan menghidupi kehidupannya yang berbeda dari orang lain. Kitab Nabi Yesaya mengungkapkan dengan sangat indah bagaimana ia berproses untuk menerima peran hidupnya sebagai nabi:

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada TUHAN dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya — maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes 49: 1-6).

Dalam hal ini, Yesaya berproses menerima peran hidupnya yang pasti berbeda dari orang lain. Ia lalu menjadi pribadi yang gilang gemilang menunjukkan kebaikan Tuhan. Dasarnya apa? Dasarnya adalah kesadaran bahwa hidupnya berbeda dari kehidupan orang lain dan ia menyadari bahwa hidup ini memang harus dijalani dengan cara yang khas. Sementara orang lain lebih suka kecewa dengan hidupnya sendiri atau orang yang lain lebih senang iri dan benci atas keberhasilan orang lain, Yesaya menerima dirinya sebagai orang yang diberkati Tuhan dan bisa menjadi berkat dengan cara yang Tuhan tunjukkan kepadanya.

Kalau kita mengenang orang-orang yang disebut sebagai pahlawan, kita juga akan tahu bahwa mereka siap menempuh jalan yang berbeda dari orang-orang lain sezamannya. Ibu Kartini memperjuangkan emansipasi wanita; Bung Karno sampai berkali-kali dipenjara untuk memperjuangkan mimpi kemerdekaan Indonesia; Bung Tomo berjuang demi kemampuan berpendapat di tengah-tengah penjajahan; para pahlawan Reformasi menentang pemerintahan diktator sampai rela mati untuk sebuah kebebasan berpendapat di negeri ini. Maka, kita pun bisa memikirkan, bagaimana caranya aku bisa berkontribusi di tengah kehidupan. Rasanya kita tidak harus berpikir terlalu tinggi, kita bisa memulainya dari keluarga kita, tempat kerja kita, dan bersama dengan orang-orang yang setiap kali kita temui. Dalam bahasa saya, saya menyebutnya sebagai “Menjadi pahlawan keluarga.”

Sikap inilah yang dilakukan oleh St. Yohanes Pembaptis. Berkali-kali orang mengira bahwa Dia adalah Mesias, tetapi ia menolak. Ia memilih peran dirinya dan menjadi pahlawan bagi bangsanya dengan cara yang khas, yang berbeda dari Mesias. Ia mengatakan, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13: 25). Dia memilih perannya sendiri dan melaksakannya dengan gilang gemilang.

Tujuan Manusia dicipta, Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban

St. Ignatius Loyola mengungkapkan satu pesan penting bagi kehidupan manusia yang ia sebut sebagai tujuan manusia diciptakan. Ia mengatakan, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan itu.” Pesan ini rasanya menjadi pesan yang penting agar kita tahu bahwa kita ada di dunia ini, bukan pertama-tama hanya sekedar hidup, mencari kemegahan atau mencari apa yang menyenangkan bagi diri kita sendiri. Kita ingin mengabdi Tuhan. Namun, semua orang tahu bahwa mengembangkan hal-hal yang demikian bukanlah perkara yang mudah. Ada saatnya kita gagal, dan teramat banyak alasan yang bisa saja muncul di dalam benak kita untuk membela diri. Untuk itulah, St. Ignatius mengajarkan dua sikap yang perlu dikembangkan kalau orang ingin mengikuti Tuhan: Jiwa Besar dan Hati Rela Berkorban. Orang yang demikian mempunyai semangat hidup yang tinggi, tidak manja dan mau bekerja keras. Ia mau mengorbankan diri demi tercapainya sebuah tujuan. Orang macam ini mau membayar harga sebuah kemajuan. Ia tidak pelit untuk meluangkan waktu, menguras energy, mengeluarkan dana, menahan kantuk dan lapar demi kemajuan atau perkembangan yang ia harapkan. Ia ikhlas menerima beban bila memang harus ditanggung.

Belajar dari sikap hidup yang diajarakan oleh St. Ignatius ini, rasanya kita belajar tentang kemampuan untuk menerima diri sebagai yang berbeda yang tak jarang harus berkorban melakukan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan. Dengan cara ini, orang diharapkan bisa terbantu untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu hidup di hadirat Tuhan, menemukan kedamaian batin dan terus bersama dengan-Nya.

Rasanya memang haruslah demikian yang terjadi: setiap orang punya situasi, tantangan dan rahmatnya sendiri-sendiri dan setiap orang bisa memancarkan kebaikan Allah dengan caranya masing-masing. Semoga dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi Injil, Kabar Sukacita, bukan hanya sekedar menjadi orang-orang yang iri kepada keberhasilan orang lain, atau sombong karena merasa lebih hebat dari orang lain. Sekali lagi: setiap orang punya perannya masing-masing.

2,398 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Perilaku Mata

salib kapel gesikan

Sabtu Malam aku ke Gereja
mataku jempalitan

Aku lihat di bangku depan
rambut ikal selengan
dicapit di tengah kepala
lehernya

mataku jelalatan

Aku lihat di barisan kanan
pipi gembil sekepalan
bedak dan gincu ada segala
bibirnya

mataku keranjingan

Aku lihat dari kaca jendela
betis panjang bak dian
kulit putih dan mulusnya
pinggulnya

mataku pecicilan

Kemudian aku dicolek dari jantung
menghadap kembali ke altar
Rambut gimbal terurai
berias darah berburai
bingkai dan paku panjang

matanya tertuju padaku

1,738 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Cinta Kamu dan Gereja

Cinta Kamu dan Gereja

Hujan rintik-rintik kembali mengguyur Yogyakarta siang ini. Aku hanya merapal doa dalam hati agar segera reda. Aku tak ingin hari mingguku ternoda. Hari minggu memang hari yang paling kutunggu. Bukan karena sekolahku libur, namun karena aku akan bertemu dengan seseorang.

“Yess!” seruku girang ketika tahu hujan berhenti tepat satu jam sebelum misa sore di Gereja Santa Marria Assumpta Gamping dimulai. Aku bergegas mengguyur badanku dan membuat aromanya menjadi semerbak wangi. Berdiri di depan cermin, di tanganku sudah tergenggam sebuah kotak peralatan make-up.

Benar, rasa suka pada seseorang memang buta hingga aku melakukan segalanya untuk mendapatkan perhatian matanya. Perlahan kukeluarkan satu persatu peralatan make up itu. Sebuah benda pipih lembut kuusapkan pelan diwajahku dengan merata. Berikutnya menyusul sebuah pensil berwarna coklat gelap yang terukir di alisku. Diakhiri oleh cairan berwarna merah yang teroles di bibirku.

“Sempurna,” ujarku berdiri di depan cermin sembari memandangi wajah yang kini telah tertutup oleh benda-benda kimiawi. Aku menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya aku berlaku seperti ini. Lebih tepatnya semenjak aku mulai bertemu dengannya dan perasaan ini menyusup hatiku.

Aku tertegun sesaat setelah jam menunjukkan lima belas menit waktu yang tersisa sebelum misa dimulai. Roda motorku beradu cepat dengan jalanan yang masih basah. Hatiku berdebar kencang. “Woy, kamu mau ke gereja, bukan ketemu pacar!” seru hatiku beradu dengan pikiranku yang sibuk membayangkannya.

Melangkah memasuki pintu utama gereja, mataku menjelajah mencari keberadaanya. Jangan bayangkan aku akan duduk disampingnya! Tentu saja kuberi jarak satu atau dua bangku untuk aku duduk agar tetap bisa memperhatikannya. Aku memang hanya bisa menatapnya dari jauh.

Dia, pemuda yang menurutku sangat tampan. Hampir setiap hari wajahnya berhasil masuk menjadi bunga tidurku. Rahangnya tegas, alisnya yang tebal, matanya yang bercahaya, dan jambulnya sungguh mempesona. “Teng,” bunyi lonceng tanda misa dimulai berhasil membuatku terlonjak. Ah tidak! Membayangkannya saja membuatku lupa bahwa aku sedang di gereja.

Homili yang seharusnya kudengarkan, nyatanya malah sibuk kugunakan untuk mengaguminya. Aku membayangkan bagaimana jika aku mengikuti misa dengan duduk berdua dengannya. Ah, paling nanti aku pingsan karena tak sanggup menahan pesonanya yang begitu kuat untukku. Tapi boleh lah, sedikit sentuhan lembut di tangan ketika tak sengaja bersentuhan. Pikiran tentangnya terus menghantuiku hingga akhirnya homili yang hanya menjadi angin lalu pun usai.

Misa berakhir, dia menghampiri teman-temannya. Mungkin untuk sekedar bersama ataupun basa basi belaka. Sedangkan aku, berjalan lambat menuju taman doa. Aku tak tahu mengapa aku bisa begitu menyukainya, bahkan hingga aku mencintainya. Hampir di setiap doaku, nama itu terucap hanya untuk permohonan agar aku bisa memilikinya.

Waktu berjalan cepat. Rutinas yang kulakukan setiap hari minggu tak membuatku dekat dengannya sedikitpun. Mencari jadwalnya ke gereja, mengikuti kegiatan-kegiatannya, atau hingga meluangkan sedikit waktu hanya untuk melihat senyumnya bersama teman-teman dekatnya. Seakan percuma, dia tak melihat ke arahku. Bahkan aku tak yakin bahwa di mengenaliku ataupun sekedar tahu namaku.

Jengah, lelah, bosan, dan segala hal lainnya mulai berkecamuk. Terkadang aku berpikir, apakah aku hanya sekedar menggaguminya. Namun, mengapa untuk melepaskannya harus sesulit ini? Apakah mengejarnya memang terlalu menyakitkan untuk dilakukan? Bertepuk sebelah tangan memang melelahkan, dan sekarang aku benar-benar lelah untuk selalu menjadi penggagumnya saja tanpa bisa menyentuhnya lebih dekat.

Kabar burung pun sampai hingga telingaku. Ah sudah! aku ingin melupakannya. Toh ternyata dia milik orang lain. Buat apa aku menarik perhatiannya lagi seperti yang selama ini telah kulakukan. Mengapa aku memaksakan apa yang memang tak bisa aku dapatkan. Paling tidak aku bersyukur masih diberi kesempatan menatap ciptaan-Nya yang indah meski dari kejauhan.

Teruntuk kamu, pada akhirnya aku cuma ngikutin waktu, ngikutin suara hatiku, ngikutin setiap gerak-gerikmu, karena aku cinta kamu dan gereja.

1,758 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

1000 Tumpeng Persaudaraan

1000 Tumpeng Persaudaraan

Selasa (5/06/2018) KOMSOS Gamping bersama Romo Joko menghadiri acara 1000 Tumpeng Persaudaraan di Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Acara itu dimulai dengan sapaan hangat oleh Bapak Bagus (tuan rumah), masyarakat sekitar, dan orang-orang dari berbagai agama yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kami masuk ke dalam rumah berarsitektur jawa yang masih sangat kental. Acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipinpin oleh pemuka dari berbagai agama yang ikut serta dalam acara tersebut.

Sesuai dengan acaranya, 1000 tumpeng dengan lauk yang terdiri atas telur dan kacang kedelai, serta air mineral telah dipersiapkan. Tak terkira ternyata tumpeng dan lauk-pauk yang tersedia memiliki makna tersendiri yang menarik untuk diketahui. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa tumpeng melambangkan gunung yang menjulang, dan telur melambangkan sebuah bulan, sedangkan kedelai hitam melambangkan bintang-bintang. Mengapa kedelai hitam dapat dilambangkan sebagai bintang-bintang? Karena ketika kedelai hitam tersebut digoreng ada cahaya yang berkilap-kilap seperti bintang-bintang, penjelasan Bapak Bagus narasumber serta penggerak kegiatan tersebut. Selain tumpeng dan lauk-pauknya yang memiliki makna historis yang menarik, tersedia juga air mineral yang dilambangkan sebagai sumber air kehidupan. Sedehana namun penting untuk diketahui.

Untuk mebagikan takjil yang berupa tumpeng tersebut kepada masyarakat yang sedang dalam perjalanan dan berhenti menunggu lampu merah. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas beberapa orang dari berbagai agama, yang tersebar dalam lima titik yaitu di perempatan Godean, perempatan Pelem Gurih, Titik Nol Kilometer, Tugu, dan di sebuah pesantren di daerah tersebut. Sungguh suasana yang sangat hangat dan menyenangkan, dimana kepedulian dengan sesama dan rasa saling memiliki sekarang ini sudah berangsur-angsur surut, meskipun banyak juga yang mencoba untuk memputar-balikkan itu semua.

Dalam kegiatan berbagi takjil kali ini, kami membagikannya kepada orang-orang yang kami jumpai di sekitar tempat di titik yang telah ditentukan. Banyak masyarakat yang menyambut baik kegiatan ini, hal ini ditunjukkan oleh mereka yang tak segan-segan menerima takjil yang kami bagikan, meskipun tak sedikit pula yang menolak.

Selepas membagi takjil, kami kembali ke rumah Bapak Bagus bersama dengan para pembagi takjil yang lain. Di tempat itulah kami beristirahat sembari berbincang, dan makan bersama dengan hidangan yang telah tersedia. Di sela perbincangan kami, Pak Bagus mengatakan bahwa acara kali ini bertepatan dengan malam selikuran atau yang berarti “malam seribu bintang.” Oleh sebab itu akan diadakan juga kegiatan keliling desa untuk merayakannya.

Selepas energi kami kembali terisi, kami melanjutkan kegiatan kami dengan ikut berkeliling desa. Terdengar sangat meriah pula ketika saudara kita umat muslim yang turut merayakan malam selikuran tersebut dengan melantunkan lagu-lagu serta bertabuhkan gendang yang dimainkan bersama-sama. Kegiatan tersebut merupakan moment langka karena hanya setahun sekali digelar.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan bagi umat muslim bahwa malam ini adalah malam lailatul qadar atau malam yang lebih baik dari malam-malam lainnya yang sebaiknya dimanfaatkan sebagai ajang untuk berbuat baik dan memperdalam ibadah. Bagi kami sendiri pun kegiatan ini jelas merupakan ajakan untuk melestarikan budaya khususnya budaya Jawa. Melestarikan budaya bukan hanya dengan tulisan tetapi juga perbuatan. Melestarikan budaya Jawa tanpa memandang perbedaan, karena justru perbedaan itulah yang mejadi kekuatan bagi kita, perbedaan yang beralaskan cinta kasih. Jangan biarkan budaya semakin terkikis, mari lestarikan budaya kita sedari dini sedari kita mampu dan kuat untuk menjaganya.

Perbedaan justru aset untuk memperkaya keberagaman dan toleransi adalah pupuk untuk menyuburkan kebaikan didalamnya.

 

1,722 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

2,225 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Gamping dan 8 Warna Pelangi

pelangi di gereja gamping

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus selalu disyukuri.

Saya bukan orang asli Gamping, bahkan sebelum menetap di sini mendengar tentang tempat ini saja jarang. Tak pernah terlintas sedikitpun di benak saya bahwa suatu saat Tuhan telah merencanakan untuk memindahkan saya ke Gamping, keadaan yang tidak akan pernah saya sesali.

Dulu ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di rumah baru saya di daerah Mejing, saya segera menyadari bahwa letak rumah saya cukup dekat dengan Gereja. Jaraknya tak sampai 1 km, cukup dekat untuk dicapai dengan sepeda yang selalu saya pakai.

“Harus lebih sering ke gereja nih” janjiku saat itu pada diri sendiri. Maklum saja, sebelum ini saya termasuk jarang pergi ke gereja apalagi mengikuti aktivitas di gereja. Rasa malas selalu saja berhasil memenangkan pergulatan di dalam hati saya untuk pergi ke Rumah Tuhan. Saya tahu itu tak baik tetapi tetap saja saya lakukan. Saya saat itu lebih memilih untuk mengikuti kegiatan sekolah atau main-main sama temen, sesuatu yang sebenarnya tak terlalu penting.

Minggu pun tiba, sudah saatnya buat saya untuk memulai petualangan baru di Gamping. Saya  pergi ke Gereja tidak dengan harapan yang muluk-muluk, “Ya pokoknya bisa ke Gereja lah.” Hanya sebatas itu.

Namun, takdir Tuhan memang tak bisa ditebak. Setelah beberapa waktu pergi ke Gereja, saya mulai merasakan ketertarikan untuk dapat lebih aktif lagi dalam berpartisipasi di sini, tak hanya sebagai umat. Ada suatu keyakinan dalam diri saya yang mengatakan bahwa “Ayo, kamu bisa lebih dari ini!”

Pada awalnya saya mendaftar sebagai misdinar karena memang saya sudah ‘ngidam’ itu sejak lama. Di kegiatan gereja pertama ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bisa saya petik, tentang arti kebersamaan, kegembiraan, rasa saling berbagi, dan masih banyak lagi. Perlahan tapi pasti saya mulai menikmati alur dari cerita ini. “Ternyata senang juga bisa ikut ambil bagian dalam Gereja” ucap saya kepada Ibu waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai ikut ambil bagian dalam OMK dan sekarang ini di Komsos Gamping. Saya tidak akan berbicara mana yang lebih baik diantara ketiganya karena semuanya memberi kenangan dan peran masing-masing. Semua punya cerita yang akan selalu mewarnai dan membuat hidup saya lebih lengkap, lebih utuh.

Seperti pelangi yang menghias langit dengan 7 warnanya yang ikonik, Gamping memberi saya satu warna tambahan yang membuat saya sadar bahwa hidup itu selalu memberikan keindahan baru yang harus terus disyukuri.

Rekan saya di Gereja ini pernah mengatakan begini, “Aktivitas di sekolah itu memang penting. Tapi ketika kamu udah dewasa apakah itu masih dapat kamu lakukan? Enggak, kamu dah gak bakal bisa ngulang masa itu lagi. Tapi di paroki, kamu bakal selalu tinggal di sini. Ini lingkunganmu, masa kamu gak mau peduli sama lingkunganmu sendiri?” Kata-kata itu selalu terngiang di kepala saya dan selalu menjadi pelecut semangat saya untuk berusaha selalu terlibat dalam kegiatan menggereja ini. Meski saya sadar bahwa saya tidak selalu bisa untuk hal itu karena kesibukan yang lain terkadang juga mengganggu. Namun saya akan selalu berusaha menyediakan waktu untuk Gereja.

Maka dari itu saya mengajak kamu yang belum aktif untuk…. Ayolah! kita sama-sama bangun Gereja ini melalui partisipasi aktif dari kita masing-masing. Sudah banyak wadah yang bisa menampung aspirasi serta tindakan kita untuk hal itu. Mari kita buat Gereja ini seperti pelangi yang tidak hanya memiliki tujuh warna, tetapi delapan. Kalau bisa lebih, kenapa tidak?

1,959 kali dilihat, 11 kali dilihat hari ini