Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIV

Sawah

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

1,520 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa XIII

Bunda Maria

Berikut adalah konten panduan yang bisa diunduh. File berbentuk PDF, Anda dapat membukanya menggunakan PDF Viewer seperti Adobe Acrobat Reader, WPS Office atau PDF Reader online. Kami sediakan konten panduan berikut dengan tujuan pembelajaran. Gunakan sebaik mungkin.

2,179 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Di Rumah Kudus-Mu

Melawan Cinta Diri Berlebihan

Alunan gending gamelan

Bersanding dengan bunyi nyanyian tembang Gereja

Serta orang-orang yang beranjak dari tempat duduknya

Bersiap menyambut rombongan suci

Jelmaan Sang Ilahi dan mereka yang setia mendampingi

 

Hati ini tenteram

Ketika taubat datang lewat seruannya

Dari Dia, yang Mulia atas segala Raja

Pemilik alam Semesta

Tuhan Yesus yang mengasihi tiada batas

 

Sabda-Nya mengilhami akal

Ribuan makna yang cukup menjadi bakal hidup rohaniku

Untuk selalu hidup dalam damai sukacita

Namun tetap penuh kasih dan peduli pada mereka

yang ratapan serta tangis air mata sudah menjadi hal yang tak lagi asing

 

Dia, memberiku tubuh-Nya yang kekal

Dalam bentuk roti bundar tanpa ragi

Pada sakramen ekaristi yang suci

Puncak sebuah keagungan

Sekaligus kilas balik malam terakhir-Mu sebagai insan yang akan selalu kami kenang

 

Jika umurku panjang, izinkan aku untuk selalu datang dan bertemu dengan-Mu Tuhan, di rumah-Mu yang kudus.

2,001 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Sebatas Bakpao Rasa Coklat

Bakpao, adalah salah satu hal yang gue ingat saat pergi ke gereja sewaktu masih kecil. Bakpao coklat selalu jadi pilihan nomor satu antara varian rasa lainnya, anget-anget dikeluarin dari kukusan kemudian dibungkus plastik bening, gue pegang erat, lalu gue gigit, empuk, lumer dimulut, rasanya kayak makanan dari Surga, pikir gue waktu kecil. Dulu kebahagiaan gue hanya sebatas bakpao coklat, nggak mahal, nggak perlu jalan sama orang yang disuka, nggak perlu beli barang mewah atau nggak perlu sukses dulu. Hanya sebatas bakpao rasa coklat, yang mungkin harganya hanya dua ribu setengah.

Gue duduk di Ruang Komsos saat menulis cerita ini. Banyak memori masa kecil yang tiba-tiba muncul, memanggil untuk diingat kembali. Dulu waktu kecil rasanya masih enak banget, nggak banyak yang dipikir, cukup tau kalau bakpao itu enak, nonton kartun itu seru, dan susu itu manis. Jam menunjukan pukul 23.40, artinya kalau gue masih kecil mungkin gue udah tidur sekarang ini. Mata gue melihat tangan yang mengetik cerita ini, udah nggak kecil lagi, gue udah nggak kecil lagi. Jadi dewasa artinya semakin banyak yang dikerjakan, semakin banyak yang dipikirkan.

Saat ini gue banyak berteman dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia kreatif yang membantu menyebarkan cerita baik bagi semua orang. Gue merasa sangat nyaman berada ditengah-tengah mereka. Tanpa sadar, gue menemukan kenyamanan di Gereja.

Terlepas dari semua kenyamanan, pasti ada beberapa hal yang membuat nggak nyaman. Gue ada cerita, demi kepentingan cerita ini, mari sebut saja salah satu orang yang bersangkutan dengan nama Pak Rick. Pernah gue waktu itu ditegur sama Pak Rick waktu buat Popmie di dapur kosteran. Dia bilang “Mas, kalau buat kayak gitu (popmie) di luar saja!”, untuk kamu yang tau tata letak gereja gamping pasti mengerti maksudnya, dan untuk kamu yang tinggal dan sering ke gereja gamping pasti tau sosok Pak Rick, jadi intinya Pak Rick ini meminta gue untuk membuat popmie di luar, di dapur dekat gazebo gereja. Sebetulnya saat buat popmie itu gue bersama Felicia Echie dan Brighita Ratna. Mereka berdua adalah saksi dari perbincangan asyik gue dengan Pak Rick. Sebetulnya nggak asyik-asyik amat sih, hanya waktu itu yang membuat lucu adalah perbincangan kami bertiga setelah Pak Rick menegur. Kami yang tadinya duduk di meja bulat dekat kotak lingkungan kemudian pergi ke atas karena hendak berdiskusi mengenai ini.

Gue nggak akan cerita banyak tentang apa yang kami obrolin. Namun sedikit yang bisa gue sampaikan adalah, bagi anak muda yang masih sangat butuh pendampingan mungkin kritik masih terdengar sakit. Namun anak muda juga memiliki pikiran dan kreatifnya sendiri. Anak muda berpikir bahwa gereja adalah milik bersama, kenapa harus ada eksklusifitas di dalam? Kenapa Pak Rick meminta gue dan temen-temen untuk masak air di luar? Sementara saat itu dapur terdekat adalah yang di dalam gedung pastoran. Apakah umat kalau haus dan lapar tidak boleh memasak air atau membuat mie? Bukankah gereja harusnya inklusif? Namun belakangan gue tau, ternyata dapur yang di dalam itu memang guna kepentingan Pastoran, artinya tidak terbuka bagi umum. Gue nggak menyalahkan Pak Rick, hanya mungkin sifat dari Pak Rick yang sedikit sulit untuk bergaul dengan anak muda membuat teman-teman disekitar gue enggan untuk bicara dengannya. Memang pasti anak muda jika mau memulai obrolan dengan orang dewasa pasti ada ragu, itu juga nggak bisa disalahkan. Gue pikir ini hanya mengenai kenyamanan, anak muda yang nyaman bereksplorasi, mencari hal baru, sementara Pak Rick nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Nah, ada satu cerita lagi. Mari samarkan lagi nama seseorang, atau beberapa orang. Kita sebut saja The IT. Malam itu gue dan Dominikus Elgan mencoba berkomunikasi dengan The IT untuk minta diajari sebuah perangkat canggih yang ada di gereja guna kepentingan dokumentasi Komsos Gamping. Kami sedikit terhambat dalam komunikasi karena nampaknya The IT tertutup kepada kami. Pada akhirnya kami hanya membiarkan untuk waktu menjawab apakah kami dapat masuk dan bergaul dengan The IT. Well, nggak banyak cerita tentang The IT sih. Karena waktu itu emang cepet banget jadi gue dan Elgan hanya bisa nangkep sedikit momen.

Menurut gue gereja adalah tempatnya belajar bareng, tempat berkembangnya iman dan karakter, nggak perlu tertutup terhadap yang lain, kita perlu yang namanya komunikasi baik antar paguyuban, gue pikir membaur adalah cara yang termudah untuk mewujudkan itu. Yang jelas, percaya aja kalau kita menjadi solid, apapun yang dikerjakan pasti bakal mudah.

Cerita ini bukan untuk menyindir orang atau paguyuban tertentu, hanya sedikit cerita saat gue di gereja. Karena cerita yang baik adalah cerita yang jujur, cerita dari hati, dari apa yang kita lihat, yang kita temukan, dan kita rasakan.

Gue melihat jam di komputer, waktu menunjukan pukul 01:46 pagi, tangan udah mulai kerasa pegel, kembali teringat pada bakpao rasa coklat. Pak Rick adalah orang yang baik, begitu juga The IT, hanya mungkin belum terbiasa dan kurangnya komunikasi kami. Sama seperti orang yang baru kenal, pasti nunggu momen yang ngebuat mereka untuk menjadi akrab. Andai kami bisa ketemu saat kecil dulu, dan kita suka dengan hal yang sama, entah itu mainan atau bakpao coklat, andai Pak Rick adalah orang yang terbuka, andai yang ada di gereja semuanya menyenangkan. Andai, andai, andai, gue ulangin kata-kata itu sampe nggak ada artinya lagi. Dan gue mulai sadar kalau gue nggak bisa ngerubah orang. Orang hanya akan berubah saat dirinya memang harus berubah. Masih dipikiran yang sama, masih di kursi yang sama, terus berandai-andai, hingga pada akhirnya gue bertanya pada diri sendiri, kenapa nggak kita bergaya seperti anak kecil? Yang cukup bahagia hanya dengan sebatas bakpao rasa coklat.

For your information: Pagi ini sebelum tulisan ini dipublikasi, Elgan datang ke gue dan bilang “Mas, aku kena tegur Pak Rick!”

Tulisan ini bersambung…

2,225 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Orang Muda Katolik Menurutku

AYD 2017

Sebelum memulai untuk membaca baris pertama, mungkin lebih baik aku mengatakan terlebih dahulu bahwa apa yang telah dituangkan dibawah ini merupakan hasil curahan hatiku pribadi melalui indera perasaan, penglihatan, dan pemikiranku.

Di tengah hingar-bingar masa muda, masih terdapat sekelompok anak muda yang mau menjadi pelita di keheningan malam. Ya, mereka menamai diri mereka sebagai Orang Muda Katolik atau yang biasa dikenal dengan OMK. Seharusnya mereka tak sebatas definisi yang dapat dibaca dengan mudah di internet.  Seharusnya mereka juga bukan sebuah pelarian dan pelampiasan dari kegiatan ataupun dari keluarga yang ada di rumah. Terkadang orang berpikir bahwa Orang Muda Katolik hanya merupakan pelarian dari pekerjaan di rumah? Namun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka lupa bahwa Orang Muda Katolik adalah penyangga Gereja yang nantinya akan dibutuhkan ketika mereka sudah tiba pada saatnya. Orang juga sering berpikir, bahwa Orang Muda Katolik hanya bisa membuang waktu dan tertawa tanpa tujuan. Tidak salah, karena memang begitulah hidup, keburukan akan terlihat lebih jelas daripada sebuah kebaikan yang tersimpan rapat-rapat bahkan hingga akhirnya dilupakan dan hanya menyisakan keburukan saja. Terkadang orang menilai dari sampul, tanpa pernah melihat kedalamnya. Padahal, Orang Muda Katolik membutuhkan dorongan, bukan hanya penilaian yang akhirnya hanya membuat rasa malas mendera ataupun rasa kecewa karena dianggap yang dilakukannya hanyalah sia-sia.

Menurut internet, Orang muda katolik merupakan komunitas wadah kreativitas, pengembangan, pengedaran generasi muda di lingkungan paroki. Namun, bagiku definisi Orang Muda Katolik lebih dari itu. Orang Muda Katolik adalah mereka yang mau untuk saling terikat dalam sebuah suasana yang mendalam dan nantinya akan menjadi keluarga kedua dengan organisasi sebagai rumahnya. Jika orang berkata bahwa Orang Muda Katolik merupakan sebuah organisasi, aku tak menyangkal, namun juga tak menyetujuinya. Mengapa? Orang Muda Katolik lebih mengutamakan persaudaraan, bukan jabatan. Jika ada dari mereka yang lebih mementingkan jabatan dibandingkan persaudaraan yang ada didalamnya, maka orang itu sejatinya tak pernah menghayati dirinya sebagai bagian dari Orang Muda Katolik. Menghilangkan kata “aku dan kamu” lalu menyatukan menjadi “kita” terdengar cukup sulit untuk dilakukan. Ya, egoisme yang membelenggu terkedang memang cukup memberatkan dalam upaya membangun kesatuan antar anggotanya. Orang Muda Katolik bukan sebagai ajang perploncoan layaknya organisasi semi militer yang biasa kita lihat di televisi. Ketika satu orang mengalami kesulitan, maka akan ada tangan yang siap terulur untuk membantunya keluar dari kesulitan-kesulitan tersebut. Bahkan kesulitan yang paling sulit sekalipun, akan terasa lebih mudah ketika dijalani bersama-sama. Ibarat paribahasa, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing, itulah yang mendasari ikatan persaudaraan di dalam Orang Muda Katolik. Bertemu dengan banyak orang yang baru, mengerti permasalahan mereka, mau tak mau membuka hati untuk belajar mengorbankan sebuah kesenangan pribadi untuk kepentingan bersama. Orang Muda Katolik bukan pula sebagai ajang pamer kekayaan dan kekuasaan layaknya organisasi sosialita. Seandainya di luar sana, kamu adalah anak dari seorang  raja yang kaya raya, maka jangan pernah untuk membawa kekuasaan ayahmu itu di dalam Orang Muda Katolik. Kamu boleh menjadi dirimu yang seuntuhnya di luar sana, namun di dalam Orang Muda Katolik, kita adalah sebuah kesatuan. Aku dan kamu satu, yang memiliki kesamaan dalam derajat, harkat, dan juga martabat. Saling melengkapi tanpa memandang siapa dirimu, darimana asalmu, seberapa tinggi jabatanmu ataupun seberapa banyak kekayaan yang kamu miliki.

Orang Muda Katolik memandang dari hati. Dari setiap insan yang mau membuka hati untuk dimasuki. Hati inilah yang mampu menerima setiap kekuranganmu. Meyakinkan bahwa dihadapan-Nya kita adalah sama. Hati ini juga yang mau menyayangi tanpa menuntut untuk minta disayangi, mau memberi tanpa harus meminta diberi, dan mampu mengasihi dalam luka yang mungkin sudah pernah terbuat di hati. Bisa dibilang, bagiku Orang Muda Katolik adalah keluarga kedua. Aku mendapat banyak pengalaman kehidupan dari sini. Belajar untuk mau menghargai orang lain dengan segala pendapatnya yang mungkin berbeda dengan pendapatku. Aku juga belajar untuk bertindak dengan hati. Belajar untuk tidak melukai hati orang lain baik dengan sikap ataupun perkataan yang menyinggung orang tersebut. Aku tahu, bahwa menyembuhkan luka tak semudah membuat luka. Bahwa memaafkan orang lain tak semudah menyakiti orang lain. Mau tak mau aku juga mengakui, menggunakan hati memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan terkadang rasa berkuasa dan rasa ingin menang sendiri muncul di dalamnya. Terkadang, tanpa disadari rasa itu merajalela tanpa pernah bisa dicegah. Inilah peran intropeksi. Ketika ada seseorang yang terluka karena kita, jangan pernah membuat luka yang sama pada insan yang yang berikutnya.

Lagi-lagi, Orang Muda Katolik memberi sebuah kekuatan kepada siapapun yang ikut ambil bagian didalamnya. Kekuatan persaudaraan yang mampu menahan untuk tetap sabar dan menjadikan segala permasalahan sebagai pemacu untuk mempertahankan suatu ikatan. Memecahkan segala persoalan dengan kepala dingin, tanpa harus main hakim. Persoalan itu ujian yang mempertanyakan seberapa kita mampu untuk bertahan, seberapa mampu kita menjaga sebuah persaudaraan dalam sebuah pertikaian, bukan untuk pergi lalu menjauh dari permasalahan, bukan juga menghilang tanpa kabar seolah meminta dicari. Namun persaudaraan itulah bekal dalam permasalahan. Untuk apa ada diskusi bila akhirnya menjauh dan pergi. Untuk apa menjadi keluarga, jika hanya ingin berjalan sendiri. Orang Muda Katolik membuatku sadar arti dari berjalan beriringan, bukan semata-mata berjalan sesuai arah yang diingini, namun berjalan untuk saling melengkapi. Menggapai tujuan yang sama yaitu untuk kemajuan sebuah Paroki. Aku dengan kemampuanku dan kamu dengan kemampuanmu. Bukankah setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda? Mengapa harus disamakan hanya dengan sebuah kebersamaan sebagai alibinya? Jangan menuntut apa yang tak bisa dilakukan orang lain.

Orang Muda Katolik memiliki kebersamaan bukan karena memiliki agama yang sama, namun karena setiap pribadinya mampu untuk saling menguatkan. Tawa yang kerap lolos dari bibir saat pertemuan bersama, terasa menghilangkan segala gundah dan gelisah. Jika memang kamu merasa nyaman, jangan coba pergi hanya karena rasa egois diri. Jika kamu merasa rindu, ingatlah bahwa keluarga akan selalu menerima untuk pulang kembali. Jangan memendam rindu sendiri, karena rindumu terkadang sama dengan yang lain. Jangan hanya berkata rindu, karena bertemu memerlukan sebuah aksi bukan hanya sekedar luapan kata yang tak berarti. Ingatlah bahwa rindu datang karena rasa nyaman, jangan rusak rasa nyamanmu hanya karena masalah pribadi yang ada disekitarmu. Bertengkarlah diluar sana, namun jangan untuk didalamnya, karena keluarga akan selalu memiliki cara untuk mempertahankan kebersamaan. Keluarga akan selalu memiliki cara untuk menyelesaikan permusuhan yang ada di dalam. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan cacian, dan makian, bukan juga dengan gunjingan. Namun keluarga selalu mempunyai hati untuk mencari solusi demi keutuhan keluarga. Jika kamu rindu? Maka marilah  kita bertemu unruk membuka lembaran baru dan membuktikan bahwa keluarga tetap akan bersatu!

3,655 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

Meneladan Yesus, Sang Aktivis

Yesus

“Saya itu prihatin. Orang kalau ke Gereja menemui saya kebanyakan hanya dua: saat pernikahan atau kematian. Tapi setelahnya, mereka menghilang begitu saja. Tidak terlihat lagi batang hidungnya di Gereja. Hehehe”, ungkap Romo Martinus Joko Lelono, Pr dalam khotbahnya.

Apa yang disampaikan Romo Joko ini menggelitik hati saya. Saya jadi ingat, salah seorang teman saya yang non Katolik pernah mengatakan begini:

“Kamu aktif banget ya di Gereja. Kalau kamu ikut kegiatan Gereja gitu, banyak nggak yang ikut? Kok kalau di tempatku sedikit ya, itu-itu aja.”

Saya kemudian berpikir, mungkin ada benarnya juga kata-kata yang disampaikan Romo Joko dan teman saya ini. Dari yang saya lihat, orang kebanyakan lebih suka terlibat dalam organisasi di kampus atau bahkan sekolahnya ketimbang di Gereja.

“Mengapa ya sedikit sekali orang yang tertarik untuk berkecimpung dalam organisasi/paguyuban kerohanian? Padahal organisasi/paguyuban kerohanian seperti itulah yang justru menurut saya akan dan harus terus menerus ada dan berkembang dari generasi ke generasi. Berbeda halnya dengan organisasi di sekolah atau kampus yang kebanyakan hanya bisa diikuti saat kita masih menjadi bagian atau anggota dari sekolah atau kampus tersebut.” 

Saya kemudian mencoba kembali lagi ke belakang, melihat kisah di balik malaikat inspirasi saya di tengah keterlibatan dan keaktifannya dalam paguyuban Gereja. Dulu ia pernah menjajal masuk di berbagai bidang, baik di lingkup lingkungan bahkan paroki. Ia adalah seorang pendatang. Ia belajar dari bawah, dari yang hanya menjadi umat lingkungan biasa, kemudian masuk dalam kepengurusan lingkungan, sampai mengakhiri kisahnya dalam kepengurusan dewan harian paroki. Dari yang awalnya hanya dikenal dan mengenal umat selingkungan atau sewilayah saja, sampai bisa mengenal dan dikenal umat hampir separoki. Sampai mungkin ada yang mengatakan begini, “Siapa coba yang tidak mengenal dia?” Namun perkara yang tadinya hanya kecil, dihadapi dengan orang-orang yang memang sudah dikenalnya, hanya di lingkup lingkungan saja; seiring berjalannya waktu perkara yang dihadapi makin besar, dengan mereka yang berbeda lingkungan, dengan mereka yang berbeda kelompok kategorial, bahkan dengan anaknya sendiri yang juga terlibat dalam paguyuban Gereja pun ia pernah terlibat pertentangan. Dari awalnya yang hanya menjadi pendengar saja, makin lama bisa berada di depan dan menjadi pembicara, mencetuskan ide-ide cemerlang untuk masa depan Gereja yang makin gemilang. Waktu 7 hari 24 jamnya betul-betul dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya untuk bekerja di kantor dan mengejar materi semata, tetapi bekerja dengan semangat pelayanan dan tulus hati untuk Gereja. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan untuk Gereja, entah untuk rapat, gladhi, sembahyangan, dan sebagainya. Sampai ada juga yang mengatakan begini, “Dia itu sobone nggrejo tenan kok.” Memang, begitu banyak suka duka yang ia alami. Banyak yang memuji dan setuju dengan ide-idenya kemudian berjalan bersama. Namun tak sedikit pula yang hanya bisa nge-judge, menolak segala idenya dan bersikukuh dengan ide mereka, tanpa tahu betapa sulitnya berjuang membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Setelah sekian tahun berkecimpung di Gereja, tahun 2014 ia memilih untuk hengkang ke kota lain untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Pada tahun itu pula ia mengakhiri kisahnya di paguyuban Gereja. Tak disangka, mereka yang pernah bekerja bersama, bahkan mereka yang kerap kali ngejudge selalu menanyakan kabarnya ketika ia sudah tak di kota yang sama. Sayangnya, mereka hanya bisa sekedar bertanya pada anaknya yang kini melanjutkan perjuangan sang ayah dalam keaktifan di paguyuban Gereja dan hanya bisa bertemu sebulan sekali, itupun kalau beruntung. Mereka kerap kali bertanya begini pada anak atau istrinya, “Bapak dimana sekarang? Kok jarang kelihatan?” “Bapak kapan pulang?” “Wah sekarang semrawut e, enak waktu masih ada bapakmu ya, lebih rapi dan teratur.” “Bapak besok suruh pulang ya dek, ikut acara ini.” Mereka baru mencari, ketika ia sudah tak disini. Saya jadi ingat kata-kata ibu saya, “Masuk dan aktif di organisasi itu nggak gampang, mbak. Harus siap mental. Kadang kalau kita punya ide-ide bagus, bisa menghasilkan karya yang bagus, tetep ada aja yang nggak suka. Kayak Tuhan Yesus to. Dia aktif menyebarkan Kabar Sukacita kemana-mana, tapi ya tetep aja yang nggak suka, kayak Imam Kepala dan Ahli Taurat salah satunya.” 

Sungguh kisah berharga yang mungkin sekarang jadi pegangan saya untuk berani berkecimpung dan begitu aktif dalam paguyuban Gereja. Bukan karena ingin pamer, tapi saya hanya merasa perlu bahkan harus. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Karena seperti yang dikatakan Romo Joko, saya tidak ingin hanya mencari Gereja ketika butuh saja. Tapi saya ingin memberikan timbal balik dan mempersembahkan yang terbaik untuk Gereja dari apa yang saya bisa. Dan saya yakin, kamu juga bisa! Mari, Gereja membutuhkanmu. Jangan takut, aktif di Gereja tidak akan rugi. Semangat untuk melayani dengan teladan Yesus, Sang Aktivis 🙂

Dari aku, aktivis Gereja.

929 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Dibalik Seribu Nestapa Yerusalem

Pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem oleh Amerika Serikat menimbulkan reaksi yang luar biasa dari masyarakat dunia. Keputusan Donald Trump ini mengundang gelombang kemarahan dari mereka yang utamanya mendukung kemerdekaan Palestina. Unjuk rasa pun dilaksanakan di mana-mana seperti di Turki, Palestina,dan banyak negara lain. Namun saya tak akan membahas lebih jauh mengenai apa saja yang terjadi selepas keputusan itu, tapi saya akan lebih membahas tentang kota yang menjadi “komoditi panas” tersebut, Yerusalem.

Harus diakui, nasib yang dialami oleh Yerusalem memang begitu malang, bukan hanya kali ini tetapi sudah sejak dahulu kala. Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali.Tentu kita ingat bahwa pada Zaman Romawi Yerusalem pernah diratakan hingga tak ada satu bangunan pun yang berdiri. Kepemilikannya pun selalu berganti-ganti dari mulai Raja Daud, Babilonia dan Persia, Romawi, Muslim, Ottoman, hingga saat ini yang masih belum jelas siapa tuannya. Sulit membayangkan betapa nestapanya penduduk yang ada di sana yang tak bisa hidup dengan tenang dan tenteram, konflik bisa saja tiba-tiba terjadi.

Keadaan Yerusalem ini pun juga dapat dikatakan sebuah anomali jika kita melihat fakta bahwa Yerusalem merupakan kota suci tiga agama yakni, Kristiani, Muslim, dan Yahudi. Bukankah dengan begitu seharusnya kota ini dapat dijaga baik-baik agar para peziarah dapat berkunjung dan menjalankan keyakinan mereka dengan tenang? Mengapa justru realitanya Yerusalem malah menjadi salah satu kota yang paling bergejolak di bumi ini? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan Tuhan kepada kita?

Saya mencoba mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “semakin istimewa sesuatu maka semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya”. Hal inilah yang ter-refleksi dengan baik dalam kasus Yerusalem ini. Sebagai sebuah kota yang sarat dengan nilai histori serta religi, tak heran jika Yerusalem mengundang ketertarikan orang banyak untuk berkunjung atau lebih.

Pepatah lain yang pas dari kota ini adalah semakin tinggi suatu pohon, maka semakin kencang angin menerpanya. Melihat fakta-fakta di atas tentang apa saja yang telah dihadapi Yerusalem selama ini, bisa dibilang angin itu sudah bertiup dengan begitu kencang. Lalu apakah Yerusalem masih bertahan? Anda sendiri yang dapat menilainya.

Dengan demikian, dibalik semua itu Yerusalem telah memberikan sinar kepada kita mesti remang-remang. Sekarang tinggal apakah kita akan menggunakan sinar itu, atau membiarkannya mati ditelan kegelapan. Menjadikannya suatu pelajaran bagi kita atau sebatas membuatnya menjadi kenangan.

1,616 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Menyimpan Keyakinan Pada Diri Sendiri

Dalam kehidupan yang kita jalani ini, sering kali kita melihat orang yang minder atau tidak percaya diri dengan keadaan dirinya. Bisa jadi karena ia kurang beruntung dibanding kita. Hal ini tentunya, sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya yang menjadi terhambat. Jika dibiarkan, sikap minder ini dapat melunturkan keyakinan pada dirinya sendiri, yang dalam tahap akut dapat menyebabkan trauma berat dan gangguan lainnya. Sudah banyak kasus yang terjadi, dan perlu adanya penanganan yang tepat untuk hal ini. Apakah anda juga mengalaminya?

Jika ya, cobalah untuk menilai diri anda sendiri. Susah memang untuk melakukannya, karena pada dasarnya menilai orang lain memang lebih mudah dari pada menilai diri sendiri. Namun hal ini juga penting, karena kita tak bisa terus menerus menyimpulkan dari pendapat orang lain, karena kita lah yang paling tahu tentang diri kita sendiri. Cobalah merenung sejenak, tenangkan pikiran dan refleksikan apakah yang anda lakukan selama ini sudah benar atau belum. Kita dapat belajar dari salah satu tokoh dalam kartun Naruto yakni kata-kata dari Uchiha Itachi, ”Mengenali diriku sendiri adalah kunci untuk mencapai kesempurnaan, karena itu berarti aku mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan“.

Memang tentunya ada beberapa momen dimana kita merasa diri kita terjatuh dalam jurang kegagalan dan kekecewaan. Sebagai manusia tentu saja kita terkadang merasa begitu terjatuh dan tertekan. Ini adalah hal yang wajar, namun jangan terjadi secara terus menerus. Jika hal tersebut dijadikan sebagai pengalaman, maka dapat membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.

Kita juga harus menyadari bahwa hidup adalah pemberian Tuhan, dan bukan karena kemauan kita. Sebagai umat Kristiani, kita percaya bahwa Allah yang memberi hidup. Oleh sebab itu, hidup adalah sebuah pemberian yang kita terima dari Allah untuk kita jalani. Jika kita menjalani hidup dengan penuh kekecewaan, kesedihan, dan keputusasaan itu hanya akan mempersulit langkah kita sendiri. Maka dari itu hendaknya kita menjalani hidup dengan penuh kegembiraan dan sukacita, apapun yang terjadi. Karena dibalik semua peristiwa, pasti ada hikmah yang bisa kita petik.

Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Yesus yang menampilkan rasa syukur luar biasa kepada Allah, atas apa yang telah Bapa nyatakan kepada-Nya. Di tengah segala penderitaan dan cobaan yang mendera-Nya, Yesus tetap setia dan bersyukur kepada Bapa-Nya. Hal ini dapat kita lihat dari doa Yesus kepada Bapa-Nya yang tertuang dalam Injil Matius 11:25,” Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”.

Lalu apa tandanya jika orang sudah bisa menerima dirinya sendiri? Ada 5 tanda yang bisa kita lihat dan rasakan yaitu :

1. Selalu Bahagia

Orang yang bisa menerima dirinya sendiri akan terlihat bahagia karena kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang timbul dari dalam diri sendiri.

2. Mudah Bergaul dengan Orang Lain

Mereka yang bisa menerima dirinya sendiri akan memiliki sikap percaya diri yang membuatnya mudah untuk bergaul dengan orang lain.

3. Mampu Menjadi Diri Kita yang Sejati

Diri kita yang sejati adalah diri kita yang tanpa dibuat-buat, apa adanya.

4. Dapat Menertawai Diri Sendiri dengan Mudah

Orang yang bisa menerima keadaan diri, akan mudah menyadari kelemahan dan ketidakmampuannya. Mereka yang terlalu serius dengan dirinya sendiri adalah mereka yang merasa tidak aman.

5. Mampu Menentukan Nasib Sendiri

Mereka akan mampu untuk memilih sendiri jalan mana yang akan dipilih sesuai dengan kata hatinya, bukan karena perkataan dari orang lain. Orang-orang yang terlalu bergantung pada kata-kata orang lain adalah orang yang tidak punya pendirian.

Jadi, apa kita sudah mampu mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita? Jika belum, hal apa yang membuat kita sukar untuk bersyukur?

689 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Meningkatkan Kesadaran Orang Muda Katolik dalam Hidup Menggereja

Misa

Kita semua tahu, perkembangan zaman serta teknologi sekarang ini telah merubah begitu banyak hal.Pengaruhnya juga dirasakan oleh para Orang Muda Katolik (OMK) khususnya di Indonesia. Pengaruh ini ada yang baik sekaligus buruk. Pengaruh baiknya adalah bahwa para orang muda ini dapat membuat ide” kreatif dengan memanfaatkan teknologi yang ada, dapat mengembangkan gereja melalui sarana komunikasi yang semakin canggih, serta sebagai sarana penyebaran Injil.

Namun, di sisi lain ada pengaruh buruk yang juga tak boleh luput dari perhatian. Pengaruh buruk ini dapat berupa berkurangnya frekuensi pertemuan tatap muka, yang bagaimanapun juga tetap penting untuk dilakukan.Sebab meskipun kita dapat berhubungan lewat media sosial seperti Whatsapp, Line, dll namun untuk hal – hal mendesak hal itu tidak bisa dilakukan lewat media sosial.

Perkembangan teknologi juga menyebabkan orang – orang melupakan agama asli mereka. Pesta pora, perjudian, pergaulan bebas dan berbagai aktifitas lainnya telah melunturkan nilai – nilai rohanitas dalam diri mereka yang dalam tahap selanjutnya membuat mereka seperti “menyembah” hal – hal tersebut. Mereka lupa bahwa hal tersebut hanyalah kesemuan belaka, mereka melupakan Kasih yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Hal ini dapat terjadi karena adanya krisis yang melanda hidup mereka akibat hal – hal buruk yang digamblangkan oleh teknologi yang semakin liberal.

Orang Muda Katolik sekarang pun juga telah memberikan sinyal kebosanan terhadap acara – acara yang diselenggarakan oleh gereja. Mereka tidak menganggap bahwa hal itu merupakan acara yang penting. Orang muda sekarang lebih senang untuk mengisi waktu dengan bermain bersama teman – teman sekolah, menonton sinetron, atau melakukan hal – hal lain yang bersifat duniawi. Hal ini jika dibiarkan terus menerus akan memberikan dampak buruk bagi pewartaan Injil yang menjadi salah satu misi utama gereja.

Hal ini pun juga telah membuat keresahan para pemimpin Katolik. Sejak 1997, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melalui Surat Gembala Prapaskah telah menyerukan keprihatinan terhadap rusaknya keadaban publik, khususnya berupa kerusakan moral hampir di segala bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Ini menjadi sesuatu yang harus disikapi secara serius. Kita tentu tidak ingin gereja – gereja di Indonesia menjadi seperti di Eropa yang mana hanya orang – orang lanjut usia saja yang mengikuti misa biasa.Gereja hanya ramai disaat misa besar atau saat ada upacara pembaptisan/ kematian. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat ironis. Tentu kita sebagai generasi penerus tak ingin gereja kita di Indonesia menjadi seperti itu kan? Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?

Dari gereja sendiri, harus lebih aktif lagi untuk menggalakkan acara – acara yang melibatkan kaum muda. Pernyataan ”orang muda hanya bertugas jaga parkir” harus dihilangkan secepat mungkin. Orang muda juga harus berperan dalam struktur kepengurusan gereja dan juga dalam proyek – proyek yang dicanangkan oleh gereja itu sendiri. Dalam hal ini, gereja dapat bekerjasama dengan lingkungan untuk membuat acara – acara yang dapat mewadahi kaum muda untuk berkarya seperti rekoleksi, retret,latihan koor, legio Maria, dll. Diharapkan dengan diselenggarakannya acara – acara tersebut dapat semakin mengaktifkan peran kaum muda di gereja. Selain acara – acara yang bersifat rohaniah seperti di atas gereja juga dapat membuat acara yang bersifat sosial seperti penyuluhan, bakti sosial, maupun latihan kepemimpinan untuk melatih skill serta kepekaan mereka terhadap kondisi sosial yang ada. Bahkan mungkin jika memungkinkan, gereja dapat bekerjasama dengan para keluarga untuk menemukan solusi terbaik bagi putra – putrinya, karena orang tua pasti tahu apa yang disenangi oleh anak – anak mereka yang selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi.

Dari sisi kaum muda itu sendiri, juga jangan acuh tak acuh terhadap acara gereja tersebut. Percuma jika hanya gereja saja yang aktif, tetapi kita sebagai kaum muda tak peduli terhadap hal tersebut. Komunikasi dua arah sangat diperlukan untuk mensinambungkan hal ini agar menjadi lebih baik. Kepengurusan organisasi yang tertata rapi juga dapat lebih mempermudah kinerja pada prakteknya. Hal ini yang masih harus perlu ditingkatkan saat ini. Kita juga harus sadar bahwa kita menjadi ”ujung tombak” pewartaan iman gereja. Jika hal ini tidak dapat tercapai, bukan tidak mungkin akan muncul ketidakharmonisan serta ketidakaturan dalam hidup menggereja, yang pada akhirnya dapat membuat gereja menjadi mati karena kekurangan daya.

Kita ini adalah kaum minoritas, jadi jangan semakin menenggelamkan diri sendiri. Status ini hendaknya membuat kita sadar tentang pentingnya keberadaan kita dalam hidup menggereja. Semoga ke depannya kaum muda ini dapat menjadi orang – orang yang produktif dan dapat menghasilkan sesuatu dari usaha dan kerja keras mereka. Amin!!

Referensi dari https://penyuluh-agama-katolik.blogspot.co.id/2014/02/meningkatkan-minat-orang-muda-katolik.html?m=1

4,620 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini