Teman Yang Sebenarnya

Saat kamu mencari teman hanya berdasarkan kesenangan, kamu nggak akan pernah menemukan teman yang sebenarnya. Mungkin kamu belum menyadari, namun jika kamu sudah dewasa, sudah bekerja, melainkan menemukan orang yang dapat bekerjasama dengan kamu, kamu malah akan mendapati banyak orang yang akan menjatuhkan kamu, dan apabila kamu pada titik itu tidak memiliki teman yang sebenarnya, kamu akan benar-benar jatuh. Dan hilang harapan hidup. Apa kamu mau hidup seperti itu?

Berbanding terbalik dengan orang yang memilih pertemanan berdasarkan kepedulian, saat dijatuhkan orang lain, walaupun akan terjatuh, setidaknya ada yang mengangkatmu.

703 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

MISCHRISTO Goes to TC 2018

Mischristo TC

“kami putra putri altar Paroki tercinta… Satu semangat kami, semangat mengabdi… kami melayani Yesus dan umat-Nya dalam ekaristi… Selalu siaga rela dan sedia dalam karya baktii… Santo Tarsisius doakanlah kami, mohonkan pada-Nya… semangat berkorban bagi cinta Tuhan di hati membaraa…”

Itu sedikit penggalan lirik lagu Mars PA yang jadi bagian favorit kami. Nyanyi lagu itu rasanya kami kembali mengenang masa-masa awal kami menjadi Putera Altar. Menyanyi lagu itu di tengah gelapnya malam dengan sebuah unggun, kami duduk melingkar dan bersenandung dengan tangan menggenggam didada. Indah, haru, dan hangat pastinya…

Menjadi misdinar atau putera altar tak selamanya berkutik di misa, misa, dan misa. PA punya wadah lain untuk menuangkan bakat-bakat tersembunyi, di TC misalnya.

TC kembali menyapa kami, Misdinar St. Christopher Gamping. Setelah satu kali fakum dari TC (Tarcisius Cup) event misdinar dari berbagai paroki bergabung, berdinamika, dan menikmati euforia khas PA yang jarang ditemukan di event-event lain. Berbagai lomba di gelar, dari lomba yang memerlukan fisik ekstra hingga kreatifitas tanpa batas. Tak jarang event-event semacam itu yang menjadi kerinduan kami. Hanya sebatas tanya seorang teman “hoeeyy piee melu TC ra? Aku melu lhoo, ayo melu!” bisa menyenggol senyum kami. Kerinduan akan serunya dinamika TC sebelumnya, sering membuat hati kami berkata “Aku kudu melu!”

Di TC 4 tahun lalu, sayangnya kami belum dapat menyabet semua juara. Namun, ada secercah sinar yang membuat teriakan kami semakin keras. Saat pagelaran musik sebagai penutup hingar-bingar TC di Nanggulan berlangsung, sembari dijejali pengumuman pemenang tiap lomba yang digelar. CCPA (Cerdas Cermat Putera Altar) yang membuat sorak sorai kami semakin riuh dan mata kami menangis bahagia. Puji Tuhan, Mischristo dapat memberi sebuah piala untuk Gereja. Tak tanggung-tanggung piala yang kami bawa pulang bertuliskan JUARA 1 LOMBA CCPA.” Suasana murung yang sempat kami landa secepatnya berganti senyum bahagia.

Sekarang, waktunya kami kembali unjuk gigi! Di bulan Agustus nanti kami akan menyambangi Paroki Marganingsih Kalasan untuk turut memeriahkan TC yang digelar setiap 2 tahun sekali itu. Kesempatan langka, memang. Ada enam cabang lomba yang akan kami ikuti yaitu koor, lektor, futsal, mancing, paramenta, dan CCPA.

Kami ingin menambah koleksi piala di kantor Kesekretariatan Paroki. Untuk itu kami akan mempersiapkan diri kami MISCHRISTO agar dapat mengulang hingar bingar dan deru tawa yang sama saat TC empat tahun yang lalu itu kami geluti, dengan pencapaian yang semakin baik tentunya.

Doakan dan support kami Bpk/Ibu, Romo, dan seluruh umat Paroki St. Maria Assumpta Gamping, MISCHRISTO akan turut berjuang menjadi yang terbaik diantara yang baik.

TC 2018, kami datang!

3,930 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

2,225 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Pengabdianku Untuk-Mu

misdinar

Kira-kira apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar orang mengucapkan Gereja Gamping? Entah mengapa, aku merasa seperti flashback pada masa kecilku saat aku iseng membuka web Gereja Gamping yang baru ini. Tak terasa pun aku sudah selama hampir 19 tahun selalu berkecimpung di Gereja Gamping. Sangat banyak lika-liku yang dirasakan, dan pastinya banyak suka duka yang sudah tertampung di kehidupanku.

Kadang saat aku misa mingguan di gereja dan memandang sekeliling, aku merasa bahwa secara fisikpun gerejaku sudah melalui banyak perubahan. Dulu saat masih kecil, mungkin seukuran SD, ketika sudah mulai diterapkan berkat anak maju satu persatu. Akulah anak kecil yang selalu ingin menjadi nomor satu mendapat berkat dari Imam, dan saat aku kembali, aku mendapatkan apresiasi dari orangtuaku.

Kemudian, langkah lain yang membuatku selalu bahagia di gereja adalah dulu kakakku adalah seorang misdinar, aku selalu bangga, senang melihat kakakku dapat berinteraksi langsung dengan imam, memegang alat-alat liturgi, menggunakan baju khusus yang kini aku tau namanya. Saat melihat kakakku tugas, dalam hati aku membatin “Suatu saat nanti aku yang ada diatas sana, aku yang menggantikan mereka dan melakukan seperti apa yang kakakku lakukan. Aku ingin seperti mereka.” Hingga akhirnya, aku sangat semangat ikut pelajaran komuni pertama, dan mendaftar menjadi anggota misdinar.

Itu adalah langkah pertamaku untuk berkontribusi langsung pada gereja. Aku masih teringat saat aku selalu rajin tugas tanpa memandang siapa yang menemaniku, siapa imamnya. Bahkan aku dulu paling semangat untuk tugas misa minggu pagi yang waktu itu masih jam 5 pagi. Kadang aku nekat untuk tugas 2 kali karena masih sangat bersemangat untuk bertugas kala itu. Di misdinar pula, aku bisa menemukan sabahat-sahabat baik yang sekarang sudah sukses menjadi calon-calon penerus bangsa. Kadang terharu sendiri mengingatnya. Misa hari raya merupakan hal yang paling diincar misdinar, bahkan hingga saat ini. Mungkin karena saat tugas misa hari raya, bisa dilihat banyak orang dari luar sampai dalam gereja, menjadi memiliki kesan istimewa tersendiri. Dulu hal yang paling tidak aku sukai adalah ketika tugas hanya bisa di nomor satu saja, padahal teman-temanku sudah merasakan di berbagai posisi. Begitulah nasib pendek dan kecil.

Hingga suatu hari aku dipercaya untuk mendapatkan kesempatan lebih dari anggota misdinar. Aku merasa menjadi anak yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini, mendapat teman baru, mempelajari bagaimana mencari anggota misdinar baru, mengelola pertemuan rutin, mempersiapkan hari raya, hingga menyiapkan event untuk anggota misdinar dalam rangka mengisi waktu liburan sekolah sekaligus mengakrabkan. Mungkin bisa jadi juga sebagai bentuk rehat untuk anggota karena sudah terus-menerus tugas misa.

Sungguh, mengabdi pada gereja sendiri itu sangat menyenangkan, mendapatkan kepuasan diri sendiri. Selain bisa menjadi dasar kita untuk belajar organisasi, banyak hal-hal positif yang bisa dijadikan pengalaman. Permasalahan dalam organisasipun bisa menjadikan kita belajar untuk memecahkan masalah itu, sehingga ketika dalam dunia nyata lainnya nanti, jika menemukan masalah yang sama, sudah bisa menyelesaikannya.

Terakhir, semoga Gereja Gamping terus berkembang mengikuti jaman, dan bisa menarik kawula-kawula muda untuk turut ambil bagian mengabdi selama waktu memang masih ada, dan kesempatan selalu hadir di setiap waktunya.

Sekian. Berkah Dalem untuk Anda sekalian yang sudah berkenan untuk membaca.

5,833 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Sebuah Peran bagi Gereja

mischristo

Jejak kakiku kutinggalkan
Menuju ke sebuah paguyuban
Tak perlu kaya apalagi rupawan
Tuk dapat ambil bagian

Kehadiranku sungguh berarti
Saat aku dapat melayani
Bila aku mampu berbagi
Kurasakan damai di hati

Tiada bimbang tiada ragu
Semua kulakukan hanya kepada-Mu
Kan kugunakan sisa waktu
Bagi gereja dan Tuhanku

Saat raga sudah lelah
Dengan semua jerih payah
Namun hidupku sudah jadi berkah
Sebelum terkubur dengan tanah

2,525 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini