Tujuan dan Prinsip Dasar Sinode

TUJUAN SINODE

Pertanyaan fundamental yang memandu proses sinodal yang kita jalani adalah: Bagaimana “berjalan bersama” ini terjadi sekarang di setiap tingkat (dari tingkat lokal ke tingkat universal), yang memampukan Gereja untuk mewartakan Injil? Langkah-langkah apa yang dikehendaki Roh Kudus untuk kita ambil agar tumbuh sebagai suatu Gereja sinodal? (PD, 2).

Dalam terang ini, tujuan Sinode adalah untuk mendengarkan Umat Allah, apa yang sedang dikatakan Roh Kudus kepada Gereja. Proses ini dijalani dengan mendengarkan bersama-sama Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja yang hidup, dan kemudian dengan mendengarkan satu sama lain. Sesungguhnya, seluruh proses sinodal bertujuan untuk mengembangkan pengalaman diskresi bersama untuk misi Gereja di dunia.

Dalam arti ini, jelaslah bahwa tujuan Sinode ini bukanlah untuk menghasilkan lebih banyak dokumen. Sinode dan seluruh proses diskresi bertujuan untuk menginspirasi umat agar bermimpi tentang Gereja yang dipanggil, untuk membuat harapan orang-orang berkembang, untuk mendorong kepercayaan, untuk membalut luka-luka, untuk menjalin hubungan-hubungan baru dan lebih dalam, untuk belajar dari satu sama lain, untuk membangun jembatan-jembatan, untuk mencerahkan pikiran, untuk menghangatkan hati, dan untuk memulihkan kekuatan ke dalam tangan kita demi misi kita bersama (PD, 32).

Sinode ini bukanlah serangkaian kegiatan yang dimulai dan kemudian berhenti, melainkan merupakan sebuah perjalanan untuk bertumbuh secara autentik menuju persekutuan dan misi perutusan Allah di milenium ketiga. Mendengarkan seluruh Umat Allah akan membantu Gereja untuk membuat keputusan-keputusan pastoral yang sedekat mungkin bersesuaian dengan kehendak Allah. Perspektif terakhir untuk mengarahkan jalan sinodal Gereja ini adalah untuk membantu dialog Allah dengan umat manusia (DV, 2) dan untuk berjalan bersama kerajaan Allah (bdk. LG, 9; RM, 20). Pada akhirnya, proses sinodal ini berusaha untuk bergerak menuju Gereja yang lebih bermanfaat dalam melayani kedatangan kerajaan surga.

DISKRESI BERSAMA SEBAGAI PRINSIP DASAR SINODE

Seluruh proses sinode yang dijalani haruslah dipahami sebagai sebuah proses rohani. Sinode bukanlah sebuah dinamika rapat dan diskusi, apalagi direduksi pada latihan pengumpulan data belaka. Bentuk-bentuk yang akan dijalani seperti sarasehan, percakapan rohani, pengisian kuesioner dsb. haruslah dimaknai sebagai latihan untuk mendengarkan Roh yang hendak berbicara kepada Gereja. Inilah yang kita sebut dengan proses berdiskresi bersama (communal discernment). Paus Fransiskus menandaskan dua tujuan yang saling berkaitan dari proses ini: “mendengarkan Allah, sehingga bersama-Nya kita bisa mendengar seruan umat-Nya; mendengarkan umat-Nya hingga kita menjadi selaras dengan kehendak ke mana Allah memanggil kita.”

Diskresi adalah suatu rahmat dari Allah, tetapi rahmat itu membutuhkan keterlibatan manusiawi kita dalam cara-cara sederhana: berdoa, merenungkan dan merefleksikan Sabda, memperhatikan gerak-gerik batin seseorang, mendengarkan dan berbagi satu sama lain dengan cara yang otentik dan bermakna. Tanpa diskresi tidak ada pengalaman akan Tuhan; begitu juga, kita tidak bisa berbicara tentang diskresi tanpa doa. Yesus sendiri memberikan contoh, setiap kali Dia mengambil keputusan-keputusan besar Dia mengambil waktu mendengarkan Bapa lewat doa. Tanpa diskresi itu tidak ada Gereja dan kita berubah menjadi jaringan supermarket yang berusaha menjual produk.

Karakter khusus dari diskresi bersama adalah partisipasi. Berjalan bersama dalam sinode ini mensyaratkan partisipasi dari setiap umat. Setiap orang diundang untuk berbagi, di sisi lain setiap orang diajak untuk mendengarkan, baik yang memiliki pandangan yang sama ataupun berbeda. Diskresi berarti datang bersama melewati berbagai pendapat dan akhirnya sampai pada sebuah sintesa berkat tuntunan Roh Kudus.

Veronica Naning
Veronica Naning
Articles: 49

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami