Teknologi, Pencipta Manusia?

Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan zaman yang berlangsung sangat cepat dewasa ini semakin mempermudah manusia dalam menyelesaikan hampir semua hal, mulai dari pekerjaan kantor hingga pekerjaan rumah. Hal yang dulunya terlihat begitu berat dan mustahil sekalipun, kini terlihat begitu mudah untuk dilakukan, seperti berpergian lintas benua, membangun gedung-gedung raksasa dan masih sangat banyak contoh lainnya. Dalam skala yang lebih kecil, semua tugas-tugas keseharian manusia juga semakin dipermudah dengan kehadiran smartphone, komputer dan benda-benda menakjubkan lainnya.

Manusia memang menjadi salah satu unsur pergerakan dan perubahan global yang dinamis. Tanpa bisa kita hentikan, dunia akan terus dan selalu berubah ke arah yang jauh lebih maju lagi, tapi apa alasannya? Apa benar dunia ini berubah menyesuaikan perkembangan zaman atau menyesuaikan keserakahan manusia yang tanpa ujung. Dunia saat ini adalah dunia yang begitu terang karena teknologi, tapi tanpa kita sadari, umat manusia sedang mengalami proses penghancuran besar-besaran dalam sisi kemanusiawian manusia. Ya, dunia ini sungguh adil, di mana kemajuan selalu berjalan beriringan dengan kemunduran, dan pembangunan selalu bergandengan dengan penghancuran, dan itulah realita pahit yang selalu tersembunyi.

Tanpa kita sadari, setiap pekerjaan yang dimudahkan oleh teknologi telah mengurangi kemampuan kita sebagai manusia untuk melakukan sesuatu yang luar biasa, setiap pekerjaan yang telah diambil alih oleh teknologi membuat manusia semakin malas. Dalam konteks yang lebih mendalam, sepertinya manusia dan teknologi telah bertukar peran, tanpa terlebih dulu membantah, coba kita menilik lagi siapa yang lebih baik? Ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau melihat kecelakaan, atau melihat hal yang membangkitkan rasa empati, siapakah yang bertindak terlebih dahulu? Manusia memilih menggunakan smartphone miliknya, mengambil gambar dan mengunggah ke media sosial dengan tulisan-tulisan penuh empati tanpa melakukan sesuatu yang lebih nyata. Ketika teknologi pun disalahgunakan untuk kepentingan beberapa pihak, media sosia menjadi ladang pengaduan domba manusia-manusia yang terbudakkan oleh teknologi, orang tak lagi bertegur sapa ketika bertemu sesamanya, dan lebih memilih menundukkan kepala memandangi gadget miliknya, seakan-akan dunia maya kini lebih nyata daripada kenyataan. Lalu sekarang, siapa menciptakan siapa? Teknologi milik manusia atau sebaliknya? masih pantaskah kita mengakui diri sebagai pencipta teknologi?

Ironis sekali kini kita “diciptakan” oleh teknologi, anak-anak kecil tak lagi menyanyikan lagu-lagu untuk usia seumurannya, dan lebih memilih lagu bernuansa cinta, banyak lapangan dan tempat bermain yang kini terlihat sepi bahkan tergantikan oleh pabrik dan pusat perbelanjaan. Bola plastik kini dijadikan topi masa pengenalan sekolah, dan bukan untuk permainan sore hari. Anak kecil tidak tahu cara bermain bola atau memanjat pohon; para gadis tidak tahu cara memasak; para lelaki tak lagi tahu cara mencangkul. Manusia “dicetak” dengan teknologi untuk menjadi robot yang tak lagi peduli pada sesama dan lingkungan sekitarnya tetapi untuk lebih menyempurnakan teknologi dan bekerja untuk teknologi. Apakah dunia sudah segila ini? Tuhan sendiri telah bersabda supaya oleh karenanya manusia mampu berkuasa atas bumi, tapi kini manusia diperbudak oleh ciptaannya sendiri.
Sudah saatnya sebagai manusia kita kembali mengambil apa yang menjadi bagian kita.

Hieronimus Galih
Hieronimus Galih
Articles: 2

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami