21 Tahun di Gamping

lampion

Sebelum gue memulai tulisan ini, perkenankanlah anak Jogja yang sering pergi ke Jakarta ini mengganti kata “aku” atau “saya” dengan kata “gue”. Mengapa? Karena matahari terbit dari timur, ya pokoknya nyamannya seperti itu. Tulisan ini benar-benar ditulis dari tangan gue, maksudnya diketik ya. Diperuntukan bagi anak muda tiga belas tahun keatas, karena kalau bayi baca, itu hebat! Jadi, mari kita mulai..

Ini adalah kesaksian gue hidup dua puluh satu tahun di Gamping, mulai dari bayi mami hingga dewasa perkasa. Oke yang terakhir gue ngarang, gue nggak perkasa. Gue hanya seorang kecil yang banyak menghabiskan waktu di kegiatan gereja sekarang ini. Karena jika bicara dahulu, wow dulu gue terhitung jarang sekali ke gereja dan lebih memilih pergi pacaran. Waktu itu gue masih kecil, SMP, SMK. Bayangkan saja masa muda yang harusnya mengenal gereja namun malah main sama pacar. Gue dan pacar berbeda agama, memang sih kami saling menyemangati dalam urusan agama, gue semangati dia dan dia semangati gue. Tapi ternyata cuma mulut gue yang bilang “iya iya”, ditindakan justru tidak.

Semua indah hingga saat pacar ninggalin gue. Gue yang masih ABG (Anak Baru Gundul) polos, di SMK kelas dua merasakan hidup seperti pertunjukan wayang tanpa dalang, bingung, ngga asyik, sepi. Di situ gue sempat kehilangan keyakinan untuk pertama kalinya, setiap sore cuma duduk liatin langit, ngegalau, hingga suatu waktu gue melihat pisau di dapur, karena gue merasa putus asa, akhirnya gue iris, mangga itu. Akhirnya gue bisa menikmati mangga yang baru saja gue petik dari pohon tetangga atau dengan kata lain gue ambil mangga itu tanpa ijin.

Becanda mulu nih dari tadi..
Serius!!!

Haha gue emang beneran berantakan waktu itu setelah ditinggal pacar, terlepas dari itu, gue bisa melewatinya. Yeah walau makan waktu lama banget. Malem itu saat masih kehilangan keyakinan, gue nggak sengaja ngelihat sekilas film Heaven is for Real yang diputar di TV, gue penasaran kok ada Yesus di salah satu bagian film, lalu gue dengan tekad tinggi nan penasaran pun mencoba mencari film itu dan nemu, akhirnya gue tonton sampai habis. Bagian menarik dari film itu adalah gue yang bisa melihat cerita dari anak kecil yang dapat bertemu dengan Yesus di Surga saat dia sedang berada di ruang operasi. Wow.. itu menakjubkan. Patut ditonton pokoknya. Walau mungkin ada orang yang tidak mempercayai cerita itu, setidaknya, itu bisa membawa gue kembali ke gereja.

Gereja Gamping, ya gereja yang banyak mempertemukan gue dengan banyak orang ini memiliki banyak cerita bagi gue. Gue dibaptis saat dewasa dan menerima sakramen penguatan juga saat dewasa di Gereja ini. Dari situ gue mencetuskan teori bahwa sakramen bukan ajang cepet-cepetan, tapi penghayatan.

Kemudian..

Gue bertemu dengan anak-anak kreatif yang menamakan diri mereka sekarang Komsos Gamping (Komisi Komunikasi Sosial), banyak hal yang nyatanya bisa gue kerjakan bersama mereka dan itu menyenangkan.

Tulisan ini bukan tulisan puitis, bukan tulisan untuk meluluhkan hati seseorang, bukan guna menarik perhatian, hanya cerita sebenarnya, apa saja hal menarik yang gue temukan di Gereja Gamping.

Sempat lagi gue menemukan seseorang yang asyik dan gue pikir bisa diandalkan saat gue lagi ada masalah atau bosan di rumah. Sempat gue dan dia ke gereja bareng, jalan berdua, berlarian di luar saat hujan. Tapi ternyata sama seperti kali pertama gue kehilangan keyakinan, gue jatuh lagi. Hingga sempat masuk rumah sakit, wahh apa yang terjadi dengan gue? Haha hanya Tuhan yang tahu.

Lalu setelah keluar dari rumah sakit, gue sering ke Gereja malam-malam hanya untuk berdoa. Menceritakan pada Tuhan, waktu-waktu saat gue senang dan sedih, bertanya pada Tuhan apa yang salah dengan hubungan kami waktu itu. Setelah doa biasanya gue duduk diam, ngeliat langit cerah, atau nggak jarang gue malah melihat hujan turun.

Dan wah, sekarang Komplek Gereja Gamping makin bagus, gue pribadi suka banget berlama-lama di sini. Gedung Gereja makin luas, Gedung Pastoran sekarang jadi tingkat dan makin baik. Gue pikir ini bukan mengenai besar kecilnya gedung Gereja Gamping, hanya tentang merasakan air putih layaknya kopi, yang nikmat dihirup saat pagi atau nyaman disruput saat malam hari.

Gue duduk menatap Taman Doa malam itu, melihat lampu yang ada disebelahnya, lalu kumbang yang terbang hujan-hujanan itu membuyarkan lamunan dan memecah kaca-kaca di mata. Dengan badan yang masih lemas, gue bangun, menghela nafas, dan siap melangkah lagi.

Posting asli: https://www.marsble.com/d/72-21-tahun-di-gamping

2,020 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Tentang dan Sejarah Gereja Santa Maria Assumpta Gamping

Gereja Gamping

Inilah tentang dan sejarah Gereja Santa Maria Assumpta Gamping yang terletah di Gamping, Sleman, Yogyakarta. Pelajari tentang gereja.


Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Gamping terletak di Dusun Gamping Tengah, Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak lebih kurang 5KM sebelah barat pusat Kota Yogyakarta.

Umat Pertama

Pertumbuhan umat Paroki Gamping sangat erat hubungannya dengan Kramaredja, cucu dari Raden Panewu Djajaanggada, abdi dalem Kasultanan Ngayojakarta Hadiningrat yang bekerja sebagai pejuang Gamping. Karena pada saat itu Desa Gamping merupakan pusat produksi batu gamping di mana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai panambang batu gamping. Hal ini menyebabkan desa Gamping dikenal luas di daerah Yogyakarta, Muntilan hingga Magelang.

Kramaredja pada saat itu sering mengantarkan gamping (benda) ke Muntilan kepada Romo Frans van Lith SJ (seorang pastor Belanda berjiwa Jawa) sehingga mempunyai kedekatan dengan yang saat itu sedang mendirikan gedung Kolese Xaverius di Muntilan.

Bendot Djajautama, anak sulung Kramaredja, atas petunjuk ayahnya yang mempunyai kedekatan dengan Romo Frans van Lith SJ mengikuti pendidikan guru. Sewaktu menjadi guru di Indramayu, ia berkenalan dengan Den Mas Djajus, seorang guru yang beragama Katolik berasal dari Solo. Dari situlah ia kemudian mendalami agama Katolik dan dibaptis sekitar tahun 1918.

Setelah dibaptis, Bendot Djajantama membimbing adik-adiknya yaitu Sarwana Bratqaanggada supaya belajar di Normaalschool di Muntilan, dan dibaptis di Muntilan pada tahun 1919. Juga mengarahkan adik perempuannya untuk belajar baca tulis dan bekerja di pabrik cerutu Negresco (sekarang Tarumartani). Dengan cara itulah adik-adiknya dan orangtuanya menjadi Katolik. Kramaredja sendiri dibaptis dengan nama baptis Bartolomeus pada tanggal 10 Nopember 1920 oleh Rm. H. Van Driessche, SJ. Beliaulah yang tercatat menjadi umat pertama di Gamping.

Tumbuhnya Biji Sesawi

Demikianlah umat pertama di Gamping, berkat biji sesawi yang tumbuh dalam Keluarga Kramaredja, iman Kristiani tumbuh pula pada keluarga lain dan menyebar ke desa-desa sekitar Gamping, seperti Banyuraden, MejingOnggobayanPasekan, dan Gancahan.

Berbicara tentang perkembangan iman Kristiani di Gamping ini, selain peran dari Rama Frans van Lith SJ lewat Normaalschool dan Kweekschool di Muntilan, juga Rm. H. Van Driessche, SJ yang mempunyai keahlian dalam berbahasa Jawa. Dan kemudian tahun 1917 mendirikan Standardschool yaitu sekolah bagian orang pribumi di Kumendaman. Mengingat kondisi kesehatan Rm. H. Van Driesssche SJ memburuk, maka Rm. F. Straeter SJ ditugaskan membantu dan meneruskan misi tersebut, selanjutnya beliau menggunakan sekolah-sekolah Kanisius sebagai ujung tombak kerasulan.

Pada tahun 1923, Rm. F. Straeter SJ membuka Volkschool di Mejing, bertempat di kediaman Partadikrama dengan guru Bendot Djajautama dibantu Reksaatmadja.

Ketika umat berjumlah 50 orang, mereka mendapatkan misa sebulan sekali. Lambat laun ketika umat di Gamping berkembang menjadi 100 orang, mereka mendapatkan misa sebanyak dua kali dalam sebulan, bertempat di SD Kanisius Mejing. Akan tetapi pada minggu-minggu biasa sebagian dari mereka harus berjalan kaki ke kota, antara lain ke Gereja Kidulloji, Kumetiran dan Kotabaru, dan Pugeran untuk mengikuti misa.

Perkembangan Umat pada jaman penjajahan Jepang

Tanggal 8 Maret 1942 Jepang menguasai seluruh pelosok Nusantara. Masa pendudukan Jepang ini merupakan masa-masa sulit bagi perkembangan umat. Hal itu disebabkan gereja Katolik dilarang untuk memberikan pendidikan dan pengajaran Katolik. Banyak imam, biarawan maupun awam ditangkap dan dipenjarakan.

Pada tahun 1943, umat paroki Gamping berjumlah sekitar 150 orang. Rama F. Straeter SJ mungkin telah menyadari adanya malapetaka yang akan terjadi, kemudian meminta Jacobus Mertadikrama dari Gamping Lor agar mengamankan altar dan peralatan misa dari sekolah ke rumah.

Tahun 1944 banyak gereja, biara, rumah sakit dan sekolah Katolik dirampas Jepang untuk dijadikan kantor pemerintah, penjara, atau markas militer. Berhubung dengan itu maka penyelenggaraan misa dilakukan di rumah Martadikrama hingga tahun 1948. Setelah ia meninggal tahun 1945, peralatan dan pakaian misa disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka.

Jaman Revolusi Fisik

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar Negara. Paroki Kotabaru dan gereja-gereja lainnya dibuka kembali dengan semangat baru. Di Kumetiran, meski peralatan misa tidak ada, akan tetapi jemaat yang telah terbentuk tidak bubar. Pada tanggal 31 Oktober 1945, umat di Kumetiran membentuk paroki sendiri dengan nama Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela, dan Gamping menjadi salah satu stasi dari Paroki Kumetiran. Sejak saat itu pula dibentuk pengurus persiapan Paroki Gamping, dengan tugas mengelola umatnya agar lebih berkembang. Stasi Gamping dibagi menjadi wilayah Gamping, Gancahan, Nyamplung, dan Mejing.

Angin Perubahan tidak berlangsung lama, serangan-serangan Belanda mengakibatkan pemerintah RI semakin sempit, dan pada tahun 1946 Ibukota RI dipindah ke Yogyakarta. Dikuasainya Yogyakarta oleh Belanda, turut mempengaruhi keberadaan umat di Gamping. Tentara Belanda membuat markas pertahanannya di Gamping Kidul, Pasekan dan Klangon. Akibat adanya peperangan tersebut peralatan misa yang saat itu disimpan di rumah Bonifacius Tjaraka selalu berpindah-pindah tempat. Dengan bantuan beberapa teman, Bonifacius Tjaraka mengungsikan pakaian dan peralatan misa ke tempat Mudji Mudjosusanto di Gejawan. Sedangkan altar dibawa oleh beberapa pemuda ke rumah Prawirasukardja di Nyamplung. Dengan demikian perayaan Ekaristi kemudian diadakan di Nyamplung, dipimpin oleh Rm. A. Pudjahandaja, Pr.

Setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia pada tahun 1949, misa diselenggarakan di kediaman Jacobus Mertadikrama. Seiring dengan pertambahan umat, membuat rumah Mertadikrama tidak dapat menampung lagi. Melihat hal tersebut Cornelius Muljata selaku ketua Stasi Gamping berbicara dengan Raden Wedono Sastrawanadardja yang memiliki rumah besar. Walau pada saat itu beliau belum menjadi pemeluk Katolik, tetapi ia memperbolehkan untuk dipakai melaksanakan Ekaristi. Hal ini terjadi mulai dari tahun 1950 hingga berdirinya Gereja Santa Maria Assumpta Gamping pada tahun 1961. Kemudian salah seorang putra Raden Wedono Sastrawanadardja yaitu Mgr. Blasius Pujaraharja menjadi Uskup Ketapang.

Perkembangan umat di Gamping sangat subur, sehingga umat mendesak pastor Paroki Kumetiran untuk mempersiapkan berdirinya gereja di Gamping. Berhubung status Gamping belum tegas, apakah menjadi bagian dari paroki Kotabaru atau paroki Kumetiran, maka Rm. Alexander Sandiwan Brata, Pr pada tahun 1954 menulis surat ke Vikariat Apostolik Semarang. Surat tadi berisi tentang penegasan status bahwa Gamping memilih menjadi bagian dari paroki Kumetiran daripada paroki Kotabaru, melihat dari keeratan hubungan Gamping – Kumetiran dan kebiasaan umat Gamping beribadat ke gereja Kumetiran.

Setelah terjadinya penegasan tersebut, pengurus Stasi Gamping membentuk Panitia Persiapan Pendirian Gereja, yang bertugas untuk mengusahakan tanah dan pendirian gereja dan pastoran di Gamping. Kepanitiaan tersebut terdiri atas: Petrus Honosudjatmo, Bonifacius Tjaraka, Hardjasuprapta, Subardi, Suhardi dengan pelindung Rm. Alexander Sandiwa Brata, Pr.

Seraya mengurus pendirian gereja – pastoran – sekolah, Panitia Persiapan Pendirian Gereja berupaya mencari tanah yang cocok untuk lokasi gereja – pastoran. Setelah beberapa waktu bekerja, Panitia memberi laporan berupa pilihan lokasi kepada Rm. Alexander Sandiwan Brata, Pr.

Alternatif pilihan lokasi rencana gereja:

  • Tanah di sebelah utara Kantor Pos Gamping;
  • Tanah bekas Kawedanan di Delingsari;
  • Tanah dengan bangunan kosong milik Rd. Wedana Pradjanarmada, Wedana Wates, Kulon Progo;

Setelah melewati berbagai pertimbangan, maka pilihan jatuh kepada tanah Rd. Wedana Pradjanarmada. Negosiasi tanah sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, mulai dari tahun 1953 dan akhirya berkat kegigihan Panitia pada tahun 1957 tanah tersebut bisa dibeli dengan harga Rp. 725,- /m2.

Berhubung tanah yang dibeli Panitia kurang memadai luasnya untuk komplek gereja dan pastoran, maka Petrus Honosudjatmo meminta Petrus Wakijahadisunardja untuk merelakan tanah miliknya. Dengan cara itu terjadilah lahan gereja seperti saat ini, yaitu tanah seluas 3.050m2, berbentuk segitiga siku-siku, dengan jalan raya depan gereja pada sisi miringnya.

Mgr. Albertus Soegijapranata SJ yang dikenal memiliki wawasan jauh ke depan, dalam kesempatan menerimakan sakramen krisma di Gamping kepada 50 orang umat Gamping pada tanggal 14 September 1956 berkata:

Para sedulur, aja padha cilik ing ati. Sapa ngerti yen ing tembe buri bakal ana gereja mundhuk-mundhuk teka ana ing Gamping kene.

Dengan arti: “Saudara sekalian, jangan kecil hati, siapa tahu besok akan ada gereja tiba-tiba muncul di Gamping sini.

Pernyataan beliau tersebut merupakan kabar gembira yang membuat hati umat di Gamping berkobar untuk mendirikan sebuah gereja.

Setelah tanah diperoleh, Panitia kemudian mengurus pengesahan hak kepemilikan atas tanah yang dilakukan dengan membuat Yayasan berbadan Hukum PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN ROOMS KATOLIK DI WILAYAH GEREJA SANTA MARIA DIANGKAT KE SURGA DENGAN MULIA DI GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA. Yayasan ini disahkan pada tanggal 9 September 1958, di depan Notaris Raden Mas Soeprapto di Semarang dengan susunan pengurus:

Ketua: Romo G. Susanto Utojo, Pr

Sekretaris: Petrus Honosudjatmo, Fransiscus Slamet Hartono

Dengan adanya Yayasan tersebut, maka Gamping merupakan paroki pertama Paroki Kumetiran yang mampu mempunyai hak atas tanah yang dibeli. Kepemilikian hak atas tanah tersebut lebih kuat dengan adanya sertifikat dari Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman, yang terbit pada tahun 1994.

Nama pelindung “Maria Assumpta” diusulkan oleh Petrus Honosudjatmo, berangkat dari pengalaman yang tidak dapat ia lupakan, saat tertembak dalam peperangan melawan Belanda pada tanggal 19 Januari 1949. Dalam keadaan tak sadarkan diri karena kekurangan darah, ia seperti masuk ke dalam suasana serba gelap. Dalam suasana itu ia merasa ditemui oleh ibundanya Maria Pawirasukardja yang telah meninggal 13 November 1945. Ibu berkata, bahwa Tuhan akan mengabulkan permohonan bila dilaksanakan dengan perantaraan ”SANG KENYA KANG PINUNDHUT MENYANG SWARGA, PENUH KAMULYAN”. P. Honosudjatmo kemudian mengajukan permohonan agar selamat dari maut dan umur panjang. Setelah 5 bulan dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih ia kemudian sembuh.

Usulan nama pelindung ”Sang Kenya Kang Pinundhut Menyang Swarga Penuh Kamulyan” disambut oleh Rm. G. Susanto Utojo, Pr dan Rm. Alexander Sandiwan Brata, Pr dengan gembira, bahkan menerangkan bahwa Paus Pius XII melalui Konstitusi Apostolik ”Munificentissimus Deus” 1 November 1950 menegaskan bahwa keyakinan akan Maria Diangkat Ke Surga Dengan Mulia (”SANCTA MARIA ASSUMPTA”) masuk dalam jajaran dogma, dengan tanggal 15 Agustus sebagai hari pestanya.

Setelah memiliki tanah dan hak kepemilikan beres, Petrus Honosudjatmo menghubungi Vikariat Apostolik Semarang bahwa pembangunan gereja dimulai. Ketika menghadap, ia membawa gambar rencana gereja hasil karya Victorianus Prajitnadirdja lengkap dengan anggarannya. Rm. B. Schouten SJ, Sekretaris Vikariat Apostolik Semarang, menegaskan bahwa gambar perlu diperiksa dan disempurnakan oleh bagian pembangunan Keuskupan Agung Semarang (KAS), sedang biaya pembangunan menjadi tanggungjawab Vikariat Apostolik Semarang.

Pada tahun 1959, Rm. B. Schouten SJ mengajak Rm. C. Romments SJ, yang saat itu menjadi Pastor Paroki Pakem datang meninjau lapangan. Rm. B. Kieser SJ menerangkan bahwa Rm. C. Rommens SJ adalah imam yang memperkenalkan model Gereja konstruksi kayu. Oleh karena itu, bentuk bangunan gereja Gamping mirip dengan bentuk bangunan gereja Pakem.

Setelah semua dipersiapkan di bawah arahan Panitia Gereja, umat dari kring Nyamplung, Gancahan, Mejing, dan Gamping bekerja bakti membersihkan lahan dan meratakan tanah seluas 3.050m2 dengan ketinggian 1-4.5m. Kemudian mereka menumpulkan batu dan pasir serta membangun pagar penahan tanah urug dan bangunan.

Petrus Honosudjatmo yang saat itu bekerja di Perusahaan Garuda Indonesian Airways mengerahkan truk PT. JUSUP untuk mengangkut baru, tanah, pasir atau apa pun yang dikumpulkan umat. Pembangunan berjalan terus, namun ada beberapa kendala, antara lain:

  • Menunggu kusen-kusen yang dikerjakan di Semarang;
  • Kedatangan lem perekat yang dipesan dari Belanda;
  • Salahnya pemasangan tiang yang mengakibatkan pembongkaran genteng yang hampir seluruhnya terpasang.
  • Ambrolnya pasangan baru penahan tanah urug karena air hujan.

Peletakan batu pertama, tanda dimulainya pembangunan gereja Gamping, dilakukan oleh Rm. Thomas Hardjawarsito Pr awal tahun 1960.

Rm. Henricus van Voorst tot Voorst SJ, mantan ekonom Keuskupan Agung Semarang, memberi keterangan bahwa gereja Gamping itu bisa diibaratkan ”GEREJA TIBAN”. Maksudnya gambar konstruksi, penyediaan, dan pengerjaan dilakukan di Semarang atau tempat lain, setelah selesai kemudian dibawa ke Gamping untuk dipasang. Semuanya itu dikerjakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Apostolik Semarang.

Bapak G. Gunarto, mantan Kepala Bagian Pertanahan KAS, menambah penjelasan bahwa gambar gereja Gamping dikerjakan oleh Oei Ging Sing dari Semarang. Kayu jati yang digunakan disediakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Semarang di bawah pimpinan Br. J. Haeken SJ. Pelaksanaan pembangunan dikerjakan oleh Bagian Pembangunan Vikariat Semarang di bawah pimpinan Tjan Djie Tong. Adapun pelaksana di Gamping antara lain Petrus Sunarjo dari Semarang. Rm. B. Schouten SJ berkunjung ke Gamping paling tidak dua minggu sekali. Luas bangunan 520m2 dengan ukuran 13x40m.

Ada beberapa hal yang istimewa dari gereja Gamping yang khas, yaitu:

  • Semua jendela tidak ada yang berbentuk persegi, tetapi bulat dan trapezium.
  • Tiang kayu sebanyak 12 batang. Per batang merupakan beberapa papan yang direkat dengan lem dan ditahan dengan baut sehingga menjadi sangat kuat.
  • Dinding belakang altar dibuat dengan gaya semacam kayon atau pohon yang menggambarkan pohon kehidupan, diambil dari kisah Wayang Purwa.
  • Lengkung kemenangan di depan altar dibuat dengan gaya burung Berli.
  • Balkon belakang dibuat dari tangga pesawat terbang dan digambari motif kain ”parang barong atau parang rusak”.

Pembangunan gereja dianggap selesai meski tidak dilengkapi dengan altar, mimbar, kursi imam, kursi misdinar dan dhingklik (semacam kursi kecil) umat. Semua perlengkapan kemudian dilakukan dengan cara swadaya umat atau mencari bantuan dari paroki lain.

Setelah dianggap selesai, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ kemudian hadir memberkati gereja pada tanggal 24 Desember 1961 pukul 07.00 WOB. Selesai pembekatan, diadakan ramah tamah sederhana antara umat dengan Bapak Uskup dan dihadiri oleh Penewu Pradjaatmaka dan Raden Wedana Pradjanarmada, pemilik tanah gereja sebelumnya.

Sejak saat itu perayaan misa pindah dari rumah Raden Wedana Sastrawanadirja ke gereja hingga saat ini.

Jaman Persiapan Menuju Paroki

Pastor yang bertugas: Rm. Benardus Wonosunarjo, SJ (1961-1970); Rm. Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ (1963-1969); Rm. Bernardinus A. Sadji OFM (1974-1976); Rm. F. Sutojo OFM (1976-1978).

Rm. Benardus Wonosunarjo SJ (berkarya di Gamping 1961-1970)

Setelah memiliki gereja, umat suka menyatakan diri sebagai umat Paroki Gamping, meski sebenarnya status masih tingkat stasi di bawah koordinasi Paroki Kumetiran. Reksa rohani terlebih misa dilayani para pastor Paroki Kumetiran sebulan 2 kali, Minggu II dan Minggu IV dengan bahasa Jawa. Pastor yang sering melayani di Gamping antara lain Rm. Bernardus Wonosunarja SJ yang biasa dipanggil Rm. Liem.

Rm. Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ (berkarya di Gamping 1963-1969). Umat Gamping mengenang Rm. Petrus Chrysologus Soeharso Soetopanitra SJ sebagai imam sandal jepit, suka mengendarai sepeda butut dan berjubah kusam. Rokoknya tembakau lintingan. Bila berkunjung ke rumah umat suka mempir ke dapur untuk meminta intip (kerak nasi).

Rm. Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra juga dikenal sebagai pencinta budaya Jawa, terutama pertunjukan wayang. Melalui cara ini beliau dapat bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Kemudian pada tahun 1967 beliau pernah nanggap wayang kulit yang dimainkan oleh Ki Dalang Suparman. Setelah punya pastoran, beliau memasang wayang kayon (gunungan) Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai simbol pelayanan dan pengabdian.

Sejak adanya pastoran, Rm. Petrus Chrysologus Soeharso Soetapanitra SJ, sering menginap di Gamping, untuk mulai mengadakan misa di lingkungan-lingkungan. Beliau menata Gamping dalam 7 kring (lingkungan) yaitu: Gamping, Gesikan, Mejing, Nyamplung, Onggobayan, Gancahan d an Sumber Gamol – Gejawan – Paseban. Agar keadaan wilayah mudah dibaca, beliau berintis adanya peta stasi.

Rm. Bernardinus A. Sadji OFM (berkarya di Gamping 1974-1976)

Agaknya beberapa umat kurang begitu bisa menerima kehadiran beliau sebagai gembala paroki dengan alasan masih terlalu muda dan belum banyak pengalaman, sehinga dirasa kurang berwibawa. Akibat dari sikap itu, ”caos dhahar” sering terlantara, maka beliau sering ke umat yang menerima baik untuk meminta makan malam. Dan pada tahun 1976 beliau pindah ke Jakarta.

Rm. F. Sutoyo OFM (berkarya di Gamping 1976-1978)

Beliau menggantikan Rm. Bernardinus A. Sadji OFM sampai tahun 1978. Umat mengenang Rm. F. Sutoyo OFM sebagai rama (baca: romo) yang menjunjung tinggi disiplin. Bila membuat janji, harus ditepati, meleset sediikit dari waktu yang ditetapkan, maka tidak akan dilayani.

Berdirinya Paroki

Rm. Constantinus Harsasuwita SJ (berkarya di Gamping 1978-1988)

Rm. Constantinus Harsasuwita SJ adalah imam yang membuat Stasi Gamping berdiri menjadi paroki. Ketika mulai berkarya di Gamping, beliau sudah berusia senja serta sering sakit. Umat mengenang beliau sebagai imam yang keras pendirian, dogmatis dalam ajaran dan pengarahan, suka menyanyi dan merayakan misa bahasa Latin. Paroki dikelola dengan mengutamakan hidup doa, kesalehan dan pelayanan sakramen. Aspirasi umat yang berkaitan dengan perubahan dan tuntunan zaman boleh dikata kurang mendapat tempat.

Beliau dikenang juga sebagai imam yang hampir tidak pernah khotbah. Khotbah biasaya dilakukan oleh awam, baik dari luar atau dari dalam paroki. Cintanya pada Gamping, mendorong beliau menambah ruang pastoran, tidak mau pindah, dan ingin bila meninggal dimakamkan di Gamping.

Rm. Clemens Budiarto SJ (berkarya di Gamping 1988-1991)

Sejak Rm. Constantinus Harsasuwita SJ istirahat ei Wisma Emmaus, Rm. Clemens Budiarto SJ diangkat menjadi Pastor Kepala Paroki Gamping mulai dari tahun 1988. Beliau dibantu oleh Br. Nicasius Haryono SJ. Dengan kehadiran beliau, Paroki Gamping mulai mengadakan pembenahan. Dengan dibantu oleh Rm. Ignatius Madya Utama SJ selama satu semester pada tahun 1991, Paroki Gamping mencoba menerapkan konsep “Gereja Partisipatoris” dengan tekanan hakikat Gereja sebagai umat Allah yang terlibat partisipasinya. Dalam praksisnya, konsep itu dituangkan dengan merinci paroi dalam “stasi” sebagai satuan wilayah koordinasi dan kring sebagai satuan kecil himpunan umat yang tertempat tinggal berdekatan.

Selanjutnya Rm. Clemens Budiarto SJ mengubah pembagian paroki yang tadinya 7 kring, menjadi 5 stasi (wilayah) dengan 15 kring (lingkungan). Dalam rangka membuat lingkungan menjadi basis kegiatan umat, beliau menghimpun mereka dengan pelayanan misa model selapanan (rotasi 35 hari) dan mendorong mereka berhimpun sendiri dengan mengadakan kegiatan seperti sembahyangan keluarga, rapat, arisan, dan koor. Berhubung Stasi Gancahan, Gesikan, dan Balecatur telah mempunyai kapel maka mereka mendapat pelayanan misa sebulan sekali.

Selain memberi arah dan menata wilayah, Rm. Clemens Budiarto SJ juga membuat struktur paroki yang dituangkan dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan paroki. Beliau juga memperhatikan kesenian Jawa antara lain dengan membeli gamelan dan menghidupkan “macapat” yang kemudian diintegrasikan dalam liturgi.

Rm. Johanes Abdipranata SJ (berkarya di Gamping 1992-1993)

Rm. Johanes Abdipranata SJ berkarya di Gamping cukup singkat, namun melekata di hati umat, terlebih karena khotbah yang disampaikan bermutu dan sungguh dipersiapkan. Beliau dikenal amat disiplin, hati-hati dalam berkata maupun berbuat, akrab dan dekat dengan umat juga dengan generasi muda.

Karya peninggalan beliau seperti menggalakkan sarasehan, membuat ruang pertemuan dan sekretariat paroki. Masih banyak rencana yang akan dikerjakan, namun beliau harus segera meninggalkan Paroki Gamping untuk bertugas sebagai Socius Magister Novis Serikat Yesus di Girisonta.

Rm. Johanes Mardiwidayat SJ (berkarya di Gamping 1993-1997)

Rm. Johanes Mardiwidayat SJ hadir dengan tugas mempersiapkan paroki yang dikelola oleh Serikat Yesus untuk diserahkan kepada pihak Keuskupan Agung Semarang. Tugas itu beliau urai dalam empar prioritas:

  1. Pembenahan struktur paroki;
  2. Upaya membuat paroki menjadi swadana dan mandiri;

Menyempurnakan dengan pilar-pilar yaitu Liturgia, Kerigma, Koinonia, Diakonia, dan Marturia (kesaksian). Pilar-pilar itu kemudian ditopang dengan Pembangunan dan Dana-Usaha.

Dalam bidang usaha dana beliau merintis pendirian Koperasi Cinta Kasih (KCK) dan Tabungan Cinta Kasih (TCK) dengan tujuan untuk rencana Renovasi Gereja ke depan. Juga membuat Forum Sarasehan Rebo Pisanan.

Rm. Christophorus Sutrasno Purwanto Pr (berkarya di Gamping 1997-2001)

Rm. Christophorus Sutrasno Purwanto Pr adalah rama (baca: romo) diosesan yang pertama bertugas di Paroki Gamping setelah pengelolaannya diserahkan dari Ordo Yesuit. Dalam perkembangannya beliau mendorong blok-blok di lingkungan untuk iman umat. Juga mendorong sarasehan-sarasehan di tingkat paroki, wilayah, maupun lingkungan.

Rm. Christophorus Sutrasno Purwanto Pr juga merealisasikan pembelian tanah sebelah selatan gereja yang saat ini digunakan untuk area parkir kendaraan. Pada tahun 2001 beliau mengadakan peringatan Pesta Nama ke – 40 tahun bersamaan dengan Krisma. Pada puncak perayaan Pesta Nama Gereja Gamping menghadirkan Bupati Sleman saat itu, Ibnu Subiyanto.

Rm. Yakobus Winarto Widyosumarto Pr (berkarya di Gamping 2001-2007)

Rm. Yakobus Winarto Widyosumarto Pr dikenal dekat dengan umat, menerapkan pelayanan murah hati sehingga sering disebut “rama misa”. Prinsip yang dijalankan adalah pembangunan umat paroki sebagai gereja kecil.

Semasa berkarya di Gamping telah memekarkan lingkungan di Wilayah Brayat Minulya Balecatur menjadi 6 (enam) lingkungan, yaitu dengan bertambahnya Lingkungan Santa Margaretha Gejawan Indah Puri. Di akhir masa karyanya di paroki Gamping memekarkan Wilayah Santo Aloysius Gonzaga dari 2 (dua) lingkungan menjadi 3 (tiga) lingkungan dengan bertambahnya Lingkungan Santa Veronika Bantulan.

Setelah gempa bumi melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006, maka tugas yang paling berat adalah pembangunan kembali fisik gereja dan pastoran. Setelah perbaikan gereja 90% terselesaikan, beliau digantikan oleh Rm. Fransiskus Asisi Suntoro Pr mulai 15 Juli 2007.

Rm. Fransiskus Asisi Suntoro, Pr (berkarya di Gamping 2007-2012)

Romo Fransiskus Asisi Suntoro, Pr berkarya di Gamping dari 2007-2012. Pada awal karya pastoralnya dilakukan pendisiplinan waktu misa dan kesiapan pengurus lingkungan menerima misa lingkungan. Misa hari Minggu selalu diawali tepat waktu atau bahkan sedikit diajukan. Ketika lingkungan menerima misa lingkungan, pamong lingkungan dimohon mepersiapkan secara baik. Tiap lingkungan diwajibkan memiliki buku-buku Tatacara Perayaan Ekaristi dan bacaan harian baik bahasa Jawa maupun Indonesia.

Di samping pembenahan dalam bidang peribadatan, dilakukan pula pembelajaran iman dalam ekonomi, berupa kegiatan ekonomi yang didasari semangat iman. Gerakan ini dikenal dengan Credit Union (CU). Semangat berbagi berkat bagi sesama yang diprogramkan Keuskupan Agung Semarang juga diaktifkan di paroki Gamping. Pada homili Natal 2009, disisipkan  salah satu cara berbagi berkat, yaitu setiap keluarga menyisihkan Rp. 100,- per hari dari uang belanja  untuk dikelola bersama. Pada saat itu paroki sedang memproses pembelian 2 bidang tanah di selatan pastoran seluas 669m2. Sebagian dana pembelian diperoleh dari hibah dan pinjaman keuskupan sebanyak Rp. 150 juta. Harapan awalnya adalah untuk mengangsur pinjaman ke Keuskupan. Pada perkembangannya ada donatur yang menyumbang sebanyak 20.000 mata uang  Singapura yang dirupiahkan sebesar Rp. 130.000.000,- . Paroki menyanggupkan diri mengangsur sebesar Rp. 2 juta per bulan, dan dianggarkan dari anggaran belanja paroki. Gladi rohani sebagai ujud syukur ini dinamai Koin Maria Assumpta, yang dalam perkembangannya dikelola oleh Tim Kerja Karitatif untuk membantu keluarga-keluarga yang masuk kategori KLMTD.

Hal lain yang dilakukan bersama pengurus Dewan Paroki adalah proses pemindahan atas nama semua tanah-tanah dari perseorangan ke atas nama PGPM. Ada 7 bidang tanah yang diproses yaitu 4 bidang di selatan gereja, 2 di Gancahan dan 1 bidang di Ngrenak Kidul.

Dalam rangka optimalisasi pelayanan kepada umat lingkungan, telah dimekarkan lingkungan Santa Brigitta Gesikan II menjadi 3 lingkungan baru, yaitu lingkungan Lucia Ngawen, lingkungan Fransiskus Asisi Palem Hijau dan lingkungan Santo Hieronimus Gesikan II. Secara resmi pemekaran dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2010.

Disadari bahwa bangunan fisik pastoran dan panti paroki merupakan bangunan tak terkonsep, maka dibentuklah Panitia Pembangunan Pastoran dan Panti Paroki. Panitia bertugas membuat  master plan kawasan gereja, membuat perancangan bangunan dan pelaksanaannya. Ketua Panitia dipercayakan  kepada Bapak Antonius Anwar. Panitia telah membuat 3 alternatif rencana induk, dan telah didiskusikan dengan Tim Khusus dari Keuskupan Agung Semarang, dan disetujui alternatif 3.

Untuk pelayanan persiapan perkawinan, telah dilaksanakan kursus persiapan perkawinan oleh Tim Kerja Pendampingan Keluarga pada bulan Juni 2011, diikuti calon pasangan dari dalam dan luar paroki Gamping.

Selanjutnya berdasar prasasti sederhana berupa batu yang dipasang di tembok utara gereja, bahwa paroki Gamping berdiri pada tanggal 24 Desember 1961, dengan pelindung Santa Maria Assumpta, maka pada hari Minggu 14 Agustus 2011 telah dilangsungkan Misa puncak Pesta Emas paroki Gamping, dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Semarang  Mgr. Johannes Pujasumarta.

Romo Robertus Yuni Triwibowo, Pr (berkarya di Gamping 2012 –2014)

Pada pertengahan tahun 2012 romo Fransiskus Asisi Suntoro Pr ditugaskan di Paroki Maria Diangkat ke Surga Palur Surakarta dan digantikan oleh romo Robertus Yuni Triwibowo Pr setelah beliau mengakhiri tugas di paroki Pugeran Yogyakarta. Kehadiran romo Robertus Yuni Triwibowo Pr di paroki Santa Maria Assumpta Gamping disambut umat dengan antusias. Umat marasakan nuansa yang berbeda karena usia romo pengganti yang masih sangat muda, dengan keahlian merangkai kata di luar perkiraan umat serta senang melantunkan lagu rohani dalam misa dengan cengkok yang sedikit berbeda.

Kehadiran romo Robertus Yuni Triwibowo Pr di paroki Santa Maria Assumpta Gamping diawali dengan peletakan dasar manajemen pengelolaan paroki yang lebih modern, yaitu manajemen berbasis data. Artinya semua gerak langkah diawali dengan memahami lebih dahulu profil umat dan memperhatikan keluhan dan kebutuhan umat. Langkah ini diwujudkan dengan melakukan perjalanan keliling paroki dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Langkah konkret dari hasil keliling adalah data kasar tentang kebutuhan dan keinginan umat. Aturan atau undang undang yang telah disusun dan ditetapkan di paroki sejak 2008 berupa Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP) gereja Santa Maria Assumpta Gamping ditegakkan. Aturan dasar inilah yang dipegang teguh dalam membentuk Dewan Paroki baru yang kebetulan bersamaan dengan pergantian pastur paroki, yaitu meletakkan kembali prinsip utama dalam tata penggembalaan melalui enam bidang dalam Dewan Harian yang semula hanya ditangani oleh tiga bidang.

Semua pendapatan keuangan yang diperoleh dari lingkup gereja harus diadministrasikan dengan benar dan masuk sebagai pemasukan gereja termasuk di dalamnya pendapatan parkir. Selama periode sebelumnya, dana pemasukan dari kegiatan parkir tidak ada pelaporan dan pertanggungjawabanya karena dikelola Orang Muda Katolik (OMK) paroki. Perubahan tersebut diperkuat dengan pembukuan yang lebih transparan. Tata kelola administrasi dan keuangan hingga hari ini belum dapat dikatakan selesai tuntas, masih terdapat beberapa kekurangan. Misalnya masih terdapat rekening yang bukan atas nama Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM).

Tata Penggembalaan diwarnai perubahan yang sangat signifikan, yaitu semakin banyak umat yang terlibat dalam aneka macam kegiatan gereja sehingga gedung gereja tidak pernah sepi dengan kegiatan. Inilah buah yang dapat dipetik dari penyertaan begitu banyak umat dalam kepengurusan Dewan Paroki. Organisasi yang gemuk bukanlah identik dengan kesulitan, namun menjadi berkah karena gereja semakin hidup dan berkembang.

Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB) disusun sesuai standar Keuskupan Agung Semarang (programasi) yang juga dikirimkan ke Keuskupan Agung Semarang. Pada masa inilah dimulai pula pengajuan permohonan bantuan pembiayaan kegiatan kepada Keuskupan Agung Semarang, meskipun secara umum terjadi perbaikan pendapatan. Bantuan pembiayaan program sangat membantu paroki, sehingga melalui semangat berbagi inilah umat se paroki merasakan sebagai bagian dari Keuskupan Agung Semarang. Data digunakan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan, evaluasi, dan tindak lanjut perbaikan program. Data aspirasi umat dan survey potensi ekonomi umat sangat membantu dalam perencanaan dan pembuatan RAPB dan programasi. Data yang terkumpul juga dimanfaatkan oleh banyak bidang untuk merencanakan dan membuat program pelatihan yang berguna bagi umat, terutama dalam kaitannya dengan perbaikan ekonomi umat.

Kekuatan koin Maria Assumpta dan dukungan banyak umat sangat membantu upaya perbaikan ekonomi umat. Di samping itu, Bidang Pelayanan Kemasyarakatan menyusun dan menyebarluaskan buku Pedoman Pengelolaan Dana Papa Miskin untuk meningkatkan transparansi dan sebagai panduan pengelolaan dan penggunaanya untuk membantu keluarga dan umat yang termasuk kategori KLMTD. Pada masa ini pula muncul beberapa paguyuban baru. Apresiasi dan dukungan kepada paguyuban memunculkan aneka macam kegiatan. Mulai tahun ….. pelayanan pastoral dilayani oleh 2 orang Pastor, dengan ditugaskannya romo Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr.

Romo Yanuarius Bambang Triantoro, Pr (2014 – 2016)

Romo Yanuarius Bambang Triantoro Pr mulai bekerja sebagai Pastor Kepala di paroki Gamping sejak tanggal 14 Agustus 2014 sampai 15 September 2016, menggantikan Romo Robertus Yuni Triwibowo, Pr. Dalam menjalankan tugas sebagai Pastor Kepala, Romo Yanuarius Bambang Triantoro, Pr dibantu oleh romo Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr. Sejak …. romo Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr.  dipindah tugas sebagai Pastor mahasiswa di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Sebagai pengganti beliau adalah Romo Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr. Romo Merdi tidak tinggal di pastoran Gamping, tetapi beliau membantu memimpin misa kudus di hari Minggu. Pada tanggal …. Romo Merdi diganti oleh romo Martinus Suharyanta, Pr, sebagai pastor pembantu. Beliau tinggal di pastoran Gamping.

Beberapa hal yang perlu dicatat selama Romo Yanuarius Bambang Triantoro Pr, berkarya di paroki Gamping, antara lain Pelibatan umat dan lingkungan dalam hidup berparoki, Pelayanan kunjungan Romo ke lingkungan, Renovasi, penambahan dan pengembangan gedung gereja, Pemindahan dan pembangunan gedung Sekolah Dasar Kanisius Gamping, Penambahan Bidang Pendidikan dan Bidang Kesehatan, Penambahan Tim Kerja Pangruktiloyo dalam Bidang Pelayanan, Pengaktifan Forum para Ketua Lingkungan, Pelayanan misa berkatan Jenazah umat, Pelayanan misa mingguan di Kapel Gesikan dan misa harian dan mingguan di kapel Gancahan per 1 Januari 2015, Pembelian tanah oleh paroki seluas 600 m2 untuk lahan parkir di wilayah Gesikan,  Pelibatan masyarakat di sekitar gereja untuk berpartisipasi dalam setiap perayaan ekaristi, Pembelian seperangkat gamelan jawa, dan tumbuhnya paguyuban kesenian Kethoprak Tresna Sejati dari umat.

Sebagai salah satu bentuk partisipasi umat dan lingkungan dalam hidup berparoki di Gamping adalah dukungan moral dan material terhadap renovasi dan pengembangan panti umat. Bentuk partisipasi tersebut adalah tugas jaga keamanan kawasan gereja oleh lingkungan, penyediaan konsumsi bagi tenaga kerja, bantuan dana, bantuan tenaga kerja bakti dan doa.

Bentuk kunjungan Romo ke lingkungan adalah misa atau sarasehan, disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan.

Renovasi dan pengembangan gedung gereja diperlukan untuk memberikan pelayanan lebih baik kepada umat. Kegiatan renovasi meliputi penggantian atap gereja dari genteng menjadi multi-proof dan plafon. Penambahan yang dilakukan antara lain penambahan partisi fleksibel dari kayu jati, ornament peristiwa jalan salib dari simbul orang Yahudi menjadi simbul wayang, ornament gambar para suci pelindung lingkungan, lampu-lampu artistic, dingklik umat, backdrop panti imam, gudang di bawah tanah dan pintu-pintu depan. Pengembangan gedung gereja berupa penambahan sayap utara dan selatan,sehingga daya tampungnya bertambah.

Gedung SD Kanisius Gamping  terletak di sebelah utara gedung gereja. Sesuai dengan perkembangan jumlah umat yang mengikuti ekaristi terutama pada hari-hari besar, diperlukan area yang mencukupi. Untuk maksud tersebut, gedung SD Kanisius Gamping dipindah ke sebelah selatan pastoran. Lokasi bekas SD ditata ulang untuk keperluan penyediaan panti umat dan parkir harian. Gedung baru SD Kanisius dibuat berlantai 2 demi efisiensi lahan. Gedung baru SD Kanisius secara resmi digunakan sejak tanggal …..

Berdasar pengalaman tumbuh dan kembangnya iman umat pada waktu yang lalu, bahwa melalui pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bagus mengakibatkan banyak orang tertarik dan menjadi Kristen, maka diperlukan penyegaran kembali bentuk pelayanan itu di masa kini. Pelayanan pendidikan dan kesehatan yang baik bagi umat dan masyarakat, diharapkan dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang cerdas dan sehat, beriman kokoh, serta mampu sebagai garam dan terang dunia.

Sebagian besar umat paroki Gamping adalah petani atau tenaga kerja yang tidak mendapatkan penghasilan tetap tiap bulannya. Untuk menumbuhkan semangat peduli dan berbagi, terutama ketika ada anggota keluarga ada yang meninggal, maka diperlukan tim kerja Pangruktilaya. Tim Kerja ini bertugas membuat rancangan kerja terkait dengan pangruktilaya, mengelola dana dan menyalurkan dana kepada umat yang memerlukan. Peserta paguyuban pangruktilaya diwajibkan membayar uang …. dan iuran bulanan.

Secara kelembagaan forum Ketua Lingkungan tidak termasuk dalam kepengurusan Dewan Paroki. Forum ini bersifat informal, namun dapat difungsikan sebagai wahana komunikasi antar lingkungan, antar lingkungan dan Dewan Paroki. Pertemuan forum dilaksanakan setiap Jumat ke tiga dalam bulan, bertempat di rumah para Ketua lingkungan secara bergantian. Meskipun bersifat informal, namun forum dapat memberikan inspirasi bersama demi kelancaran hidup menggereja.

Apabila ada umat yang dipanggil Tuhan, pemberkatan jenazah selalu diusahakan dalam bentuk perayaan ekaristi oleh Romo paroki atau Romo lain yang diusahakan oleh paroki.

Pembelian tanah oleh paroki seluas 600m2 untuk lahan parkir di wilayah Gesikan, pada bulan Januari 2016. Tanah tersebut sudah dalam proses sertifikasi atas nama PGPM paroki Gamping.

Pelibatan masyarakat di sekitar gereja untuk berpartisipasi dalam setiap perayaan ekaristi, berupa tugas parkir kendaraan umat. Dana parkir sepenuhnya dikelola oleh masyarakat sekitar gereja.

Pembelian seperangkat gamelan jawa, ditempatkan di dalam gereja, digunakan sebagai sarana iringan gendhing jawa atau lagu misa dalam bahasa Jawa. Dana yang diperlukan untuk pembelian gamelan berasal dari umat seluruhnya secara sukarela.

Kepedulian Gereja terhadap lestarinya salah satu budaya Jawa adalah melalui kesenian kethoprak. Kesenian kethoprak diperankan oleh banyak umat bersama dengan Romo. Paguyuban kethoprak dengan nama Tresna Sejati telah dipentaskan di bulan Agustus 2016 di halaman gereja Gamping.


Kosa Kata:

Rm = Romo/Pastor

5,493 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini