Wahyu Panuntun Menutup BKSN 2021

Gereja Maria Assumpta Gamping sebagai entitas keagamaan di Daerah Istimewa Yogyakarta menyadari bahwa unsur budaya Jawa sangat kental mewarnai wajah Gereja dan bentuk pewartaan yang digunakan selama ini. Proses inkulturasi budaya ini dijadikan salah satu cara mendekatkan hati para umat terhadap budaya setempat sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ada beberapa cara yang telah dilakukan selama ini sebagai bagian inkulturasi budaya, misalnya kor dengan gamelan mengiringi misa pada hari raya tertentu, misa menggunakan bahasa jawa, melakukan pementasan wayang Lurung Kamulyan sebagai media untuk merenungkan kisah sengsara Yesus, sloka untuk mengiringi kegiatan peribadatan, macapatan, dan sebagainya.

Kali ini dalam rangka menutup Bulan Kitab Suci Nasional, Gereja Santa Maria Assumpta Gamping kembali melakukan pementasan wayang secara online sebagai upaya mewartakan kabar sukacita melalui seni budaya Jawa. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan telah terselenggara pada hari Kamis, 30 September 2021 malam di kompleks gereja dengan prokes ketat sesuai standar masa pandemi.

Kegiatan yang dicetuskan oleh kelompok paseduluran ex Mudika Paroki Santa Maria Assumpta Gamping ini dihadiri oleh salah satu anggota DPRD DIY yang masih merupakan keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu KPH Purbodiningrat SE., MBA. Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata upaya menyelaraskan agama dan budaya. Dengan cara ini, pengajaran agama makin mudah diterima oleh umat sekaligus sebagai kontribusi dalam melestarikan budaya lokal. Harapannya ke depan kegiatan ini masih akan berlangsung karena pihaknya akan terus memfasilitasi program kegiatan para penggiat budaya Jawa yang mendukung keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Sambutan kemudian diteruskan dengan simbolisasi penyerahan wayang semar kepada romo vikaris, Romo Stefanus Heruyanto, Pr yang melanjutkan dengan memberikan simpul-simpul bahan renungan selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2021 agar tidak terlepas dari konteks kegiatan dan pemaknaannya dalam hidup sehari-hari.

Kisah wayang berjudul Wahyu Panuntun ini merupakan upaya menyimpulkan sukacita karena seperti tema BKSN 2021, bahwa Yesus sungguh menjadi sahabat dalam perjalanan hidup kita. Karena itu, renungan selama BKSN tidak boleh hanya menjadi sekadar proses acara tetapi harus sungguh direfleksikan dalam setiap perjalanan hidup, terutama dalam saat-saat kita sedang merasa putus asa, kehilangan, dalam penderitaan dan ingin bertobat kembali kepada Tuhan. Tema-tema itulah yang secara khusus dibedah melalui kutipan kitab suci yang secara naratif mudak diingat oleh peristiwa-peristiwa ketika para murid diterjang angin sakal, ketika Yesus membangkitkan Lazarus, kisah orang Samaria yang baik hati dan kisah panggilan bertobat dari kitab Wahyu. Seluruh rangkaian tema BKSN tersebut sudah ditimbang sesuai dengan aneka pengalaman di masa pandemi yang mungkin terjadi saat ini. Maka sukacita karena mempunyai Yesus sebagai teman, sebagai sahabat dalam perjalanan hidup itulah yang pantas dirayakan dengan sukacita, demikian Romo Heru memungkasi.

Pementasan dilakukan setelah penyerahan wayang Semar dari Romo Stefanus Heruyanto Pr kepada dalang, Ki Dicky Yoga Mahendra, yang tahun lalu juga mementaskan wayang Lurung Kamulyan. Pementasan ini didukung oleh Sanggar Seni Argosari Manunggal, Sedayu, Bantul. Lakon Wahyu Panuntun ini mengisahkan ketika para Pandawa murca dari Amarta untuk mengatasi situasi negaranya yang kacau. Semar sebagai tokoh punakawan sempat menegur Sri Krisna sebagai titisan Dewa Wisnu yang tidak mengambil tindakan atas kerusuhan yang terjadi. Dalam kemarahannya Krisna berubah menjadi raksasa dan pergi mencari Pandawa. Situasi mulai menemukan titik terang ketika Pandawa kembali dari swargaloka dengan membawa Wahyu Panuntun dan mendapat petunjuk dari Batara Narada. Wahyu Panuntun ini dijelaskan Narada berisi ajaran untuk saling mengasihi dan mengampuni orang lain. Hal ini bisa terlaksana apabila dalam diri setiap orang terdapat sifat-sifat dan karakter pribadi luhur sebagaimana disimbolkan oleh pribadi para Pandawa. Sifat itu adalah taat setia menjalankan dharma (Yudistira), berani melakukan apa saja untuk membela kebenaran (Bima), meninggalkan ego dan ambisi pribadi demi kebaikan (Janaka), membekali diri dengan hal-hal baik dan luhur sebagai bekal untuk kembali ke surga (Nakula-Sadewa). Dengan menggunakan wahyu Panuntun akhirnya semua kekacauan yang terjadi bisa diredam dan diselesaikan.

Acara ditutup dengan melakukan sarasehan budaya sederhana, sesuai arahan romo Paroki Gamping, Romo Yoseph Nugroho Tri Sumartono, Pr yang menghadirkan para seniman Yogya, seperti Joko Dwi Handono, Marwoto, Agus Kencrot, Whani Dharmawan, Agus Becak Sunandar, dan Udik Suprianto. Para pembicara memaparkan pentingnya dialog lintas iman, pentingnya budaya sebagai perekat kesatuan dalam masyarakat, sikap mau keluar dari zona agama dan menyatu dengan budaya lokal agar bertemu dengan orang lain dan membangun kerukunan serta peradaban yang luhur bagi kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini. (ve)

Veronica Naning
Veronica Naning
Articles: 49

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Butuh bantuan? Hubungi kami